Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
109. Ajarkan Aku


__ADS_3

''Bang...'' Clarissa menghampiri Gatra yang merokok sedang duduk di taman yang agak jauh dari area rawat rumah sakit.


''Rissa.'' Gatra mendongak dan menyapa Clarissa, segera dia mematikan rokoknya.


''Boleh ikut duduk?'' Clarissa minta ijin untuk duduk di bangku sebelahan dengan Gatra.


Gatra hanya mengangguk, setelah mendapat ijin baru Clarissa duduk. Sesaat hanya ada keheningan.


''Baru kali ini Rissa lihat Abang ngerokok?'' buka suara Rissa. Prihatin juga melihat orang yang pernah atau masih dicintai dalam diam merana batin.


''Lagi pengen saja.'' jawab Gatra asal. Ara yang siuman minta bertemu Raga dan Penolakan Ara untuk bertemu dengannya lah faktor penyebab Gatra merokok di taman itu.


''Bang soal Raga....''


''Lo tahu ceritanya?'' Clarissa mengangguk.


Bagaimanapun Raga adalah adiknya walau tak sedarah. Bagaimana dua tahun ini perjuangan Raga mencari Ara, Clarissa tahu itu. Tapi sekarang Ara telah menjadi istri orang yang punya tempat istimewa di hatinya. Tidak ada yang salah dari mereka, takdirlah yang membawa mereka ke posisi seperti ini.


''Ettan yang yang ngasih tahu aku saat kita ketemu di mall dulu. Ettan bilang wajah istri Abang seperti gadis dalam foto-foto yang ada di kamar Raga. Aku sudah menyangkalnya tapi Ettan sangat yakin kalau istri Abang dan kekasih Raga adalah orang yang sama.''


''Dulu aku gak percaya Bang, karena waktu itu kita mengira kalau kekasih Raga sudah meninggal.''


''Jadi benar mereka dulu sepasang kekasih?'' potong Gatra


''Setahuku iya, semasa mereka masih sama-sama tinggal di Magelang. karena Raga bergabung ke keluarga kami juga baru dua tahun ini setelah kecelakaan yang terjadi pada mereka berdua.''


''Kecelakaan?''


''Iya. Raga dan keka... maksud aku istri Abang kecelakaan saat Raga mau mengantarnya pulang. Ada yang berniat mencelakai istri Abang waktu itu, sehingga Raga ngebut padahal lagi hujan abu karena gunung Merapi lagi erupsi.Menurut cerita Raga ada yang mengejar mereka, Raga terluka parah waktu itu. Sedangkan istri Abang kami tidak tahu karena mereka dibawa ke rumah sakit yang berbeda. Beberapa hari setelah Raga bisa dibawa untuk dirawat di Jakarta, kami mampir dulu ke rumah istri Abang. Di sana kami melihat ada bendera kuning dan banyak pelayat, kami mengira istri Abang yang meninggal.''


''Ada yang mau mencelakai Raraku.'' lirih Gatra.


''Cerita Raga seperti itu, sayangnya kasus ini seperti ditutup paksa, kecelakaan Raga seperti tidak pernah ada. Makanya kami tidak tahu tentang keberadaan Istri Abang waktu itu.


'' Papa Randy. Pasti papa Randy yang menutupi kasus kecelakaan itu untuk melindungi Raraku.''


''Siapa papa Randy?''


''Papanya Raraku. almarhum mertuaku.''


Bahaya apa yang mengancammu dulu Ra? sampai Papa menyembunyikan keberadaanmu.


''Asal Raga selamat dan bisa bersatu lagi dengan mama dan keluarga kami saja saat itu yang menjadi prioritas, sehingga tidak memperdulikan masalah lain.''


''Hingga ada teman Raga yang kuliah di Semarang mengabarkan kalau dia melihat anak SMA yang mirip sekali, bahkan namanya juga sama dengan istri Abang. Sayangnya istri Abang tidak mengenali teman Raga. Sepertinya gara-gara kecelakaan itu istri Abang kehilangan sebagian memorinya. Mungkin memang mereka tidak jodoh kala Raga mencari ke Semarang sama sekali tidak berjumpa.''


''Akulah jodohnya.''


HEK


Iya aku juga lihat sebegitu bucinnya Abang pada Ara.

__ADS_1


''Kami bertemu berkenalan dan menikah dalam satu hari.''


''KOK!''


Clarissa tidak bisa mencerna kalimat yang baru saja Gatra ucapkan.


''Sebelum meninggal dunia karena luka parah yang dialami Papa Randy akibat dari menjadi korban bom bunuh diri di Solo, Papa Randy menikahkan kami berdua. Agar putrinya ada yang menjaga karena selain papanya Ara sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Awalnya gue menolak masa iya gue nikah sama anak kecil, masih SMA lagi. Jarak usia kamipun sangat jauh.'' Gatra terkekeh mengingat masa lalunya, masa-masa awal bertemu pertama kali dengan Ara.


''Sayangnya anak kecil itu yang membuat dunia gue jungkir balik penuh warna. Pernikahan kami bukan semata amanah Papa Randy untuk gue, yang ingin anaknya ada yang menjaga setelah beliau meninggal, tapi anugrah buat gue. Rara benar-benar paket komplet untuk gue.''


''Iya, sepertinya istri Abang gadis yang sangat baik nyatanya dia mampu membuat Raga berubah.''


''Maksudnya?''


''Raga itu dulu korban brokenhome Bang. Saat mama bercerai dengan papanya Raga, hak asuh jatuh ke tangan papanya. Entah bagaimana kelurga baru Raga mengasuh dan membesarkan Raga hingga dia tumbuh menjadi anak badung. Setelah bertemu Ara dia berubah menjadi anak yang baik dan manis seperti sekarang ini. Yang kutahu dan kukenal Raga yang sekarang ini, menolak percaya kalau dulu dia pernah badung. Tapi bukti dia sering keluar masuk sel karena terjaring razia saat balapan liar itu nyata.'' Clarissa berhenti bicara dilihatnya raut muka Gatra yang berubah. Raut muka kesedihan.


''Abang kecewa?'' tanya Clarisa hati-hati.


''Gue sudah jatuh cinta setengah mati padanya, Sa. Tak sanggup rasanya kalau dia nanti minta pergi dari gue demi laki-laki dari masa lalunya.


''Menurut Bang Gatra Ara akan minta pergi dari sisi Bang Gatra demi untuk kembali pada Raga?''


''Mungkin.'' jawab Gatra ragu-ragu ''Bukankah perpisahan mereka karena jarak dan ingatan Ara yang hilang saja.'' ucap Gatra pasrah


''Bang Gatra salah. Istri Abang sudah menolak Raga.'' Clarissa tertawa melihat muka Gatra kebingungan.


''Sebenarnya Rissa menghampiri Bang Gatra kesini juga mau pamit pulang. Raga sudah selesai bicara dengan Ara. Kata Raga, Ara memintanya untuk melupakan Ara. Dan sepertinya Raga belum bisa menerima putusan Ara.''


*****


''Ra. elo baik-baik saja kan? maafin gue yang selalu buat Lo celaka.'' tak terasa air mata Raga lolos mengalir padahal dari tadi sudah berusaha dia tahan. Melihat Ara lagi dan ternyata sudah mengenalinya kembali membuat semakin deras butiran air mata yang mengalir.


''Jangan nangis Kak. Ara baik-baik saja.''


''Gue gak nangis Ra. ini tadi kecolok tangan gak sengaja.'' laki-laki terlalu gengsi untuk mengakui kalau lagi nangis padahal jelas air matanya mengalir apalagi untuk lelaki semacam Raga.


Ara tersenyum mendapati Raga yang masih sama sok kuat, sok keren di depannya.


''Ara minta maaf Kak, Ara tidak ingat Kak Raga, tidak ingat Ge....''


''Sttss... Udah gak papa. yang penting sekarang Lo dah ingat gue. Tak ada yang lebih indah selain bertemu kembali denganmu Ra. Dua tahun gue cari Lo, Gue kira waktu kecelakaan itu Lo udah pergi ninggalin gue selamanya. Karena waktu gue keluar dari rumah sakit dan ke rumah Lo ada bendera kuning dan banyak pelayat. Sungguh waktu itu gue menyangka Lo udah meninggal karena dengan bodohnya gue langsung saja pergi tanpa mengecek kebenarannya dulu.''


''Siapa yang meninggal Kak?'' potong Ara


''Gue gak tahu Ra? karena waktu itu gue langsung pergi dan melanjutkan pengobatan di sini. Lo juga gak tahu siapa yang meninggal?'' Ara menggeleng karena dia juga tidak tahu. Setelah pindah ke Semarang Ara sama sekali tidak pernah kembali ke Magelang.


''Setelah kecelakaan itu Papa bawa Ara pindah kembali ke Semarang dan Ara sama sekali tidak ingat pernah tinggal di Magelang, pernah sekolah di sana punya teman-teman di sana. Ara tidak ingat itu semua. Yang Ara ingat hanya waktu Ara kecil pernah tinggal di sana dan setelah Mama dan Kak Arti meninggal saja. Ternyata ini jawaban dari keresahan dan sakit kepala yang begitu hebat sampai Ara pingsan kalau rasa itu datang. Papa bilang kalau Ara gak ingat gak apa kalau hanya membuat Ara kesakitan. Kata Papa lagi bisa jadi kecelakaan yang Ara alami ada kaitannya dengan sindikat narkoba, maka lebih baik untuk Ara tidak mengingatnya. Dan kepindahan Ara ke Semarang juga demi keselamatan Ara. Tapi sayang setelah kami nyaman di Semarang, Papa pergi meninggalkan Ara selamanya. Hiks hiks.'' Ara menangis mengingat Papanya yang telah berpulang.


''Sorry Ra, gue gak tahu tentang kematian Om Randy.'' Raga berusaha untuk menggenggam tangan Ara yang bebas jarum infus tapi ditepis oleh Ara.


''Maaf kalau dua tahun ini Kak Raga jadi sibuk untuk terus cari Ara.''

__ADS_1


''Sudah sewajarnya Ra, gue cari elo. Karena Lo hidup gue.Keberadaan Lo di dunia inilah yang jadi semangat buat gue untuk terus ngelanjutkan hidup Ra. Apalagi setelah Dimas ngirim gambar foto-foto Lo.''


Pengakuan Raga semakin membuat Ara bersedih. Janjinya pada Raga telah Ia ingkari.


''Kak Dimas?''


''Iya Dimas pernah ketemu Lo cuma Lo nya tidak ingat Dimas.''


''Ara.... Ara pernah ketemu Kak Dimas? Iya waktu Ara nge camp di gedongsongo. Ara pernah difotoin Kak Dimas. Waktu itu Ara kira seperti laki-laki lain yang sibuk mau cari perhatian Ara, gak tahunya Ara cuma ge er.'' Ara geli sendiri mengingat kenangan pertama kali dan mungkin yang terakhir kali bisa ngecamp bareng teman-teman.


''Karena Dimas lah gue jadi tahu Lo ada di Semarang. Gue sempat cari Lo di sana tapi nihil. Ternyata Lo sudah pindah lagi ke sini.''


''Kak....''


''Iya.''


''Kenapa Kak Raga harus nyari Ara? seharusnya Kak Raga bisa lupakan Ara.''lirih Ara


''Kenapa Lo ngomong begitu Ra?'' ada rasa ketakutan di sorot mata Raga.


''Apa yang Kak Raga harapkan setelah bertemu Ara?''


''Ra. Jangan bilang Lo sudah gak berharap lagi untuk bertemu kembali dengan gue. Sayang Lo ke gue sudah hilanglah Ra?''


''Maaf Kak.'' Ara terisak sungguh berat untuk menceritakan kenyataan yang sebenarnya.


''Ara sayang Kak Raga. Tapi Ara gak boleh mengharap Kak Raga. Akan banyak hati yang terluka, Kak.''


''Hati siapa? Gea? Lo salah paham. Gue gak ada apa-apa sama Gea, sama perempuan manapun gak ada. Cuma Lo yang gue harap. Lo yang gue harap disetiap doa-doa gue.''


''Ara sudah menikah.'' jawab cepat Ara dan terdengar jelas oleh Raga.


''Apa maksudmu Ra?''


''Ara sudah menikah dengan Mas Gatra.'' Ara menunjukkan cincin yang melingkar di jari.


Ambyar angan Raga. Bagai tersambar petir disiang bolong, perempuan yang dicarinya selama ini telah dimiliki lelaki lain.


''Lo ngeprank gue? Ha...ha..ha. Gak lucu Ra. Lo masih sekolah. lihat seragam Lo? mana mungkin Lo nikah.'' Raga menunjuk seragam putih abu-abu yang Ara gunakan dengan matanya.


Arapun semakin terisak. berada di persimpangan cinta sungguh sangat dia hindari. Sudah tak seperti dulu dia bisa menolak setiap lelaki yang datang demi hati yang tidak tahu siapa dan harus dia jaga.


''Kenyataan Kak. Ara sudah menjadi istri orang. Papa sendiri yang menikahkan Ara sebelum papa pergi meninggalkan Ara selamanya. Papa gak ingin Ara sendiri di dunia ini Kak. Pernikahan Ara adalah amanah terakhir Papa.''


''Haisth!!'' Raga mengacak rambutnya frustasi. Ara dinikahkan dengan orang lain. Kenapa tidak mencari dirinya? bukankah papanya Ara tahu dan mengijinkan Ara bersamanya. Mengapa Ara diamanahkan pada orang lain.


''Kak. Ara mohon lupakan Ara. Sudah gak mungkin lagi untuk kita saling mengharap.''


''Ajarkan Ra! Ajarkan aku cara melupakanmu.''


Tok.. tok..tok

__ADS_1


Beberapa perawat masuk ruangan menghampiri brangkar Ara


''Maaf kamar rawat pasien sudah siap, dan pasien sudah bisa dipindahkan.'' kata salah satu perawat.


__ADS_2