
Setelah makan siang, kenyang. Mereka duduk berleha-leha sebentar, menunggu sore datang. Memang ada agenda ke pantai juga. Apalagi suasana sunset, sangat bagus untuk foto yang Instagramable.
Jea dan Renata duduk di pojokan saung, sedikit menjauh dari mereka. Ada obrolan yang tak patut untuk dikonsumsi umum.
"Gimana kata Bi Asih?" tanya Renata dengan suara sangat pelan. Keduanya duduk berdekatan tak berjarak, Jea yang menyandarkan tubuhnya di tiang saung dengan menselonjorkan kaki ingin sekali merem.
"Masih di rumah, dan makan banyak."
Renata ngakak, tidak membayangkan betapa repotnya Bik Asih menyediakan makanan sesuai permintaan mereka. Gak ada akhlak memang.
"Ceril ngoceh-ngoceh, kamar kita terkunci."
"Dih...jadi cewek gitu amat. Diobral murah."
"Diobral aja aku gak mau apalagi beli."
"Astaghfirullah, bahasamu, Yang."
Jea merapikan anak rambut Renata yang tertiup angin, menatap wajah ayu sang istri, merasa bersyukur mendapatkan gadis sopan seperti Renata.
"Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Renata. Kedua pandangan mereka beradu. Berbicara lewat sorot mata, kalau mereka saling mencintai.
"Aku sayang kamu."
"Gak gombal kan?"
"Dikit."
Jea terkekeh lalu memeluk istrinya. Mencium puncak kepala dengan sayang. "Wira ngelihatin kita terus, bikin risih."
"Ouh jadi karena dia, kamu berlagak mesra kayak gini."
"Enggak ya. Enak aja. Aku mah tulus, mau peluk kamu tulus, pengen cium ikhlas, malah pengen balik ke hotel."
"Gak aku gak mau,"
"Ya udah, ntar malam tiga ronde."
"Terimakasih disampaikan, maaf saya tolak. Lagian gak yakin kamu kuat."
Jea mencubit hidung Renata, gemas. "Jeuh...perlu bukti?" tantang Jea.
Renata menggeleng, jiwa bos tidak bisa diremehkan. Sekali diremehkan, Renata yang keok sendiri.
"Kalau aku hamil gimana?" tanya Renata dengan wajah sendu. Kurang skripsi aja jangan sampai cuti.
"Kamu belum siap?" Jea mencoba mengajak diskusi, tatapan mereka serius. Baru kali ini pembicaraan mereka agak serius, tentang anak.
"Gak siap sebelum skripsi kelar."
"Ya udah kelarin dulu skripsinya."
"Berarti gak melakukan lagi kan?" .
__ADS_1
Jea spontan mendelik, bisa-bisanya Renata mengajak tidak melakukan lagi, ouh tidak bisa fergusso. "Enak aja. Jalan terus itu, harus bin wajib."
Baru saja agak serius, tabokan di lengan Jea sudah muncul. "Pakai pengaman aja ya?" tawar Renata, dia dulu anak IPA, pasti pahamlah materi reproduksi.
"Boleh."
"Gak ikhlas gitu bilangnya."
Jea menggaruk pelipisnya, dalam hati menolak lah, tapi gak boleh egois juga. Renata skripsi butuh tenaga dan pikiran yang ekstra. Kalau sampai dia hamil kasihan mereka berdua. Toh ibu hamil dilarang stress.
"Pakai sampai kamu ambil data deh!" Ceplos Jea, sontak saja Renata tertawa ngakak. Bisa gitu tawar-menawar.
"Ya udah, deal ya?" Renata mengulurkan tangannya.
"Boleh melanggar sekali-kali lah sayang." Yah masih menawar juga, hem...nanti ujungnya gak pakai.
"Cih..... kamu gitu, Yang."
"Aku bantuin deh skripsi kamu." Tuh kan....nego terus. Bikin kesel juga.
"Bantuin gimana?"
"Dengan berdoa."
Renata mendengus kesal. Yang diharapkan itu tidak hanya doa, tapi tenaga dan pikiran. "Bantu ketik deh."
Renata mencibir, apa bedanya dengan tukang ketik di persewaan komputer. Cih...menyebalkan sekali.
"Feeling calon ayah bilang kalau kamu nanti hamil setelah ujian skripsi. Yakin deh."
"Iyalah aku yang ngadon."
Allahu Akbar..punya suami gini amat bahasanya, mana jadi bos pula. Di kantor saja datarnya minta ampun, senyum aja nunggu menang tender. Mungkin Jea tertular sang istri, setengah waras.
Ting
Renata dan Jea mengarah pada ponsel Renata yang mendapat pesan dari Ola. Sebuah foto hasil screenshot dari status WA seseorang.
Mendekat untuk menjauh dan terlampir foto saling tatap antara Jea dan Renata yang wajahnya diblur. Renata dan Jea mengenal foto itu, karena baru diambil Ceca saat makan siang tadi.
"Kamu udah buat anak orang patah hati!' bisik Jea pura-pura iba dengan kondisi Wira.
"Aku gak pernah ya kasih harapan ke dia."
"Kamu sih cantik, siapa aja bakal naksir."
"Kamu termasuk?"
"Iyalah, malah cinta mati. Rela kasih jiwa, raga, sp***a."
"Astaghfirullah." Renata segera membungkam mulut suaminya itu, mencoel bibirnya kemudian. "Nih mulut berasa kayak rem blong , ya Allah." Gemes sekali Renata pengen nabok takut dosa, gimana dong.
Jea tertawa, meski sudah melakukan beberapa kali, tetap saja Renata masih tabu membahasnya apalagi di depan umum seperti saat ini.
__ADS_1
Matahari mulai meredup, menampakkan sinar jingganya, cantik. Dengan menyingkap celana panjangnya, tanpa alas kaki. Renata dan rombongan berjalan di pinggir pantai.
Renata dan Jea memilih duduk di atas pasir kemudian. Mereka menatap hamparan air laut ditemani angin pantai yang berembus lembut.
"Sampai kapan pun temani aku, ya?" pinta Jea dengan menoleh ke arah Renata.
"Pasti." Jawab Renata sambil tersenyum.
"Apapun keadaanku, tetaplah di sampingku."
"Melow banget sih!" Ledek Renata tanpa melihat sang suami. Jea tersenyum tipis.
"Kadang aku berpikir, dalam rumah tanggaku nanti cobaan apa yang akan terjadi, dan aku berharap bukan perpisahan dengan kamu."
"Pernikahan memang ajang lomba sabar, kak. Sekaya apapun, semiskin apapun sebuah keluarga pasti ada kerikil atau bahkan batu besar di dalamnya."
"Keluargaku mendapat cobaan gangguan dari keluarga Om Danu."
"Kalau keluargaku, dicoba soal harta. Ibuku anak orang gak punya, sedangkan bapak anak orang kaya. Bapak harus memilih keluarga atau ibu, dan bapak pilih ibu. Bahkan kami pun baru diakui setelah bapak menjadi PNS. Sebelum itu, aku dan kakakku dianggap gelandangan."
"Makanya kamu pelit." Ejek Jea
"Bukan pelit, tapi terlalu hemat tau."
Keduanya tertawa. "Ibu selalu mengajarkanku untuk menabung kalau mau membeli sesuatu, dan jangan pernah menggantungkan hidup pada orang lain."
"Gak nyangka, ibu yang punya hobi penerawangan sebijak itu."
Tuh kan obrolan serius masih ada selingan candaan.
"Meskipun nanti ada cobaan, kamu harus tetap di sampingku."
"Iya, asalkan gak ada yang nomor dua, tiga, bahkan empat."
"Satu aja belum habis."
"Sapa tahu, harus waspadalah."
Jea merapatkan tubuhnya pada Renata, memeluk perempuan yang menguasai hatinya itu. "Tegur aku kalau sampai itu terjadi, ingatkan aku kalau aku pernah berjanji untuk tidak menduakanmu."
Renata mengangguk, dan detik berikutnya Jea memberikan ******* lembut pada Renata, dan Renata pun membalasnya. Seringai tawa Jea muncul di tengah kemesraan mereka. Hatinya girang, "Kamu pintar sekarang." Bisik Jea setelah melepaskan ******* itu.
"Udah les privat selama satu bulan." Jawab Renata polos, dan Jea pun mengacak rambut sang istri sambil tertawa bangga.
Ting
Ponsel Renata berbunyi. Lagi-lagi pesan WA, kali ini dari Ceca. Ada foto dirinya dan Jea yang berciuman, ditambah caption:
Balik sonoh ke hotel, diusir satpol PP nyaho' Lo
"Kok bisa dapat?" tanya Jea heran, padahal mereka memilih agak jauh dari kerumunan orang.
"Di atas pohon kali."
__ADS_1
"Monyet dong."
Dan keduanya tertawa ngakak.