
Satu persatu orang terdekat Ara pergi untuk melanjutkan aktivitasnya. Ayah yang harus balik ke Jakarta, Gatra yang sibuk dengan proyek lklan dengan pemerintah Jateng, teman-teman yang harus kembali sekolah.
Karena Ayah harus balik ke Jakarta,, Bunda mengantar sampai bandara. Bunda belum bisa ikut Ayah balik karena tidak tega membiarkan Ara sendirian.
Di pintu keluar bandara Bunda bertemu teman lamanya yang menjadi istri tentara yang sekarang berdinas di Makodam Diponegoro. Bunda terlena terlarut obrolan dengan teman lamanya, lupa dengan Ara yang sendirian di rumah.
Ara yang merasa sendirian di rumah mulai ketakutan. Dia merasa sebatang kara, tak punya siapa-siapa.
Ara pergi ke dapur, niatnya ingin cuma ingin minum, dilihatnya sekeliling. Sepi.
Untuk membunuh kesendirianya Ara mengeluarkan semua bahan-bahan makanan yang ada di dapur. Ara mulai dengan membuat bolu panggang, bolu kukus, bolu pelangi, bolen, bolu karamel sampai bika ambon. Tak terasa berbagai jenis bolu sudah tertata di meja.
Bunda yang baru saja turun dari taksi online bebarengan dengan Gatra dan Farel yang kebetulan juga baru pulang.
''Bun, dari mana?'' tanya Gatra bingung melihat Bundanya turun sendirian dari taksi online.
''Tadi sih, ngantar Ayahmu ke bandara.Eh, ketemu teman lama Bunda, Tante Erni. Ternyata Dia sudah lama tinggal di sini, keasikan ngobrol, Bunda.''
''Bunda, sendiri? Ara dimana?'' selidik Gatra
''Ara di rumahlah, tadi Bunda ajak untuk ngantar Ayah gak mau Dia.''
Mereka bertiga segera memasuki rumah. Capek hampir seharian diluaran.
''Rumahnya jadi harum kue gini, kayak masuk toko bakery saja. Ini gue saja yang bau atau karena gue lapar.'' Farel terus mengendus aroma bolu-bolu buatan Ara.
Bunda dan Gatra saling pandang, karena memang Farel benar. Aroma kue menyeruak ketika pintu rumah dibuka.
Mereka kaget melihat banyak bolu dimeja semuanta masih hangat. Ara muncul dari dapur membawa satu lagi bolu buatannya, Ara kaget melihat ada Bunda Gatra dan Farel.
Bunda menghampiri Ara, memeluknya dan terisak.'' Ra, maafin Bunda, gak seharusnya Bunda tinggalin Ara sendirian.''
Bunda membawa Ara ke sofa, didudukkannya Ara yang kebingungan dengan sikap Bunda.
''Maafkan Bunda ya, Bunda lupa waktu sampai lupa kalau Ara sendirian di rumah.'' Bunda membersihkan tepung yang mencemongi muka Ara.
Tingkah Ara yang membuat banyak bolu, membuat Bunda ketakutan kalau Ara stres karena kehilangan orang tua dan ditinggal sendiri.
Gatrapun sepemikiran dengan Bundanya, takut terjadi sesuatu pada Ara. Pekerjaannya di Semarang berakhir hari ini, bagaimana Dia menjelaskan pada Ara. Tidak mungkin Dia meninggalkan Ara di Semarang. Dan lebih tidak mungkin untuknya menetap di Semarang.
Farel asisten sekaligus sahabat Gatra sejak kembali lagi ke Semarang, setelah mengurus berkas kelengkapan untuk pendaftaran nikah Gatra, ikut tinggal di rumah Ara.
''Ra, itu bolunya boleh dimakan?'' ijin Farel yang sudah ngiler pengen nikmati aneka jenis yang tertata di meja. Ara hanya mengangguk, baru terasa capeknya membuat bolu, setelah Ara didudukkan Bunda di sofa. Farel segera mengeksekusi bolu buatan Ara setelah mendapat ijin siempunya.
''Bunda, Ara capek. Rasanya lengket semua.'' lirih Ara
''Iya, Ara bau bolu.'' canda Bunda yang mengendus-endus tubuh Ara.'' Mandi gih? ''
''Iya. ini Ara mau mandi.''
Ara berlalu menuju kamarnya untuk mandi. Gatra mendekat ke Bunda.
__ADS_1
''Bun, gimana? kerjaan Gatra di sini sudah selesai, gak mungkin kita untuk terus di sini. Ara baru ditinggal sebentar sudah kayak gini.'' raut kebingungan menyelimuti Gatra.
''Bunda juga bingung, Tra. Bunda juga gak bisa selamanya di sini. Inginya Bunda membawa Ara ke Jakarta, tapi bagaimana cara ngomongnya ke Ara.''
Farel datang ke ruang tengah tempat Bunda Gatra.
''Gilak, Tra. bini lu walau masih bau minyak telon tapi bisa buat beginian yang macam-macam rupa. Mana semuanya enak.'' adu Farel. Gatra lansung menyomot potongan bolu dari tangan Farel dan memasukkan ke mulutnya.
''Enak.'' senyum bangga menghiasi muka Gatra. gadis kecilnya selain cantik juga sudah bisa memuaskan urusan perut. Cinta tumbuh dari perut naik ke hati, mungkin itulah pepatah yang tepat untuk Gatra saat ini.
''Woi, lah sampai senyum-senyum gitu, Bun makan bolu buatan istrinya.''
Gatra terdiam digoda oleh Farel, ingin rasanya membungkam mulut lemes Farel. Bunda juga ikutan menertawakan Gatra.
Ting tong
Suara bel rumah menghentikan canda mereka. Ara yang selesai mandi, sudah sampai tangga untuk turun ketika bel rumahnya berbunyi.
''Biar Ara yang buka.'' karena posisi Ara yang paling dekat dengan pintu utama.
''Om, silahkan masuk.'' Ara mempersilahkan tamunya, yang ternyata Bapaknya Ratih, untuk masuk.
''Iya Ra, ini Om mau bertemu Ara dan Nak Gatra.''
''Iya Om. semua lagi ada di ruang tengah.'' Ara memandu tamunya ke ruang tengah, dan mempersilahkan duduk.
''Pak penghulu, apa masih ada berkas yang kurang?'' tanya Farel was-was karena dia takut disuruh bolak-balik lagi, Semarang-Jakarta-Semarang.
'' Bukan lagi kurang....'' Bapaknya Ratih menjeda kalimatnya, membuat level was-was Farel meningkat. '' Tenang Nak Farel, semua sudah terselesaikan. Bapak ke sini untuk mengantarkan buku nikahnya Ara dan Mas Gatra, serta KTP untuk Ara.'' terang Bapaknya Ratih.
Gatra menerima sepasang buku nikah berwarna hijau dan merah dari penghulu yang menikahkannya.
Ara menerima KTP atas dirinya, KTP pertamanya. Ara mengamati dwngan cermat KTP pertamanya. Air matanya lolos tanpa permisi.
Bunda langsung mendekati Ara. '' Ada apa, Ra? '' tanya lembut Bunda. ''Ada yang salah dengan KTP Ara?''
Ara mengangguk dalam dekapan Bunda, dan hanya Bunda yang tahu. ''Apa?''
Ara melepaskan dekapannya, menatap Bunda '' Ini KTP pertama Ara, Bun. Tapi status Ara bukan lagi single tapi kawin.''
Sebenarnya Bunda mau ketawa tapi ditahan takut menyinggung Ara.
''Kan memang Ara sudah menikah dengan Mas Gatra, pernikahan Ara sah secara agama ataupun negara, itu sudah ada bukunya.'' terang Bunda hati-hati.
Diseberang kursi Gatra sudah was-was kalau saja gadis kecilnya menyangkal status pernikahannya.
''Saya dapat pesan dari Rt sini kemaren, rencananya Ara dan suami masih akan tinggal di sini atau mau pindah?'' tanya Bapaknya Ratih, pada Ara.
Kebetulan bener nih pak penghulu menanyakan hal itu, gue sudah kebingungan gimana cara ngomong masalah ini ke Ara.
''Ara mau memenuhi amanah Papa, Om. Ara harus nurut dan patuh pada suami.''
__ADS_1
''Jadi?'' tanya Bapaknya Ratih lagi, karena jawaban Ara baginya masih ambigu.
'' Papa pernah bilang kalau Ara menikah, Ara harus ikut suami.'' jawab Ara lirih sekali karena Ara merasa tidak enak pada Gatra. Ara berfikir Gatra terpaksa menikahinya.
Gatra yang mendengar lirihan Ara, bukan main senangnya, hatinya bagai langit di malam tahun baru yang dipenuhi kembang api aneka warna dan meletup-letup. Walau ucapan Ara masih berdasarkan amanah dari Papanya belum dari hatinya.
''Baiklah nanti Om bilang ke Rt untuk membuatkan surat pindah untuk Ara.Untuk sekolah Ara...''
''Besok saya yang akan ke sekolah Ara, Pak untuk mengurus kepindahannya.'' kata Gatra lugas.
''Kalau begitu Saya permisi pulang. Tolong jaga Ara ya, Saya menganggap Ara sudah seperti anak Saya sendiri sama seperti Ratih. Ratih pasti akan kehilangn teman kalau Ara pindah lagi. '' pesan Bapaknya Ratih pada Gatra sebelum pulang.
Malam hari sebelum tidur Gatra mengetok kamar Ara. Gatra masuk setelah diijinkan masuk. Canggung itu yang dirasakan Gatra berdua, hanya berdua di kamar Ara.
''Ara belum tidur?'' kalimat tanya itu yang berhasil keluar dari mulut Gatra. Ara menggeleng.
''Mas Gatra boleh tanya ke Ara?'' lagi-lagi tanpa suara Ara mengangguk.
''Ara beneran mau ikut mas Gatra pindah ke Jakarta?'' Ara mengangguk lagi.
Gadis kecilku kenapa hanya mengangguk dan menggeleng saja ayolah suarakan suaramu.
''Ara tidur gih, besok kita ke sekolah Ara mengurus kepindahan Ara.'' Gatra bangkit hendak keluar kamar Ara.
''Mas Gatra.'' panggil Ara. Panggilan pertama Ara pada Gatra, yang sanggup membuat Gatra membeku sejenak.
''Ara mau minta maaf.'' ucapan Ara yang membuat Gatra berbalik dilihatnya air mata Ara mengalir di pipi. Gatra mendekat diusapnya air mata Ara.
''Minta maaf kenapa gadis kecilku.'' tak sadar Gatra menyebut julukannya untuk Ara.
''Ara minta maaf karena akan menjadi beban untuk Mas Gatra. Karena amanah Papa, Mas Gatra terpaksa menikahi Ara dan harus jaga Ara seumur hidup.'' Ara mulai terisak
Gatra meraih Ara ke dalam dekapannya. '' Sttt.. Ara berharga bagi Papa Randy, makanya beliau mengamanahkan Ara pada mas Gatra. Karena bagi Mas Gatra Ara lebih berharga lagi.'' Gatra mengusap puncak kepala yang menempel pada dadanya. Entah mengapa Ara semakin menguatkan pelukannya pada dekapan Gatra. Sebagai laki-laki normal, jiwa keperkasaan Gatra meronta-ronta.
''Tapi Ara takut kalau nanti psangan Mas Gatra marah.'' ucap Ara masih dalam dekapan Gatra.
Pasangan Mas, ya Kamu gadis kecilku.
Gatra melepaskan dekapannya, kedua tangannya memegang kedua pundak Ara.
''Mas mau menerima untuk menikah dengan Ara karena Mas, sedang tidak dalam hubungan dengan siapapun. Dan Aralah pasangan Mas. Sekarang tidur ya, buang pikiran yang gak baik.''
Gatra merebahkan Ara menaikkan selimut sampai dada dan terakhir mengecup lembut kening Ara, ciuman kening pertama setelah penolakan di ijab kobul. Gatra reflek melakukannya dan Ara mau menerimanya.
Gatra keluar kamar Ara dengan senyuman merekah.
*
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih pembacah kesayanganku, tetap like dan koment ya?