
"Ma....mama....ma....!" panggil Jea sambil menuruni anak tangga. "Mama mana Bik?" tanyanya sambil celingak celinguk ke arah dapur dan ruang makan. Biasanya setiap pagi beliau sibuk membuat sarapan keluarga.
"Kakak ngapain teriak-teriak?" protes Mita, adik bungsu Jea yang masih kelas 2 SMP.
"Mama mana?"
"Di taman sama papa."
Jea langsung berlari menuju taman samping rumah. Papa Jea, sedang berjemur, menyambut kehangatan matahari pagi ditemani mama sambil disuapi sarapannya. Setahun lalu, papa terkena serangan stroke. Tubuh bagian kanan lumpuh, beliau juga menjadi cadel dan omongannya jadi tidak jelas. Tiap hari ada terapis yang datang untuk melatih otot kaki dan tangan papa tapi belum banyak perubahan.
"Ma, Pa!" sapa Jea sambil mencium pipi papa dan mamanya bergantian.
"Apa?" jawab mama yang maish fokus dengan sarapan sang suami. Beliau begitu telaten menyuapi, bahkan merawat papa Jea tanpa bantuan suster.
"Ma..orang tua Renata datang, beliau ada workshop di Jakarta. Sekalian ya kita ketemu malam ini sambil makan malam.
"Baus!" Papa yang menjawab.
"nik-ah!" Lanjut beliau terputus-putus.
"Papa mau Jea nikah sekarang?" goda Jea, dan mendapat pelototan dari sang mama.
"Maunya, mama ketemu Renata aja belum."
"Ya nanti malam lah, sekalian sama bapak dan ibunya, ya. Mumpung beliau di sini loh Ma..ya ma...yaaaa."
"Cih...anakmu Pa, ngebet kawin." Omel Mama dan disambut tawa papa.
"Habis cantik loh calon mantu papa, gak tahaaaaannn akunya."
"Coba sih secantik apa Renata itu. Cantikan mana sama mama?"
"Cantikan mama lah!" ucap Jea sambil merangkul mama, mencium pipi tembem sang mama. Merayu.
"Kalau ada maunya, gelayutan manja, dasaaarr. Sana berangkat ngantor, anak orang mau dikasih makan apa kalau kamu males ke kantor."
"Siap, laksanakan Ratu."
Mama dan Papa menggelengkan kepala, senyum terbit pada wajah sepasang suami istri itu. Bahagia melihat putra tunggalnya berubah. Dulu berapa perempuan yang dipacarinya, meski gak ada yang serius. Tapi kini, dia harus berjuang keras mendapatkan hati perempuan yang bernama Renata itu.
__ADS_1
Pasti gadis itu memiliki kepribadian yang baik, Jea tipe orang yang mudah tertantang untuk mendapatkan sesuatu. Ia akan bekerja keras untuk mendapatkan keinginannya. Sangat ambisius, seperti papanya.
Di kantor pusat,
Jea bekerja dengan serius, malam ini dia tidak akan lembur. Sore nanti dia akan menjemput Renata dan kedua orangtuanya. Sejak tiba di kantor, ia ingin sekali mengirim pesan pada gadis itu.
"Renata masuk gak hari ini?" tanya Jea saat sambungan telponnya diterima oleh seseorang di sana.
"Hari ini dia izin, Pak. Ada acara keluarga katanya."
"Baik, terimakasih."
Tut, Jea memutus sambungan dengan Fahmi. Ia pun mengirim pesan ke Renata, karena ia yakin tidak sibuk.
/Lagi di mana?/
/Di hotel sama bapak dan ibu, kenapa?/
/Nanti aku jemput jam berapa?/
/Gak usah, aku nanti sama Ola dan bapak ibu ke mall lalu ke kos baru ke rumah Pak Bos/
/Ck....udah dibilang panggil mas, susah amat sih!/
/Ntar malam diresmiin ya/
/Eh pak bos kok gak sibuk?/
Pertanyaan yang bikin Jea mati kutu. Ia pun tidak membalas pesan Renata, melanjutkan pekerjaan yang sudah tertata di meja. Fokus agar bisa pulang secepatnya.
*****
Jam makan siang, mereka akan keluar naik grab. Ola mendadak ada meeting sama papanya. Tak apalah, kasihan juga dia menjadi sopir gratis.
Mall adalah tujuan utama keluarga itu. Renata dipaksa ibunya untuk membeli gaun baru. Yah ibu Renata yakin di kamar kosnya tidak ada dress yang cocok untuk makan malam, yang ada hanya kemeja, kaos, jeans dan sweater.
Niatnya membelikan Renata, eh si ibu kepincut dress juga. "Emang cukup?" pertanyaan konyol Renata.
"Cukuplah, ibu gak gendut -gendut amat."
__ADS_1
"Gak gendut, Kia. Cuma kelewat seksi." Ah si bapak kenapa keceplosan seperti itu. Ingat pak, berat badan bagi emak-emak adalah momok. So...cubita kecil di lengan bapak berhasil membuat bapak kincep.
Dress dan baju bapak beres
Sekarang ganti ke outlet sepatu dan sandal, Renata menggerutu mau apa ke sini????
Ibu langsung memilih heels 15 cm warna navy. Alamaaakkkkkkkk
"Bu, ibu mau bikin Renata jadi patung, cuma bisa berdiri aja. Hadeh....pakai heels pendek atau flatshoes ajalah Bu."
"Eh...mau ketemu calon mertua itu harus cantik, buat kesan pertama itu yang menarik, dan terutama soal penampilan. Calon mertua kamu itukan orang kaya, setidaknya kamu berpenampilan layaknya menantu orang kaya yah... meskipun harga baju masih ratusan ribu. Kalau kamu bisa menempatkan diri dengan baik, mertua kami juga akan menyukaimu."
"Ya tapi penampilan harus sesuai dengan karakterku, Bu. Kia gak mau heels segini tingginya, bisa ngilu, Bu."
"Kamu itu kebiasaan pakai sandal teplek, makanya gak bisa pakai hak tinggi. Ya udah pilih yang kamu suka."
Berdebat dengan ibu itu harus punya strategi biar diizinkan memilih sesuai keinginan, karena Renata tahu beliau bukan tipe ibu pemaksa.
"Bu, bapak lapar."
Haduh.. keasyikan belanja sampai bapak gak diurus. Apalagi setelah pencubitan, bapak hanya diam, bermain hp, dan hanya menjawab iya itu bagus, iya cocok ketika dimintai pendapat dan masih kenak omel juga karena menjawab itu-itu saja, hadeh emak-emak.
"Pak, Bu. Ibu kenapa langsung merestui lamaran kak Jea?"
"Niatnya baik, Kia." Jawab Bapak bijaksana.
"Bukan karena kaya kan?" tanya Renata tiba-tiba. Ia tidak ingin dicap mau menerima Jea karena harta Jea. Maklum ada kekhawatiran soal itu. Pasalnya ia dan Jea tidak pernah menjalin hubungan kekasih, tau-tau langsung melamar saja.
"Bapak kamu memang hanya seorang PNS, tapi tidak menarget menantunya harus kaya. Kamu kan tahu, suami mbak kamu juga bukan dari keluarga kaya, tapi dia mau bekerja keras, bapak kamu merestui juga kan." Jelas Ibu meluruskan pemikiran Renata, "Sebelum Jea datang, malamnya ibu bermimpi kamu membawa setundun pisang emas, ibu kaget lah saat bangun, kamu mau dapat rizeki apa sampai datang ke mimpi ibu. Eh ternyat?a Jea datang meminta kamu, ibu yakin haqqul yakin dia jodohmu."
"Renata memang belum cinta atau suka sama kak Jea, hanya saja niatnya baik tidak mau menjadikan aku pacarnya, tapi istri dan kaget juga ketika dia meminta langsung ke bapak."
"Jalani saja, Nduk. Doa bapak dan ibu buat kamu, insyaallah Jea baik untuk kamu." Ah bapak, gak pernah ngomel, tapi sekali ngomong langsung menancap di hati.
"Kalau ditanya tentang pernikahan bagaimana, Pak?"
"Kalau bisa sekarang lah, mumpung bapak di sini, lagian kalau terlalu lama bapak yang khawatir, bisa saja Jea apel ke kos an mu tiap hari."
"Ya ampun, Pak. Secepat itu?" Sumpah, Renata tak habis pikir dengan jalan cerita yang ditorehkan bapak. Urusan nikah seperti beli cabe di pasar, gak usah dipikir. Ya Allah, nikah macam apa ini.
__ADS_1
"Nikah itu enak, Kia. Percaya deh sama ibu."
"Iya ndoro....Kia manut sama paduka dan ndoro putri." Kedua orang tua Renata tertawa melihat outri kecilnya selalu menjadi gadis penurut.