
Entahlah kenapa Ara kelihatan uring-uringan terus Dimata Pia, sampai Pia pusing dibuatnya.Padahal ujian sudah selesai, tinggal menunggu pengumuman saja. Sebagai murid yang pintar seharusnya Ara bisa sedikit tenang, walau siswa pindahan Ara termasuk siswa yang bisa mengikuti ketertinggalan mata pelajaran yang berbeda dari sekolah lamanya.
Saat ini Pia mengajak Ara ke cafe, tempat yang langsung saja menjadi tempat favoritnya semenjak pertama dia mengunjunginya. Dia suka tempatnya yang nyaman, makanannya yang enak, minumannya yang selalu segar, dan yang paling disuka adalah suara dari penyanyi di cafe itu. Terkadang sang penyanyi membawakan lagu yang bisa mewakili perasaannya. Cafe yang pernah juga melenakan Ratih.
''Ujian sudah selesai saatnya kita sedikit meregangkan pikiran sebelum babak baru dunia perkuliahan menyambut kita. Entar lagi Lo bakal kangen karena gak akan ketemu lagi sama gue kalau gue jadi ke luar. Ayuk? kita masuk, beberapa hari ini Lo terlalu tegang menghadapi UN. Sebel gue lihat Lo uring-uringan gak jelas.'' Pia menggandeng paksa Ara yang jalannya ogah-ogahan.
''Apaan seh, Pia kita ke sini. Aku tuh pengennya rebahan di kasur yang empuk. Ini malah ke cafe, pusing Pia. Ngapain juga seh kamu suka banget ke sini?'' Ara ngedumel pada Pia yang tetap menarik paksa Ara untuk masuk.
''Empet gue lihat Lo akhir-akhir ini, suka gak jelas. Makanya gue ajak Lo ke sini, jangan khawatir gue sudah ijin ke laki Lo dan dia sudah kasih ijin. Kita tungguin penyanyi favorite gue manggung dulu, baru nanti gue antar Lo balik.''
''Lo kenapa Ra? murung terus gitu?'' tanya Pia setelah mereka mendapatkan meja yang letaknya dipojokan. ''Cerita ke gue kalau Lo ada masalah siapa tahu gue punya solasinya.''
''Solusi!'' protes Ara
''Iya itu maksud gue biar gak bocor dan meleber kemana-mana.Amanlah pokoknya.''
''Serius Pia.''
''Duarius Ara??''
''Pia!!!''
''Iya cerita saja kalau mau cerita. Gue dengerin kok.''
''Mas Gatra berubah Pia.''
''Berubah. Berubah jadi apa? super Hero? atau monster?'' sebisa mungkin Pia berusaha melucu, Pia merasa sahabatnya itu sedang gundah gulana.
''Pia! Ara pulang nih.''
''Berubah yang gimana?'' tak tega Pia untuk terus menggoda Ara.
''Sudah gak mau lagi tidur sama Ara.''
Apa maksudnya ini. Apa Ara sudah ketagihan anu-anu? dan lakinya kuwalahan. Secara Ara masih muda kan? Tapi lakinya masih muda juga. Usia segitu seharusnya masih hot-hotnya, ngapain juga pakai acara gak mau. Malam pertama saja berakhir di rumah sakit.
__ADS_1
''Pia! kok jadi kamu yang bengong.'' kalimat awal Ara yang ambigu yang membuat Pia terbengong.
''Gak mau tidur yang gimana Ra? tolong jelaskan?''
''Mas Gatra gak pernah lagi tidur di kamar Ara juga gak pernah ngajak Ara tidur di kamarnya.''
''Maksud lo apa nih kagak paham ane.'' sela Pia yang semakin tidak mengerti alur cerita Ara. ''Jadi selama ini kalian belum memutuskan untuk tidur dalam satu kamar?'' dan Ara menggeleng
''Apa suami bisa berubah Pia, kalau dia sudah dapat harta yang paling dari istrinya?'' bukan menjelaskan apa yang membuat Pia penasaran tapi pertanyaan yang Ara lontarkan untuk Pia.
Raut muka Ara yang tegang membuat Pia urung mendesaknya bercerita. susah payah dia mencoba merangkai penggalan cerita Ara.
''Ra, apa pertanyaan Lo barusan tentang masalah ranjang antara Lo dan laki lo?'' Pia bertanya demikian karena dia masih melihat Gatra tiap hari mengantar Ara sekolah dan perlakuannya pada Ara membuat siapa saja baper termasuk dirinya.
Ara mengangguk dengan pertanyaan Ara.''Kita pesan minuman dulu ya Ra?'' Pia memanggil pelayan yang lewat dan memesan minuman untuk mereka.
''Yang waktu itu Lo minta saran ke gue tentang menggoda laki-laki itu buat lo?'' lagi-lagi Ara mengangguk.
Setelah pulang dari rumah sakit Gatra memang semakin perhatian ke Ara. Memperlakukan Ara seperti orang sakit, padahal Ara sehat-sehat saja. Awalnya masih menemani Ara tidur di kamar Ara, hanya tidur dan sekedar memeluknya saja tanpa menyentuh Ara.
Ara memang pernah minta saran Pia jurus menggoda laki-laki. Aneh memang masalah suami istri minta sarannya pada Pia. Kalau bukan ke Pia ke siapa lagi toh cuma Pia teman yang selama ini dekat dengannya dan yang tahu tentang pernikahannya.
Menuruti saran Pia, sengaja di hari libur Ara meminta untuk tidak mengunjungi Bunda. Sengaja Ara memakai hotpant berbahan kain yang menampakkan paha mulusnya dan atasan model Sabrina berbahan rajutan molor tapi pasbody. Hilir mudik Ara membersihkan ruang tamu dan dapur saat Gatra ada dan sedang santai menonton tv. Melenggak-lenggokan tubuhnya agar Gatra tergoda.
Saran Pia sama sekali tidak berhasil. Gatra justru meminta Ara untuk menganti baju dan mengajaknya jalan-jalan dan sekalian makan di luar.
Perlakuan Gatra memang luar biasa baik pada Ara.Bahkan lebih baik lagi setelah Ara demam karena malam pertama mereka. Cuma satu yang kurang, Gatra tak lagi mau menyentuh Ara. Awalnya Ara biasa saja, tapi akhir-akhir ini Ara selalu kepengin dan kepikiran pengen dianu-anu Gatra.
Setelah minuman datang Pia memesan makanan untuknya juga Ara, jangan sampai bawa jalan istri orang membuatnya kelaparan.
''Gue gak punya solusi buat masalah ginian, Lo kan tahu gue masih singel. Tapi kalau masalah ranjang gue sedikit banyak tahu gimana buat partner ranjang kita puas sampai terkapar. Entar pelan-pelan gue ajarin. Sekarang kita makan dulu, setelah ini gue antar Lo ke kantor laki Lo.''
''Ra gue ke toilet ya? Lo mau ikut atau nunggu makanan datang.''
Ara tidak mau ditinggal sendiri dia mengikuti Pia ke toilet. Karena tidak fokus jalan Ara menabrak orang yang baru keluar dari toilet. Keduanya sama-sama kaget. Ara terlebih dulu meminta maaf.
__ADS_1
''Maaf beneran gak sengaja. Maaf ya mbak?'' ucap Ara tulus
''Ara!'' ucap perempuan yang ditabrak Ara.
''Kalian saling kenal?'' selidik Pia yang mendengar orang yang ditabrak Ara menyebut nama Ara.Niatnya akan membela Ara kalau kalau orang yang ditabrak Ara tidak terima.
''Apa? kenal.'' Ara mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang ditabraknya.
''Oh ini yang Ara tabrak waktu itu, waktu Pia minta Ara temani buat lihat brosur? Di sini juga tapi di pintu masuk.'' Ara mengingat dengan baik orang yang ditabraknya.Dialah Gea. teman yang sesaat Ara lupakan.
''Sebelumnya, Lo sudah kenal Dengan Ara?'' pertanyaan dan tatapan intimidasi membuat Gea semakin grogi. Kenapa takdir mempertemukan kembali dengan Ara. Saat Raga sudah mulai ada setiap saat untuknya.
''Gak... gak kenal baru ketemu juga kemaren itu. Gak sengaja nabrak.'' dusta Gea dan mengaku tidak kenal Ara. Toh Ara sendiri juga tidak mengenalinya.
''Eh. Gue gak budek ya? jelas-jelas tadi gue dengar Lo nyebut nama Ara.'' Pia nyolot
'' Kan dia tadi yang nyebut dirinya Ara sama kan dengan waktu itu dia juga nyebut dirinya Ara. Dan gue gak nuduh Lo budek ya!'' elak Gea
''Pia sudah jangan ribut di tempat umum ingat jaga image.'' Ara melerai sebelum terjadi sesuatu yang dapat menimbulkan huru-hara
Pia masih dongkol dengan sikap orang yang ditabrak Ara. Pia merasa ada yang disembunyikan dari orang itu. Setelah kembali ke mejanya pun Pia masih ngedumel sendiri.
''Sudahlah Pia jangan terlalu diambil hati. Pia gak budek kok. Nyatanya kita ngomong selalu nyambung kan? dan Pia dengar kan kalau Ara ajak ngomong.'' hibur Ara.
Sesaat masalah Ara teralihkan. Candaan Pia mampu membuat Ara kembali ceria. Pia ingin menjadi sahabat Ara sama seperti Ratih. Walau berjauhan tapi selalu ada. Pia ingin kalau nanti dia kuliah di luar Ara tidak akan melupakan nya. Seperti Ara yang tidak melupakan Ratih.
''Ra gue nanti pasti akan sangat merindukan elo. Janji jangan lupakan gue, mesti nanti Lo kumpul lagi sama Ratih.''
''Gaklah Pia juga sahabat Ara. Kamu di sana jangan nakal, jaga diri baik-baik, ingat niat kamu belajar di luar negri itu untuk apa.'' nasihat Ara untuk Pia
''Pengen dipeluk. Lo seperti emak-emak yang mau ditinggal pergi anaknya saja.'' kata Pia dalam pelukan Ara.
Berjarak beberapa meja, interaksi Ara dan Pia ada yang mengawasi. Memang tak terdengar, tapi dari bahasa tubuh keduanya memperlihatkan bahwa mereka berteman cukup akrab dan kelihatan bahagia.
Ra, dulu kita pernah sedekat Nadi sebelum akhirnya sejauh mentari. Apa yang sebenarnya terjadi padamu sehingga hingga sama sekali tidak ingat padaku. Lo memang bisa dekat dan mudah akrab dengan siapa saja Ra. Jujur Ra setelah gue pisah dari Lo gak ada teman yang mau menjadi sahabat gue. Ra gue rindu saat-saat bersama kita dulu.
__ADS_1