CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
EMBEEEERRR


__ADS_3

Kletek..kletekk


Bunyi tangan Renata saat direnggangkan. Wajahnya sumringah, jam pulang sudah tiba.


"Magang kurang beberapa hari lagi, Ta. Melamar di devisi ini aja, Ta. Pasti diterima!" Tawar Pak Fahmi, beliau cukup puas dengan kinerja Renata. Ditambah ide cemerlang yang selalu diberikan, begitupun dengan Elsa, kehadiran Renata membuat dirinya lebih leluasa bergerak. Dulu, boro-boro bergerak, kentut aja gak bisa saking penatnya dengan pekerjaan.


Gara-gara Pak Fahmi juga sih gak mau nambah tim, Elsa yang susah. Berkali-kali dia meminta rekan kerja tapi Pak Fahmi selalu bilang saya kira kamu masih sanggup, kita belum butuh tambahan tim. Saat ada anak magang beliau mencoba meminta tambahan orang di devisinya dari anak magang, niatnya sebagai pertimbangan perlu atau tidak tambahan tim. Apalagi Elsa sudah tidak bisa diajak sharing mengenai ide baru.


"Terimakasih, Pak. Tapi kayaknya saya menyelesaikan skripsi saya dulu."


"Ya nanti setelah wisuda lah, Ta!" Pak Fahmi berusaha membujuk Renata.


"Saya gak mau jadi setan sebenarnya pak."


Beliau mengerutkan dahi, tidak paham dengan maksud ucapan Renata. "Kok bisa?" Tidak hanya Pak Fahmi yang bingung, Elsa juga.


"Kan kalau laki-laki dan perempuan dalam satu tempat, yang ketiga adalah setan..Saya dong!"


Pintar sekali Renata memberikan celetukan yang membuat Elsa dan Pak Fahmi tertawa, mereka berdua baru sadar, selama ini hanya dentingan jam dan suara printer yang menemani kerja. Pak Fahmi pun menyadari kehadiran Renata membuat diriny banyak omong.


Dulu ngomong sama Elsa hanya mana laporannya? direvisi, sudah deadline loh, dan ucapan perintah membosankan lainnya.


"Elsa sih gak banyak omong kayak kamu!" Lah Pak Fahmi cari gara-gara rupanya.


"Kok nyalahin saya, Pak?" kan bener, Elsa berubah sewot, ngegas lagi.


"Mbak, paling Pak Fahmi gengsi ngajak mbak Elsa ngomong dulu, secara mbak Elsa cantik banget, takut grogi." Mulut penjilat ala Renata mode on.


Uhukkk


Pak Fahmi keselek, wajahnya memerah, ucapan Renata tepat sekali. Wah...ada signal-signal penembakan neh.


"Ah ...emang aku cantik?" Elsa menopang pipi merahnya, malu- malu gitu, karena Pak Fahmi menatapnya.


"Nih kaca!" Lah Pak Fahmi beneran nyodorin kaca, ck...laki kok lempeng amat dah. Seruangan sama cewek, tapi gak ada rasa tertarik, mungkin beliau tipe dipancing dulu baru mode ngomong kali.


"Haduh, Pak Fahmi. Harusnya bilang ke Mbak Elsa tuh gini, iya kamu cantik banget." Renata seperti pujangga ulung, padahal jomblo...eits bentar lagi gak jomblo sih.


"Silahkan pulang, Ta!" usir Pak Fahmi ingin menghentikan ledekan Renata, karena beliau tidak berminat menyukai teman satu instansi.


"Baik, Pak!"


Renata pun pulang, mengambil motor menuju kos. Ia ingin mandi dan ganti baju, mungkin agak lama juga nanti ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampai di kos ada Vino di ruang tamu sedang mengobrol dengan Sita. Renata menghampiri, sekedar menyapa.


"Pacaran terossssss!" sindir Renata, Vino terkekeh dan Sita mendengus kesal. Punya mbak kos sengklek gini amat ya..malu.


"Nyonya CEO, gak diapelin ya?" ledek Vino, karena ia tahu Jea akan melamar Renata minggu depan.


Renata mencibir, sehari saja tidak membahas lamaran, nikah, Jea bisa gak sih. "Masih calon!"


Vino hanya tertawa kecil, dan mengangguk saja. "Gak ke rumah sakit?" tanya Vino saat Renata hendak naik tangga.


"Ini mau mandi terus ke sana."


"Bareng aja, Mbak. Kita juga mau ke sana kok, ada titipan buat Tante dari Mama." Jelas Vino.


"Aku mandi dulu gak pa-pa? gak pakai lama kok!"


"Heleh...emang mbak pernah lama?" sindir Sita yang tahu betul kebiasaan mandi Renata.


Tak menggubris sindiran Sita, Renata segera mandi. Ia memilih blouse lengan 7/8 warna baby pink mendekati putih ala dedek emes bergaya Korean style dengan jeans panjang biru gelap. Rambut hanya digerai dan diberi hiasan jepit di sisi kiri, manis sekali. Wajah pun hanya dipoles bedak tipis dan lipstik warna soft pink.?


Neva yang baru pulang magang, terkesima dengan dandanan sederhana Renata yang tampak manis. "Sumpah, Ta. Lo cantik banget. Hawa-hawa penganten." Ucap Neva sambil memegang kedua lengan Renata, meneliti dandanan Renata dari atas ke bawah.


"Najongggg!" Renata menonyor kening Neva, karena gadis itu menatapnya dengan tatapan aneh. "Gue masih normal." Ketus Renata.


"Ikut ke RS yuk, Sita sama Vino juga mau jenguk."


"Gak deh, gue capek banget."


"Mandi dulu, Va. Ya ampun jorok banget Lo!" omel Renata melihat Neva yang langsung berbaring di kasur, tanpa melepas baju magangnya. Beberapa menit kemudian, Renata pamit.


Drt...drt.. Jea memanggil.


"Di mana?" tanyanya,


"Lagi di jalan mau ke rumah sakit."


"Sama Vino, kan?"


"Iya, kok tahu."


"Baru di WA, ati-ati. Bapak juga udah di sini."


Renata heran, perasaan workshop bapak kelar jam 7 malam deh, kok bisa jam 4 udah kelar. Aneh.

__ADS_1


"Jea kayaknya naksir berat sama kamu, Mbak!" Vino membuka obrolan ketika Renata menyimpan ponsel dalam tasnya.


"Kok bisa, bukannya mantan dia banyak?"


"Mantan si banyak, tapi mana pernah pakai hati. Orang yang ngurusi mantannya Tante."


"Kok mama?" Renata penasaran. Dengar dari Nadya, Jea termasuk playboy, zaman kuliahnya dulu.


"Jadi yang nembak Jea tuh para ceweknya, kecuali Nadya, emang dia yang nembak. Nah cewek sebelum Nadya yang ngurus dan balesi chatnya ya Tante. Orang nomer hp yang dikasih nomornya Tante. Aneh pokoknya calon mbak itu."


Renata cekikikan, ia baru tahu di balik jiwa play boy Jea, gak habis pikir pacaran chat chatannya sama mama.


"Jea tuh ilfeel sama orang yang ngejar-ngejar dia. Kalau Nadya tuh gadis yang pintar tarik ulur, awalnya Jea penasaran sama gadis itu, secara cantik banget. Aduh..aduh!"


Vino lupa kalau di sampingnya ada singa yang kapan pun bisa memangsanya, apalagi memuji cewek lain. Cubitan keciiiiilllll hadiahnya. Sukuriiin.


"Aku kenal Nadya kok, dia juga pernah cerita betapa menyesalnya menduakan kak Jea."


"Iya emang nyesel, dia juga masih berharap sama Jea. Orang tiap hari chat Jea." Kalimat terakhir ini membuat Vino menepuk bibirnya. Salah omong. "Tapi Vino gak bales kok, Ta!"


"Balas juga gak pa-pa kali kak!"


Puk....Sita memukul tangan Vino, ia menatap Vino dengan tatapan tajam, "Gak usah embeerrr, orang baru kenal cinta udah dibikin cemburu."


Vino meringis, "Sori, Mbak Ren.. Keceplosan."


"Gak pa-pa kak Vino, paling kalau aku nolak lamaran Jea, salah satu alasanku adalah aku tahu rahasia kak Jea dari kak Vino."


Renata cekikikan, melihat Vino ketakutan. Pasalnya hati Jea sangat sedih, memikirkan keadaan sang papa, ada sedikit senyum merekah di wajahnya karena kehadiran Renata. Amat bersalah sekali kalau lamaran mereka gagal karena mulut ember Vino.


"Terima sahabat gue ya Mbak Ren, biarkan dia bahagia."


"Boleh, asalkan ada barter yang sepadan lah." Renata bercanda.


"Apapun deh gue kasih asal Mbak Ren terima lamaran Jea,"


"Sut, saksi ya..kak Vino bakal kasih apapun ke gue kalau gue terima lamaran Jea."


Sita memutar bola matanya malas, "Serah deh."


"Siippp."


"Sukuriiin," ejek Sita pada Vino, jutek.

__ADS_1


__ADS_2