
Dua pasang mata mengawasi gerak-gerik Ara dan Pia ketika mereka sampai di Hotel. Karena Pia yang masuk ke dalam dan meninggalkan Ara yang sendirian di lobby, kedua pasang mata itu hanya mengawasi Ara. Niatnya akan menghampiri dan menangkap basah kelakuan Ara dan Pia di luar sekolah, Dia akan melaporkan ke sekolah setelah mendapatkan bukti nantinya.Hingga Pia dan anteknya bisa dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat karena sudah mempermalukan sekolah tempat menuntut ilmu. Dipikirnya Ara pasti sedang menunggu pelanggannya.
Sayangnya keburu Ara pergi meninggalkan hotel setelah menerima telepon. Kedua pasang mata yang ternyata milik Alana Rahman musuh bebuyutan Pia.
Alana mengikuti kemana Ara pergi. Sampai Ara duduk di bangku halte tetap ditungguinya dari kejauhan.
Hingga seorang laki-laki gagah dan tampan menghampiri dan menggiring Ara masuk ke dalam mobilnya, membawa Ara pergi meninggalkan halte.
Alana tercengang melihat wajah orang yang membawa Ara. Dia melihat jelas wajah itu dan dia mengenalinya.
''Bang Gatra! ada hubungan apa dia dengan teman si pekcun? Apa Bang Gatra ada main di belakang Kak Clarita? kenapa mesti harus dengan anak SMA juga. Mukanya yang sok polos gitu pandai juga dia ngegaet pria-pria muda tajir. Kak Clarita harus tahu kelakuan Bang Gatra.'' gumanan penasaran Alana yang belum tahu kalau kakak tirinya sudah lama putus dari Gatra, dan bagaimana kelakuan bejat kakaknya. Ya mungkin karena mereka tidak tinggal serumah dan karena kesibukan membuat nereka jarang bertemu. Hanya Alana pernah dikenalkan pada Gatra saat tak sengaja bertemu di mall, dan beberapa kali jalan bareng. Gatra begitu perhatian padanya. Baginya Gatra adalah sosok ideal untuk menjadi calon kakak iparnya.
Ara mengirim pesan ke Pia, agar tidak khawatir dan mencarinya kalau dia harus pulang karena dijemput oleh Gatra.
''Nggak lama kan Rara nungguin Mas? gak terjadi apa-apa kan?'' tanya panik Gatra ketika sampai di depan Ara.
''Cepet banget Mas sampainya?'' bukannya menjawab pertanyaan Gatra tapi balik tanya kenapa bisa secepat itu Gatra sampai. Karena Ara baru saja sampai halte dan mendudukan pantatnya sebentar Gatra sudah sampai.
''Mas ada makan siang bareng teman-teman di Mall itu.'' Gatra menunjuk mall yang ada di seberang halte.
''Kok gak ketemu ya? tadi Ara juga di mall itu, tapi cuma sebentar karena Pia dapat telepon dan harus casting di hotel Melati. Ara gak enak lho Mas, sama Pia, main tinggalin saja.''
Gatra menghembuskan kasar nafasnya beberapa kali untuk menerima penjelasan Ara, tentang casting temannya. Belum saatnya istri kecilnya itu tahu sisi lain kehidupan remaja Ibu Kota. Istri kecilnya itu masih terlalu polos. Kehidupan Ara dulu yang hanya rumah sekolah dan rumah lagi, juga teman yang hanya itu-itu saja tak membuat Ara neko-neko. Dia harus berterima kasih pada mertuanya yang telah menyiapkan istri sesempurna Ara walau belum matang sepenuhnya, masih harus sabar menunggu sedikit lagi. Gatra harus lebih ketat lagi mengawasi pergaulan Raranya saat ini tanpa harus melarang dan membatasi pertemanannya. Pasti istri kecilnya itu tahu mana yang baik dan mana yang salah.
''Rara mau langsung pulang atau mau kemana dulu?''
__ADS_1
''Ara mau pulang saja.'' Ara sungkan untuk bilang kalau Ara lapar dan mau makan dulu, karena Gatra bilang baru selesai makan siang bareng teman-temannya. Ara melewatkan makan siangnya dan bekal sarapannya lebih banyak masuk ke perut Pia.
Setelah masuk ke mobil Gatra ''Mas gak balik lagi ke kantor?'' Ara melempar tas punggungnya ke jok belakang.
''Balik lagi nanti, mau ngantar Rara pulang dulu. Atau Rara mau ikut Mas ke kantor?'' tawar Gatra, lumayan bisa jadi mood boosternya dikala lelah. Ah.. kerja ditemani istri cantiknya, memunculkan semburat senyum bahagia diwajah Gatra.
''Ke kantor Mas Gatra? Emang boleh? apa gak ganggu nanti kalau Ara ke kantor Mas?'' Ara menimbang ajakan Gatra. Kalau pulang dia akan sendirian di rumah, pasti nanti sampai malam Gatra baru pulang. Kalau ikut, Ara malu pada orang-orang di kantor Gatra.
'' Gimana? mau pulang apa ikut Mas? di depan sudah belokan jalan menuju apartemen kalau Ara mau pulang.'' desak Gatra kala tahu Raranya sedang bingung dengan pilihannya.
''Ikut Mas saja.'' lirih Ara
Yes! kerja ditemani istri euy
Senyum Gatra merekah sepanjang jalan. membayangkan kerja ada mood booster menemani. Lain Gatra lain Ara, hatinya dag dig dug duarrr bakal bertemu teman-teman Gatra.
Gatra menghentikan mobilnya di parkiran di depan deretan ruko tiga lantai yang kelihatan sepi dari luar.
Lima ruko berderet-deret itu milik Gatra. Dahulu dia memilih lokasi ini karena letaknya yang strategis, bebas banjir dan lingkungannya yang masih hijau. Lima ruko dijadikan satu dan diubah menjadi tempat kerja dia dan kawan-kawan. Ada lagi dua ruko yang berada tak jauh dari ruko utama yang juga dijadikan satu dan difungsikan sebagai gudang peralatan penunjang operasional biro iklannya.
''yuk! turun.'' ajak Gatra
''Kita mau kemana Mas? kok parkir di sini?'' tanya Ara yang masih setia duduk tanpa melepas setbeltnya. Pikirnya kalau Gatra ada keperluan di ruko depan biarlah Ara menunggu saja di mobil.
''Kita sudah sampai Ra?'' Gatra menunjuk deretan ruko dibelakang mobilnya. ''Itu kankor Mas.'' Ara tak bergeming netranya memindai deretan ruko yang ditunjuk Gatra. Barisan gerobak yang menjual berbagai camilan dari yang ringan sampai yang berat juga tak lepas dari pengawasannya. Seketika ada kode dari pasukan yang ada di dalam perutnya minta jatah.
__ADS_1
''Ra...Rara.'' panggil Gatra karena Raranya hanya diam saja.''Kenapa hem...'' Gatra mengambil tangan kanan Ara dan mengecup lembut. Ara terperangah akan apa yang barusan dilakukan Gatra lelaki yang bergelar suaminya. Wajahnya yang merona semakin membuat gemas Gatra.'' Turun yuk!''
''Ara.... malu Mas.'' lirih Ara
''Malu kenapa hem?'' kini Gatra mengelus surai hitam Ara yang tergerai.
''Malu ketemu teman-teman Mas. Apalagi nanti ketemu Mbak Gatel eh itu Mbak Sabila, Ara ....'' ucapan Ara dipotong Gatra.
''Stttt...Sabila gak jadi masuk kerja tadi dia turun dijalan, kepalanya pusing. Kalau teman Mas mereka akan diam saja gak akan berani ngomong macam-macam Mas kan BOSnya. Yuk!'' Gatra sudah bersiap untuk keluar.
''Beneran kan Mas, gak papa Ara ikut masuk?''
''Hemm'' Gatra menganggukkan kepalanya. Menunggu Ara keluar kemudian menggandeng tangan Ara. Dengan santainya Gatra berjalan memasuki ruko tempatnya berkarya selama ini. Banyak pasang mata yang melihat tak dihiraukan. Ara tersenyum ramah pada tiap orang yang perpapasan, untuk mengatasi rasa groginya.
Lain di luar lain lagi di dalam. Dari luar memang seperti penampakan ruko pada umumnya, tapi didalamnya sudah seperti kalau kita masuk ke ke gedung perkantoran. Begitu masuk akan ada lobby dan meja resepsionis lengkap dengan mbak-mbak cantiknya. Semakin masuk ke dalam akan banyak meja kubikel. Naik ke lantai dua dikhususkan untuk menuangkan ide, inspirasi dan gagasan dalam pembuatan sebuah iklan. Di lantai tiga digunakan untuk meeting dengan klien, ruang tunggu tamu dan ruang pribadi Gatra. Tapi Gatra lebih sering berada di lantai dua, di lantai dua pula Sabila bekerja untuk Gatra.
Ara takjub dengan setiap lantai yang dilewati. Ditata sedemikian artistik dan membuat betah penghuninya.
Gatra sengaja membawa Ara melewati lantai demi lantai padahal ada lift di lobby yang menghubungkan tiap lantainya. Sengaja mau pamer istri.
Gatra mengantar Ara ke ruang pribadinya, lumayan luas dan nyaman.
''Kalau Ara ngantuk nanti Ara bisa bobok dulu di kamar itu. Mas harus ke bawah dulu nyelesaiin kerjaan di sana.'' setelah Raranya merasa nyaman dan kelihatan betah di ruangannya Gatra memutuskan untuk turun ke bawah guna menyelesaikan pekerjaannya. Ara hanya mengangguk karena dia sudah mengantuk.
Gatra keluar dari ruangannya dan baru menutup pintu, Farel sudah datang mengghampiri.
__ADS_1
''Wah-wah yang kerja ditemani istri. Seneng Bang? Pantas saja tadi langsung ngacir pergi tanpa pamit.'' omel Farel jengkel karena ditinggal Gatra, terpaksa dia pulang nebeng temannya. Karena sewaktu berangkat dia satu mobil dengan Gatra. '' Sengaja ya, Elu bawa Ara keliling, biasanya juga naik lift.'' Sindir Farel lagi.
''Paan lo? berisik! yuk kerja. kerja. kerja.''