CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
PAMIT


__ADS_3

/ Istri yang setia/


/Atau kamu lagi di dekat Jea, makanya kamu gak berani balas?/


/Besok masih ke kantor kan?/


/Bagaimana Renata?/


/Saya tunggu balasan kamu/


Begitulah rentetan pesan Pak Ito yang sudah terbaca oleh Jea.


Ting


Lagi, bos duda itu mengirim pesan lagi.


/Kamu sibuk ya/


/Balas dong/


"Sayang, sayang!" Jea membangunkan Renata, ia menyodorkan ponsel Renata, matanya masih 5 Watt belum bisa mencerna ucapan Jea.


"Apa?"


"Ito kirim pesan nih!" pancing Jea, siapa tahu istrinya mau meladeni.


"Balas aja, males. Kelihatan banget kalau mau PDKT."


"Dih ..ge-er. Siapa tahu urusan penelitian loh!" masih mengetes Renata rupanya.


"Penelitianku urusannya sama marketing doang, gak ada urusannya sama si bos." Renata menjawab dengan posisi masih rebahan. Ia juga heran kenapa dirinya begitu mengantuk setelah makan siang tadi.


Jea tersenyum puas, istrinya ini memang unik. Biasanya cewek kalau didekati cowok setampan Ito akan luluh, lah ini cuek bebek.


"Emang kamu gak suka ya diperhatikan sama cowok?" tanya Jea dengan menghimpit tubuh Renata di sofa.


"Ih...sempit tahu." protes Renata karena ulah Jea yang mengganggu acara rebahannya.


"Pindah ke sana yuk." Ajak Jea, dirinya juga ingin rebahan, otaknya sudah cukup keras untuk bekerja hari ini. Waktu pulang kurang 2 jam lagi.


Renata bangun, minum air mineral dulu baru beranjak menuju ruang istirahat suaminya, dan kembali tidur. Jea yang mengunci pintu ruangannya terlebih dulu kini sudah mendekap sang istri. Membelai lembut pipi mulus Renata.


"Kamu beneran gak ladenin si ITO itu?"


"Enggak, Yang. Lagian kamu tahu sendiri aku gak suka sama cowok yang terkesan gas poll kalau pdkt. Bikin eneg." Jawab Renata dengan mata terpejam.


Jea tertawa, ia merebahkan diri sambil menatap langit kamar. Tangannya tetap mengelus kepala sang istri, "Aku bilang apa kan, pasti si duda itu kesemsem sama pesona kamu."


Renata mengubah posisinya, kini menghadap wajah lelah Jea. "Aku tidak punya hak melarang seseorang suka sama aku. Tapi aku punya hak untuk tidak membalasnya."


"Bener ya? selalu setia sama aku."

__ADS_1


Renata mengangguk dan tersenyum, Jea pun mengecup bibir Renata.


"Tumben cuma kecup doang."


"Mancing nih?"


"Enggak!" tolak Renata sambil menepis wajah Jea yang mulai mendekat ke arah leher Renata.


"Nolak dosa loh!"


Dan terjadilah olahraga menggairahkan di siang menjelang sore ini. Dasar Jea kelewat mesum.


*****


Renata masih berkutat dengan web didampingi kepala devisinya, tampak ia sangat serius, dan sesekali bertanya pada Tommy tentang web yang ia kembangkan. Ia juga tak lupa mendokumentasikan kegiatannya serta performa web selama pengambilan data penelitian.


"Sudah bagus kok web kamu. Fiturnya juga sangat mendukung untuk promosi."


"Kalau diaplikasikan di perusahaan selain makanan bisa gak, Pak?" Renata meminta pendapat Tommy, bisa ditulis di bab penutup sebagai saran.


"Bisa banget, Ta! Sebenarnya web seperti ini bisa dipakai untuk semua produk, hanya saja paling bagus memang perusahaan makanan."


"Kalau di perusahaan seperti ini biasanya mengembangkan web sendiri atau gimana?"


"Selama ini kita tidak promosi menggunakan web, Ta! Jadi kalau web kamu ini berhasil menaikkan omset mungkin kita akan coba pakai web."


"Kamu mau jual web di sini kah?" tanya Pak Ito yang datang secara tiba-tiba.


Jengah yang dirasakan Renata, usaha si bos duda ini gak main-main rupanya. Dia sudah tahu posisi Renata istri orang kok tetap mau PDKT. Apa dia mau mengetes kesetiaan Renata?


"Belum terpikir, Pak. Mungkin saya coba di perusahaan suami saya dulu." Renata sengaja membawa nama Jea, mengingatkan Ito bahwa dia sudah ada yang punya. Meski Renata sendiri tidak tahu apa yang direncakan Ito.


"Loh kamu sudah menikah, Ta?" tanya Tommy yang malah kaget mendengar celetukkan Renata.


"Sudah, Pak."


"Hem saya kira kamu masih single." Ucap Tommy lirih.


Renata hanya tersenyum canggung.


"Menantu pak Sanjaya ini, Tom!"


Dih...si duda kenapa jadi ember.


"Ouh suami pak Jea?"


"Kok pak Tommy tahu suami saya?"


"Bos muda yang cukup cerdik, baru menjabat CEO dua tahun saja sudah menang beberapa tender,"


Renata mengangguk saja. Ia juga heran, kenapa Jea sejenius itu, ya. Padahal dilihat keseharian cuma kemesuman yang hakiki kelebihannya. Renata baru sadar, sebisa mungkin suaminya itu menolak proyek Ola yang kelihatan banget imajinasinya. he..he...

__ADS_1


"Kamu juga naksir Renata, Tom?"


Lah si bos duda kenapa tanya hal pribadi?


Ditanya seperti itu, Tommy hanya melongo, lalu menggeleng disertai gerakan tangan, menolak pernyataan si bos duda itu.


"Kamu kalau naksir harus siap patah hati, suaminya sudah sempurna, mana mau lirik kamu. Saya saja yang jadi bos juga dicuekin."


Hah? ne bos salah minum obat kali. Di siang bolong bisa ya mengumbar hal yang tidak penting. Eh...rupanya si bos sakit hati lantaran wa nya tidak dibalas Renata kemarin.


"Bos naksir kamu sepertinya, Ta!" Tommy memulai obrolan sepeninggal bos duda gak jelas itu.


"Enggak mungkin, Pak." Tolak Renata dan kembali fokus pada pengambilan data penelitian."


Sejak siang itulah, Ito sudah tidak lagi tebar pesona pada Renata. Baik di wa maupun di kantor, hingga Renata selesai pengambilan data penelitian, keduanya tidak pernah bertegur sapa lagi, hanya beberapa kali berpapasan dan Renata mengangguk hormat begitu saja.


"Buat Pak Tommy dan tim marketing lainnya dan Mbak Fany!" Ucap Renata sambil menyerahkan beberapa box bolen dari toko kue mama Jea.


Hari itu, hari terakhir Renata di kantor Ito. Ia menyerahkan laporan penelitian dan oleh-oleh. Karena kerja sama mereka lah, pengambilan data sesuai dengan rancangan penelitian Renata.


"Kamu gak mau pamitan sama Pak Ito, Ta?" tanya Tommy, berniat menjahili Renata memang.


"Gak sopan tahu, gak pamit Pak Ito, mahasiswi di bagian keuangan kemarin saja pamitan loh." sambar Irene, anggota devisi marketing lainnya. Gosip Pak Ito naksir gadis yang melakukan penelitian memang santer terdengar saat itu. Ada tiga orang mahasiswi yang melakukan penelitian di perusahaan itu. Dua diantaranya di bagian keuangan sedangkan satu adalah Renata di bagian marketing.


Semua mengira gadis yang bernama Richie yang ditaksir bos duda itu, lantaran cantik seperti model dengan dandanan super wah. Menyaingi pegawai di kantor itu. Hanya Tommy saja yang tahu siapa yang ditaksir bos dudanya itu.


"Aku antar deh, Ta!" cicit Tommy dengan diiringi kekehan, membuat Irene curiga.


"Boleh deh, satu box saya ambil buat Pak Ito ya, maaf jatah buat kalian berkurang."


"Hemmm ini lebih dari cukup kok!" celutuk Mira, asisten pribadi Tommy sekaligus calon gebetannya.


Tommy dan Renata berjalan menuju ruangan Ito. Setelah bertanya dengan sekertaris Pak Ito, dan mengetuk pintu. Keduanya diizinkan masuk.


"Selamat siang, pak!" sapa Tommy.


Wajah serius Ito langsung mendongak melihat dua orang yang datang. "Tumben."


Renata berusaha tidak menampilkan ekspresi sebalnya. Tahan bentar, Ta. Setelah ini Lo tidak berhubungan dengan dia kok, batin Renata menenangkan.


"Ada apa?" tanya bos duda itu.


"Saya mau pamit, Pak. Karena penelitian saya sudah selesai, dan ini oleh-oleh untuk bapak." Ucap Renata sopan dan ramah.


"Ouh sudah selesai, baguslah. Terimakasih oleh-olehnya. Gak ada guna-gunanya kan?"


Renata hanya tersenyum, padahal di dalam hati kesal setengah mati. Keji banget tuduhannya kasih guna-guna. Apa untungnya coba.


"Sukses ya, Renata. Kalau mau melamar kerja silahkan, pasti saya terima."


Renata pun berterima kasih atas tawarannya, dan ia pun pamit. Sedangkan Tommy masih tertahan di ruangan itu karena ada tugas tambahan dari Ito.

__ADS_1


__ADS_2