
Karena sudah sore dan besok pagi-pagi harus terbang ke Manado, Rissa meminta segera pulang pada Ettan.
Mereka telah sampai di rumah dan disambut sang mama yang dari tadi menunggu kepulangan mereka.
''Assalamualaikum.'' ucapan salam dari Rissa dan Ettan bebarengan.
''Waalaikum salam.'' sahut si mama yang langsung keluar dari dapur karena sudah pasti dua anaknya yang datang.
Kedua kakak beradik itu menyalim Mamanya yang memasang muka kesal lantaran anak-anaknya pergi tak tahu waktu.
''Dari mana saja kalian jam segini baru pulang. Rissa bukankah kamu besok pagi harus pergi, kenapa tidak di rumah dulu. Apa kamu tidak capek? Nak.'' bagai petasan mamanya Mamanya nerocos ke Rissa lalu ke putra bungsunya juga tak ketinggalan kena omel.
''Kamu juga, Ettan! dari kemaren juga gakkk...pernah di rumah kalau siang. Pergi kemana kamu? sampai janji mau ngantar mama ke rumah Bunda Sukma kamu juga lupa. Untung Abangmu sudah pulang dari Magelang jadi bisa ngantar Mama ke rumah Bunda Sukma. Kalau ditunda-tunda Mama akan semakin gak enak hati sama Bunda. Untungnya Bunda orangnya pengertian. Oh ya, Kak keluarga Bunda ke Semarang buat nikahan Gatra.Mama kaget mendengarnya.'' Mama yang urusan di dapur telah diserahkan ke ART melangkah menuju ruang tengah yang sudah pasti diikuti oleh kakak beradik Rissa dan Ettan.
Mama mendudukkan diri di sofa, Tak ketinggalan Rissa dan Ettan ikutan di duduk di kanan dan kiri mamanya. Kedua kakak beradik itu memijat masing-masing tangan mamanya. Raga yang kebetulan sudah berada di rumah dan kebetulan juga ada diruangan itu menggelengkan kepala melihat tingkah kakak beradik itu.
''Maaf ma, Rissa tadi belanja untuk keperluan selama Rissa liputan besok. Lumayan banyak jadi agak lama.'' jawab Rissa yang menyesal karena jadi tak punya waktu untuk mamanya.
''Ma.... kalau Ettan tadi nemenni Kak Rissa belanja. beneren. Ya kan, Kak!'' tangan Ettan menoel-noel tangan Rissa minta dukungan.
''Hmm'' hanya itu yang keluar dari mulut Rissa.
''Soal kemaren Ettan yang gak bisa ngantar Mama ke tempat Bunda Ettan juga minta maaf Ma. Eh....''
Ettan baru ngeh kalau kemaren yang ngantar mamanya ke tempat bunda adalah Raga, bisa jadi Raga bertemu dengan Ara dan pandangan Ettan beralih ke Raga yang duduk diseberangnya yang dibatasi oleh meja. Raga biasa saja, jadi benar kata Kak Rissa kalau bukan cewek yang sama. Ehhh tadi kata Mama nikahnya di Semarang, bukankah cewek yang dicari Raga juga ada di Semarang. Tidak salah lagi ini
Pandangan Ettan beralih ke Rissa karena Raga terlihat baik-baik saja.Tentu saja Rissa tahu arti tatapan si adek dengan bahasa mata dia menyuruh adeknya untuk tutup mulut.
__ADS_1
''Tadi di mallnya agak lama karena bertemu dengan Bang Gatra Mah, biasa kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar.'' kata Rissa hati-hati sengaja juga memancing agar mamanya bercerita apa yang terjadi kemaren di rumah bunda, untuk menjawah kekepoan Ettan.
''Sebenarnya kemaren Mama itu juga patah hati, Kak! karena calon mantu idaman Mama menikah dengan perempuan lain bukan dengan anak Mama. Padahal dari dulu setahu Mama, Kakak kan emang dekat sama Gatra, Kakak juga ada rasa kan? dengan Gatra. Mama memang gak jodoh-jodohin kalian, mama trauma dengan masalah perjodohan. Biarlah anak-anak Mama memilih jodohnya sendiri-sendiri. Mungkin saat ini Allah sedang menyiapkan jodoh yang terbaik dan lebih baik dari Gatra untuk Kakak. Maafkan Mama yang terlalu berharap pada Kakak hingga Kakak harus patah hati.'' Mama mengusap halus tangan putrinya yang dia tahu sedang menahan rasa sakitnya sendirian.
''Emang kemaren Mama bertemu dengan istrinya Bang Gatra?'' tanya Ettan penasaran.
''Sayangnya tidak, mobil kita simpangan di gerbang. Mama datang Gatra dan istrinya pulang ke apartemen Gatra. Kalian tadi di mall bertemu Gatra dengan istrinya?'' dengan kompaknya kedua kakak beradik menggelengkan kepala.
Malam harinya setelah acara makan malam Ettan mengekori Rissa untuk ikut masuk ke kamar Rissa.
''Paan seh Dek! gue mau tidur besok bangun pagi takut ketinggalan pesawat nih.'' Rissa merasa gerah sedari pulang si adek terus saja mengekorinya.
''Ettan cuma mau menghibur Kakak saja, siapa tahu kakak butuh hiburan, butuh bahu Ettan buat sandaran untuk mengobati patah hati kakak.''
'' Dek, gue baik-baik saja. Semesta memang mempertemukan Kakak dan Bang Gatra bukan untuk berjodoh. Doakan saja yang terbaik untuk Kakak ya? Bahu elu cuma ada di rumah ini!... saat ini!... tapi besok dan seterusnya gue akan berada di luaran sana gak ada lagi bahu elu buat gue.Jadi biarlah kali ini biarin gue sendiri setidaknya ketika nanti gak ada bahu elu buat gue bersandar gue masih punya lantai buat gue bersujud. Dan Dek, kamu jangan gegabah dulu masalah Raga. Ingat pesan Kakak! Sana! elu juga buruan tidur, katanya mau ngantar Kakak ke bandara.'' Rissa segera masuk kamar dan menguncinya.
''Ngapain lo di situ?'' ternyata Raga dari dapur ngambil air minum.
''Bang gue numpang tidur di sini ya?''
''Kamarmu kenapa?'' Raga menaruh botol air mineral yang dia ambil di meja dan melanjutkan belajarnya.
''Nggak kenapa-kenapa cuma gue takut kalau tidur sendiri gue takut gak bisa bangun pagi, dan gagal ngantar Kak Rissa.'' alasan Ettan dan cukup masuk akal bagi Raga, karena dia juga tahu kalau Ettan paling susah bangun pagi.
''Biasanya juga sama Mamah.''
''Ngeledek, Bang!'' sungut Ettan dan Raga hanya terkekeh tanpa melihat wajah jengkel si adek.
__ADS_1
''Bang.... cewek yang elu cari sudah ketemu?''
''Belum.''
''Setelah sekian tahun belum juga bisa bertemu, kenapa gak coba untuk move on saja Bang? Noh ada Gea yang rela buat apa saja demi elu.'' Raga menutup buku yang sedang dibacanya dan memutar kursi belajarnya menatap Ettan dengan seksama.
Ettan memang lebih cerewet dan selalu bisa menyuarakan apa yang menjadi ganjalan di hati. Berbeda dengan Raga yang datar dan irit bicara.
''Maksudnya?''
''Siapa tahu Bang di sini lu nunggu dan terus nyariin tuh cewek, gak tahunya dia sudah dengan yang lain atau mungkin sudah nikah.'' Ettan harus hati-hati dengan setiap kata yang dia ucapkan agar tidak keceplosan. Bagaimanapun dia sudah berjanji pada Rissa untuk tidak gegabah.
''Bukan yang tentang Ara. Elu ke kamar gue sengaja mau ngebahas Gea, elu suka sama Gea?''
Uhuk...uhuk
Ettan tersedak liurnya sendiri. Kok bisa abangnya itu bertanya kalau dia suka pada Gea.
''Dasar gak peka! emang lu gak bisa lihat Bang? segala perhatian Gea ke elu. Bahkan sekarang dia jadi lebih feminim, padahal dulu sewaktu pertama bertemu dia itu tomboy habis.''
''Iya dan elu suka sama Gea?'' sela Raga yang memotong omongan Ettan.
Ettan menepuk jidatnya. ''Ini kenapa dia jadi nuduh gue Suka sama Gea, gimana tadi awal ceritanya?'' kata Ettan dalam hati.
''Kalau elu suka sama Gea gue dukung. Karena gue sama sekali gak ada rasa sama Gea. Dulu, sekarang atau kapanpun nanti. Elu gak usah sungkan sama Gue.'' sekali lagi omongan Raga membuat Ettan ingin menarikkan ketapelnya angry bird ke rombongan babi hijau.
''Bang!... lanjut belajar lagi gih? gue mau tidooorrrr''
__ADS_1