
Setelah sekian drama perijinan yang alot untuk diperoleh, akhirnya di sinilah Ara dan Ratih bersama teman-temannya berada. di ketinggian 1200m diatas permukaan laut, komplek candi Gedong Songo. Komplek candi yang berada di lereng Gunung Ungaran. Komplek candi peninggalan budaya Hindu jaman wangsa syailendra, diabad ke sembilan.
Ara, Ratih dan teman-temannya, akan mendirikan tenda di tanah lapang sekitaran candi satu. Lokasi yang paling dekat dengan pintu masuk, komplek candi.
''Whoi, mau kemana?'' tanya Ara ke Ratih karena anak itu, semenjak tiba tak bisa diam. selalu kesana- kesini bagai anak kecil yang baru bisa jalan.
''Lihat candinya, Ra. Ayuk! '' ajak Ratih menarik tangan Ara.
''Tih, Anjar menyuruh kita mendirikan tenda dulu, keburu malem.''
''Iya, cuma sebentar saja.Foto doang Ra, bantuin ya?'' Ratih menyerahkan kameranya ke Ara.
Ara mengikuti Ratih dan cekrek, cekrek, cekrek seakan fotografer yang sedang memotret modelnya.
''Sudah Tih, ayo yang lain sudah pada berdiri tendanya, kita belum apa-apa.'' Ara menyerahkan kembali kamera Ratih.
Menjelang magrib semua tenda peserta telah selesai terpasang, berdiri membentuk lingkaran besar. Yang nantinya di tengah-tengah akan dibuat api unggun. Menemani malam keakraban peserta camping, mengingat mereka bukan berasal dari satu sekolah.
Termasuk tenda Ara dan Ratih, sudah terpasang sempurna. Tentu saja bukan mereka sendiri yang memasang tendanya, ada campur tangan peserta lain yang membantu. Dialah Anjar si panitia.
Untuk ditiduri dua orang tenda Ara dan Ratih lumayan besar, sehingga mengundang peserta lain untuk nebeng.
Revano menghampiri tenda Ara dan Ratih bersama kekasihnya, Naina.
''Ara, Ratih. '' sapa Revano.
''Eh, Revano. Mana Reganya?'' tanya Ratih yang melihat Revano datang bersama ceweknya, bukan bersama Rega.
''cie.. cie .. yang kangen Rega.'' kata Revano menggoda Ratih.
'' Kangen sama si komeng, duh... amit-amit. Aku tanya kan biasanya kalian selalu sepasang kayak mimi lab mintuno.'' ucap Ratih sewot.
''Sepasang apanya? Aku masih normal kali, ini lihat cewekku.'' Revano mengenalkan Naina ke Ara dan Ratih. Mereka bertiga bersalaman.
''Kulihat tenda kalian cukup besar, bolek tidak Naina gabung sama kalian?'' tanya Revano.
''Boleh, kalau Naina mau.'' jawab Ara.
''Maaf ya, jadi merepotkan kalian.'' ucap Naina sungkan.
''Biasa saja kali, kita juga tadinya cuma berdua, ditambah kamu pasti nggak jadi dingin nanti malam.'' jawab Ratih.
__ADS_1
''Na, Aku ke Anjar dan yang lainnya dulu ya, koordinasi soal api unggun nanti malam.'' Pamit Revano pada kekasihnya. Revano panitia dari SMAnya.
'' cie..cie.. yang nggak rela ninggalin.'' gantian Ratih mengoda Revano.
''Jagain, awas lecet. Cewekku itu.'' ucap Revano dengan berlalu pergi.
Menunggu acara pembukaan dimulai Ara, Ratih dan Naina saling mengobrol seru.
''Tadi Aku sempat takut lho, minta satu tenda sama kalian.'' ucap Naina
''kenapa?'' tanya Ara
''Takut kalian ini salah satu mantan Vano. Soalnya kebanyakan peserta yang dari sekolahku mantannya Vano. makanya Aku nggak berani minta satu tenda sama mereka.'' terang Naina
''Takut bener sama mantan- mantannya Revano.'' kepo Ratih
''Mereka itu mengerikan, sudah banyak kejadian tak terduga dan membuat Aku hampir celaka.''
''Maksudnya?'' Ara ikutan kepo.
'' Aku pernah disiram air gara-gara cuma dibonceng Vano, padahal waktu itu Aku belum jadi pacar Vano. Dikunci di toilet pernah. Sengaja disrempetpun pernah.''
Ara dan Ratih bergidik ngeri mendengar cerita Naina.
''Jadi kalian kenal Rega? siapa diantara kalian yang jadi target Rega?''
''Ara.'' spontan Ratih
'' Humm ''
''Humm apa?'' tanya Ara dan Ratih barengan.
''Kalian tahu kan, kalau Rega dan Vano itu sebelas dua belas.'' hanya Ratih yang mengangguk '' Tapi sepertinya kali ini Rega bakalan insyaf kalau Ara mau. Ini kalau Rega tahu ada Ara di sini pasti dia nggak bakalan mau ikut saudaranya ke Jakarta.'' sambung Naina
''Sudah kuduga Rega itu playboy cap bandeng.'' sungut Ratih.
'' Kamu Tih, orangnya nggak ada masih saja dihina, yuk ke tengah tuh sudah pada ngumpul.''
Semakin malam udara semakin dingin. Tentu saja karena letaknya yang di dataran tinggi dan suhu di sini bisa berada di bawah dua puluh derajat celcius kalau malam.
Setelah acara inti yang berisi sambutan dan perkenalan kini sampai pada acara bakar-bakaran. Sudah tersedia jagung, ketela dan ubi. Revano datang menghampiri Naina, Ara dan Ratih dengan membawa jagung bakar. Tak lama Anjar datang membawa ubi bakar.
__ADS_1
Semakin malam jumlah peserta yang di depan api unggun semakin berkurang. Ada yang masuk tenda, ada trekking malam-malam ke candi ke sembilan.
Ara, Ratih dan Anjar menggerombol sendiri, Revano dan Naina duduk berdua tak jauh dari Ara dkk.
Ada rombongan mahasiswa mendekat, mereka berjumlah lima orang. Melihat ada api unggun masih menyala besar, sedang yang menunggui cuma sedikit, para mahasiswa itu meminta izin untuk ikut menghangatkan badan. Rupanya mereka habis trekking dari candi ke sembilan.
Sebagai salah satu panitia Anjar mempersilahkan para mahasiswa itu untuk bergabung.
Sebelum mendekat ke api, mereka berkenalan. Saling berjabat tangan dan menyebut nama. Ketika tiba giliran salah satu mahasiswa menyebut namanya Dimas dan berjabat tangan dengan Ara, mahasiswa itu kaget. Dan dia meminta Ara menyebut nama lengkap.
''Dimas Nugraha, Ara siapa?''
'' Mutiara Dinanti. '' ucap Ara.
DEG
Beneran tidak salah ini Aranya Raga, kenapa dia ada di sini, dan ini anak- anak Semarang. Dan bukannya dia pernah bertemu denganku, kenapa seolah tidak kenal.
''Kak, bisa lepasin tangannya?'' pinta Ara
''Ma maaf.'' Dimas tersadar dari lamunannya.
Gerombolan Ara bertambah dengan hadirnya lima mahasiswa itu.
Dimas adalah salah satu teman Raga, walau tak sedekat Aldo. Dan Dia tahu Ara. Yang dia tahu Raga memang mengalami kecelakaan, ketika dia dan teman-temannya berniat menjenguk Raga sudah dibawa keluarganya pergi, setelah itu tidak ada kabar lagi. Dan tentang Ara Dimas tidak tahu kalau Ara ikut dalam kecelakaan bareng Raga.Bukan cuma Dimas yang tidak tahu tentang kecelakaan Ara, teman-temannya juga tidak tahu. Ini karena perintah dari Papanya Ara untuk menghilangkan keberadaan Ara dalam peristiwa itu. Setahu Dimas Ara masih sekolah di Magelang.
''Kakak-kakak ini semester berapa?'' dengan centilnya Ratih bertanya.
''Kami semester empat, kalau kalian kelas berapa?'' jawab salah satu mahasiswa dan bertanya kembali ke Ratih.
'' Kami lagi liburan habis ujian kenaikan kelas, setelah ini kelas XII. '' jawab Ratih lagi.
'' Kalau Kami baru mau ujian Senin depan, ini adalah minggu tenang.'' jawab mahasiswa yang lain.
Ara sudah tidak tahan, rasa kantuk dan hawa dingin sudah menyerangnya. Pantas saja mengantuk, waktu sudah menunjukkan jam dua dini hari. Ara mengajak Ratih untuk masuk tenda.
Rencananya Dimas dkk hendak langsung turun pulang ke Semarang. Tapi ditahan oleh Dimas dengan alasan udara terlalu dingin untuk perjalanan turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal. padahal hanya akal-akalan Dimas saja untuk memastikan beneran Aranya Raga atau bukan.
*
*
__ADS_1
*
*