
Dunia runtuh menimpaku, Papa yang awalnya baik-baik saja, bahkan semakin membaik menurutku, setelah ijab kobul tiba-tiba kembali tidak sadarkan diri.
Tiga hari sudah Papa koma, dan tiga hari itu Aku selalu di sampingnya. Ketika Papa mengalami kejang dan dokter datang kukira Papa tersadar, ternyata Papa lebih memilih untuk menyusul Mama dan Kak Arti, meninggalkan Aku sendiri. Seketika duniaku menjadi gelap.
Ternyata Aku pinsan cukup lama, entah pinsan entah tertidur. Aku tersadar sudah berada di kamarku, ada Bunda, Ratih dan Naina. Mereka selalu ada untukku sejak Papa kena musibah. Terutama Bunda, siang malam selalu menyemangatiku.
'' Ra, Kamu sudah bangun, Nak?'' Bunda beranjak mendekatiku, dan membawa segelas air putih.'' Ini minum dulu, Kamu pasti haus.'' Aku menerima air putih yang disodorkan Bunda dan meminumnya sampai tandas.
Kenapa Aku bisa berada di kamarku, bukannya Aku di rumah sakit. Dan... Papa?, seketika air mataku kembali lolos. Aku berusaha bangun ingin mencari Papa. Ratih menghampiriku dan mendekapku erat, dan menangis keras bahkan lebih keras tangisan Ratih ketimbang Aku.
''Ra, Kamu harus ikhlas, Ra. Allah tak kan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.'' ucap Ratih disela tangisnya.
''Ra.'' Naina ikut bergabung memelukku. bersyukunya Aku mempunyai mereka berdua.
Seorang laki-laki, bukan lebih tepatnya suamiku masuk ke kamarku, Dia berbisik pada Bunda lalu keluar dari kamarku.
Kedua temanku melepaskan pelukannya ketika Bunda menghampiriku.
''Ara ikhlas dan kuat ya?'' Aku mengangguk, dan Bunda terseyum.'' kalau begitu Ara cuci muka dan ganti baju ya, temui Papa untuk yang terakhir kalinya, Ara gak boleh nangis.'' Bunda menggelengkan kepalanya dan mengusap pipiku ketika air mataku mulai lolos lagi. ''Ara gak boleh nangis. Ara mau kan mengantar Papa ke peristirahatannya yang terakhir?'' Aku hanya mengangguk pasrah.
Aku turun dari kamarku bersama Bunda dan ketiga temanku. Dari tangga kulihat rumahku begitu ramai duduk lesehan di lantai, karena meja, kursi dan perabotan lainnya entah ditaruh di mana, yang pasti ruang tamu dan ruang tengah menjadi luas tanpa perabot.
Papaku terbujur kaku di tengah tamu yang kebanyakan ibu-ibu tetanggaku dan ibu-ibu bayangkari yang tengah mengaji untuk Papa.
Semalam Papa menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Dan ternyata Aku telah dibawa pulang terlebih dahulu sebelum jenasah Papa dibawa pulang, itulah mengapa ketika bangun Aku sudah berada di kamarku.
Melihat Aku yang masih terpaku di tangga, seorang ibu bayangkari mendekatiku dan mengelus puncak kepalaku. Dialah istri dari bapak kapolda yang tempo hari menjadi saksi pernikahanku.
__ADS_1
''Sabar ya, Nak. Yuk! temui Papamu untuk yang terakhir.'' ajaknya
Kubuka kain penutup Papa, kupandangi wajah Papa yang begitu tenang. Tak merasakan lagi kesakitan seperti di rumah sakit. Kalau Papa saja iklas menerima ini jalan takdirnya, kenapa Aku tidak? benar kata Ratih ini cobaan untukku. Tapi rasanya sakit sekali untuk kembali kehilangan orang yang kusayangi.
''Jangan nangis lagi, Ra. yang iklas ya, biar Papa pergi dengan tenang. Bukan tangisan yang dibutuhkan Papamu saat ini, itu hanya akan menghambat jalannya. Doa anak solehah seperti Ara yang dibutuhkan Papa untuk melapangkan jalannya.'' kata nasihat dari Bunda.
''Ara iklaskan Papa pergi, Bun.'' lirihku ke Bunda.
Ayah datang dari luar mendekati Bunda, kudengar Dia berbicara pada Bunda.
''Bun Pak kyai sudah datang dan jenasah Randy akan segera disholatkan dan jam sepuluh nanti akan ada upacara penyerahan jenasah dari keluarga ke kepolisian untuk pemakaman kedinasan.''
''Ara mau ikut menyolatkan Papa, Ayah.'' pintaku yang mendengar ucapan Ayah.
''Boleh ayo kita siap-siap.'' Bunda kembali membawaku ke kamar untuk mengambil mukena.
Sebelum dibawa ke pemakaman diadakan upacara pelepasan jenasah dari keluarga ke kepolisian untuk dimakamkan secara kedinasan. Dan lagi-lagi lelaki yang telah menjadi suamiku yang secara simbolik menyerahkan jenasah Papa kekepolisian.
Papa dimakamkan di pemakaman pahlawan. Aku, Bunda, Ratih dan Naina berada satu mobil mengikuti dibelakang mobil jenasah.
Sesampainya di gerbang pemakaman sudah ada teman-teman SMAku, kepala sekolah dan jajaran guru. Mereka semua ada untukku. Pah, masih banyak yang sayang Ara, Ara gak akan sedirian, Papa tenang saja, Ara akan lalui cobaan ini. Ara akan berusaha kuat dan tangguh seperti ajaran Papa selama ini.
Suara tembakan selvoe hampir saja membuatku oleng, untunglah ada tangan dan tubuh kekar yang menyanggaku. Dialah lelaki yang bergelar suamiku. Menyangga dan memapahku ke liang tempat Papa dikuburkan, setelah upacara pemakaman selesai.
''Ra, makan yuk? Ara belum makan lho.'' ajak Bunda sesaat setelah kami berada di rumah.
''Ara gak laper, Bun.'' lirihku, yang kubutuhkan saat ini bukan makan tapi tidur di kasur empuk kamarku. Tapi apalah daya tamu pelayat masih terus berdatangan silih berganti.
__ADS_1
''Bunda suapin deh, soalnya dari semalam Ara belum makan. Bunda ambilkan ya?'' tanpa kujawab Bunda sudah pergi dari sebelahku dan kembali lagi dengan membawa dua nasi kotak.
''Ra, a... '' Bunda benar-benar menyuapiku seperti menyuapi anak kecil saja.
''Kita dapat kiriman nasi kotak banyak dari ibunya Ratih, Ra.'' adu Bunda disela menyuapiku. Pantas Aku tak asing dengan rasanya, ayam bakar madu dari katering ibunya Ratih memang terlezat.
'' Lihat teman-teman Ara di sana mereka kelihatannya juga suka dengan makanan nasi kotak ini.'' tunjuk Bunda pada Ratih, Naina, Vano dan Rega, yang sedang menikmati nasi kotak hantaran ibunya Ratih.
''Iya, masakan Ibu Ratih memang terlezat, Bun. Ibu Ratih juga yang mengajari Ara masak.'' sedari SMP aku kenal Ratih dan selalu numpang makan di rumahnya. Kulihat ibunya yang selalu sibuk memasak dan membuat kue pesanan membuatku tertarik untuk belajar.
''Oh gitu.'' Bunda membuka nasi kotak satunya dan menyuapi dirinya sendiri. '' Eh, beneran enak Ra, empuk dan bumbunya menyerap sampai ke dalem.''
''Ini ayam bakar madu, Bun. Ara sudah beberapa kali mencoba menduplikasikan tapi rasanya tak pernah seenak buatan Ibunya Ratih.'' aduku pada Bunda.
Tak terasa satu nasi kotak ayam madu telah kuhabiskan, entah akunya yang kelaparan atau memang ayam bakar madunya yang enak. Bunda tersenyum puas aku menghabiskan sendiri nasi kotakku, ya setelah beberapa suap disuapi Bunda, Aku meminta untuk makan sendiri.
Lagi-lagi lelaki berlebel suamiku mengambil peran penting di hidupku. Dia menerima tamu pengajian tahlilan Papa, dan bertindak sebagai tuan rumah. Kelihatan sudah akrab sekali dengan Pak kyai, sesepuh dan ahli agama kampung kami.
Apakah Dia baik, Papa. Lelaki yang kau pilihkan menjadi suami anakmu ini.
*
*
*
*
__ADS_1