
Seusai arisan, mama Jea mengajak Renata jalan-jalan di mall. Beliau dengan enaknya mengambil beberapa baju untuk mantu kesayangannya, dan Renata yang kelewat hemat berkali-kali menolak tawaran mama. Sayang sekali uang senilai jut jut hanya untuk beberapa potong baju.
"Suami kerja itu buat kebahagiaan kita, Ta! Mama yakin Jea tidak akan melarangmu belanja." Cicit beliau sembari memilih baju yang ke sekian kalinya.
"Sayang Ma, ditabung aja!"
Mama menoleh ke arah Renata, tersenyum lalu kembali memilah baju. "Jea mah lebih pelit dari papanya."
Hah? Pelit? ATM yang berisi ratusan juta diberikan cuma-cuma kepada Renata dan dianggap mama mertuanya pelit? apa kabar sang papa pada mama? Ya Allah ....inikah sultan sesungguhnya?
"Kamu dikasih ATM debet atau kredit?"
"Debet, Ma!"
"Jangan mau, minta dua-duanya."
Renata melongo, baru kali ini ada mertua yang mengajarkan menantunya untuk morotin anaknya sendiri. Yassalam. Biasanya kan menantu vs mertua lantaran sang anak terlalu loyal untuk istrinya.
"Maaaaa!" rengek Renata menolak serta merta saran yang diberikan sang mama mertua, dan mama Jea hanya cekikikan, beliau tahu menantunya ini termasuk perempuan langkah yang tidak serakah pada harta.
Jea pernah ditanya mama, sebulan Renata habis berapa, dan mama hanya menggelengkan kepala ketika Jea bilang cuma 800ribu. Yassalam. Uang receh buat mama pastinya. Uang segitu lebih kecil daripada jatah Mita sebulan.
"Kamu tuh harus pintar habisin uang suami. Biarkan dia kerja keras buat kamu. Orang tua kamu saja berusaha memberikan yang terbaik, Jea juga wajib memberikan yang terbaik buat kamu. Gak usah sungkan, kalau kamu mau pakai ya pakai aja."
Waduh, Renata mah kelewat hemat, merasa enggan untuk berfoya-foya. Dari kecil dia sudah diajari kedua orang tuanya untuk menabung dulu sebelum membeli, dan kebiasaan itu diterapkan hingga dewasa ini. Nah kalau anjuran mama untuk habisin uang suami, duh....gak tega. Tiap hari bekerja, kalau bisa nambah jam mungkin Jea akan bekerja lebih lama lagi. Lalu dirinya foya-foya, gak etis banget.
"Kebutuhan Renata kan udah dipenuhi kak Jea, Ma. Renata sudah gak butuh apa-apa lagi. Kalau jalan ke mall saja, Renata gak boleh bayar sendiri, selalu kak Jea. Sudah cukuplah Renata menghabiskan uang kak Jea."
Mama tertawa, "Kamu kalau jalan ke mall habis berapa, paling banyak 500ribu kan? receh banget, Ta."
"Mita sekali jalan pernah habis 5 Jeti."
"Astaghfirullah buat apa, Ma?"
"Traktir temannya."
"Trus?" Renata penasaran apakah mertuanya ini marah dengan pengeluaran Mita.
"Ya gak pa-pa, toh gak tiap hari."
__ADS_1
Asli Renata melongo, 5 Jeti buat traktir teman. Apa kabar Renata yang hanya traktir temannya ice cone original. Jomplang banget.
Keduanya pulang hampir Maghrib, dan Jea sudah duduk manis bersama Mita di ruang keluarga. Selonjoran di sofa bermain ponsel sedangkan Mita bersama dengan laptop dan drakornya.
"Lupa ya punya suami?" sindir Jea menatap istrinya yang terlihat sangat cantik, menggunakan dress sifon warna tosca dengan motif kupu-kupu kecil, dan polesan make up natural dari salon yang disambanginya bersama mama mertua. "Cantik." Gumamnya sambil tersenyum.
"Hem ditinggal baru sehari aja udah komplain, apa kabar Renata yang tiap hari kamu tinggal kerja sampai di rumah pun masih kerja." Mama protes.
"Ya gimana Ma, kerjaanku banyak." Ucap Jea sambil mendekati Renata, mengajaknya masuk kamar saja, apalagi sebentar lagi Maghrib.
"Awas main ciam cium di sini, ada anak kecil." Ancam Mita, Jea pun terkekeh dan mengacak rambut adik semata wayangnya.
Setelah pintu kamar tertutup, Renata segera membersihkan diri dan persiapan sholat maghrib. Begitupun dengan Jea.
"Gimana arisannya?" tanya Jea yang penasaran juga. Ia merebahkan diri di atas sajadah berbantal paha Renata yang masih berbalut mukenah.
"Ya gitu, ajang pamer. Aku gak suka."
Jea tertawa, seperti dugaannya arisan bukan kegiatan yang disukai sang istri. "Pamer apa?"
"Mama pamer aku sebagai mantu beliau. Trus ada tuh namanya Jeng Ira, kayaknya gak suka sih aku jadi istri kamu."
"Oh...pantesan. Nyindir belum hamil juga."
Hamil? Topik sensitif untuk perempuan yang sudah menikah memang. Tapi sesuai kesepakatan keduanya, Renata menyelesaikan skripsinya dulu baru hamil.
"Gak usah didengerin." Ucap Jea sambil mendongak, menatap wajah sang istri dari bawah. Terlihat memang istrinya sedikit manyun. Ia pun bangun, bersila menghadap sang istri.
"Kita kan udah sepakat, tunda hamil dulu. Selesaikan skripsi kamu baru deh program hamil."
Renata mengangguk, tapi ia terlalu sensitif jika pembahasan hamil itu. Setiap kali ditanya udah hamil, ada rasa keki juga. Dipikir dia punya kelainan hingga gak bisa hamil gitu, padahal nikah juga baru dua bulan. Orang mah mana tahu.
"Hamilin aku, Yang." Cicit Renata tiba-tiba sambil menunduk, malu. Jea tertawa ngakak, ia langsung memeluk istrinya.
"Tiap hari juga aku hamilin kamu, tapi belum jadi sayang. Kamu gak kayak biasanya deh, omongan orang jarang kamu dengar. Apalagi yang mengandung toxic kayak gitu."
"Aku kesel aja, terbawa suasana. Takut mama dan keluarga kamu mikir aku gak bisa hamil."
"Hush, gak boleh ngomong gitu. Mama emang pernah tanya si aku sering gak berbuat itu sama kamu."
__ADS_1
Renata langsung melepas pelukan Jea, melotot kaget mendengar celotehan sang suami dengan mamanya. "Trus kamu bilang apa?" khawatir juga kalau Jea jawab aneh-aneh, maklum suaminya memiliki tingkat kemesumannya level atas.
"Aku jawab , rajin ma."
"Ya Allah malunya aku." Ucap Renata sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Heleh mama juga pernah jadi pengantin baru, Yang. Pasti mengertilah." Ucap Jea dengan menurunkan kedua telapak tangan sang istri. Wajah berbalut mukenah inilah yang disukai Jea.
"Kamu mah gitu, asal ngomong." Renata memukul pelan dada sang suami.
"Eh ...aku jujur kali." Jea masih tak mau kalah. "Aku juga bilang kok kalau kita tunda punya anak biar kamu fokus sama skripsi kamu. Mama juga setuju."
"Mama tuh asyik tahu, mertua langkah lah."
"Kenapa?"
"Masa' aku disuruh habisin uang kamu."
"Pasti kamu gak nurut saran mama! " tebak Jea, yang diangguki Renata.
"Kasihan kamu, kerja hampir 24 jam tiap hari, aku yang ongkang-ongkang malah disuruh foya-foya habisin uang kamu." Ucap Renata yang tak sadar air matanya menetes.
"Loh kok nangis?" Jea kaget juga.
"Kamu baik sama aku, apa yang aku minta kamu pasti turutin. Aku aja belum bisa kasih kamu apa-apa." Makin deras saja laju air mata Renata.
Jea kembali memeluk sang istri. Mengelus kepalanya, "Kamu itu istriku sayang. Wajarlah apa yang kamu minta aku turutin. Dulu aku pernah dikasih tahu papa, jika aku sudah menikah muliakan istrimu karena jantung rumah tangga adalah istri. Kalau istrimu bahagia, kamu dan anak kamu pasti juga bahagia." Jea menceritakan ajaran sang papa dalam menghargai seorang wanita.
"Dan salah satu kebahagiaan istri adalah uang banyak, itu kata papa. Mungkin kamu tidak membutuhkannya, tapi coba kamu pikir deh, seandainya aku belum punya kerjaan, pasti kamu juga ngomel, kan?"
"Pasti."
"Nah selagi aku masih bisa kasih nafkah, kamu manfaatin deh uang kamu. Lagian buat apa sih uang disimpan. Uangku juga masih banyak."
Spontan Renata memukul suaminya agak keras, "Gak boleh sombong, ingat, Yang . Di atas langit masih ada langit,"
"Astaghfirullah." Jea langsung beristighfar, sadar akan kesombongannya.
"Yah pokoknya aku pakai uang di ATM itu, sesuai kebutuhanku. Aku gak suka foya-foya."
__ADS_1
"Terserah kamu."