
Hari bebas, sekali dalam setahun ada hari bebas di sekolah Ara. Hari peringatan berdirinya sekolah. Dihari bebas segala kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Setelah upacara peringatan di pagi hari yang dipimpin oleh kepala sekolah, saatnya para siswa unjuk bakat dan kebolehan lewat pentas seni.
Semua siswa dan bahkan para guru dan staf sekolahan ditambah para alumni yang sengaja datang karena memang pihak OSIS akan menyebar undangan ke para alumni, akan membaur bersama di lapangan tempat paggung pentas diadakan.
Di mana Ara? ...
Ara dan Ratih berjaga di stand pameran. Diacara ulang tahun sekolah masing-masing ekskul akan memamerkan pencapaiannya selama setahun. Lewat acara pameran dan dibangunkan stand-stand kecil.
Acara puncak dari ulang tahun sekolah adalah datangnya band dari Ibukota, tahun ini yang didatangkan adalah weird genius lengkap dengan Sara fajiranya.
Penampilan bintang utama acara langsung menarik perhatian semua yang ada di lingkungan sekolah, termasuk Ara dan Ratih. Stand yang harus dijaga ditinggal begitu saja, demi mendekat ke panggung.
Sementara itu di halaman depan sekolah seorang ibu dan anak lelakinya keluar dari mobil berjalan menuju gedung paling luar sekolah.
''Sepi.'' lirih si ibu-ibu, menoleh ke anaknya. Si anak hanya mengdikan bahunya.
''Lagi ngumpul semua di lapangan belakang, Bu.'' ucap salah satu orang yang mengantar pasangan ibu anak tersebut. '' Sepertinya hari ini adalah perayaan ulang tahun sekolah.'' ucap si pengantar lagi.
Si ibu dan anaknya mengeryitkan dahi, menatap si pengantar. Seolah berkata sok tahu.
''Saya alumni SMA ini, Bu. Sepertinya akan susah mencari Ara karena pasti semua membaur di lapangan.'' terang si pengantar.
Seorang guru muda kelihatan stylist dan cantik dengan seragam dinas hijabnya, menghampiri rombongan tamu yang kelihatan kebingungan.
''Maaf, ada yang bisa saya bantu, Ibu dan Bapak-bapak?'' tanya guru muda yang bernama Kirana. Dan banyak dari murid-muridnya memanggilnya Bukir.
''Kami ke sini untuk menjemput Ara.'' kata salah seorang pengantar yang bernama Ramma, seoaran polisi yang juga alumni tempat Ara sekolah.
Ganti Bu Kirana yang sekarang bingung, kenapa ada satu ibu-ibu dan pemuda ganteng serta dua orang polisi datang mencari bahkan berniat menjemput Ara.Tak mau ada resiko Bu Kirana mempersilahkan para tamu tersebut untuk ke ruang kepala sekolah.
''Ibu dan Bapak-bapak mari silahkan saya antar ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
Saat berjalan menuju ruangan kepala sekolah Ramma melihat adeknya, Ratih. Diapun langsung memanggilnya.
''Ratih! '' seperti ada suara yang dikenal memanggilnya, Ratihpun menoleh.
''Mas Ramma.'' lirih Ratih, dan mendekat ke Ramma. Dipikirnya Ramma datang karena undangan alumni.
''Mas Ram, telat acara sudah mau bubar baru datang.'' Ratih langsung nerocos tanpa tahu maksud kedatangan Ramma yang sebenarnya.
''Dek, kamu kebiasaan selalu nerocos sudah kayak kereta api saja, Mas Ramma ke sini bukan karena undangan alumni. Tapi mau jemput Ara, Papanya mau ketemu.''
'' Maaf semua ini Adek saya.'' kata Ramma pada semua yang memandang padanya dan Ratih.
''Kenapa Mas Ram yang jemput Ara, emang Papanya Ara kenapa? gak biasanya Ara dijemput, biasanya juga pulsng bareng Ratih.'' Ramma hanya diam tak menjawab pertanyaan adeknya. Dia meminta pada Bu Kirana untuk melanjutkan ke ruang kepala sekolah.
''Bukir.'' tanya Ratih pada guru yang menjadi wali kelasnya itu. Bu Kirana mengedikkan bahunya tanda bahwa dia juga tidak tahu.
Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, Bu Kirana meninta pada Ratih untuk mencari Ara dan mengantarksn ke ruang kepala Sekolah. Dengan berat hati Ratih menyanggupinya. Sebelumnya dia mampir dulu ke toilet, karena ijinnya pada Ara tadi Dia mau ke toilet dan jadi lupa karena bertemu dengan kakaknya.
''Ra, kamu ditunggu di ruang Kepsek, sekarang. yuk!'' ajak Ratih tanpa menjawab pertanyaan Ara.
''Ada apa Tih? kenapa ke ruang Kepsek?'' belum pernah Ara dipanggil ke Ruang Kepsek. Jangankan ruang Kepsek, ruang BKpun juga belum pernah. '' Tih....''
''Aku juga gak tahu Ra, makanya ayo buruan biar cepet tahu.''
Pintu ruang kepala sekolah terbuka lebar, Ara bisa melihat dari luar lelaki dewasa nan rupawan duduk di sebelah wanita yang sedang berbicara, dengan kepala sekolah yang ada dihadapannya. Sejenak Ara beradu pandang pada lelaki dewasa tersebut, kala lelaki itu melihat keluar. Dan wanita tersebut, Bunda.
Bunda, kok bisa Bunda ada di sini. Bagaimana bisa Bunda tahu Ara sekolah di sini. Dan lelaki itu, siapa? Dan kenapa ada Mas Ramma.
Lamunan Ara buyar olek ketukan pintu yang dilakukan Ratih.Begitupun tatapan Gatra pada Ara. Semua yang ada di ruang Kepsek menoleh ke pintu. Termasuk Bunda.
''Ara.'' sapa lembut Bunda. melihat Gatra yang terpaku melihat Ara, Bunda menyikut pinggang Gatra.
__ADS_1
''Liur, usap dulu liurmu.'' bisik Bunda. Tanpa disadari Gatra menuruti ucapan Bunda. Padahal mah bersih muka Gatra tak ada tuh liur mengalir, tetap tampan seperti biasa. Hingga Bu Kiranapun tersepona dengan pesona Gatra.
Bunda bangkit dan memeluk erat Ara.
''Bagaimana Bu, bisa kami bawa Aranya sekarang.'' pinta Bunda pada kepala sekolah.
''Iya boleh, dan kami dari pihak sekolah juga akan turut serta mengantar, benar begitu, Bu Kinara?'' pandangan kepala sekolah beralih pada Bu Kirana yang ternyata sedang melamun menatap Gatra. '' Bu kirana... Ibu Kirana... ''
'' Eh, iya buk.'' jawab Bu Kirana gelagepan.
'' Bunda sebenarnya ada apa, kita mau kemana?'' tanya Ara yang penasaran dengan kondisi dan situasi yang ada.
Gatra tidak menyangka kalau hubungan Bundanya sudah segitu dekatnya. Bahkan tak sungkan Ara menggelendot pada Bundanya.
Ternyata kamu memang cantik dan manis sekali dek. Tapi sayang kamu masih kecil.
'' Kita mau ke tempat Papa Ara, Ara mau kan?'' bujuk Bunda.
''Papa Ara lagi ke Solo, Bunda. Dari tadi malam dan akan pulang hari ini. Kenapa mau disusul, nanti juga pulang.'' Semua tersenyum getir mendengar Ara berbicara tentang Papanya.
''Iya kita mau susul Papa Ara?'' ucap Bunda akhirnya.
Mobil suzuki APV yang dikendarai Ramma bertambah sesak karena ketambahan empat orang.Karena penuh Ibu kepala sekolah mengajak Bu Kirana untuk ikut menaiki mobilnya saja.
Berat untuk Bu Kirana, tidak jadi satu mobil dengan pria tampan yang telah mengetuk hatinya, tapi apalah daya perintah Ibu kepala sekolah tak bisa ditolak.
Di dalam mobil Ara duduk di jok belakang bersama Ratih, Bunda dan Gatra ada di jok tengah.
''Bun, apa kita mau menyusu Papa ke Solo?'' tanya Ara, setelah mobil melaju. Lagi-lagi Bunda tersenyum getir.
''Ara, sayang... Kamu yang sabar ya.'' guman lirih Bunda yang hanya bisa di dengar Gatra.
__ADS_1