
Ara memakai seragam sekolahnya, Dia telah siap untuk berangkat ke sekolah. Bukan untuk mengikuti pelajaran, tapi untuk meminta surat pindah.
Dengan diantar Gatra, suaminya Ara mantap untuk pindah ke Jakarta. Sangat disayangkan untuk pindahnya kali ini, karena Ara sudah kelas tiga dan ujian nasional tak lebih dari enam bulan lagi.
Ara masuk ke kelasnya, untuk berpamitan pada teman-temannya. Disalaminya satu persatu temannya. Tiba giliran Ratih, anak itu menangis keras sekali.Padahal sebelumnya Dia sudah diberitahu Bapaknya perihal pindahnya Ara.
''Ra, kalau Mas Gatra jahatin Kamu, Kamu balik lagi ke sini ya, Aku dan keluargaku pasti terima kamu.'' Ara membungkam mulut Ratih. Takut Ratih keceplosan, karena sementara ini di sekolah Ara cuma Ratih, Bu Kirana dan Kepala sekolah yang tahu tentang pernikahan Ara. Tapi Ratih malah melepaskan tangan Ara dan meneruskan bicaranya.'' Pokoknya sampai sana kamu langsung kirim ke Aku alamat tempat tinggalmu, biar nanti Bapak yang ngurusi kalau Kamu di sana ada yang mencelakai.'' kata nasihat Ratih sudah ngelantur ke mana-mana.
''Iya, Tih. Kamu tenang saja Aku bakal jaga diri Aku sendiri. Berhenti nangisnya, Aku perginya gak langsung hari ini juga masih nunggu surat pindah dari Pak Rt. Nanti malam kamu ke rumah ya, ajak Naina, Vano dan Rega juga.''
''Kenapa kita harus berjumpa lagi sih Ra, kalau cuma untuk berpisah. Baru juga satu tahun kita kumpul lagi.''
''Sttt... sudah Tih. kalau jodoh kita kan dipertemukan kembali.'' merekapun berpelukan.
Sementara itu Gatra menuju ke ruang Kepala sekolah. Di tengah jalan bertemu Bu Kirana.
Bu Kirana senang bukan kepalang bisa bertemu kembali dengan lelaki pujaannya. Lelaki yang Dia anggap telah mencuri hatinya. Padahal mah Gatra tak pernah melakukan perbuatan pencurian hati.
''Pak Gatra? ada apa ya, pagi-pagi sudah ada di sini?''
''Ibu gurunya Ara, Saya ke sini mau meminta sura pindah untuk Ara. Bisa Ibu guru bantu saya.'' sengaja Gatra neminta tolong pada Gurunya Ara itu agar prosesnya bisa cepat tidak berbelit.
''Ara mau dipindahkan kemana, Pak?''
''Ke kota tempat saya tinggal.'' jawab Gatra singkat.
''Apa gak sayang, Pak ujian nasional kurang dari enam bulan lagi, kasihan Aranya kalau di sekolahnya yang baru kurikulumnya berbeda dengan sekolah ini.'' ucap Bu Kirana panjang lebar.
Bukannya Gatra tidak paham masalah ini, itulah sebabnya Dia meminta Farel untuk pulang terlebih dahulu, dan mencarikan sekolah yang sesuai minimal sama dengan sekolah Ara sekarang.
''Untuk masalah itu saya sudah ada solusinya.'' jawab Gatra datar. ''Ara sekarang istri saya, dan Saya pastikan, saya akan memberikan yang terbaik untuk Ara.'' ucap Gatra lagi dengan harapan bisa menghentikan pertanyaan-pertanyaan anfaedah Bu Kirana.
''Oh begitu.'' ganteng sih tapi dingin dan kaku sekali orangnya. guman Bu Kirana dalam hati.
Urusan kepindahan Ara sudah selesai Gatra bersiap mengajak Ara pulang.
''Mas Gatra, sebelum pulang boleh Ara ketemu Papa?'' pinta Ara setelah berada di dalam mobil. ''Ara mau pamit sama Papa.''
''Boleh, khusus hari ini Mas Gatra akan mengantar kemanapun Ara mau.'' ucap Gatra dengan mengelus rambut hitam Ara.
''Ara cuma mau ke tempat Papa saja. Eh tapi pulangnya lewat depan Java ya, Mas. Ara mau beli kudapan ringan di sana.Buat nanti acara perpisahan kecil-kecilan bareng Ratih dan Naina.
__ADS_1
''Yakin itu saja? gak ada tempat spesial lagi untuk didatangi, mumpung Ara belum pindah.'' tawar Gatra.
''Gak ada.''
''Baiklah, siap-siap meluncur.'' Gatra mengemudikan mobil dengan santai, walau suasana jalanan sudah mulai lengang karena jam kantor dan jam sekolah sudah lewat.
''Ara nanti mau perpisahan dengan siapa saja?'' tanya Gatra membuka obrolan di tengah perjalanan.
''Ratih, Naina, Vano dan Rega saja.Boleh, Mas?'' Ara meminta ijin pada Gatra karena Dia yang bertanggung jawab atas dirinya sekarang.
''Boleh.'' kebetulan Ara membahas teman-temannya Gatra tak menyiakan kesempatan untuk bertanya tentang anak lelaki yang memandangnya seperti memandang musuh bebuyutan.
''Bukankah tadi Ara sudah berpamitan dengan teman-teman.''
''Teman yang satu sekolah dengan Ara cuma Ratih. Kalau Naina, Vano dan Rega mereka dari SMA sebelah.''
''Kalau Naina dengan Vano sepertinya ada hubungan ya?'' Gatra mencoba memancing, untuk memberitahu siapa Rega di hati Ara.
''Bukan sepertinya ada hubungan, tapi mereka meman pacaran, Mas.''
''Kalau anak laki-laki satunya, pacarnya siapa?''
'' Rega... gak tahu pacarnya siapa, Dia itu playboy.''
''Pernah.'' jawab Ara yang membuat Gatra seketika mengerem laju mobil yang gak begitu kencang.
''Ada apa, Mas?''
''Gak, itu tadi ada kucing. Iya kucing yang tiba-tiba menyebrang.'' jawab Gatra ngasal. Mana ada kucing di tengah jalanan kota, untung saja Ara percaya dan tidak mencari kucingnya.
Selepas pulang sekolah Naina mengajak Vano ke salah satu mall yang dekat dengan sekolahnya. Dia berniat membeli hadiah kenang-kenangan pada Ara. Rencana semula akan pergi bersama Ratih, namun gagal karena mendadak kelas Ratih ada les tambahan.
Naina sedang duduk di salah satu gerai waralaba makanan cepat saji, menunggu Vano yang sedang ke tilet.
''Adek, yang di Gedong Songo.'' sapa laki-laki yang berhenti berjalan dan mampir ke meja tempat Naina makan.
Naina mendongakkan kepalanya, tidak mungkin dia bilang tidak kenal karena dulu Dia sudah pernah berkenalan dan bahkan ngobrol bersama.
''Eh, Kakak yang di Gedong Songo.'' Naina menjawab sapaan Dimas, kenalannya sewaktu ngecamp bareng-bareng di Gedong Songo.
''Lagi makan ya, boleh ikut duduk?'' pinta Dimas
__ADS_1
''Boleh silahkan, tempat umum ini.''
''Sama siapa?'' tanya Dimas yang melihat ada dua tas sekolah di bangku sebelah Naina.
''Biasalah sama Vano, mau sama siapa lagi.''
''Ya siapa tahu sama Ara?'' selidik Dimas. Menyebut nama Ara membuat orang yang dari tadi bersamanya menjejakkan kakinya pada Dimas. Dimas mengaduh dan melotot ke orang yang telah duduk di sebelahnya.
''Kenalkan temanku, Raga.'' dikira Dimas Raga yang menendang kakinya minta untuk dikenalkan pada Naina.
Raga yang sedang menjenguk Papanya yang kembali ngedrop kesehatannya, menyempatkan diri mengunjungi Dimas ke Semarang. Berharap Dimas sudah ada informasi lebih tentang Ara. Tapi nyatanya Dimas belum mendapatkan informasi apapun.
'' Raga.''
''Naina.''
Mereka saling menjulukan tangan dan berkenalan.
Dimas tahu arti tatapan Raga padanya, mengorek informasi tentang Ara, dari Naina.
''Ara apa kabar, Na?'' tanya Dimas setelah acara perkenalan Raga dan Naina usai.
''Gak tahu kak.'' bohong Naina. Dulu cari-cari informasi tentang Ara, sekarang masih saja menanyakan keadaan Ara. Siapa sih sebenarnya Kak Dimas ini. Ini juga, kenapa temannya namanya mirip bener dengan Rega.
'' Kan kita gak satu sekolah.'' jawab Naina jujur.
Merasa tak bisa mengorek informasi dari Naina Raga minta untuk segera pergi. Dan mereka pamit untuk melanjutkan acara jalan-jalannya.
Sesampainya di luar mall.
''Gue rasa cewek tadi bohong kalau gak berhubungan dengan Ara, Dia seperti menyembunyikan sesuatu.'' ucap Raga.
''Aku rasa juga begitu, sejak awal Dia memang pelit informasi tentang Ara. Apa kita buntuti saja, siapa tahu dari sini Dia ketemuan dengan Ara.'' saran Dimas yang langsung ditolak Raga.
''Mauku juga begitu. Tapi gue sudah harus ke bandara, penerbangan gue dua jam lagi.
*
*
*
__ADS_1
*
Ada yang rindu Raga? Nih Kak Raga mencari Ara sampai ke Semarang.