CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
TAWARAN


__ADS_3

"Kondisi papa kayak gini, Kak. Fokus pada kesembuhan papa dulu ya,"


Jea menggeleng. Tiba-tiba ia menggenggam tangan Renata. "Papa tadi malam udah bilang gak kuat, Ta. Aku takut."


Tes


Air mata Jea jatuh, sekuat-kuatnya dia menahan tangis, luruh juga ketika membahas papa. Dengan menyeka air mata, ia menceritakan apa yang diinginkan papa.


Renata membeku. Bukan, bukan seperti ini konsep nikah yang diinginkan, terlalu buru-buru dan ia takut ini hanya perasaan sesaat Jea yang nanti bisa berubah. Ia gak mau hal itu terjadi. Bagi Renata cukup sekali saja menikah.


Zac


"Aku takut kalau terburu-buru malah gak baik, kak. Takut ini hanya perasaan sesaat Jea saja."


"Apa yang membuat kamu masih tidak yakin denganku?"


"Semua yang serba terburu-buru, aku gak suka."


"Baik, aku tidak akan memaksamu."


Ini apa maksudnya? membatalkan semua rencana atau bagaimana?


"Mbak ini pesanannya." Ujar seorang pramusaji.


Jea mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu, segera mengambil kantong kresek dan segera beranjak tanpa menunggu Renata.


"Mbak kembaliannya ambil saja!" begitu pesan Renata sembari mengejar langkah Jea. Keduanya terdiam, Jea kecewa. Sedangkan Renata merasa bersalah, sesampainya di HCU, Renata mengambil alih kantong kresek dan segera menyuapi mama dan Mita. Jea makan dalam diam, tidak menghiraukan keberadaan Renata.


Drt...drt....


Ponsel Renata berbunyi, bapak memanggil. Mungkin beliau baru saja membuka pesan yang dikirim Renata.


"Iya pak, aku udah di rumah sakit."


"Baik baru selesai workshop, nduk. Habis isya insyaallah bapak ke sana."


"Hati-hati, Pak!" pesan Renata sebelum menutup telponnya.


Ceklek


Ruang ICU terbuka, dokter syaraf yang menangani papa muncul dengan wajah sumringah. Sepertinya kabar baik.


"Alhamdulillah, Pak Sanjaya sudah stabil. Satu jam lagi akan dipindahkan ke kamar perawatan. Salah satu dari pihak keluarga bisa ikut saya."


Jea berdiri dan mengikuti langkah dokter tersebut.


"Pak Jea, kondisi Pak Sanjaya saat ini memang stabil, hanya saja saya khawatir dengan kondisi beliau nanti yang gampang drop. Jangan sampai terkena serangan stroke lagi ya pak."


"Iya dok, kalau boleh tahu penyebab pingsannya papa saya tadi kenapa ya dok?"


"Tekanan darahnya cukup tinggi, apa sebelum pingsan beliau makan pemicu tekanan darah naik, seperti daging kambing?"


Jea terhenyak, setahu dia, mama meminta ART tidak memasak daging kambing dalam olahan apapun. "Setahu saya papa tidak pernah mengonsumsi olahan daging kambing lagi."

__ADS_1


"Baiklah, mungkin kondisi beliau memang sedang drop. Tolong kontrol emosinya, buat beliau bahagia."


"Baik dok, terimakasih."


****


VVIP NO 4


Ruang perawatan Pak Sanjaya.


Sudah datang orang tua Renata, bapak dan ibu menghampiri besannya. Berbicara cukup lama tentang kondisi papa. Sedangkan Renata dan Jea hanya diam, tak saling bicara. Mita sudah tertidur pulas dalam pangkuan Renata.


"Nanti kamu tidur di kos apa hotel?" tanya Ibu.


"Di kos saja, Bu. Motor Kia ada di kos biar besok enak riwa-riwinya."


"Jangan balik terlalu malam, nanti kos kamu terkunci." Pesan Ibu sebelum pamit pada mama. Renata mengangguk. Ibu dan bapak kemudian balik ke hotel, beliau tidak tanya Renata ke kos dengan siapa, toh ada Jea, pasti diantar Jea tentunya, pikir beliau.


"Ma, Renata pulang dulu ya, ma. Insyaallah besok Renata ke sini lagi."


Mama Jea mengangguk, dan memeluk Renata sebentar. "Diantar Jea ya?" tawar beliau.


"Nggak perlu, Ma. Renata sudah dijemput temannya." Ketus Jea berusaha tidak berdekatan lagi dengan Renata.


"Benar, Ta?"


Renata tidak mau ada kesalahpahaman dengan mama, ia pun mengangguk. "Teman kos Renata sudah ada di parkiran kok, Ma!" jawabnya menenangkan. Ia juga sempat melirik ke arah Jea. Cowok itu sepertinya benar-benar kecewa, bahkan untuk menatap Renata saja tidak mau.


"Renata pamit ya, Ma. Assalamualaikum." Renata juga tidak mau ambil pusing dengan Jea, keadaan seperti ini harus ada yang mengalah agar tidak memperkeruh suasana.


"Waalaikumsalam."


Sepeninggal Renata, mama hanya diam mengamati wajah keruh putranya, sepertinya mereka bertengkar lalu beliau mengucapkan kalimat pamungkas yang membuat Jea segera berlari mengejar gadis itu. "Kalau sudah tidak peduli dengan Renata, silahkan bilang ke bapak dan ibunya, mumpung kalian belum melangkah lebih jauh."


Tidak..itu tidak mungkin. Jea sayang sama Renata, Jea ingin menjadikan Renata sebagai teman hidupnya. Memang dia kecewa tapi ia tidak kuasa kalau melepas Renata. Urusan menikah ia tidak mau memaksa Renata lagi, biar mengalir dan sesuai kesepakatan kedua keluarga.


Tepat di dekat musholla, Jea mendapati Renata yang berjalan agak cepat, mungkin ia takut kemalaman juga.


"Aku antar." Ucap Jea sembari menarik tangan Renata.


Gadis itu berhenti, dan menatap wajah Jea. "Udah gak marah sama aku?"


Jea berdecak sebal, sempat-sempatnya Renata menanyakan hal itu. "Masih."


Renata melepaskan pegangan tangan Jea pelan, "Aku bisa pulang sendiri, temani mama dan Mita saja."


"Sekali aja, Ta. Biarkan aku mengantarmu, ini sudah malam."


Renata menepuk pundak Jea, "Kamu kan masih marah, aku khawatir kamu menurunkan aku di tengah jalan."


Jea terseyum lalu mengacak rambut Renata, "Gak akan."


Di dalam mobil, beberapa kali Renata menguap.

__ADS_1


Cukup lelah hari ini. Otaknya sudah diperas di kantor, tubuhnya harus kuat menemani calon keluarga barunya.


"Tidur saja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai kosan."


Renata menggeleng, "Takut diapa-apain." Jawab Renata mencoba bercanda dengan cowok yang masih mode mute.


Nah kan, Jea tertawa meskipun sedikit. "Ya gak pa-pa biar dinikahkan sekalian."


"Maunya."


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, namun Renata teringat belum mengabari Ceca. Ia segera mendial nomor Ceca.


"Jahatnya baru kabarin sekarang, mau gue pecat loh jadi sahabat gue." Pasien percobaan bunuh diri seperti sudah sembuh total, nih buktinya bisa memaki orang seenak jidatnya. Gak salam malah langsung nyerocos.


"Sori, Ca. Gue suiiibukkk banget."


"Halah alasan, besok gue jemput pulang magang, gue mau shopping."


"Sama Ola aja, ya. Benar deh gue sibuk."


"Eh...baru mau dilamar aja rempong."


"Ca!" hentak Renata karena Ceca main nyerocos saja, padahal di situ ada Wira.


"Siapa yang dilamar?" tanya Wira spontan. Tepat dugaaan, Wira pasti menguping kalau berurusan dengan Renata.


"Ta, Lo dilamar siapa?"


"Eh apaan Lo main rebut ponsel gue."


Ribut deh dua orang itu, kasihan hp nya. Kalau bisa bilang jangan tarik akuuuuuu.


"Ntar gue telpon lagi, Ca!"


"Ta, woy....Lo dilam------" masih berusaha mencari jawaban rupanya si Wira, suaranya mengecil tapi masih terdengar. Mungkin dihalang-halangi Ceca agar menjauh dari ponselnya.


"Wira ya?"


"Siapa lagi."


"Gimana ya reaksinya kalau kamu tahu saya lamar nanti?"


"Mewek kejer mungkin."


"Emang beneran cinta sama kamu?"


Renata mencibir, "Enggak. "


Jea terkekeh pelan, sebagai laki-laki ia memang menyadari Wira sayang dan cinta sama Renata, hanya saja cowok itu terlalu mengulur waktu atau tidak punya keberanian melamarnya, itu salah satu alasan Renata meragu pada ucapan Wira, terlebih cap calon istri idaman hanya bualan saja mungkin.


"Jadi gak sabar lihat ekspresi mewek kejernya."


"Jahatttnyaaaaa,"

__ADS_1


__ADS_2