
POV HELWA
Sore itu aku memegang benda pipih yang amat kutakutkan. Aku sudah curiga dengan kondisi tubuhku yang mudah lelah, mengantuk, dan terakhir tadi pagi, muntah. Aku juga sudah telat datang bulan selama 10 hari. Yah ...aku seorang calon dokter yang sangat tahu itu kondisi apa. Tepat dugaanku. Benda pipih yang kupegang menunjukkan aku positif hamil.
Air mataku menggenang, sebenarnya tak perlu disesali karena aku sudah tahu akhir cerita dari pergaulanku akan seperti ini. Tapi aku takut, dia tidak mau tanggung jawab. Aku merasa bodoh karena tidak memakai pengamanan selama aku melakukan perbuatan terlarang itu. Padahal aku sangat tahu bagaimana cara mencegahnya.
Hanya satu kata, BODOH. Aku terbuai setiap kata dan tatapannya, sumpah aku mengakui dia sangat menawan, dan aku menyerahkan mahkotaku untuknya. Hancur sudah, dan aku hanya menangis lalu tersenyum sinis. Calon dokter bodoh pantas disematkan padaku.
Aku memotret hasil testpack dan segera aku kirim kepadanya. Dan jawabannya
"Gugurkan. Kamu pasti tahu caranya."
Luruh sudah tubuhku setelah membaca pesannya. Aku menangis terisak, sungguh. Aku bodoh, sangat bodoh.
"Temui aku di cafe mix n love." Tulisku, aku ingin berbicara dengannya, meminta pertanggungjawabannya. Tapi apa, dia hanya membaca pesanku saja. Aku tak peduli, aku tetap akan menunggu kehadiran di cafe itu.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Aku sudah menunggunya tapi dia tak kunjung datang, kuputuskan untuk menelponnya namun hanya nada tunggu dan suara operator yang menjawabnya. Oke, aku mengendarai mobilku menuju apartemennya, menekan bel hingga puluhan kali tetap tidak menemukan.
Putus asa, iya untuk hari ini aku putus asa. Tapi tidak untuk esok, aku akan menunggunya di kampus di mana dia selalu nongkrong bersama teman-temannya.
Keesokan hari, aku menunggu di kantin tempat dia biasa nongkrong, tapi aku juga tidak menemukannya. Aku tunggu di pojok kantin dengan menahan gejolak di perutku hingga dua jam, tak kulihat batang hidungnya. Hilang ke mana dia.
Saat aku hendak pergi, aku bertemu dengan Renata, teman KKN-ku. Perempuan yang berhasil menguasai hatinya, tapi berusaha aku hapus nama perempuan itu dari hatinya, dengan menemani laki-laki itu saat dia membutuhkan ketenangan. Salah satunya dengan melakukan hubungan suami-istri. Bodoh kan?
"Ta." Aku memanggil perempuan itu yang lagi asyik bercanda dengan dua orang perempuan lain.
"Loh, Helwa. Lagi ngapain di sini? mana Wira?" Dia kaget melihat aku sendiri di kantin jurusannya. Bukan wilayahku. Dia pun celingukan mencari Wira. Mungkin dia sudah tahu, aku punya hubungan dengan Wira.
Aku hanya tersenyum melihatnya, lalu aku mengajak dia duduk beserta kedua perempuan yang sudah berkenalan denganku.
"Aku hamil, Ta!"
Ketiga gadis itu melotot sempurna, bahkan mereka cukup kompak untuk bilang apa?
"Dan Wira yang menghamili kamu?" tanya Ola, ya aku mengingat perempuan yang cantik dengan dandanan sedikit tebal itu bernama Ola.
Aku mengangguk berusaha setengah mati menahan air mata. Renata memegang tanganku. "Bener Wira yang menghamili kamu?"
Aku mengangguk lalu memberikan ponselku menunjukkan roomchat dengan Wira. Sangat kaget dengan reaksi Ola, dia sampai menggebrak meja dengan mengepalkan tangannya. Jengkel setengah mati rupanya.
"Gue yang urus!" ucap Ola dan dia langsung berdiri meninggalkan kami.
"Lah..lapor bapak dia langsung kayaknya." Ceplos Ceca yang langsung disenggol Renata. Dia pun menepuk mulutnya. Aku curiga.
"Ola dan Wira pacaran juga?"
"Dijodohkan."
Renata menatap Ceca tajam. Aku shock. Sungguh.
"Maksudnya?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
Renata menceritakan bahwa Ola dan Wira dijodohkan oleh kedua orang tua mereka semacam pernikahan bisnis. Tapi keduanya menolak.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku. Otakku sangat buntu untuk saat ini. Aku menangis di hadapan mereka berdua.
"Sementara ini kita tunggu kabar dari Ola, ya Wa!"
Aku hanya mengangguk saja, apa yang bisa aku lakukan selain menunggu kabar dari Ola. Segala macam pesan dan panggilanku terus diabaikan oleh Wira. Mungkin juga nomorku sudah diblokir juga.
******
"Ngapain?" tanya Wira yang duduk dihadapan calon istrinya. Tak ada ramah-ramahnya mereka, karena memang perjodohan ini tidak diinginkan keduanya. Sahabat jadi pasangan, itu tidak akan terjadi bagi Ola. Terlebih calon suaminya brengsek.
"Nikahi Helwa." Titah Ola tanpa basa basi.
Wira hanya tersenyum sinis, menatap Ola yang jutek setengah mati. "Kenal darimana Lo?"
"Gak penting. Ini adalah salah satunya jalan agar perjodohan kita berakhir, Wir." Mohon Ola.
"Dan sialnya sekarang gue setuju untuk nikah sama Lo!"
"Lo gila!"
"Asal Lo tahu, La. Gue gak mau diusir dan dicoret dari keluarga gue. Ya sudah terima ajalah, nikah sama Lo, sekedar nikah kan, gak usah kawin. Lo bisa kawin dengan laki-laki yang Lo mau," terang Wira.
Byurrr....Ola menyiram wajah Wira dengan jusnya.
"Jaga omongan Lo, Wir. Sumpah Lo bukan Wira yang gue kenal. Dan gue pastikan perjodohan kita batal." Ola berdiri tanpa melihat Wira lagi. Hatinya kesal. Calon suami yang dibanggakan oleh papanya ternyata sebrengsek ini. Menghamili wanita lain, menyuruh menggugurkannya, dan sekarang menerima perjodohan bisnis ini. Gila, sungguh gila.
Ola masih punya hati untuk tidak meneruskan perjodohan ini, ada hati perempuan yang hancur dengan perjodohan ini. Iya tahu itu.
/Sial. Wira tetap gak mau tanggung jawab dan memilih perjodohan dengan gue/
Bian: Woy...siap yang hamil. Lo Ta?
Bian: Heiii...La, kalau cerita jangan setengah-setengah
Bian: woyyyyyy
Bian: Ta,.Ceca...ada yang bisa jawab gak!
Renata: Wira mau jadi bapak.
Bian: Sumpah? Jangan ngarang Lo!
Renata : Bian kerok, diam kalau gak mau gue caci.
Ceca: Gimana kalau Lo yang temuin, Ta. Gue kasihan sama gadis bodoh itu.
Renata: Hush...Ca, omongan Lo! Sesama perempuan Ca.
Ceca: Iya gue hapus dah. 😂😂😂😂
Renata: Gue gak mau ikut campur.
Bian: Gue coba ke apartemennya, tunggu kabar dari gue.
Hufh....
__ADS_1
Renata menghela nafas berat, ponselnya masih dipegang erat. Pikirannya melayang dengan kejadian hari ini. Skripsinya dilupakan begitu saja. Jea pun sampai bingung dengan diamnya Renata, sejak di mobil pegang ponsel terus.
Cup
Renata tersadar dari lamunannya. "Ada apa sayang?" tanya Jea sambil mengelus pipi mulus sang istri.
"Kita mau punya ponakan." Jawab Renata sambil memeluk suaminya.
"Mbak Via hamil?" Jea menebak kakak iparnya yang hamil.
"Hemmm....bisa jingkrak-jingkrak kalau dia hamil lagi." Ujar Renata sambil melepaskan pelukannya. Duduk bersila di atas ranjang, menemani suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Ia menopang dagu.
"Lah terus siapa yang mau kasih kita ponakan?"
"Wira dan Helwa!"
"Apaaaa?" Jea pun kaget, ponselnya sampai terjatuh di ranjang.
"Kagetnya biasa aja pak CEO ini."
"Kapan bikinnya? Kita kalah dong?"
Renata memeluk suaminya lagi, lebih erat juga. "Kalah dengan cara begitu mah, aku malah bangga, Yang!"
"Wira jago juga ternyata."
Renata memukul punggung suaminya itu, bisa-bisanya berpikiran hal yang tidak penting, sedangkan masa depan Helwa dan anaknya saja tidak jelas.
"Bisa gak sih gak menjurus ke situ."
"Menjurus ke mana sih, penasaran." Jea jahil, sambil mencoel hidung mancung istrinya.
"Yang aku lagi pengen ngobrol sama kamu loh, jangan cium-cium dulu." Telapak tangan Renata terus menghalangi wajah Jea yang terus mengendusnya.
"Bahas Wira ya ngapain, gak penting."
"Aku gak bahas Wira, aku bahas Helwa kok. "
"Itu bukan urusanmu sayang."
"Iya memang bukan urusanku, tapi aku kasihan sama Helwa, tadi dia nangis-nangis."
Jea menghela nafas pendek, melipat tangannya sebagai bantalan, menatap langit kamarnya, "Dia mau jadi dokter kok gak berpikir jauh, harusnya sebelum berbuat seperti itu dia sudah tahu betul konsekuensinya, tapi itu memang pilihannya."
"Bahkan tadi dia cerita, dia dekat dengan Wira agar bisa menghapus aku dalam hidup Wira, eh ternyata..."
"Tambah bodoh lagi, udah jelas dia jadi pelarian malah mau diobok-obok."
Renata sontak memukul dada Jea, "Ya Allah...bahasamu, Yang. Emang ikan, diobok-obok."
"Ayok main obok-obok."
"Males."
"Dosa loh."
"Selalu gitu ancamannya."
__ADS_1
Dan pada akhirnya Renata tetap melayani Jea dengan sepenuh hati. Melewati malam panjang dengan kelembutan yang Jea berikan, melupakan sejenak masalah Helwa dan Wira.