
Adara melambaikan tangan nya saat dirinya telah sampai di rumah , adara masuk rumah sebelum mobil Rasya telah pergi
" Kok ga masuk ? Nunggu diluar dari kapan? " kata Adara pada Haidar
Pria yng berusia 16 tahun itu dengan pakaian dengan wajah sedih duduk di depan teras rumah
" Jangan masuk dulu ! Mama sama papi lagi berantem! "
Adara mengerutkan kening nya . Adara yang begitu penasaran akhirnya membuka sedikit pintu dan mendengar teriakan sang mama yang sedang memaki papi
" Ya silahkan! Silahkan kalo kakak mau cerai ! Itu kan yang kamu mau ? Silahkan bawa anak kamu haidar ! Andai saja kalo aku ga kasihan sama kamu sama itu bayi. Engak bakal aku terima kamu sebagai suami aku "
Deg
Papi yang di maki , tapi adara merasakan sakit hatinya
" Punya mantan istri jal*ng yang tiap hari ganti ganti pasangan , hoho. Aku jadi curiga apakah kamu pernah memiliki penyakit. Mengingat kamu pernah memiliki mantan istri yang suka sosis sana sini . Apakah haidar anak haram ? "
Adara yang melihat sang papi di maki , meremas tangan nya . Jadi ini alasan sang papi menjaga haidar lebih baik dari pada dirinya karena memang pada dasar nya haidar bukan adik kandung
" Stop menghina devia !!! Stop juga kamu menghina haidar !! " bentak sang papi
Hendra ingin melayangkan tangan pada wajah adinda . Begitu melihat adinda ketakutan . Hendra langsung diam
" Aku lagi down perusahan aku ! Maaf kalo emang uang bulanan kali ini engak sesuai dengan biasanya. Tapi tolong ngerti aku . Aku lagi berusaha buat mengembangkan perusahan aku lagi ! " Ucap Hendra pelan
Adara menutup pintunya lalu dia mengambil kunci mobil dan mengajak adiknya itu untuk menemani makan
Sebenarnya adara engak lapar . Dia hanya ingin haidar tidak mendengar perdebatan tadi
Sepanjang perjalanan keduanya diam . Memikirkan masing masing di otak nya . Setelah mengetahui Haidar bukan adik kandung nya . Adara jadi keringat tentang wanita di buku diary sang mama yang berinisial D
" Devia namanya " gumam Adara
##
Adara terbangun karena tiba tiba ada yang memeluknya , yaitu sang papi
Adara membalikan wajahnya melihat sang papi tidur begitu tenang . Adara merasa kasihan sekali . Ya memang saat membaca diary itu dia sangat membenci sang papi
Mengingat wajah tua dan rambut sudah mulai putih . Entah kenapa adara merasa kasihan sekali
__ADS_1
" Ewh ... "
Adara tersenyum saat sang papi terbangun
" Aku lapar . Mau makan sandwich " gumam Adara
Hendra pelan pelan bangun dia langsung keluar kamar di ikuti adara . Adara hanya duduk manis ketika sang papi mulai mengambil roti , daun slada, dan smoke beef
" Mau pake susu juga? " kata Papi sambil tersenyum
" Iya , tapi dingin " kata Adara
Hendra mengangguk dia membuatkan sandwich dan susu putih kesukaan anak cantik dan imut nya itu
Menunggu beberapa menit saja . Makanan dan minuman itu sudah jadi . Di lihat jam masih pukul 02.06 pagi . Adara lapar di tengah malam
Makanan sudah jadi , Adara melahap nya dengan rakus . Padahal sudah di ingatkan makan pelan pelan . Entah kenapa adara lebih suka masakan papi
Dari pada masakan pembantu di rumah ini. Adara menatap sang papi dengan tatapan itu sendu . Setelah Sandwich habis . Adara langsung memeluk sang papi
" I love you " kata Adara memeluk erat
Tanpa sadar , hendra menghapus air matanya . Hendra juga memeluk adara dengan erat
Adara mengangkat kepalanya
" kok nangis , hehe , cengeng " kata Adara mengejek
" ini , mata papi kelilipan , nyamuk mungkin" kata hendra sambil terkekeh
Adara tahu betul , pasti kejadian tadi sore ketika bertengkar sama mama . Setelah melewati sore dengan rasa sesak . Adara hanya ingin cukup tau tanpa harus membenci Haidar karena ibu haidar orang ketiga hubungan papi . Dan ibu nya haidar juga jal*ng seperti apa yang dia baca di buku diary
" Temenin tidur ya pi " kata Adara
Adara tahu pasti sejak kejadian tadi sore . Papi dan mama pisah kamar . Karena tahu banget papi itu sayang banget sama mama . Jadi papi memilih untuk meninggalkan mama di kamar dan tidur dengan anak anaknya
" Sudah kenyang ? Papi bisa bikin apalagi buat kamu ? "
Adara menggeleng
" Papi mau buat aku gendut ya ? Nanti papi ga bisa loh gendong aku lagi "
__ADS_1
Hendra tersenyum
" Yaudah , sekarang istirahat yuk " ajak hendra
##
Hening saat sarapan tak pernah terjadi . Bahkan jarak papi dan mama sangatlah jauh
" Em, sudah selesai makan nya ? " kata papi
Kedua anaknya menoleh , hanya mama yang menunduk
" Biasa nya papi kasih uang bulanan 1 juta buat kalian berdua . Dan kali ini papi hanya bisa kasih setengah nya . Bagaimana pun juga kalian harus bisa mengatur uang . Karena engak selamanya papi bersama kalian " kata hendra mengeluarkan beberapa lembar uang jajan untuk dara dan haidar
" Kenapa di setengahin pi ? " kata haidar
" Em, papi mau tau apakah kalian bisa dengan uang setengah yang biasa papi kasih , bertahan sampai sebulan . Papi janji bulan depan papi akan kasih full seperti bulan bulan lalu " kata hendra sambil tersenyum
Dara hanya bisa menerima , lagian kalo memang kurang pasti adit dan rasya juga kasih . Jadi dara harus mengerti kondisi perusahaan papi nya saat ini
" Ok gapapa pi , lagian uang jajan yang bulan kemarin juga masih ada ko pi . Jadi santai aja " kata Dara
Mama langsung beranjak bangun menyiapkan bekal untuk dara dan haidar pergi kesekolah . Hendra yang melihat kepergian sang istri hanya diam
Setelah kedua anaknya pergi . Hendra meminta adinda masuk kedalam kamar . Menyelesaikan masalah kemarin
" Janji cuma sebulan aja , bulan depan aku full . Udah dong jangan ribut masalah uang . Aku capek ! " kata Hendra
" Makanya jangan main cewek mulu! Jadinya uang habis mulu kan "
" Astagfirullahalazim, bener bener kamu ya ! Doain suaminya yang engak baik . Mulai hari ini engak ada lanjutan berantem lagi . Ga enak tahu di lihat sama anak anak" kata Hendra begitu sabar
Adinda mengangguk dia menahan hendra saat keluar kamar
" Aku minta maaf kejadian kemarin sore , yang mengungkit haidar sama Devia "
Hendra mengangguk
" Aku mau ke makam devia nanti siang , kamu mau ikut ? " kata Hendra
" Engak ! Aku lagi datang bulan " kata Adinda
__ADS_1
" Yaudah , kalo gitu aku mau lihat email dulu " kata hendra langaing keluar kamar meninggalkan istrinya