CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
TENTANG PAPA


__ADS_3

Jea berdiri dengan wajah datar. Seseorang yang baru saja masuk ke ruang tengah membuat Mita dan Mama mendesah kesal.


"Kak Jea." Ucap perempuan itu langsung memeluk Jea erat. Kaget dengan tindakan perempuan itu Jea tak lekas melepaskan maupun membalasnya, diam saja.


Renata hanya diam menatap tajam ke arah orang yang lagi berpelukan itu. Sumpah pengen jambak.


"Ril, gak pantas. Kamu sudah gede." Suara mama yang menyadarkan keterkejutan Jea, ia langsung mendorong perempuan itu.


"Gak pa-pa kali, Mbak. Sepupu juga." Balas perempuan yang mungkin seumuran mama hanya saja dandanannya kelewat menor. Dua perempuan itu juga pakai baju super ketat. Ya Allah... bertamu kenapa pakai baju gitu sih.


Jea langsung menggandeng Renata mengajak ke kamar, mengikuti Mita yang juga masuk ke kamar.


"Aku bisa sendiri." Renata melepas gandengan Jea, dan dia hanya menghela nafas kasar, "perang bakal dimulai nih." gumam Jea mengekori sang istri masuk kamar.


Benar dugaan Jea, Renata hanya diam, naik ke atas kasur, bermain ponsel tak menghiraukan Jea yang berada di sampingnya.


"Sayang, kamu katanya penasaran sama kebiasaanku." Pancing Jea, sudah tidak punya ide lagi menjahili sang istri. Otaknya tiba-tiba buntu. Keberanian main sosor juga meredup, wajah datar sang istri cukup menyeramkan. Kalau boleh memilih, Jea lebih suka Renata mengomel daripada diam seperti ini.


"Sayang, kok diam aja." Ucap Jea sambil menarik baju Renata pelan.


"Aku lagi kesel, jangan diajak ngomong." Ucapnya sambil menyelimuti dirinya hingga kepala. Ganti, adegan tarik menarik dilakukan Jea, tapi Renata cukup kuat menahan selimutnya agar tidak terbuka.


"Sayang!" rengek Jea sambil memeluk erat tubuh Renata. Masih tetap bergeming. Renata ngambek. Jea tetap memeluk istrinya sampai terdengar Isak tangis.


Jea langsung membuka selimut itu dan memeluk erat istrinya. Baru kali ini ia melihat sang istri menangis, gak tega.


"Jangan nangis ya!" ucap Jea sambil merapikan rambut Renata, ia pun mengusap air mata di pipi, lalu memeluknya lagi.


"Aku kesel, aku gak suka sama cewek itu."


Jea tertawa ngakak, tapi semakin mengeratkan pelukannya, tak menanggapi istrinya yang otw ngoceh.


"Kamu kok ketawa sih, gak lucu tau!" Renata memukul punggung sang suami. Eh ...Jea tambah ngakak.


"Aku tuh lagi sedih ya Allah, kenapa kamu malah ketawa, bahagia banget habis dipeluk dia, iya?"


"Iya aku lagi bahagia." Jawab Jea sambil tertawa.


Tangisan Renata tambah kenceng, sampai sesenggukan. Tapi Jea lagi-lagi tertawa, dan masih setia mengusap air mata itu.

__ADS_1


"Jiwa playboy kamu tuh lagi kumat, iya? Seneng banget sama cewek rata itu. Cantik juga B aja, cantikan gue, mana bajunya ya Allah, tuh baju kurang bahan kenapa dipakai juga, dan kamu pasti suka, iya?"


Duh pengen cubit...gemes habis...tapi masih nangis gak tega juga.


"Besok aku mau tidur di kos aja, aku gak sanggup ngelihat kamu dipepet terus sama dia." Masih mengoceh dan Jea membiarkan itu. Suara Renata masih tetap merdu dan Jea suka itu.


"Ya udah aku juga ikut tidur kos kamu." Baru komen sekali, ia langsung mendapat pukulan.


"Kosku cewek, laki-laki gak boleh masuk."


"Ya udah kalau gitu gak boleh tidur sana."


"Kamu tuh sama dia hubungannya apa sih?" Oke sepertinya ini saatnya menjelaskan siapa perempuan itu.


"Nangisnya berhenti dulu baru aku cerita, bisa?" Tawar Jea dan dia mengangguk, "Minum dulu sayang." Jea menyodorkan segelas air.


"Udah sekarang cerita." Titah Renata gak sabar.


Tante Tari adalah istri dari Om Danu, adik bungsu Papa. Beliau masih muda, mungkin usianya masih 35-an, terpaut 12 tahun dengan papa. Saat Om Danu lahir, kakek sudah tidak kuat bekerja dan beliau berpesan pada papa dan Tante Sintya, adik papa yang kedua yang tinggal di Bali, untuk merawat Om Danu. Karena kakek sudah menyekolahkan papa dan Tante Sintya hingga sarjana.


Karena pesan kakek itulah, papa sangat memanjakan om Danu. Apapun yang diminta om Danu pasti dituruti. Sampai saat berumah tangga, Om Danu masih mengandalkan transferan dari papa, karena malas bekerja, padahal sudah diberi usaha garmen di Solo, rumah istrinya itu. Tante Tari.


hingga sarjana, biarkan dia bekerja sesuai kemampuan, gak usah sampai diberikan garmen itu. Tapi Papa tetap ngotot memberikan, mama pun mengalah. Selama berumah tangga, Om Danu hanya berjudi, mabuk-mabukan gitu doang, dan Tante Tari cuek aja. Sedangkan Ceril, dia adalah anak Tante Tari dari suami pertamanya. Aku menganggapnya hanya sepupu tiri doang, aku juga ilfeel dengan dia yang sok dekat. Memang dia pernah bilang naksir aku. Tapi aku mana pernah menggubrisnya.


Mama sangat tidak suka dengan Tante Tari, karena beliau pernah menggoda papa, tapi papa selalu bilang Tante Tari adalah adiknya. Mita juga sama gak suka dengan keluarga Om Danu, yang hedonis, main minta tanpa mau berusaha. Setiap ke rumah ini, selalu Mita menyindir, aku nanti kalau besar mau jadi orang sukses ah, biar gak minta ke orang lain.


Bayangkan anak sekecil itu bisa ngomong julid seperti itu saking kesalnya pada keluarga Om Danu, dan sekarang aku , mama, dan Tante Sintya pusing. Rumah peninggalan kakek di Banten, mau dijual sama Om Danu.


"Cih serakah sekali."


"Ya memang seperti itu, papa selalu kalah sama om Danu, tapi kalau urusan perusahaan papa gak mau main-main. Saham dan segala aset papa, beliau menomorsatukan anak istrinya. Istilahnya Om Danu hanya diberi recehan kekayaannya papa. Dikasih receh aja ngelunjaknya minta ampun, apalagi dikasih bongkahan."


"Aku takut."


"Takut kenapa sayang?"


"Aku takut kamu menganggap Ceril sebagai adik dan memanjakan dia. Aku cemburu."


"Eh." Jea menangkap kata yang membuat dirinya bahagia setengah mati. "Coba ulangi sayang."

__ADS_1


"Aku takut."


"Bukan yang itu, kata terakhir tadi."


Renata menunduk, "Aku cemburu." Langsung mendapat pelukan erat dari Jea, laki-laki itu tak henti-hentinya mencium puncak kepala sang istri. Seneng banget.


"Dengar ya sayang, Aku gak suka Ceril, aku juga ilfeel sama dia, semenjak kenal kamu, kriteria gadis idaman itu ya kamu, cantik, sopan, selalu menjaga diri, setengah waras lagi."


Jea dipukul lagi, "Enak aja setengah waras."


"Lah emang gitu, kita lihat besok pasti kamu sengklek abis."


"Jahat kamu." Renata cemberut lagi. Masih ada isakan kecil terdengar.


"Aku sayang banget sama kamu, poll." Ucap Jea dengan memeluk istrinya itu.


"Aku juga sayang sama kamu, aku gak suka kamu dipeluk sama cewek itu. Kamu cuma boleh dipeluk dan memeluk aku."


Jea tersenyum, ia menatap lekat manik mata yang masih berair itu, dan Renata membalasnya, detik berikutnya Jea sudah memagut Renata dengan sangat lembut dan mesra.


Jea ingin menyalurkan segala rasa sayang untuk istrinya malam ini. Sudah saatnya Renata menjadi istri seutuhnya, toh mereka sudah saling mencintai.


"Uh." Renata mendesah pelan, sorot mata Jea sudah berkabut. Ia beralih ke leher jenjang istrinya memberikan stempel kepemilikan.


Merinding, itu yang dirasakan Renata, ia hanya memejamkan mata, menikmati kelembutan yang diberikan Jea.


Tok...tok...tok


"Je...Jea." Suara mama, mengetuk pintu seperti orang lagi dikejar polisi.


Jea mendongak, mengumpat kesal, lalu berdiri. Renata menangkap sesuatu yang 'mengerikan' di area bawah tubuh suami, dan dia paham itu.


"Kak, itu----


"Bukain pintunya, aku mau ke kamar mandi dulu.


Renata mengangguk lalu berjalan ke arah pintu.


"Maaf ya mama ganggu." Ucap Mama ketika wajah Renata muncul di balik pintu.

__ADS_1


__ADS_2