
''Mas Gatra kita mau makan malam di mana? Apa Bunda merubah tempatnya? bukankah kita mau makan di restoran Jepang?" merepet Ara bertanya pada Gatra
Bukannya menjawab pertanyaan Ara, Gatra cuma tersenyum dan menggandeng tangan Ara dengan eratnya.
Gatra merubah acara makan malam keluarga menjadi makan malam romantis hanya untuk dia dan Ara.
Bukan cuma Ara yang punya kejutan untuk Gatra, karena Gatrapun juga punya kejutan untuk Ara. Ini adalah moment ulang tahun pertama untuknya dengan status baru dari bujangan menjadi suami.
Mendadak Gatra berubah menjadi seperti ABG labil yang lagi bucin. Menurut Farel. Farel yang dimintai tolong dan saran dibuat bingung dengan perubahan sikap Gatra. Kemana Gatra yang selalu dewasa, bijak dan terlihat dingin ke orang lain. Kenapa jadi Gatra yang Melo, penuh pertimbangan dan butuh banyak saran. Dan mendadak menjadi pria paling romantis, karena meminta pada Farel untuk menyiapkan tempat yang paling indah dan romantis untuk acara makan malam hanya untuk satu pasangan dan tanpa gangguan.
Flashback On
Siang hari sebelumnya Bunda mendatangi kantor Gatra untuk memastikan acara makan malam bareng.
''Bun...'' sapa kaget Gatra yang tetiba Bunda nyelonong masuk ke ruangannya. ''Kok tumben Bunda ke sini?'' Gatra yang kaget bangun dari duduknya dan menyalim Bundanya, diikuti Farel yang kebetulan juga sedang berada di ruangan Gatra.
''Bunda cuma mau mastiin saja makan malam nanti kamu beneran datang bawa Ara. Sudah hampir dua Minggu bunda tidak ketemu Ara, kangen banget.
Gatra bingung bagaimana cara untuk menjelaskan ke bunda bahwa dia batal makan malam bersama dan hanya ingin berdua saja dengan Ara.
''Emm... Bun. kalau Gatra.. cuma mau Rara.''
''Mau Rara gimana! ngomong yang jelas!'' belum apa-apa bunda sudah menyela.
''Anu.itu...''
''Anu itu anu itu apa?'' tanya bunda yang sudah tidak sabar karena mendadak anaknya menjadi gagap. Sedang Farel disudut lain hanya bisa menahan tawa.
''Kamu beneran jadi gagap Tra?'' suara bunda melunak mungkin takut mendadak anaknya jadi susah untuk ngomong.
''Bukan Bun?''
''Nah itu bisa jelas.'' ada nafas lega dari bunda.
Setelah menghela nafas panjang Gatra menyampaikan maksudnya.
''Gini, Bun. Gatra mau ajak Rara untuk makan malam di tepat yang romantis.Biar..''
__ADS_1
''Gatra! apa maksudmu?'' tanduk Bunda mulai muncul lagi.
''Ingat Gatra! Ara memang istrimu. tapi dia masih remaja, masih butuh suasana luaran. Jangan kamu kurung dia di apartemenmu terus.''
''Gatra nggak kurung Rara Bun.'' sela Gatra
''Nggak kurung? Minggu kemaren apa? kamu gak antar Ara ke tempat bunda pakai alasan Ara harus belajar karena try out, sekarang mau makan malam saja kamu juga mau sabotase. Jangan posesif kamu.''
Lah yang suruh nikahi bocah juga siapa? belum juga bisa dienak- enak. Emang salah kalau anakmu ini jatuh cinta pada istri yang dijodohkan?
'''Kasihan Ara, Tra?''
Farel yang melihat perdebatan ibu dan anak yang bakal lama selesainya, akhirnya ikut menyela. Bukan untuk membela Gatra karena dia bosnya tapi karena dia sudah susah payah pesan tempat dan ikut mendekor tempat tersebut sesuai dengan apa yang Gatra mau. Jikalau gagal sia-sia dong usahanya.
''Bunda, sebenarnya Gatra punya rencana untuk nyenengin Ara.'' Farel mengeluarkan Hpnya dan memperlihatkan gambar-gambar tempat yang digunakan Gatra dan Ara untuk makan malam, walau belum seratus persen jadi.
Bunda serius melihat gambar foto yang ada di Hp Farel. ''Kalau begini bunda setuju. Semoga Ara senang dengan kejutan yang kamu siapkan. Tapi tetap ya... Tra hari Minggu bunda ke apartemen menemui Ara. Kalau Aranya mau Bunda mau ajak dia jalan-jalan. Kamu tidak boleh melarang.''
Gatra menghela lega Farel memang top markotop bisa diandalkan.
''Makan malam kita gimana jadinya? sayangkan kalau batal. Mana Bunda sudah bayar lunas tempatnya.''
''Boleh juga, kalau Farel dan Mithanya mau lumayanlah daripada hangus. Gimana Rel?'' sekaya apapun tetap jiwa emak-emak gak mau yang namanya merugi.
''Farel sih terserah Mitha nanti mau atau tidak ya, Bun.''
''Jangan lama-lama Rel.''
''Iya Bun.''
''Bunda pulang dulu, salamkan untuk menantu Bunda dan juga Mitha.''
''Iya.'' jawab Gatra dan Farel barengan.
Setelah Bunda keluar, Farel melempar kertas yang telah dia remas-remas ke Gatra. ''Lo hutang banyak ke gue.''
Flashback end
__ADS_1
Gatra membawa Ara ke rooftop hotel di pinggiran kota. Untuk mencapai rooftop Gatra dan Ara melewati tangga karena lift hanya sampai lantai paling atas saja.
Begitu pintu dibuka nampak taburan bunga mawar disepanjang lantai yang akan dilewati dan deretan lilin-lilin kecil yang lebih banyak yang mati karena angin di rooftop yang lumayan kenceng, disisi kanan dan kiri taburan bunga mawar. Ada buket bunga yang tergeletak Gatra mengambilnya dan menyerahkan ke Ara.
Ara menerima buket bunga dan menciuminya. ''Wangi.'' lirihnya
Jadi iri sama bunganya, kenapa bukan Mas yang dicium Rara.
Semakin berjalan ada meja dan dua kursi yang telah dihias dengan bunga hidup dan dua lilin yang menyala.
Ara menghampiri meja dan duduk di kursi satu. ''Mas Gatra ayo kita ngepet, Mas yang jadi babinya Ara yang jaga lilinnya, nanti hasilnya kita bagi dua.''
Sontak ucapan Ara membuang jauh suasana romantis yang sudah Gatra bangun.
Gatra mendudukkan diri di kursi yang satunya yang ada di depan Ara. diraihnya kedua tangan Ara. '' Mas rela jadi babi asal bisa selalu menjaga dan melindungi Raranya Mas.'' lah kenapa jadi ikutan bawa-bawa babi.
''Mas. Ara gak mau Mas Gatra jadi babi. Ara bercanda. Tetap jadi Mas Gatra saja.''
''Iya kali Mas jadi babi Mas kan bukan siluman Rara. Kalaupun Mas bisa berubah Mas pengen berubah jadi pangeran yang bisa bersanding dengan tuan putri.''
''Kok tuan putri?''
Haduh salah lagi. '' Mas Akan tetap menjadi Mas Gatranya Rara.''
Wajah Ara sudah bersemu merah. tak mampu untuk menatap Gatra.
''Rara.''
''iya.'' Ara tetap menunduk
''Mas merasa Mas sudah jatuh cinta ke Rara. Sejak kapan Mas gak tahu. Mungkin sejak pertemuan kita yang pertama. Waktu itu Mas pikir Rara cuma gadis kecil yang manja. Nyatanya Mas salah. Ternyata Raralah yang mampu mengisi hati Mas. Membuat Mas semakin bersemangat setiap harinya. Ra, bolehkah Mas memiliki Rara seutuhnya suatu hari nanti?''
Tak tahu harus menjawab apa Ara hanya mampu mengangguk. Gatra yang melihat anggukan Ara senangnya bukan main.
''Mas Gatra.''
''Hem.''
__ADS_1
''Ara punya hadiah ulang tahun untuk Mas, tapi nanti di apartemen.''
''Ara saja sudah hadiah yang luar biasa untuk Mas.''