CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
SERAKAH


__ADS_3

Mama memanggil hanya meminta Renata dan Jea bergabung di ruang kerja papa. Jea kaget juga, Pak Syahri, pengacara papa sudah duduk manis dengan membawa beberapa berkas. Begitupun dengan Daffa, asisten pribadinya itu juga sudah siap dengan tabletnya. Kapan mereka dihubungi?


Yah...setelah anak-anaknya masuk kamar, mama langsung menghubungi pengacara papa dan Daffa, beliau pun membiarkan tamu yang tak diharapkan itu sendiri. Biarlah. Rasanya sudah jengah memiliki keluarga seperti mereka, benalu.


"Baiklah, semua sudah kumpul. Tapi tunggu dulu...." Om Danu menjeda ucapannya, beliau melirik tak suka pada Renata. "Sepertinya orang luar tidak perlu terlibat dalam pembicaraan ini."


Jea menyunggingkan senyum sinisnya, ia tahu siapa yang dimaksud. "Siapa yang kamu maksud orang luar?" Mama mengintrupsi.


"Dia." Ucap Danu dengan menunjuk Renata. Renata tidak menunduk, dia hanya memasang wajah datar seperti suaminya. Prinsip Renata dari dulu, gak usah menundukkan kepala bila tidak salah.


"Kalau istri saya keluar maka Tante Tari juga keluar, bukannya status beliau sama dengan istri saya, menantu."


"Kamu!" sorot mata marah Danu terpancar. Ia tidak habis pikir anak yang masih usia 23 tahun bisa berani memutar omongannya. Didikan sang kakak, benar-benar luar biasa.


"Saya menikah dengan om kamu itu sah di mata hukum dan agama, lah dia? paling ditalak lewat SMS juga bisa!" sindir Tari dengan begitu judesnya, menganggap Renata hanya dinikahi siri.


"Jaga ucapan kamu Tari, saya mendidik anak saya agar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Dia tidak akan melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan, pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama."


"Mbak, mbak, yang benar sajalah. Mana buktinya kalau mereka menikah secara hukum dan agama."


Tanpa berkata apapun, Jea keluar menuju kamarnya dan membawa dokumen yang dibutuhkan. Ia paham betul mengapa Tari menyerang pernikahannya, posisi CEO Sanjaya Group. Danu ingin mengambil posisi itu. Ia berpikir Jea belum lulus kuliah dan belum menikah, masih anak kencur yang tak patut memimpin perusahaan sebesar itu.


"Ini bukti kalau pernikahan kami sah di mata hukum dan agama."


Cukup kaget juga Tari mendapatkan buku nikah Jea dan Renata itu, tapi ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Oke gak masalah kalau dia ikut berunding di sini. Silahkan Pak Syahri." Ujar Tari datar.


"Saya akan membacakan surat wasiat Pak Sanjaya." Beliau menjeda sebentar, membenarkan letak kacamata dan membuka dokumen penting kemudian. "Bismillahirrahmanirrahim, Saya Sanjaya Hadikusuma, secara sadar dan tidak ada paksaan dalam bentuk apapun..bla...bla...


Pak Syahri mengucapkan dengan lantang pembagian warisan harta kekayaan kliennya. Istri Pak Sanjaya mendapatkan rumah yang ditempati, mobil, villa di puncak dan tanah seluas 2 hektar serta deposito. Sedangkan Jea mendapatkan seluruh aset perusahaan dan saham di bawah naungan Sanjaya Group. Mita, putri bungsu pak Sanjaya mendapatkan restoran, hotel, dan mini market setelah usia 21 tahun, dan untuk sementara dikelola oleh istri Pak Sanjaya.


Adik Pak Sanjaya, Sintya mendapatkan San's villa dan hotel Bali dan saham 5% di perusahan Wijaya Properti . Sedangkan Om Danu mendapatkan garmen di solo dan saham 5% di perusahaan Wijaya Properti. Sedangkan uang sebesar 500 juta di donasikan ke panti asuhan Harapan Bunda.


"Banyak banget aset papa, kak! Aku yang dengar saja pusing." Bisik Renata pada Jea, namun Jea hanya menanggapi dengan senyuman dan mengelus rambutnya.


"Sekian terimakasih." Begitu Pak Syahri mengakhiri pembacaan surat wasiat Sanjaya Hadikusuma.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, garmen sudah mau bangkrut kenapa diwasiatkan kepadaku. Enak saja, perusahaan kakakku, aku pun punya hak."


"Maaf Pak Danu ini adalah surat wasiat Pak Sanjaya, Anda jangan merasa kurang dengan pembagian warisan ini. Ingat, Pak. Berapa uang yang sudah digelontorkan Pak Sanjaya untuk Anda dan Keluarga Anda."


"Kamu jangan sok tahu, kamu itu hanya pengacara, orang luar. Tahu apa soal kakakku."


"Kalau sudah kayak gini ngaku keluarga, kemana kemarin saat suami saya sudah mulai sakit. Ingat Danu, penyebab utama suami saya kena stroke adalah ulah kamu dan istri kamu."


"Hei, Ajeng." Hentak Danu dengan suara keras.


"Cukup Om, jangan pernah membentak mama saya. Sekarang dengan pembagian ini, Om kurang puas, Om mau apa?" tantang Jea.


"Gampang saja, beri aku uang 1M sekarang juga."


"Jangan Je, dia sudah terlalu lama berfoya-foya dengan uang kita." Cegah Mama.


"Uang Kita? Hei mbak itu uang suami mbak, kakak Danu. Lebih berhak Danu lah daripada Mbak."


Benar ya jodoh itu cerminan diri, keluarga Om Danu contohnya. Suami istri gila harta.


"Baik saya akan memberikan uang sesuai yang Om minta, tapi dengan satu syarat."


"Dan saya anak tertuanya lebih berhak menguasai harta papa daripada Om, di saat papa sakit, om kemana? foya-foya. Di saat papa sekarat, om kemana? foya-foya, di saat papa meninggal pun, om kemana? foya-foya. Apa pantas om meminta uang ke papa lagi?"


"Pantas, selama darah yang mengalir kita sama maka aku pantas meminta pada kakakku."


"Dan bodohnya Om, sekarang darah papa sudah tidak mengalir, artinya om sudah tidak pantas meminta kepada kami."


Jleb


Jiwa otorier Jea tidak bisa diganggu gugat.


"Saya akan memberikan uang 1M dengan syarat mulai detik ini, om jangan pernah mengganggu ataupun datang ke keluarga saya ataupun keluarga Tante Sintya. Sudah cukup keluarga kita direpotkan keluarga Om. Bagaimana?"


"Gak bisa gitu, Je. Garmen di Solo sudah diambang kebangkrutan, kita sama aja gak dapat warisan dong. Sintya dapat villa dan hotel yang maju, gak adil dong." Tari beraksi.


"Tari, lu pikir deh. Sintya pernahkah meminta uang pada kakaknya, bahkan dia meminjam uang ke Mas Sanjaya untuk membangun rumah di Bali."

__ADS_1


"Halah, paling juga kakak memberi kak Sintya cuma-cuma, tapi kakak bilang ke Mbak hutang."


"Sintya tidak pernah pinjam ke kakaknya karena dia tahu, kakaknya akan memberi uang itu dan dia tidak mau harga diri suaminya diremehkan suatu saat nanti. Dia pinjam sama aku. Tidak seperti adik bungsunya yang hanya berpangku tangan, tapi tidak tahu diri."


"Ajeng berani sekali kamu."


"Aku bilang cukup Om, sekarang om mau mendapatkan uang itu dan setuju syarat yang aku berikan atau hanya mendapat garmen plus saham 5%? "


Tari tampak gusar. 1 M untuk selamanya. Huh...


"Bagaimana?" tawar Jea lagi.


"Oke, aku setuju." Om Danu tanpa pikir panjang, yang penting ada uang untuk berjudi.


"Papa..." Tari protes.


"Gak pa-pa, Ma..Kita masih ada uang dari hasil saham 5%. Tenang saja." Begini prediksi orang yang menggunakan otaknya di dengkul. Bukannya memperbaiki sistem kerja garmen agar tidak bangkrut, malah fokus hasil saham. Ck...ck...ck.


"Daffa, silahkan ketik syaratnya dan segera print. Siapkan materainya juga. Gandakan sebanyak 4 bendel, agar perjanjian ini tidak dimanipulasi suatu saat nanti." Otak cerdas Jea sedang bekerja. Renata diam, dan hanya memegang lengan sang suami, berusaha menenangkan agar tidak terbawa emosi. Beberapa kali nafas Jea sudah memburu, siap meledak saja emosinya apalagi mendengar ocehan om dan tantenya itu.


"Baik, Bos!"


Semuanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jea sudah menuliskan cek bernilai 1M dan sudah ditandatangani juga.


"Ati-ati kelebihan 0 nya." Goda Renata sambil berbisik. Sengaja agar suaminya itu tersenyum.


"Jangan menggoda, setelah ini selesai habis kamu." Balas Jea dengan berbisik juga, tabokan di lengan pun ia terima, Renata pelakunya.


Beberapa menit kemudian surat perjanjian yang diketik Daffa beres, pihak pertama Jea, pihak kedua Om Danu. Tanda tangan selesai, Pak Syahri pertama kali yang keluar sekaligus pamit pulang membawa surat wasiat dan surat perjanjian tersebut.


Renata pun keluar selanjutnya,.saat pintu terbuka betapa kagetnya Renata. Ceril dengan tatapan menggoda hanya menggunakan piyama seksinya berdiri di depan pintu kamar Jea.


Seketika Renata balik kucing ke ruang kerja papa, "Kok balik?" tanya Jea heran, baru saja ia mau menyusul sang istri, eh malah balik.


"Kamu dalam bahaya!"


******

__ADS_1


OTHORNYA MAU HALU DIKIT TENTANG WARISAN YA GUYSSSSS


__ADS_2