Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
54. Curhatan Gatra


__ADS_3

''Kenapa, Tra?'' kali ini mereka berdua sedang duduk di gasebo taman belakang rumah. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam, yang diorder oleh Bunda. Kepaksa Bunda order makanan lewat aplikasi ojek online, karena rencananya untuk makan di luar bersama Ayah gagal total karena si anak datang.


'' Kepikiran dengan yang tadi?'' Ayah menyenderkan tubuhnya pada tepian sudut yang bersebrangan dengan Gatra.


'' Dulu, sewaktu Ayah mau menjodohkan Gatra dengan Arti, alasannya, apa?''


Sejenak, Ayah nampak berpikir, karena tidak ada alasannya. Semua tercetus begitu saja. Karena dulu Ayah yang meminta pada Papa Randy, agar Arti menjadi menantunya. Pada waktu itu Pada Randy masih belum merespon biarlah anak-anak memilih jodohnya sendiri. Tidak mau ada keterpaksaan, toh yang akan mejalani anak-anak , bukan orang tua.


Hingga tiba Arti keukuh minta meneruskan kuliah ke Jakarta. Dari situlah Papa Randy setuju dengan perjodohan Arti anaknya, dengan Gatra.


''Kenapa kamu tanyakan lagi, bukankah dulu Ayah sudah jawab selain untuk mengikat tali kekeluargaan kita, juga untuk menjaga Arti yang berkeinginan kuliah di sini.''


''Gatra tahu bagian itu. tapi adakah alasan lainnya, yang Gatra tidak tahu?'' tanya Gatra lagi.


'' Tidak ada.'' jawab Ayah pasti, dan Gatra melihat pada mata Ayahnya yang sepertinya memang tidak ada jawaban selain tidak ada.


Ayah Sukma merubah posisinya menjadi berbaring, kedua tangannya bertumpuk di bawah kepala yang digunakan sebagai bantal. Dengan posisi Gatra yang duduk bersender pada tepian gasebo, membuat mereka kalau saling berbicara bisa melihat muka lawan bicaranya.


''Ayah, Ayah percaya kutukan?'' tanya Gatra tanpa melihat Ayahnya, Dia mengalihkan pandangannya pada bintang-bintang yang tampak kecil dan bersinar di langit malam.


''Kutukan! kutukan Malin kundang aaapa Joko Tingkir?''


''Kutukan dari orang mati.'' lirih Gatra.


''Kutukan dari orang mati.'' beo Ayah yang karena tidak tahu maksud dari ucapan anaknya.


Gatra mulai bercerita apa yang menjadi keresahannya selama ini.Yang selalu disimpan rapat-rapat dan baru kali ini diceritakan pada Ayahnya. Semua berawal dari Arti yang datang ke Jakarta, untuk meneruskan kuliah di universitas favoritnya.


''Dulu, sebelum kejadian meninggalnya Arti dalam tergulingnya kereta api yang ditumpanginya, Arti mengirimkan pesan pada Gatra.'' Gatra menghela nafas beratnya, dan menhembuskannya dengan keras. ''Mumpung dia lagi diJakarta, Dia pengen ketemu calon tunangannya. Sampai berkali-kali Dia mengirim pesan. Bukannya Gatra menolak atau tidak mau untuk ketemuan, sama seperti Arti, Gatra juga penasaran seperti apa rupa calon tunangan Gatra aslinya, karena hanya foto-fotonya saja yang Gatra lihat.''

__ADS_1


''Ayah tahu kan, waktu itu usaha yang Gatra rintis mulai membuahkan hasil dengan banyaknya iklan yang harus dibuat. Gatra sibuk melayani klien dari pagi sampai malam. Hp Gatra silent, gak kepegang sama sekali. Baru malamnya Gatra buka Hp dan membaca pesan dari Arti yang lumayan banyak. Satu diantara pesannya yang membuat Gatra menyesal sampai sekarang, kenapa Gatra tidak memenuhi permintaan Arti. Yang ternyata permintaan terakhirnya.''


''Sepertinya pesan itu dikirim setelah Arti berada di dalam kereta yang mengantarnya pulang. Di pesan itu Arti bilang 'Mas Gatra mau susah jodoh, membiarkan Arti mati tanpa bertemu dulu dengan Mas.' Setelah membaca pesan itu, Bunda masuk ke kamar Gatra dan memberitahu kalau Arti dan Mamanya, meninggal.''


Ayah merubah posisinya lagi menjadi duduk. Sudah, tak bisa berkata-kata lagi mendengar cerita anaknya. Tak disangka selama ini Gatra menanggung sendiri rasa bersalah.


''Gatra.'' lirih Ayah, dan Gatra mendongak menatap sendu Ayah. ''Kematian Arti itu takdir, sudah garis suratan Yang Kuasa. Katanya anak milenial generasi micin, masih saja percaya kutukan, ck.'' tak ingin anaknya larut dalam rasa bersalah, sebisa mungkin dia menghibur.


''Ayah kira kamu tadi termenung karena kepikiran ucapan Ayah dan Bunda, tentang niat Randy yang mau menjodohkan Kamu dengan Ara.''


''Katanya Gatra terlalu tua untuk Ara. Emang Ayah mau anaknya jadi pedofil. ''


''Kalau memang jodoh dan Kamu juga mau disebut pedofil ya... gak papa. Bunda Kamu juga sangat menyukai Ara. Jodoh pasti bertemu''


Lah Bapak tahu saja tuh, lagu anak muda masa kini.


''Kenapa? heran ya, Ayah tahu lagu itu? Mau Ayah nyanyiin.''


Jangan nyanyi ya, Yah. bisa repot telinga Gatra harus kerja lembur ngatasin dengungan.


''Ya, suuudah. Ayah masuk saja. Kasihan tiga malam si nyonya kesepian, saatnya diberi kehangatan.''


''Mau masuk, masuk saja! gak usah pamer-pamer segala, tahu anaknya jomblo.''


'' Makanya lekas beristri, biar punya guling hidup.'' masih saja si Ayah menggoda anaknya.


Dasar Ayahhh hem.... suka bener nyiksa anaknya. Lah Dia mau tanding ada lawannya, nah gue mau tanding sama siapa? coba.


''Tra.....'' panggil si Ayah dari dalam rumah. Gatra menoleh ke Ayahnya.'' Jangan lama-lama di luar buruan masuk sudah malam, udaranya mulai dingin. Takutnya bukan cuma kamu yang kedinginan tapi adek kamu juga.He he he.'' sambung Ayah lagi.

__ADS_1


''Ashiapp, biar Gatra di sini dulu, takut ngeganggu acara tuan untuk menghangati nyonya.'' kali ini giliran Gatra yang menggoda Ayahnya. Seringai jahil muncul di wajahnya, emang cuma Ayah yang bisa menggoda,mana pakai bawa adek lelakiku segala. Aku juga bisa kelesss.


''Kamu kira Bundamu sayur pakai dihangati. '' lah si Ayah masih saja ngejawab dari dalam rumah. bisa gaswat ini kalau nyonya mendengar mau diangetin. Bisa-bisa digantung dibawah pohon tauge. Ayah bahaya mengintaimu. Sadar dong dengan ucapanmu kalau sampai terdengar nyonya, bisa gagal acara anget-angetmu.


****


Satu minggu setelah apa yang dijanjikan Ayah untuk mengajak Bunda ke Semarang telah tiba.


Sayangnya dihari keberangkatan Bunda sudah ada acara arisan bersama teman-temannya, dan diadakan di rumahnya. Tidak mungkin kan, tiba-tiba Bunda minta diganti ke lain hari. Ya walau acara arisannya lebih ke acara gibah berjamaah, ajang jualan dan yang paling point adalah ajang pamer. Ada saja hal-hal yang dipamerkan peserta arisan Bunda.


Yang paling miris untuk Bunda ketika yang dipamerkan adalah para menantu peserta. Nah Bunda mau pamer apa? ya.... walau ada juga sih yang menawarinya untuk berbesan.


Akhirnya Ayah berangkat sendiri baru keesokannya Bunda menyusul.


'' Ayah, maaf... Bunda bener-bener lupa kalau nanti sore Bunda arisan sama teman-teman dan diadakanya di rumah kita. '' kata Bunda dikala melepas kepergian Ayah.


'' Sudah gak papa, lagian nanti Ayah janjian sama Gatra di bandara.''


''Jadinya Gatra berangkat bareng Ayah? seandainya Bunda gak arisan, pasti bisa bareng-bareng berangkatnya.'' jiwa kebersamaan bersama keluarganya meronta-ronta.


''Iya, bisa dipastikan Dia bakalan lebih sibuk dari Ayah.'' gerutu si ayah, yang mungkin cemburu pada kesibukan si anak .


''Ayah berangkat ya, Bun. Hati-hati di rumah.'' terpaksa melepas kepergian Ayah lebih dulu, padahal Bunda yang ngotot minta ikut.


*


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih para pembacah, tetap dukung Ara ya, dengan like dan komentnya.


__ADS_2