
Setelah pertemuan dan perkenalan di Gedong Songo, pertemanan antara Ara, Ratih dan Naina semakin akrab.
Walau beda sekolah tak menghalangi mereka untuk sekedar pulang bareng. Karena sekolah mereka yang bersebelahan dan jalur rumah mereka yang sejurusan.
Kalau dulu, cuma Ratih yang tiap pulang sekolah ikut pulang ke rumah Ara, sekarang bertambah ada Naina. Terkadang ada juga Revano dan Rega.
Satu hal yang membuat Ratih kesal dan uring-uringan kalau ada Rega, pasalnya mereka tidak akan berhenti adu mulut dan selalu ribut. Walau begitu teman-temanya justru senang dan menikmati keributan mereka.
Sudah seminggu ini Ara ditinggal sendiri oleh Ratih, setiap pulang sekolah. Bahkan tak pernah mampir lagi ke rumahnya.
Naina yang biasanya suka kirim pesan gak jelaspun menghentikan aktivitas itu.
Hal yang kelihatannya mustahil untuk terjadi kini dilihat sendiri oleh Ara. Ratih dan Rega yang biasanya selalu ribut gak jelas, kini terlihat akur dan bahkan pulang bersama dengan Ratih dibonceng Rega.
Setelah sekian lama Ratih menghindar dari Ara, kini menghampiri Ara ke kelasnya untuk pulang bareng. Entah apa yang saja dilakukan sahabatnya itu karena ada saja alasannya untuk menjauhi Ara. Bahagianya Ara, bisa bareng Ratih lagi. Bersama mereka menuju selter menunggu BRT jurusan ke rumahnya.
Disaat menunggu muncul Rega dengan motornya dan dua helm. Rega memarmkir motornya di samping selter Dia turun menghampiri Ara dan Ratih.
''Ara, Aku pinjam Ratihnya sebentar.'' kata Rega setelah jarak mereka dekat.
''Hah.'' Ara kaget apa nih maksudnya, Rega mau ngomong baik-baik pada Ratih.
Ratih menerima ajakan Rega agak menjauh dari Ara. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya bukan adu mulut, dan merka bicara baik-baik tidak seperti yang biasa Ara lihat.
Sebentar mereka bicara setelahnya Ratih menghampiri Ara.
''Ra, maaf ya, sepertinya Aku ada urusan sebentar sama Rega, Kamu gak papa kan, pulang sendiri?''
''Hah.'' lagi-lagi Ara kaget mendengar ucapan Ratih. Apa tidak salah dengar Ratih ada urusan dengan Rega.
'' Ra... pulang sendiri ya.'' Ratih mengibaskan tangannya ke muka Ara.
''Ah.iya.'' akhirnya Ara tersadar dari bengongnya.
Baru juga dijawab iya Ratih sudah berlalu dari hadapan Ara. Tampak Ratih membonceng Rega. Sejak kapan meteka jadi akur gitu. Dengan langkah gontai Ara menaiki BRT jurusan rumahnya. Sepi rasanya bergelantungan di BRT tanpa Ratih. Di jam pulang sekolah memang BRT selalu penuh, bisa dipastikan Ara dan Ratih tak pernah dapat tempat duduk. Setidaknya dengan Ratih, jarak tempuh jadi tak terasa jauh karena candaannya yang ada.
Pikirannya tak Jauh dari Rega dan Ratih, dua mahkluk yang biasanya bagai guk-guk dan meong kini bisa akur dan bersama entah mau kemana.
Ara berjalan kaki sendirian dari jalan besar ke rumahnya. Cuaca yang panas, membuat keringatnya merembes keluar, mengucur dipelipisnya. jarak tempuh menuju rumah jadi semakin jauh saja.
Sesampainya di rumah, tumben si Papa sudah pulang. Terlihat ada mobilnya di garasi. Ara buru-buru masuk rumah. Sampai dalam di meja makan sudah ada bungkusan es kelapa muda dan aneka cemilan yang semua kesukaan Ara.
Langsung saja Ara mau memcomot satu cemilan, tiba-tiba ada suara Papanya dari belakang.
'' Cuci tangan, ganti baju dulu bau matahari tuh. Gak akan kemana jajanannya. ''
__ADS_1
''Pa...pah, he. he. '' Ara menyalim Papanya.
''Kebiasaan Kamu, Dek. sudah besar juga. Sudah tujubelas tahun, masih saja kayak anak kecil.'' Papanya sengaja menyinggung umur Ara.
''Tujubelas tahun.'' guman Ara lirih.''Pa! '' teriak Ara kemudian
''Apa Dek, kok teriak-teriak.'' jawab enteng Papanya Dari sofa depan televisi, karena Papanya lagi menonton acara berita kriminal.
Ara mendekat ke Papanya. mendudukkan diri di sebelahnya. Sedang Papanya tak bergeming tetap fokus pada layar di depannya. '' Papa ingat, hari ini Ara ulang tahun ke tujubelas?'' Ara yang ternyata lupa akan hari ulang tahunnya sendiri.
''Ingat dong,'' jawab Papanya sok-sokan menirukan gaya salah seorang pemain ojek pengkolan.'' Masak ulang tahun anak sendiri lupa. Kenapa, jangan-jangan kamu yang lupa pada ulang tahunmu sendiri? '' tanya Papanya menoleh ke Ara.
''He..he.'' Ara terkekeh. '' Ara lupa kalau hari ini Ara ulang tahun.
Tadinya Papanya berniat bercanda, bertanya apa Ara lupa dengan ulang tahunnya, ternyata beneran si anak lupa.
''Kalau Papa ingat ulang tahun Ara berarti Papa sudah punya kado dong? buat Ara.'' Ara menggoyang-goyangkan lengan Papanya. Siapa tahu karena ini ulang tahun spesial jadi Papanya meniapkan kado yang spesial juga. Buktinya disaat Ara tidak ingat hari ulang tahunnya Sang Papa ingat.
''Itu yang di meja makan kado dari Papa, Ara suka kan. Sengaja lho Papa tadi lewat depan java biar bisa beli jajanan favoritmu.''
Seketika Ara memberengut. Dilepas tangan Papanya. Papa Randy menahan senyumannya.
''Ya kali, Pa. ngasih hadiah jajanan pasar. Masak iya, anaknya sweet seventeen cuma dapat jajanan pasar.''
Ara meninggalkan Papanya masuk ke kamarnya. Niat hati mau ganti baju, pura-pura ngambek biar si Papa memberikan kado hadiah yang lain. Padahal Ara sendiri gak tahu mau hadiah apa dari Papanya.
Sesampainya di meja makan es kelapa mudah telah perpindah tempat dari bungkus plastik ke gelas besar. Ada Papanya di meja makan.
Ara duduk di depan Papanya menikmati es kelapa muda dan camilan yang berupa jajanan pasar kesukaannya. Ara menghabiskan lunpia, tahu sarang burung dan kue putri mandi dalam sekejap, es kelapa mudapun tinggal batu esnya.
'' Enak, Ra?'' tanya Papanya, dan Ara mengangguk tanda iya karena mulutnya yang masih penuh makanan. '' Padahal, Papa mau ngajak Ara ke kota atas. Kita makan-makan di sana.'' Ara mendongak ke Papanya tanda protes kenapa gak bilang dari tadi, kalau itu Ara mau.
'' Bagaimana, kalau Ara ikut Papa ke Paradise, pililihkan batik buat Papa pakai acara kantor besok lusa. '' tawar Papanya.
''Sekarang Pa,'' Papanya mengangguk iya.'' Mau, tapi habis itu traktir Ara makan.''
'' Yang ulang tahun kamu, kok yang traktir Papa. Kamu dong yang traktir Papa. '' Papa Randy mengelus puncak kepala Ara.
'' Kalaupun Ara yang traktir Papa duwetnya juga dari Papa. Jadi gak kita pergi, sekarang.'' pikir Ara karena paradise dekat dengan rumah, maka tak perlu ganti baju.
''Jadi, Ayo!''
Sesampainya di Paradise butik yang khusus menyediakan pakaian berbahan batik. Papa Randy menyuruh Ara untuk memilih batik yang dipakai untuk acara pesta. Tentu saja dengan model yang sopan. Tanpa pikiran macam-macam Ara memilih satu. Ini mungkin kado ulang tahun dari Papanya.
Ara mencoba satu baju memperlihatkan pada Papanya sambil berputar-putar ala model. Papanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
Karena Papanya setuju pilihan Ara, Ara berbalik ke kamar pas hendak melepas baju pilihannya dan berganti dengan pakaian yang tadi Dia pakai. Tapi dilarang oleh papanya.
''Sekalian dipakai saja Ra, Papa suka Ara pakai itu. Nanti ganti di rumah saja.''
Tidak apalah ulang tahun ini nyenengin orang tua. Lain Ara lain Papanya, sengaja berlama-lama memilih pakaian yang mau dibeli. Jemu Ara menunggu.
Tumben banget seh Papa milih baju. Emang acaranya sespesial apa coba.
''Pa, sudah belum? tumben pilih baju satu saja lama. '' gerutu Ara.
''Sabar, Dek. ini sudah selesai.'' jawab Papanya tersenyum melihat anaknya dalam mode jengkel.
''Langsung pulang atau kemana dulu nih? takutnya Kamu lapar kan belum makan sedari pulang sekolah tadi.'' diperjalanan pulang Papa Randy menawari Ara untuk makan. Ara yang melihat siomay di pinggir jalan minta untuk makan siomay saja. Dan Papanya memperbolehkannya.
Selesai dengan siomay padangan ayah anak itu langsung pulang.
Sampai depan rumahnya Ara kaget, karena rumahnya memdadak ramai. Ara menole ke Papanya, tahu maksud kebingungan Ara Papanya mengedikkan bahu seolah bilang tidak tahu.
Karena halaman rumah sampai garasi dalam sudah penuh motor yang parkirnya acak tak tertata, Papa Randy terpaksa parkir jauh dari rumah.
Ara turun dari mobil berjalan bingung karena diantara teman-teman yang ada di luar rumah adalah teman yang Dia kenal. Banyak pula teman sekelasnya.
Ada Ratih dan Naina yang menyambutnya di pintu gerbang.
''Kejutan...''
''Surprise...''
teriak mereka bersama. kemudian riuh suara tepuk tangan teman-temannya.
Ara ditarik ke ruang tamu tempat yang menjadi pusat perayaan ulang tahunnya. ruang tamu telah dirubah dan dihiasi kertas warna-warni dan banyak balon.
Ara menangis karena haru. Ara menengok ke belakang ada Papanya yang tersenyum bahagia. Ara semakin terisak berlari menghambur ke pelukan Papanya. Ratih dan Naina yang tadinya semangat membuat kejutan pesta untuk Ara ikutan menangis melihat Ara menangis dipelukan Papanya.
''Ara bahagia?'' tanya lembut Papanya.
Ara hanya mengangguk.
''Kalau bahagia hampiri teman-temannya mulai pestanya, nanti keburu malam. Lihat itu teman Ara,'' menunjuk Ratih dan Naina '' mereka yang minta Papa buat ngijinin buat pesta ulang tahun untuk Ara.
Ara sudah tak bisa berkata-kata lagi, terlalu bahagia dengan semua yang diberikan padanya.
*
*
__ADS_1
*
*