
Ara telah siap dengan seragam barunya, putih abu-abu. Hari Senin hari pertama Ara sekolah dengan seragam baru.
Pagi ini Ara diantar sang papa. Sepanjang jalan banyak nasehat diberikan, seolah tidak rela anaknya menjadi dewasa.
Mobil berhenti di sebrang sekolah'' Ra, perlu papa antar sampai dalam nggak?" goda papanya.
'' Ih Papa apaan...'' Ara memberengut.
'' Ya,,, siapa tahu kesrempet lagi, jatuh lagi, ntar ada yang ke rumah lagi.'' kekeh papanya.
''Papa kok gitu sih , jangan dong. Malunya aja masih ada kalau ingat. Udah Ah Ara turun. Assalamualaikum.'' Ara turun setelah mencium tangan papanya.
''Waalaikumsalam...''
Baru berjalan beberapa langkah Ara putar balik, untung papanya belum bergerak pergi, diketok kaca pintu mobil, dan dibukakan oleh papanya'' Kenapa, Ra?'' bingung lihat anaknya balik dan ngetok kaca.
''Papa nanti pulang sekolah Ara boleh main ke rumah Gea, ya?'' ijin Ara.
''Cuma ke rumah Gea nggak kemana- mana? '' papanya memastikan.
'' cuma ke rumah Gea papa... boleh ya?" mohon Ara
'' boleh ... tapi nanti pulangnya kabari Papa biar papa jemput."
'' Asaiapp"
Papa Randy melajukan mobilnya ke tempat kerja. Sesampainya di kantor yang pertama diperiksa adalah laporan tentang kegiatan malam minggu.
Rupanya sudah pada pulang brandal- brandal itu, tapi kenapa ini masih satu. Raga.
__ADS_1
Setelah membolak balik berkas laporan, dipangilnya salah satu anak buahnya yang menangani penangkapan peserta balapan liar malam minggu.
Tok ..tok...tok
''Bapak panggil saya.'' karena pintu yang terbuka maka sang anak buah langsung masuk.
''Ya .. ini kenapa masih satu yang belum pulang ? '' tanya Papa Randy menyodorkan berkas Raga.
''Kami sudah menghubungi pihak keluarga lebih dari sekali pak, tapi cuma dijawab iya biar disana dulu.Dan tertangkapnya Raga ini bukan cuma sekali ini pak, ini kali ketiganya dia tertangkap balapan. " terang anak buah Papa Randi.
Kenapa sebenarnya anak ini, kenapa ayahnya sedemikian tidak perduli.
''Biar saya yang ambil anak itu, tolong bawa ke sini?'' perintah Papa Randy.
'' Siap Pak"
Tak lama kemudian Raga telah berada di ruangam Papa Randy.
Raga hanya duduk dan menunduk tak berani menatap Papa Randy.
Papa Randy sibuk dengan pekerjaannya. Sementara dibiarkan Raga hanya duduk di sofa ruangannya.
Tok...tok...tok
''Pak, ini nasi pesanannya." seorang OB masuk membawa nasi bungkus.
''Tolong taruh di meja itu.'' tunjuk Papa Randy ke meja di depan Raga. '' terima kasih." lanjutnya.
Setelah OB pergi Papa Randy menyuruh Raga untuk sarapan nasi bungkus yang diantar OB.
__ADS_1
''Makanlah, kamu belum sarapan kan? " suruh Papa Randy.
Setelah Raga menghabiskan sarapannya, Papa Randy mendekati Raga, duduk di sebelahnya.
''Kenapa orang tuamu belum mengambilmu?" tanya Papa Randy lembut.
''Mereka lebih senang kalau saya dikurung di sini Om'' jawab Raga
Papa Randy kaget dengan jawaban Raga.'' kenapa kamu bilang begitu."
''Buktinya saya masih di sini dan mereka tidak perduli saya di sini. ''
''Ini bukan pertama kalinya kamu tertangkap, mungkin mereka mau membuat kamu jera dulu. Mana mungkin orang tua kok tidak perduli pada anaknya." terang Papa Randy.
''Melihat hubungan Om dan Ara, saya merasa iri. Melihat tetangga saya juga merasa iri, kenapa saya tidak bisa punya keluarga seperti tetangga saya.Papa saya tidak pernah sayang, mengajak bicara beginipun tak pernah. Dari kecil saya sudah keyang dengan pukulannya, Om. Dia akan puas bila sudah memukuli saya, mungkin harinya akan kurang bila belum memukuli saya.'' jelas Raga getir.
Kasihan sekali kamu, masak iya seorang ayah berlaku seperti itu. Tapi dari sorot matanya sepertinya dia tidak bohong. Kekerasan pada anak yang menyebabkan anak jadi berlaku menyimpang. Mungkin ini salah satu bentuk protes darinya.
'' Ibumu bagaimana? apa dia tidak mencegah ayahmu, untuk tidak memukulimu?" dipandanginya mata Raga.
''Wanita itu bukan ibu saya, Om. Mana mungkin dia mencegah papa untuk mukul saya, justru dia yang selalu mencari cara dan gara-gara agar saya selalu disiksa oleh papa. Yang dia sayang cuma kedua anaknya."
Apalah jadinya Ara jika dia juga punya ibu tiri, kasihan Ara pastinya dia tak akan sekuat Raga. Dan aku bagaimana akan bertanggung jawab pada Anggi kelak .
''Raga.... ibu kandungmu , di mana? masih hidup apa sudah meninggal.'' tanya Papa Randy hati hati.
'' Mamaku masih hidup, dan dia menjadi gila karena papa.'' kata Raga penuh kebencian.
''Maksudmu apa?, bagaimana kamu bisa tahu kalau mamamu gila."
__ADS_1
''Saya pernah dijemput kakek untuk ketemu mama di rumah sakit jiwa di Jakarta. Kasihan mama saya Om . Itu terakhir saya ketemu mama.'' wajah Raga menjadi murung dan kelihatan sedih.
''Kamu istirahat dulu di sini. Nanti om antar pulang kamu, sekalian jemput Ara di rumah temannya, katanya tetanggamu.''