CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
ALAMAT


__ADS_3

"Siang!"


Sapaan itu berhasil membuat sendok di tangan Renata jatuh. Via dan Intan tersedak seketika. "Pak Je-a?" Renata tergagap.


"Numpang makan siang, ya!"


Via dan Intan meringis dan menganggukkan kepala cepat, sedangkan Renata hanya berdehem, menetralkan keterkejutannya.


"Ayo silahkan dilanjutkan makannya!" Mentang-mentang bos main seenaknya saja duduk tanpa peduli kecanggungan yang ditimbulkan. Coba pikir siapa yang bisa leluasa makan semeja dengan bos.


Krik...krik...krikk....


"Loh kenapa kalian gak makan lagi?"


"Mendadak kenyang lah!" Renata asal ceplos, lupa berhadapan dengan siapa.


"Ouh....santai saja. Anggap saja saya kakak tingkat kalian."


Glek...


"Oke!" Renata yang menjawab, dia sudah jengah dengan kehadiran Jea yang mengganggu ketenangan hidupnya.


"Maaf, Pak. Teman saya agak sakit hari ini!" Ucap Intan sambil melotot pada Renata, sangat tidak sopan berbicara seperti itu pada atasan, apa dia tidak takut nilai magangnya D. Anak ini!!!


"Siapa? Renata?" Jea otomatis menghentikan acara makan siangnya, meletakkan tangannya pada jidat Renata.


Spontan saja Renata memukul-mukul tangan Jea, sembarangan saja main nempel. Sedangkan Via, Intan, dan beberapa karyawan yang melihat adegan itu hanya melongo.


Duh...duh....banyak yang memegang dadanya yang terasa sesak melihat ke'uwu'an bos muda itu pada Renata.


Bisik-bisik sudah mulai terdengar, siapa sih cewek itu? aduh bos aku sakit juga nih... bos lihat aku juga dong.


"Ngapain sih!" tepis Renata.


"Ta, gak sopan!" hentak Via. "Maafkan teman saya pak."


Jea hanya tersenyum, "Gak usah minta maaf, Renata ini calon istri saya. Dia lagi ngambek sama saya."


Duarrrrrrrr


Tidak hanya Via saja yang kaget, Renata pun tak kalah kaget, ia melotot pada Jea sambil mulutnya komat-kamit seperti nya sumpah serapah segera muncul dari bibir Renata. Pengakuan macam apa itu.


"Bercandanya gak lucu." Renata pun segera berdiri, tak mempedulikan Jea lagi. Setelah ini gempar dunia persilatan, siap-siap teror bermunculan di ponsel Renata. Fans bos garis keras pasti turun tangan. GAWATTTTTTT


"Ta...Ta...Ta...!" panggil Jea berusaha meraih tangan Renata untuk berhenti, tidak dipedulikan lagi tatapan karyawannya. Fokus utamanya adalah Renata.


"Tolong lepasin saya, Pak, duh!" protes Renata ketika lengannya berhasil dipegang Jea.


"Oke!" ucapnya sambil mengangkat tangannya ke atas.


"Bapak mau apa sih?"


"Mau kamu!"


"Lamar saya aja deh, daripada rempong, berani?"


Jea hanya terdiam dan menatap Renata, tidak menjawab pertanyaan Renata, "Si Wira gak melamar kamu tapi sangat dekat dengan kamu?"


"Karena dia tidak berniat serius pada saya, so ...saya jadikan saja teman daripada imam." Ucap Renata lalu melangkah pelan menjauhi Jea. "Satu lagi," Renata menoleh pada Jea, "Dia mungkin melamar saya Minggu depan."

__ADS_1


"Itu tidak akan terjadi!"


"Mungkin." Balas Renata sembari tersenyum, dan tanpa pamit ia melangkah menjauhi Jea.


*****


Kalang kabut?? Jelas. Wira tidak boleh melangkah lagi, cukup sebagai sahabat saja, tidak boleh lebih. Setelah makan siang, Jea kembali ke ruangan, wajahnya cemberut, bahkan asistennya ketar ketir terkena semprotan.


"Cari tau alamatnya Renata!" titahnya.


"Renata siapa?" tanya Daffa bingung.


Jea menepuk keningnya, "Gak jadi!" ketusnya kemudian. Ia mengambil ponsel, mencari nomor kontak sebentar lalu menekannya.


Gue tunggu di cafe biasa, ucap Jea saat sambungannya terhubung. Ia pun melangkah cepat, tanpa pamit pada Daffa dan tergesa-gesa. Sapaan karyawan pun tak ada yang dibalas, tujuannya agar ia cepat menuju mobil dan segera melajukan ke cafe biasa, tempat nongkrong Vino dan Jea.


"Ada apa?" pertanyaan Vino saat keduanya bertemu.


"Cari alamat rumah Renata!"


"Ck...kenapa gak telpon aja sih." Protes Vino langsung mendial nomor Sita. "Bentar lagi dikirim Sita."


"Jangan bilang kalau gue yang butuh."


"Cih... pecundang!" ejek Vino tapi menghubungi Sita lagi.


Ting


"Nih!" Vino menyodorkan ponselnya ke arah Jea.


"Kirim alamatnya beg*!"


Vino meringis dan garuk kepala, iya juga ya kenapa tidak terpikir.


"Mau melamar Renata."


"Widih gercep neh pak bos."


"Emang Lo doang yang bisa gercep."


"Gua gak yakin Renata mau, secara kalian gak pernah dekat."


"Renata bukan tipe yang gampang didekati, paling gampang ya dihalalin dulu."


"Dan ternyata kalian gak cocok gimana."


"Ya dicocokkan saja, gitu aja kok repot."


"Traktir kopi gue ya!" lanjut Jea seenaknya. Ia bergegas beranjak tapi sempat menyeruput minumannya.


"Sultan KW Lo!"


******


"Mbak tadi Kak Vino minta alamat rumah Lo." Sita menceritakan permintaan sang pacar sore tadi.


"Buat?" Renata menghentikan menggunakan maskaranya sebentar.


"Gak tahu," ujarnya sambil mengedikkan bahu. "Mau kemana, syantiiikkkkk bener. Tumben mau pakai maskara?"

__ADS_1


"Idih..gue sering kali pakai maskara yang gak pernah pakai tuh blush on dan eyeliner."


"Wangi bener mau kemana Neng?"


"Kencan sama Ceca!"


"Plus Wira!" sindir Elea


"Paket komplit lah malam ini." Jelas Renata, karena memang hari ini dipilih mereka CALON ORANG SUKSES hang out bareng, setelah berbulan-bulan pisah. Lebayyyyyy.


"Naik motor?" tanya Neva.


"Dijemput Ceca."


"Tumben?"


"Apaan sih, Wira langsung dari kantor bapaknya."


"Bhmmm....padahal kita gak bahas Wira juga." Elea mengelak.


"Heleh....gue tahu maksud kalian. Pasti Wira lah!"


"Kasihan tahu Wira, mbak gantung terus." Bela Elea.


"Mbak..jemuran aja ne kalau digantung terus bisa ilang, apalagi hanya sebongkah hati, ntar ditinggal nikah mewek dah."


"Ya berarti Wira bukan jodoh gue, susah amat."


"Biarin aja, nanti lama-lama juga nyantol juga tuh hati sama babang Wira." Elea masih melancarkan aksinya merobohkan ketidakpekaan seorang Renata.


Tapi bagi Renata, Wira hanya sebatas teman tidak lebih sampai kapanpun. Tidak banyak yang diminta Renata untuk menjadi suaminya, hanya satu jaga hati dan tubuh untuk yang halal, dan Wira tidak bisa melakukannya saat ini.


Belangnya Wira, Renata tahu. Seriusnya Wira, Renata paham, jadi lebih nyaman berteman saja.


"Kita lihat minggu depan!" Renata memang menanti datangnya weekend Minggu depan, waktu yang Wira janjikan untuk menemui bapak Renata


"Apaan?" Neva penasaran..


"Katanya Wira bakal ke rumah gue! Tapi gue yakin itu tidak terjadi."


"Why???" tanya Sita.


"Dia terlihat masih ada keraguan. Sebenarnya dia takut kalah saing sama-----"


Renata tidak melanjutkan ucapannya malah menoleh ke arah Sita dengan tatapan menyelidik. "Sut, kayaknya Vino nyari alamat gue buat dikasih ke Jea deh."


"Hah???"


"Kok bisa mbak Renata mikir gitu?"


Baru saja ia akan menghubungi bapaknya, ada pemberitahuan dari Instagram Jea.


Jea_Andra2002


Masa depanku ada di Pacitan


Begitu caption di akun Jea dengan terlampir foto saat KKN mereka beberapa bulan yang lalu.


"Langkahnya lebih cepat dari Wira." Gumam Renata pelan.

__ADS_1


"Siapa?" tanya ketiganya penasaran.


"Sahabatnya Vino." Jawab Renata tegas.


__ADS_2