
Seminggu setelah pertemuan antara Papa Randy dan pak Sukma, Pak Sukma berkunjung ke rumah Papa Randy. Kali ini Pak Sukma datang bersama Anisa, istrinya yang kebetulan menyusul ke Semarang.
Kebetulan Ara yang membukakan pintu untuk kedua tamu Papanya itu.Sebelumnya Ara sudah diberitahu oleh papanya bahwa akan ada sahabat papa yang datang. Karena Papanya lagi ada keperluan sebentar ke kantor, Ara mempersilahkan tamunya untuk masuk dan menunggu. Tak lupa Ara menyalim pada kedua tamunya.
'' Ini pasti Mutiara, cantik sekali kamu Nak. Kelas berapa? kok tidak sekolah? '' Tanya Anisa begitu masuk rumah.
'' Kelas Xl, belajar di rumah, kelasnya dipakai kakak kelas Xll trayout tante.'' jawab Ara.Kemudian mempersilahkan kedua tamu untuk duduk. ''Silahkan duduk dulu, Om, Tante Papa lagi ada keperluan sebentar di kantor.''
'' Iya, tadi papamu juga sudah telepon Pakdhe suruh tumggu saja di rumah.''
''Mas, masak kamu mau dipanggil Pakdhe, aku sih ogah ya ikutan dipanggil Budhe.'' Protes istri Pak Sukma. '' Kesannya kok aku tua banget.'' masih saja menyambumg ketidakmauannya untuk dipanggil Budhe.
''Lha apa salahnya, memang aku ini lebih tua dari Randy, sepantasnyalah anak Randy panggil Aku Pakdhe.'' sang suamipun tak mau kalah dengan argumennya.
'' Iya, kita jadi tambah tua. Anak belum nikah cucu juga belum punya, jadi tua anggur kita Mas.''
Pasangan aneh, tapi lucu.
''' Ara, manggilnya jangan Budhe ya? panggilnya Bunda saja, sama seperti anak Bunda.''
'' Iya.'' iyain sajalah nyenengin orang tua ini .
'' Kok cuma iya, Bundanya mana?''
''Iya, Bunda.''
''Duh senengnya Bunda, berasa punya anak perempuan deh! mana cantik lagi. Ara kok cantik banget sih, Nak. Jadi pengeng bungkus bawa pulang.''
Badalah
'''Jangan lupa karetnya dua.'' Pakdhe Sukma malah mendukung istrinya, ikutan ngacau.
''Mas... cuma perumpamaan saja, malah ikutan ngaretin.'' sewot Bunda.
''Aku juga melanjutkan perumpamaanmu saja, Bun, biar tidak tertukar.''
Waduh makin kacau
'' Sebentar Ara ke belakang, Pakdhe dan Bunda....'' belum selesai Ara ngomong tiba-tiba....
''Tunggu!'' Pakdhe Sukma menghentikan omongan Ara '' Jangan panggil Pakdhe, panggil Ayah saja biar kelihatan serasinya.
''Lho bukannya dari dulu kita sudah serasi, Mas?''
''Kalau itu tidak bisa dipungkiri lagi.'' Pakdhe Sukma menoel dagu Bunda Anisa sehingga Bun tersipu malu karena dilihat Ara.'' Ayah juga mau kali punya anak perempuan.'' Lanjut Pakdhe Sukma.
Haduh ribut lagi
Ara mengira ada apa ternyata masih masalah cara panggil untuk keduanya.
''Baik, Ayah.... Ara ke belakang dulu, Ayah dan Bunda mau minum panas apa dingin?''
''Kopi saja, untuk Ayah.''
''Kalau Bunda teh saja, gulanya sedikit dan tidak panas.''
__ADS_1
Yang kutawarkan panas apa dingin, kok jadi seperti pesan di warung saja.
'''Sebentar Ara buatkan, Ayah. Bunda.'' Ara pergi ke dapur untuk membuatkan kopi dan teh pesanan Ayah dan Bunda dadakannya.
Romantis sekali Ayah dan Bunda dadakan itu sebentar ribut, sebentar akur. Sepertinya hidup mereka saling mengisi dan saling melengkapi. Bahagianya yang jadi anaknya.
''Sayang ya, Mas. Dulu Gatra tidak berjodoh dengan Arti.'' mendadak melow saja si Bunda, karena dulu dialah yang pertama kali mengusulkan perjodohan Gatra anaknya dan Arti kakak Ara.
''Sudah... jangan sedih. Jodoh, maut dan rejeki sudah ada yang ngatur. Arti bukan jodohnya Gatra, dan bukan rejeki kita juga bermenantukan Arti.''
Ara keluar dari dapur membawa pesanan orang tua dadakannya. kopi untuk Ayah, teh untuk Bunda dan air putih untuk dirinya, plus bolu pisang yang baru matang. Karena tadi sebelum orang tua dadakannya datang Ara sedang belajar mempraktekkan membuat bolu pisang panggang dari youtube
''Silahkan diminum dan dicicipi, Ayah , Bunda.''
Pandangan si Bunda tertuju pada bolu yang aromanya begitu menggoda selera. '' bolu apa itu, Ra?''
'' Bolu pisang panggang, Bunda.'' jawab Ara. Dan si Bunda mengambil satu potong.
''Pantas aroma masih terasa harum ternyata masih panas, siapa yang buat, Ra?'' si Bunda memasukkan potongan bolu ke mulutnya.
'' Ara, Bunda.'' jawab Ara was-was takut bolu buatannya tidak enak, gagal dirasa.'' Bagaimana, Bunda enak tidak?'' Ara bertanya setelah si Bunda selesai pada kuyahan pertamanya.
''Ini benar Ara yang buat? '' si Bunda tidak menjawab pertanyaan Ara malah ganti bertanya.
Ara mengangguk pelan, dia belum sempat mencobai bolu pisang panggang buatannya, tapi sudah berani menyuguhkannya pada tamu.
Ini kali ya, rasanya ikutan lomba masak-memasak dak dik duk.
'''Ini enak sekali Ra. Manis dan gurihnya pas legit banget Ra, Bunda nggak bohong.'' dicomotnya satu potong lagi.
''Mas Ayo ikut cobain enak banget bolunya.'' sambung si Bunda mempromosikan ke suami.
'' Bagaimana? enak kan?'' desak Bunda untuk mengakui kalau bolu pisang panggang buatan Ara memang enak.
Pak Sukma manggut-manggut karena mulutnya penuh, tapi dia memberikan jempolnnya untuk mewakili kata enak dari mulutnya.
'' Ara sering buat bolu ini?'' tanya Bunda.
'' Bolu pisang panggang, ini yang pertama Ara buat. Makanya tadi Ara takut tidak enak, Bunda.''
'' Baru pertama buat langsung enak gini, apa Ara sekolahnya di tata boga?'' makin takjub saja si Bunda ini.
'' Tidak, Bunda. Ara sekolahnya cuma di SMA. Ini Ara belajar dari youtube, Bunda. Kan banyak tutorialnya di sana.''
''Ya.. ya. tapi kalau tidak ada bakat juga sama saja tidak bakalan jadi bolunya. Ara calon istri idaman.'' ucap Bunda santai.
Ara yang mendengar kalimat terakhir bunda seketika tersedak bolu buatannya sendiri, karena dia juga penasaran beneran enak apa tidak bolu buatannya.
''Uhuk...uhuk..uhuk.''
''Lho Ara kenapa?'' Bunda mendekati Ara yang duduk di seberangnya, memberikan air minum Ara, kemudian menepuk-nepuk punggung Ara.
''Maaf, Bunda, Ara mau dapat ijasah dulu, baru ijab sah.''
Spontan Ayah Sukma tertawa terbahak.'' Hua..ha..ha...''
__ADS_1
Sedetik kemudian Bunda ikut tertawa '' Hua..ha..ha...''
Apanya yang lucu, Ara kan masih sekolah, belum juga kuliah, masak iya sudah jadi calon istri. calon istrinya siapa coba?
''Asalamualaikum... ramai betul, sampai kedengaran dari luar.'' Papa Randy si empunya tamu baru datang.
''Waalaikum salam....'' jawab ketiganya bebarengan.
Papa Randy menyalami kedua tamunya. Lalu duduk di sebelah Ara, setelah Bunda kembali ke tempat duduknya semula. Arapun menyalim Papanya.
'' Sudah lama, Mas, Mbak?'' tanya Papa Randy.
''Bukan cuma lama, sampai habis Bolu buatn anakmu.'' ucap Ayah pura-pura kesal.
''Maaf, Mas. Tiba- tiba ada atasan dari pusat datang.'' Papa Randy menoleh ke Ara, '' Ara masak kan hari ini? ''
''Iya, kan tadi Papa yang suruh Ara masak, katanya mau ada tamu istimewa.'' jawab Ara polos.
'' Terus gimana? sudah beres masakannya?'' tanya Papanya memastikan.Ara mengangguk. '' Ara siapkan sekarang ya, sudah waktunya makan siang.'' lanjutnya.
Ara bergegas masuk ke dapur menyiapkan santap siang untuk tamu Papanya.
'' Mas, Mbak makan siang di sini ya? cobain masakan anakku. Menu sederhana sih, tapi lumayan sudah bisa diterima oleh lidah.''
'' Hebat anakmu, Ren, sudah bisa buat bolu sekarang masak. tentu saja aku mau cobain hasil masakannya.'' kata Bunda lalu menyusul Ara ke belakang.
''Lho...Bunda kok di sini'' Ara kaget karena Bunda Anisa sudah ada di belakangnya.
''Bunda mau bantuin Ara, boleh?''
''Oh... boleh, Bunda, tapi Ara sudah beres masaknya tinggal bawa ke meja makan dan ngangetin sayurnya saja.''
''Sini biar Bunda yang bawa ke meja makan, selagi Ara nungguin sayurnya.''
'' Boleh, ini Bunda.'' Ara menyerahkan ikan bawel goreng, tempe goreng dan sambal tomat.
Sejenak Bunda tertegun,'' ini semua Ara yang masak?'' seakan tak percaya.
''Iya, Bunda.''
Papa Randy dan Ayah Sukma telah menunggu di meja makan, terakhir Bunda membawa krupuk udang dan Ara membawa sayur asem.
Mereka makan dengan lahap, tanpa suara hanya dentingan sendok beradu dengan piring. Sebagai penutup Ara mengeluarkan puding mangga dari kulkas.
Masakan Ara ludes tak tersisa. Ayah dan Bunda dadakannya sangat menyukai hasil masakannya.
''Masakan Ara juara enaknya, iyakan Ayah." lagi-lagi Bunda mencari sekutu.
'' Iya, Ayah suka sayur asemnya, pas disantap siang-siang panas begini.'' sahut si Ayah.
Papa Randy tentu saja bangga anak gadisnya mendapat pujian dari sahabatnya.
''Terima kasih, pujian Ayah dan Bunda dari tadi membuat Ara jadi saingannya mbak Kunti.''
''Hah! siapa Ra?'' tanya Papa Randy
__ADS_1
''Itu Pah, yang suka melayang di malam hari, yang biasanya di bawah pohon gede.''
Grrr..... semua tertawa dengar celotehan Ara.