CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
MENJENGKELKAN


__ADS_3

Lagi-lagi mama heboh, omelan terus dilancarkan untuk Jea. Bahkan cubitan diterima Pak CEO ini. "Udah, gak usah ke mana-mana. Di rumah saja."


Renata tak punya tenaga lagi hanya mengangguk setuju. Sebaiknya untuk saat ini memang lebih baik di rumah dulu. Ia tidak pernah merasakan kondisi seperti ini. Pusing dan mual datang secara tiba-tiba. Belum lagi urusan makan, biasanya makan apapun bisa, sekarang hanya jahe anget, buah apel dan roti.


Sebenarnya Jea tak tega meninggalkan Renata di rumah sendiri dalam keadaan lemas seperti itu, tapi ada meeting dengan Ito. Sempat terlintas menyuruh Daffa saja memegang rapat itu, tapi mama malah mengoceh.


"Ada mama di rumah, kamu ke kantor saja. Toh di rumah kamu juga mau ngapain, istri kamu sudah tidur juga."


"Khawatir, Ma. Ya elah." Memang wajah Jea masih menampakkan raut cemas pada istrinya. Berkali-kali ia mondar mandir di kamar dengan membawa ponsel, mengetik pesan pada Daffa dihapus lagi, begitu berulang. Keputusan final, ia membatalkan meeting dengan Ito, ia menghubungi secara personal plus minta maaf. Tidak profesional memang, tapi itu lebih baik, karena nanti di kantor pun pikirannya di rumah. Malah gak fokus pada meeting nanti.


"Sekali lagi saya minta maaf ya Pak Ito, karena kondisi istri saya tidak memungkinkan untuk ditinggal sendiri." Ucap Jea di sambungan telpon. Ah... sekali-kali menyangkut pautkan nama istri, toh dia mengajukan proyek pasti ada maksud tertentu.


"Renata sakit apa?"


"Bukan sakit, tapi hamil muda, mual dan muntah seperti itulah." Jea menjelaskan dengan semangat, entah apa maksudnya, menceritakan kondisi istrinya yang lemah tak berdaya dengan nada semangat 45 seperti itu. Terkesan dia bahagia di atas kondisi sang istri.


"Ouh udah hamil?" terdengar balasan yang cukup lirih. Jea sontak sumringah, tangannya mengepal layaknya orang mendapat lotre, kalau boleh berteriak, "Yess, gue berhasil bikin hamil bini gue, mau apa Lo."


"Selamat ya Je," ucap Ito lesu, terdengar dari suaranya yang semakin lemah.


"Makasih bro." Jawab Jea sebelum mengakhiri panggilan telponnya. Ia pun bersorak gembira, kemudian bergabung dengan sang istri. Mendekapnya perlahan. Mungkin karena ada pergerakan, Renata pun bangun, kaget juga ada lengan yang melingkar di perutnya.


"Gak ke kantor?" tanyanya sambil menepuk pipi sang suami.


"Enggak!" jawab Jea sambil mengeratkan dekapannya.


"Khawatir sama aku?" tanya Renata yang langsung diangguki Jea, "Sayang sama aku berarti?"


Jea mengernyitkan dahi, aneh dengan pertanyaan istrinya. "Perlu dijawab?"


"Ih kamu ....perlulah, gitu pakai tanya lagi."

__ADS_1


"Kamu juga ngapain tanya gitu." Balas Jea sambil menoel hidung Renata.


"Aku takut kalau aku hamil terus gendut kamu gak cinta sama aku, hiks..hiks.."


Pemikiran macam apa ini. Badan masih tipis gitu sudah berandai jadi gendut. Yassalam. Cewek tuh rempong banget sih, kemarin disindir gak hamil-hamil minta dihamilin. Sekarang udah hamil gak mau gendut.


Aaargghhhh. Kalau gak sayang udah dipites kali.


"Kamu gak bakal gendut sayang." Jea berusaha seminimal mungkin mengalihkan pemikiran unik ala Renata.


"Kamu kok tahu?"


"Lah sekarang muntah terus, makan cuma buah, minum jahe anget, lalu roti itupun separoh doang, gak nyampe selembar. Bisa gendut dari mana."


"Ihss..itukan sekarang, masih adaptasi wajarlah muntah terus, tapi nanti kalau udah selesai fase muntahnya, aku makan apapun, apa gak gendut."


"Ingat kata dokter Emilia tadi, ibu hamil harus bahagia Loh, kasihan dedeknya kalau ibunya sedih. Yah? Mulai sekarang tanamkan dalam pikiran kamu, kamu sehat dedeknya juga sehat."


"Kamu kayak menghipnotis aku deh, tanamkan pikiran kamu." Renata menirukan gaya penghipnotis dalam acara TV, tatap mata saya! kekekek.


"Ah..kok ibu sih, bunda. B . U. N. D. A!" protes Renata yang tak suka dipanggil ibu, berasa tua gitu.


"Eh iya, bunda."


Cari aman sajalah, Je. Daripada menangis tiba-tiba, bisa kena cubitan kepiting ala Kanjeng mamih juga nanti. Menantu kesayangannya tak boleh menangis.


*******


Kondisi Renata masih belum berubah. Kebiasaan morning sicknees masih berlanjut, setiap bangun tidur pasti deh berkawan dengan wastafel. Namun setelah mandi air hangat, ia sudah tidak mual.


Pengalaman pertama merawat ibu hamil memang cukup melelahkan bagi Jea. Renata yang biasa mandiri, sekarang manja minta ampun. Ditinggal pamit ke kantor saja, bisa menangis lama, pernah dari setelah sholat shubuh sampai jam setengah 7. Ya Allah Tuhan, tuh air mata deres banget dah keluarnya, batin Jea saat itu. Kesal-kesal kasihan lah pokoknya.

__ADS_1


Belum lagi ceramah mama setiap pagi, sudah saingan sama penyiar radio dah. Andalan tiap sarapan, "Renata jangan dibuat nangis mulu, ditinggal kerja terus disayang jarang, diajak main terus giliran hamil gak mau repot."


Hadeh...kenapa berhadapan dengan perempuan menjengkelkan sekali sih? batin Jea meronta. Stok sabar sepertinya harus diisi lebih banyak lagi.


Hingga di Minggu ketiga setelah dinyatakan hamil, barulah Renata sudah agak normal. Morning sicknees sudah berkurang, sudah bisa makan makanan rumah, meskipun moodnya masih seperti rollercoaster.


Bahagia dan selalu tertawa ketika sahabat somplaknya datang. Entah itu Ola dan Ceca, ataupun anak lorong 13. Mereka sering sekali mengunjungi Renata, kadang menuruti permintaan ngidam ala Renata.


Pernah suatu siang, Ola yang baru kelar bimbingan di wa untuk membeli siomay di depan gerbang kampus mereka. Yassalam. Ola yang cantik harus menahan panasnya matahari sampai wajah Ola memerah. Ya kali, kalau gak sayang udah dibuang tuh istri CEO, saking kesalnya harus mengantri pula, dan ketika diberikan pada Renata hanya dimakan satu doang. Menjengkelkan.


Berbagai drama dilalui orang terdekat Renata, entah karena ngidam atau hanya dibuat-buat agar dia selalu diperhatikan. Hufhh...


"Yakin mau ke kampus?" Jea pagi itu dikejutkan dengan Renata yang ikut bersiap dengan kemeja dan celana jeansnya. Sejak tahu hamil, setelah shubuh ia kembali tidur lalu jam setengah 7 menyiapkan baju Jea dan menemaninya sarapan. Setelah itu menjadi sleeping beauty.


"Udah saatnya bergairah setelah bermanja-manja ria kemarin." Jawab Renata santai.


Jea kaget istrinya itu sadar kalau kemarin-kemarin dia super duper manja, bahkan Jea saja sampai pusing menuruti kemauan Renata. "Gak panas!" Ujar Jea sambil memegang kening Renata dengan telapak tangannya. Dikira istrinya ini sakit atau salah minum obat kali. "Aneh!" lanjutnya.


"ihhhh... ngeselin deh." Renata menepis tangan suaminya. Dia harus bersyukur sekali punya suami sesabar Jea.


Pernah suatu malam, Mita membeli ceker pedas dari kedai Frozen food, dan adik iparnya itu menyimpannya di freezer. Tengah malam, Renata lapar dan mengukus ceker itu. Aroma pedasnya cukup menggiurkan. Setelah mengukus, ia membawa ceker tersebut ke kamar dengan piring kecil. Ia membangunkan sang suami, dan ketika Jea sudah melek, Renata hanya tersenyum manis dengan menyodorkan satu ceker pedas itu.


"Kamu mau?" Ujarnya tanpa dosa, detik itu juga Jea ingin berteriak kesal. Badannya sudah lelah, pikirannya terkuras habis dengan pekerjaan kantor. Belum lagi emosinya harus benar-benar ditahan mengahadapi istrinya yang super rempong akhir-akhir ini. Mengantuk berat sayanggg.


"Enggak." Ucap Jea sedikit berteriak dan itu menjadi boomerang baginya, Renata menangis di tengah malam. Ya Allah....


"Maaf sayang...maaf."


"Kalau gak mau ya udah, gak usah bentak. Kasihan cekernya juga kalau dibuang."


Ya Allah...ingin sekali Jea menjambak rambutnya, melampiaskan kekesalan yang diperoleh dari perempuan halalnya. Istrinya lebih kasihan ceker gak dimakan daripada suaminya. Allahu Akbar.

__ADS_1


Cukup....plis cukup....gue mau merem. Kalau gak cinta udah gue tendang dari kamar ini. Ingat ocehan itu hanya menggema di hati Jea, tak ada keberanian untuk mencetuskannya di depan ibu hamil yang cukup menjengkelkan ini.


Astaghfirullah


__ADS_2