CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
KENCAN & ISTIGHFAR


__ADS_3

Memasuki pintu masuk mall, Ola melangkah cukup cepat, tak sekali Daffa menegurnya untuk berjalan santai. Mau kemana sih sampai terburu-buru seperti ini.


"Eit...ngajak orang kencan tapi ditinggal terus." Protes Daffa dengan menarik kemeja Ola.


"Kak Daffa kan bukan pacar aku, jadi aku jalan ya suka-suka aku lah, kak Daffa emang gak mau beli sesuatu gitu?"


"Enggak."


"Ya udah kalau gitu ikut aku aja, tapi jalannya agak cepat ya."


Daffa mendengus kesal tapi mengangguk juga. Entah kenapa hari ini dia begitu patuh dengan permintaan Ola, padahal gadis itu bukanlah gadis yang ia harapkan untuk menemaninya jalan-jalan seperti petang ini. Rasa kecewa ditolak memang sedikit terlupa dengan ocehan Ola, karena otak cerdas Daffa harus dipaksa untuk membalas segala macam ocehan unfaedah Ola.


Memang di dekat Ola, Daffa bisa sepuasnya ngoceh, tidak jaim juga, seperti tempat meluapkan segala keresahan dan kegundahan, yah meskipun harus adu mulut dulu. Lagian ngapain juga jaim sama Ola, dia yang cewek tulen aja gak ada jaim-jaimnya di hadapan Daffa.


"Yang ini apa yang ini Kak?" Ola bingung memilih warna baju bayi yang unyu. Kebetulan Ola melangkah ke baby store terlebih dahulu.


"Buat bayi cowok apa cewek?" tanya Daffa yang mengekor dengan Ola, persis seperti pasangan kekasih yang posesif.


"Renata anaknya cowok apa cewek?"


"Mana gue tahu, mereka gak pernah cerita jenis kelaminnya."


"Dih...situ asistennya, gak peduli banget."


"Itu urusan pribadi, ngapain harus tahu." Mulai deh kucing dan tikus beraksi. Daffa hanya duduk di kursi penunggu, masih fokus bermain ponsel.


Dengan berbagai model baju bayi, motif dan warna, Ola sengaja membelikan untuk bayi Renata. Maklum kemungkinan besar saat Renata lahir dia sudah di negri orang untuk melanjutkan S2 seperti rencana sebelum perjodohan dengan Wira dulu.


"Masya Allah, tuh buat bayi Renata?" tanya Daffa kaget ketika ia disodori tiga paperbag sekaligus, dan lebih kaget lagi tangan Ola juga menenteng dua paperbag lain, khusus buat bayi Renata.


"Iyalah, masa' buat bayi kita, belum bikin." Cecar Ola sengaja mengusik emosi pak asisten. "Makan yuk, aku traktir deh."


"Dalam rangka?"


"Kakak udah baik temani aku belanja."


"Bentar deh, La. Bukannya papa Lo lagi--" Daffa tak enak kalau mengatakan kondisi perusahaan papa Ola.


"Meskipun perusahaan papa lagi pailit, kan ada jatah aku dari Oma aku. Masih kaya akunya."


Kesalahan Daffa merasa kasihan karena nyatanya gadis itu masih sombong level mampus.


"Ya udah traktir gue makan yang mahal."

__ADS_1


"Boleh kalau mau jadi pacar aku."


Sungguh apa maksud dibalik ucapan Ola yang terkesan menembak Daffa terus-menerus, ntah itu ungkapan hati atau hanya bercanda, karena untuk Ola masalah serius dan bercanda tidak ada bedanya.


Keduanya berjalan beriringan dengan Ola yang masih mendominasi ocehan, kali ini pembahasan suka dan gak sukanya Ola terhadap sesuatu.


"Pokoknya, Kak. Aku tuh gak suka lihat biji pepaya. Jijik."


"Ya terus ngapain Lo bilang ke gue."


"Ya siapa tahu, nanti Kakak punya kebon pepaya, please aku dengan ikhlas gak usah di kasih."


Daffa menggeleng, bingung mau bilang apa. Untungnya apa coba kalau dia tahu ketidaksukaan Ola. Toh dia sudah berjanji ini adalah kencan pertama dan terakhir bareng dia. Kekhilafan yang sungguh berat dalam hidupnya.


"Gue kasihan banget sama suami Lo ntar, hidupnya berat banget dengar ocehan Lo yang absurd gini."


"Makanya kak belajar mulai dari sekarang."


"Lah ngapa gue harus belajar?"


Ola berhenti menatap dengan senyum jahil pada laki-laki yang terlihat badmood itu. "Kan kakak calon suami aku."


Setaaaaaannnnn!!!! dalam hati Daffa kesal.


Menunggu pesanan datang, keduanya tak saling bicara, sibuk dengan ponsel masing-masing. Daffa malah menerima panggilan dari Jea, padahal bos rese' itu berjanji untuk sore hingga malam tidak akan mengganggunya.


"Kayaknya mereka di sini deh!" Ucap Daffa setelah menutup panggilan telpon Jea. Tak lupa ia mencari sosok pasangan suami istri dengan menoleh di sekitar meja mereka.


"Siapa?"


"Bos dan istrinya."


Ola pun ikut mencari sekeliling, namun keduanya masih tak terlihat, hingga pesanan datang, kehadiran pasangan suami istri itu belum tampak batang hidungnya.


"Hayoooo pacaran ya kalian."


Sial. Renata langsung menepuk pundak Ola di saat suapan terakhir nasi bebek penyet sambal ijo baru masuk mulut. Auto keselek hingga terbatuk. Sahabat lucknut, maki Ola dalam hati. Rasa nikmat bebek penyet hilang karena rasa pedas di tenggorokan akibat keselek itu. Allah Tuhan kenapa dia datang di saat suapan terakhir sih. Ibarat mau menuju puncak kenikmatan makan harus keselek, kesel banget tuh rasanya.


"Gue gak mau ngomong sama Lo!"


Renata cekikikan, ia malah meminta Jea order seperti makanan yang Ola pesan, tak peduli dengan Ola yang masih terbatuk.


"Minum La!" sodor Daffa, kasihan juga anak orang sampai merah wajahnya.

__ADS_1


"Cie...ditolak Neva, lari ke Ola." Masih saja Renata menggoda Daffa.


"Jadi aku hanya jadi pelarian, Om!" sentak Ola pura-pura marah, toh mereka kan seperti kucing dan tikus unyu, sayang saja kalau tidak mengusik emosi Daffa.


"Am...om..am...om!" protes Daffa sambil menonyor kening Ola. Seenaknya saja ia memanggil Om, padahal dari tadi maksa buat jadi pacar. Eh...baper juga si Daffa. "Sejak kapan gue nikah sama Tante Lo!"


"Ck...emang umur situ pantas dipanggil Om!"


"Cih."


Jea dan Ola kompak menahan tawa, kalau dilihat lebih jeli Daffa memang lebih cocok sama Ola. Kalau membangun rumah tangga lebih seru, lebih hidup. Tapi mau gimana, Daffa lebih memilih Neva, yah meskipun ditolak juga.


"Udah kak Daffa sama Ola aja, dia juga jomblo. Eh Lo beneran udah jomblo kan?"


"Udah, mantan gue udah punya cewek lain, cih...eneg gue sama dia. Bilangnya bakal terima gue meski perjodohan itu jalan, nyatanya apa, perjodohan batal eh dia gaet cewek lain."


"Belum jodoh, mending sama kak Daffa. Eh...kalian kan sama-sama patah hati nih, lanjut aja." Renata si rempong mulai beraksi.


"Bos, istri Lo boleh gue jitak gak?" Daffa tambah kesal dengan ocehan Renata, apa sih maksudnya, kemarin-kemarin megang Neva-Daffa, sekarang menyuruh sama Ola, cewek setengah waras lagi. Plin plan.


"Berani Lo jitak, gue cincang Lo!"


"Cih....." Daffa mencibir tak suka.


"Asal Lo tau, Ta. Dari tadi gue udah nembak si Om ganteng itu."


"Sekali Lo panggil gue Om, gue tabok pakai sendok semen, nyaho' lo."


"Ya elah, pakai bibir juga gak papa kali, aku ikhlas." Makin marah saja tuh Daffa, frontal sekali nih cewek, sumpah bikin ilfeel.


Renata cekikikan, kalau Jea mah tapres, lebih memilih ponsel ketimbang dengar ocehan unfaedah itu.


"Udah-udah, kalian tuh tengkar mulu. Jodoh tuh gak pernah tahu kali, sekarang kalian tengkar, siapa tahu tahun depan udah jadi pasangan."


"Pasangan apa?" tanya Daffa dan Ola kompak.


"Pasangan duet di ranjang."


"Otak lo, Ta!" kesal Ola dengan kemesuman sahabatnya itu, ditonyornya pipi ibu hamil yang lagi cekikikan. Sedangkan sang suami berkali-kali, menepis tangan Ola. Dih posesifnya.


Daffa???


Hanya mampu istighfar berkali-kali sambil mengusap dada, takdir mengenaskan bertemu dengan dua perempuan yang Masya Allah sengkleknya.

__ADS_1


__ADS_2