DI BALIK POLOSNYA

DI BALIK POLOSNYA
Ciee mau Nikah


__ADS_3

Drt...


Drt...


Panggilan adinda membuat Dara cepat mengangkat nya,  karena dua kali tadi Dara sempat melakukan video call


( Cieeee mau nikah , ehem. Ternyata lo ya yang lebih kebelet dari pada gua . Sat set sat set langsung nikah aja )


( Hah ? Maksud lo Dar )


( Haidar udah cerita semuanya , bokap lo minta lo nikah sama haidar bulan depan . Kalo engak ada lamaran di minggu depan . Katanya lo bakalan di pisahin sama haidar)


( Serius lu ? Kok bokap engak bilang apa apa ? Haidar juga engak bilang apa apa ) kata Adinda


( Mungkin nanti lo akan di kasih tau,  btw kenapa cepet banget sih nikah nya ? Kan lo tau haidar masih kelas 2 , di bawah umur lagi ? )


( Dar , sumpah gue engak tau apa apa masalah ini ) kata Adinda tegas


( Huh ! Yaudah deh , berarti lo tau berita pertama dari gua nih , gua tunggu kabar baik nya ya )


( eh tunggu dar , berarti nyokap bokap tau kalo mau nikahin gua ? )


( Bukan tau lagi , nyokap gua engak setuju . Karena cinta kalian itu cinta monyet.  Dan haidar di minimal kerja setelah kuliah dulu baru boleh nikah ) kata Dara


( Kalo dari pihak bokap ? )


( Bokap bilang yaudah pisah aja dulu sementara , karena bagaimana pun permintaan papa nya Adinda tidak masuk akal . Pengalaman kamu masih panjang jangan terus terusan masalah percintaan)


Tut ...


" Yeh nih orang malah langsung di matiin "


##


" Mana haidar ? Kenapa belum turun juga ? Engak sekolah dia ? " kata Hendra pada adinda juga Adara


Saat ini mereka bertiga telah duduk di ruang makan . Hanya menunggu haidar


" Tolong panggil haidar kak ! "


Adara mengangguk , dia langsung pergi ke atas . Hanya ada suara isakan nangis


Tok tok tok


" dek ... papi udah di bawah , masih lama ya dandan nya ? "

__ADS_1


Tok tok tok


" GUA GA SEKOLAH " Teriak Haidar


" Lah kenapa ? Apa lo sakit ? Buka pintu nya biar gua lihat "


Brak


Adara terkejut , barang apa yang haidar banting di dalam itu . Tanpa berlama lama Adara segera turun menceritakan kepada mama dan papi nya . Kini kedua orang tua langsung ke atas


Di ketuk beberapa kali sampai hendra berteriak membuka pintu hanya ada suara bantingan


Brak


Brak


Hendra mengubrak pintu kamar . Dan beberapa kali berhasil pintu itu terbuka . Ketika haidar telah menyiapkan tali di gantungan pintu kamar mandi


" Apa yang kamu lakukan ! " kata Hendra


Haidar tidak peduli . Dia terus mengikat


" Haidar !!! " Geram Hendra


Huh ! Haidar membalikan tubuhnya


Hendra mengepalkan tangannya


" Begini cara kamu selesaikan masalah ? Lemah banget kamu jadi laki laki , harus banget papi turutin kemauan kamu menikah muda ? Mau di kasih makan apa istri kamu kalo kamu masih sekolah ? Umur kamu masih panjang, di dunia ini bukan cuma adinda cewek satu satunya " kata Hendra


Haidar membuka lemari kini berisi pisau tajam.  Hal itu membuat Adara juga Adinda berteriak


Hendra terus menghela nafas , heran kenapa anaknya bisa segini nya karena percintaan


" Terserah kamu lah mau gimana , mau nikah asal biaya sendiri engak masalah , asal jangan nyusahin orang " kata Hendra segera keluar kamar


Adinda menahan bagaimana kalo memang anaknya bunuh diri di kamar


" Kamu engak ada rasa prihatin sama anak ya ? Lihat anaknya mau bunuh diri . Jadi lebih baik kita izin kan "


" Mau bagaimana pun anak kita ngambek sampai berdarah darah , aku engak peduli ! Biarlah itu urusan dia . Kita sebagai orang tua hanya mengingatkan . Bukan nya kamu sendiri yang bilang jangan manjain anak ? Itu cara main dia biar kita nurut sama permintaan yang dia mau " kata Hendra


Adinda meneteskan air matanya ketika Haidar menaiki bangku kiri kepalanya ingin mengantungkan di tali itu


" Aku mohon izinkan Haidar menikah " mohon Dinda

__ADS_1


" Haidar !!! Jangan gila " Teriak Dara


Hendra menoleh dia hanya bersikap biasa aja.  Baru banget kepalanya ke ikat . Haidar sudah batuk tak tahan karena nafas nya tertekan


" Ayo ikat , papi mau lihat terakhir kali kamu bernafas " ucap hendra membuat Adara juga Adinda menoleh


Haidar tetap menjalankan aksinya . Udah sejauh ini . Padahal dari tadi haidar mau menyudahi . Dan berharap kalo papi nya akan mengizinkan haidar menikah


" Tuh ada pisau . Biar cepet dari pada gantung gantung begitu.  Kalo mau mati sekalian di luar . Kalo di kamar ! Siapa yang mau gotong " kata Hendra tenang


" Papi ..... " Geram adinda


Haidar memegang pisau dengan tangan gemeteran . Tak lama pisau itu terjatuh di lantai


" Kalo belom siap mati , jangan buat heboh satu rumah ! Mau sarapan jadi mengulur waktu " kata Hendra segera keluar


Adinda langsung memeluk haidar . Sedangkan Adara menjauhkan pisau juga merapikan barang barang yang berantakan.  Jujur Haidar sangat malu saat ini


Haidar berjalan pelan pelan saat Papi nya lebih dahulu makan ketimbang mama dan kakak nya . Kedua wanita itu tadi sempat menenangkan Haidar jangan terjadi lagi pembunuhan diri


Setelah selesai makan . Kini saat nya Hendra memberikan uang bulanan pada Haidar


" Kok setengah lagi pi ? " kata Haidar protes


Pasal nya bulan lalu di berikan uang setengah dan di janjikan bulan depan dapat tambahan . Kenapa saat ini dapat dengan bulan lalu


Hendra tersenyum remeh " Begini aja protes uang bulanan dapat setengah,  apalagi kamu menikah , mau di kasih apa istri kamu ? Bisa bisa Papi yang nafkah in istri kamu " Jawab Hendra


Haidar terdiam mendunduk


" Kalo kamu mau menikah , cari pekerjaan yang layak , dan segera keluar dari rumah ini , karena papi engak akan terima anak anak papi pas menikah nanti tinggal di rumah ini , bagaimana pun harus mandiri . Harus merasakan susah nya kehidupan , dan merasakan tidak ada garam , gula, beras . Jangan hanya enak nya doang nikah nikah . Tapi engak mau mikir kedepan nya " lanjut Hendra lagi


Setelah berkata seperti itu Hendra segera mengajak Adara untuk berangkat sekolah . Anak cantik dan manis kesayangan nya itu di minta untuk antar kesekolah tadi


" Papi , are u ok ? " kata Dara


Hendra terpaksa tersenyum lalu menoleh pada adara


" Ok ! Baik baik aja "


Dara mengangguk lalu dia mengusap bahu Hendra


" Aku akan bilang nanti sama Adinda , papi tenang Ya "


" Terima kasih kak , kamu selalu jadi anak kebanggaan papi , kamu anak yang engak pernah aneh aneh " kata Hendra

__ADS_1


Adara mengangguk


__ADS_2