CINTA LOKASI (CINLOK)

CINTA LOKASI (CINLOK)
ARISAN


__ADS_3

Selain belanja, pergi ke salon, arisan adalah kegiatan rutin yang dilakukan mama Jea hampir tiap minggu. Bersama geng sosialita tentunya. Menggunakan barang serba branded dan make up yang tebal ala ibu - ibu sosialita. Cara memegang tas pun sudah terlihat beliau horang kayah.


"Kamu hari ini gak ke kampus, Ta?" tanya mama , menghampiri sang menantu yang sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Hanya menata saja, urusan masak Renata mana bisa.


"Enggak, Ma. Gak ada bimbingan, gak ada kelas juga. Ada apa Ma?" tanya Renata sopan.


"Ikut arisan yuk."


Oke Renata menghentikan acara menata sarapan sang suami, mempertajam pendengarannya. "Arisan, Ma?"


"Iya, mau ya. Rencananya nih mama mau kenalin kamu ke teman arisan mama, di restoran Korea. Yah mama sih gak pernah makan di sana, tapi katanya Jeng Amel mau poto-poto ala anak muda. Ya udah lah kita ikut aja, toh dia yang bayarin."


Hah? gitu ya kalau arisan, main traktir aja. Horang kayah.


"Gimana?" tanya mama memastikan.


"Renata tanya kakak Jea dulu ya, Ma!" ucap Renata lalu naik tangga menuju kamarnya. Sang suami baru keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan selembar handuk, seperti biasa.


"Kak, aku diajak mama ikut arisan, boleh gak?"


Jea menghentikan mengeringkan rambutnya, menatap sejenak Renata dengan wajah manyunnya. Sadar sih, istrinya bukan tipe perempuan sosialita seperti mamanya yang semua barangnya branded, terlebih teman sang mama adalah emak-emak rempong hobi julid. Jea pernah sekali diajak mama, katanya mau dikenalkan sama anak salah satu temannya, beuh sejak saat itu Jea ogah ikut arisan sang mama lagi. Perempuan yang dikenalkan sang mama setipe dengan mereka high class level atas.


"Di mana?" tanya Jea sambil mengenakan kemejanya dan dibantu mengancingkan Renata.


"Masakan Korea, katanya siapa tadi mau traktir gitu."


Jea hanya menyunggingkan senyum, ia tahu istrinya ini malas untuk menghadiri acara tidak penting seperti arisan, bukan dia banget. Tapi ia juga tidak enak bila menolak mertuanya.


"Mau ikut boleh, mau enggak juga gak pa-pa sayang," ucap Jea yang menatap lekat istrinya. Moment setiap pagi saat dirinya dipasangkan dasi oleh Renata merupakan moment wajib yang tak boleh terlewatkan.


"Jadi?"


"Ikut aja sih, sekali. Biar semua orang tahu, Nyonya Ajeng punya mantu yang cantik." Ucap Jea sambil memegang dagu sang istri.


"Cih...bilang aja, biar yang pernah dijodohkan sama kamu segera mundur."


"Mama udah cerita?"


Padahal Renata iseng saja, biasanya di novel yang dia baca. Kelompok arisan sebagai ajang pamer kekayaan atau ajang perjodohan anak-anak mereka. "Mama gak cerita apa-apa loh, Yang." Renata menatap Jea dengan kecurigaan.


"Gak usah curiga gitu, gak pernah aku tanggapi waktu itu."


"Jadi pernah?"

__ADS_1


Jea mengangguk, mengambil tas kerjanya, mengajak Renata sarapan. Ia merangkul sang istri dengan cerita sedikit tentang perjodohan dengan anak teman mama.


"Males sama dia, dari atas sampai bawah branded semua. Gak kayak kamu, sederhana. Bikin hemat di kantong."


"Idih....tunggu tanggal mainnya aja aku kuras ATM kamu."


"Kuras aja, ntar kalau habis aku transfer lagi." Ucap Jea santai sambil mengecup pelipis sang istri.


Mama dan Mita sudah di meja makan, mama selalu tersenyum melihat keromantisan mereka tiap pagi. Renata benar-benar membuat Jea berubah. Lebih sering tersenyum dan ramah.


"Gimana, Ta?" tanya mama.


"Boleh deh Ma," ucap Renata.


"Ntar mama mau kenalin mantu mama yang cantik ini ke mereka."


Eng ing eng....arisan ala novel dan kenyataan sama, ajang pamer.


"Kalau ada yang rese' gak usah ditanggapi."


"Iya."


"Hati-hati, kalau ada apa-apa telpon ya."


*****


"Hai, Nyonya Ajeng. Apa kabar?" sapa Jeng Amel, pemilik acara arisan. Terlihat sekali sih istri sultan, wanita paruh baya itu tampak cantik dan elegan dengan barang branded yang menempel di badannya. Belum lagi kalau bersalaman, yuhui...sambil melambai sekaligus memamerkan berlian segede buah Cherry. kekekkeek.


"Baik, Jeng Amel. Kenalkan nih mantu saya. Sini sayang." Pinta Mama. Renata tersenyum sambil mencium punggung tangan teman sang mama mertua. Tepat dugaan Renata, mata tua wanita itu menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki barang di tubuh Renata. Sempat tersenyum tapi Renata yakin itu senyum mengejek.


Beuh...jadi suudzon kan?


"Cantiknya!" puji Jeng Amel itu.


"Terimakasih, Tante!" jawab Renata ramah. Untung saja, ia tadi mengenakan dress selutut warna kuning gading yang di bagian leher ada rendanya, lengan 7/8 menambah manis penampilan Renata siang itu. Dipadu dengan heels 5 cm warna krem, membuatnya tampak elegan dan cocok sebagai istri sultan.


1- 0 deh buat Renata.


Berjalan mendekati anggota arisan mama, semua mata menuju ke arah mama dan Renata. Mereka tersenyum, semoga saja senyum tulus, menyambut kehadiran mama dan Renata. Mama sibuk bercipika cipiki sambil mengenalkan mantunya. Renata hanya memasang senyum pepsodent saja.


Masuk ke acara inti, makan siang sambil mengobrol. "Ayo makan yang banyak, Renata pasti tahu kan ini makanan apa?" Jeng Amel ini mengetes atau lagi mengejek sih.


"Tahu, Tante. Makanan Korea, sering lihat di drakor."

__ADS_1


"Iya juga sih, anak muda pasti tahu lah ini makanan Korea, memang yah lagi hits banget makanan kayak gini." Celoteh Tante Farah dengan cekatan memanggang beberapa daging di grill pan.


"Mama mau yang mana?" tanya Renata menawarkan berbagai makanan Korea untuk sang mertua. Ada kimbap, bibimbap, ttoekbokki, kimchi, japchae, dll.


"Duh, anak mantu sayang banget sama mertuanya." Puji Jeng Ratna, salah satu teman mama yang menggunakan hijab dan ramah sekali. Renata hanya tersenyum.


"Iya, Jeng. Renata ini mantu idaman banget pokoknya." Sambung mama bangga.


"Wah bisa masak juga dong." Celetuk Jeng Ira,


Renata tersenyum malu, sang mama mertua langsung menyerobot, "Masih belajar Jeng." Mama tak mau ada yang menghina menantunya.


"Kapan nih Nyonya Ajeng punya cucu?" Lagi pertanyaan Jeng Ira membuat Renata keki. Sepertinya wanita itu agak sensi dengan kehadiran Renata.


"Masih otw, Jeng. Biarkan mereka pacaran dulu lagian baru dua bulan menikah. Renata juga masih kuliah."


"Ouh cuma ta'aruf saja kah mereka?" Ah Jeng Ratna begitu sopan menanyakan pernikahan Renata-Jea.


"Iya, Jeng. Alhamdulillah."


Renata hanya diam dan senyum saja ketika ada yang menatapnya. Ia juga tidak mau makan sebelum sang mertua makan. Karena beliau asyik meladeni ocehan para sahabat sosialitanya.


"Alhamdulillah, baik kayak gitu memang. Gak usah pacaran, bahaya!" Jeng Ratna berkomentar.


"Biasanya nih, anak muda jaman sekarang tuh gas poll loh, satu bulan nikah langsung hamil." Sindir Jeng Ira.


Topik sensitif membuat Renata malas sekali di meja ini. Kalau saja dia tidak menjaga nama baik mama dan suaminya udah dia balas tuh mulut Jeng Ira. Belum tahu saja, ocehan Renata rasa level mampus kalau keluar.


"Biarin saja Jeng, kasihan Renata biar fokus skripsi dulu." Mama masih membela menantunya. Memang beliau ingin punya cucu, tapi beliau sadar pernikahan Renata terlalu mendadak, dan Renata masih kuliah semester akhir pula, sehingga beliau pun tak ambil pusing mau dapat cucu kapan.


"Lagian nih Jeng, kalau sebulan setelah nikah tuh agak ketar ketir juga, tahu sendiri hobi tetangga di Indonesia itu kayak apa." Jeng Ratna terlihat sekali membela mama Jea. Renata pun agak bernafas lega dengan ucapan beliau.


"Kayak apa memang?" Jeng Ira jutek memancing perkara yang akan membuat dirinya kincep.


"Kayak Jeng Ira. Kepo. Pasti Jeng Ira kalau menantu Nyonya Ajeng sudah hamil dihitung dah kapan nikah ...kapan hamilnya."


Renata mengulum senyum, menahan setengah mati agar tidak ngakak. Jeng Ratna juara deh buat Jeng Ira mati kutu.


Renata langsung memeluk mama mertuanya sebentar sambil berbisik, "Mama, Renata pengen ketawa."


Mama Jea langsung memukul lengan Renata pelan, "Nanti saja di mobil," bisik mama.


"Ah ...Jeng Ratna bisa aja." Yah...kendor juga tuh ocehan, malu kan dari tadi mancing perkara terus dengan Renata. Sukuuuuuur.

__ADS_1


Benar kata Jea, kalau ada yang rese' gak usah diladeni. Renata hanya penonton, strikernya Jeng Ratna yang bisa mencetak gol membuat Jeng Ira mati kutu seketika. Bravo Jeng Ratna!!!


__ADS_2