CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
AKHIR SEBUAH RASA


__ADS_3

Sepulang dari rumah Ola tadi pagi, Helwa lunglai, gejolak ibu hamil muda mulai ia rasakan. Bahkan untuk ke kamar mandi pun ia sempoyongan. Mama Helwa mengurut tengkuk Helwa pelan, meskipun beberapa hari yang lalu kedua orang tuanya marah hingga ia ditampar beberapa kali oleh sang papa. Tapi namanya orang tua, tidak akan sanggup melihat anaknya menderita.


"Maaf, Ma!" ucap Helwa sembari membersihkan mulutnya di wastafel kamar mandi. Mama Helwa memberikan tissu dan segera memeluk Helwa. Tubuhnya makin kurus, dan wajahnya tampak pucat.


"Mama buatin jahe hangat ya,"


Sepeninggal mama Helwa berjalan ke arah ranjang, memegang kepalanya yang pusing dan menangis. Menyesal sungguh menyesal, betapa bodohnya dia saat itu terbuai dengan kata-kata manis seorang pria brengsek.


Ting


Pesan masuk dari Wira. Kaget sebenarnya, karena setahu Helwa, nomor ponselnya sudah diblokir oleh ayah biologis bayinya.


/Temui aku di cafe mix n love/


Helwa merebahkan diri sembari memegang ponselnya. Air mata keluar begitu saja, apa yang harus dilakukan sekarang. Menerima ajakannya atau membiarkannya menunggu seperti yang pernah ia alami kemarin? Kepala Helwa sekarang sungguh pusing, yang ia inginkan hanya tidur, iya tidur.


Sayup-sayup terdengar langkah mama Helwa, mungkin mengantarkan jahe hangat, Helwa pura-pura tidur. Capek dan tak kuasa melihat wajah sang mama yang tampak sedih tidak seperti hari biasa.


"Wa, bangun nak!"


Ya Allah rasanya sakit sekali, betapa lembutnya mama Helwa memanggil putri yang sudah mencoreng nama baik keluarga dengan sebutan nak.


"Helwa!" panggil mama lagi. Sebisa mungkin Helwa menahan untuk tidak bersuara, bahkan Isak tangis pun dilarang terdengar.


"Cepet banget kamu tidurnya," ucap sang mama sambil mengelus rambutnya. Makin nyesek dengan perlakuan sayang beliau. Karena tak mendapat balasan, mama Helwa keluar dan menutup pintu kamar sang putri. Barulah Helwa mengerjapkan mata dan seketika itu juga buliran air mata menetes.


Penyesalan tiada tara, ia harus menerima konsekuensinya. Papa Helwa sudah memberi ultimatum, kalau sampai bulan depan tidak ada etikat baik dari laki-laki yang menghamili Helwa, maka papa akan mengasingkan Helwa ke Singapura, tinggal di sana sekaligus melanjutkan studinya.


Helwa ingat ultimatum itu, ia segera mengambil ponsel dan membalas pesan dari Wira itu.


/Oke aku ke sana/


Kesempatan terakhir untuk meminta pertanggungjawaban, kalau sampai dia memegang keegoisannya, oke... say goodbye for him.


Tanpa pamit ke mamanya, Helwa mengendarai mobilnya menuju cafe yang ditunjuk Wira. Ucapan selamat datang memaksa Helwa untuk tersenyum pada pegawai cafe itu. Ia segera mempercepat langkahnya menuju meja yang sudah di tempati Wira.


"Apa kabar?" sapa Helwa sambil menarik kursi duduk di depan Wira. Laki-laki itu seketika mendongak, mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu tersenyum sinis.


"Baik, Lo?"


"Buruk," jawab Helwa berusaha tidak ketus.


Wira lagi-lagi tersenyum sinis, "Aku ke sini tidak mau membahas anak dalam kandunganmu itu."


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Helwa mengepalkan tangannya, brengsek.


"Aku hanya mau bilang, jangan campuri urusanku. Hubungan kita selesai."


Helwa masih ingat pesan Ola, jangan menunjukkan wajah tertindas. "Baik kalau itu maumu, aku tidak akan memaksa. Ada lagi yang mau kamu bicarakan?"


Jengah, pengen nonjok wajah laki-laki di hadapannya itu. Kalau saja ia sebar-bar Renata atau Ola, mungkin Wira habis saat ini dengan bogemannya. Tapi dia terlalu lemah, menahan air mata saja sudah cukup bagus.


"Soal anak itu--"


"Anggap saja kamu tidak pernah melakukannya denganku, Wir."


"Baguslah!"


"Satu hal yang aku minta dari kamu, jangan pernah meminta anak ini suatu saat nanti. Karena sejak kamu menyuruh aku menggugurkan anak ini, sejak itulah dia bukan anakmu lagi."


"Tidak masalah."


"Aku pergi dulu, terimakasih sudah membuang ku dengan cara hina seperti ini. Semoga tidak ada korban selain aku. Permisi."


Helwa beranjak dari kursi cafe. Melangkahkan kaki tanpa menoleh ke belakang. Kenangan pahit harus dilupakan, kini saatnya menjawab ultimatum sang papa. Lebih baik menjauh dari lingkungan ini, menata hidup bersama anaknya nanti, sekaligus menebus dosa pada orang tuanya.


Helwa tak segera pulang, ia berkeliling kota dengan tumpahan air mata, gejolak mualnya tidak ia indahkan. Ia ingin meluapkan emosi serta membuang air mata kesedihan. Cukup hari ini saja air mata kesedihan keluar, mulai esok tak akan ada air mata untuk kesedihan lagi. Hanya tawa dan bahagia.


Pukul 10 malam, ia pulang ke rumah. Disambut


"Kapan berangkat ke Singapura?"


Papa langsung luruh dengan pertanyaan Helwa, beliau langsung memeluk mama, mungkin menangis karena bahu beliau terlihat naik turun. Pertanyaan itu menyiratkan putrimu akan melahirkan anak tanpa suami.


Allahu Akbar, betapa kejamnya aku jadi Putri kesayangan mereka. Aku jahat. Jerit Helwa dalam hati.


"Yakin, Wa?" tanya Mama yang lebih tegar daripada papa.


"Yakin, Ma! Ayah dari bayiku menolaknya. Aku tidak mau memaksanya, daripada aku hidup dengan orang yang tidak bertanggungjawab nantinya."


"Baiklah, besok sore kita berangkat." Ujar papa yang sudah menyeka air matanya. Beliau lalu naik tangga menuju kamar beliau.


Helwa menghela nafas berat. Keputusan yang cukup sulit tapi ini pasti lebih baik. Lingkungan di Singapura lebih menenangkan daripada gunjingan para tetangga. Ia tak berani membayangkan anaknya dicemooh sebagai anak haram, anak tidak punya ayah. Helwa pasti tidak sanggup mendengarnya.


/Besok pagi aku ingin bertemu denganmu di kantin jurusanmu, Ta. Aku mau pamit. Aku tunggu jam 10 pagi ya/


Helwa melempar ponselnya, tak berniat menunggu balasan dari Renata. Otak, hati, dan tubuhnya sudah lelah. Ia berendam dengan air hangat, tak peduli dengan jam yang sudah menunjukkan angka 11 malam.


*****


"Katanya gak ke kampus?" tanya Jea yang sedang dipasangkan dasi oleh Renata.


"Helwa mau ketemu aku, pamit katanya."

__ADS_1


"Gak ada Wira kan?" tanya Jea dengan mencondongkan wajahnya pada Renata.


Renata gemes, dasi belum rapi malah mau cium. Ia mendorong kening sang suami dengan telunjuknya. "Gak usah deket-deket. Ntar napsong."


"Cih, jual mahal banget si neng, dipancing dikit aja udah merem melek." Cibir Jea yang langsung mendapat tabokan dari istrinya.


"Gak usah dibahas." Ucap Renata malu.


"Cie ...yang lagi malu, bilangnya aja gak usah dibahas, tapi pikirannya udah traveling ke mana-mana."


"Yang," hentak Renata kesal.


Cup


" I love you." Cengir Jea.


"I love you too." Ucap Renata sengaja berjinjit, mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan terakhir mengecup sayang bibir suaminya itu.


Jea tidak tinggal diam, ia menahan tengkuk sang istri, memperdalam ciumannya. Semangat pagi cukup menggiurkan.


Renata sudah duduk dihadapan Helwa, menatap wajah sembap teman KKN nya itu. Ada rasa iba setiap melihat kondisinya sekarang. Dia adalah gadis cantik, ramah, kaya, pintar, cukup sempurna. Tapi tidak dengan takdir yang harus ia lewati sekarang, fatal.


"Gimana kabar Lo, Wa?" tanya Renata sambil menatap Helwa.


"Gue baik, Ta. Gue ajak Lo ke sini karena gue mau pamit. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu di kampus ini. Gue pindah ke Singapura, Ta. Sore nanti berangkat."


"Trus?"


"Gue bawa anak ini sendiri." Ujar Helwa yang memberi isyarat Wira benar-benar lepas tangan.


"Astaghfirullah, sabar Wa. Lo pasti kuat."


Helwa mengangguk, mencoba kuat di hadapan Renata. "Lo beruntung." Ucapnya sambil menepuk punggung tangan Renata. "Tidak menjadi korbannya. Dulu waktu awal kita dekat, dia sangat ramah dan terkesan manis, sampai dalam hati gue bilang Renata bodoh menyepelekan cowok ini. Eh ternyata gue yang bodoh, masuk karung jebakannya. Sampai akhirnya---"


"Gak usah dibahas yang sudah lalu, Wa. Bikin sakit hati, sekarang saatnya Lo tunjukkan pada si kupret, Lo wanita kuat. Jangan pernah biarkan dia masuk ke hidup Lo lagi."


Helwa mengangguk, ia kembali menepuk punggung tangan Renata, "Meksi dia cinta mati sama Lo, gue mohon jangan pernah terima dia."


"Gak bakal. Gue udah punya suami yang jauh jauh jauh banget dari Wira."


"Semoga Lo bahagia selalu ya ,Ta."


"Aamiin, makasih. Kirim foto bayi lo kalau sudah lahiran."


"Beres. Gue pamit." Ucap Helwa sambil memeluk teman KKN nya itu.


"Hati-hati." Ucap Renata sambil melepaskan pelukannya.


Helwa mengangguk, kemudian berbalik menjauhi Renata. Air mata yang baru menetes segera dia usap, sudah tidak waktunya bersedih karena Wira dan kehamilannya. Hanya senyuman yang menemani Helwa mengakhiri sebuah rasa cinta berbalut kekecewaan nyata.

__ADS_1


__ADS_2