Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
101. Mantan Gila


__ADS_3

Gea nampak bernafas lega, Ara dan temannya sudah meninggalkan cafe. Semenjak melihat ada Ara di cafe itu Gea duduk tidak bisa tenang. Hatinya gelisah takut tiba-tiba Raga datang dan bertemu Ara.Kejadian yang sungguh sangat tidak ingin Gea kehendaki. Bisa dekat seperti sekarang ini dengan Raga sudah merupakan kemajuan dalam usahanya mengejar Raga.


Kenapa, kenapa Ara ada di Jakarta. Sudah baik Ara menghilang. Kalau memang Ara ditakdirkan menjadi jodoh Raga, sejauh mana jarak memisahkan mereka pasti akan bersua.Lalu bagaimana usaha Gea untuk menembus dinding hati Raga yang telah terkunci nama Ara?


Bagaimana jika Ara kembali datang mengisi lagi kekosongan hati Raga, bagaimana nasib hatinya? Lebih dari sekedar ambyar.


Kalau Ara tidak mengenalinya bisa jadi Ara juga tidak mengenali Raga. Tapi Raga. sampai saat ini di hatinya cuma ada Ara. Raga tak pernah melupakan Ara.


''Ge..'' suara panggilan Raga mengagetkannya.


''Kenapa seh Lo sering banget melamun. Mikirin apa? UN? takut ya gak lulus.'' ucap santai Raga yang mendaratkan pantatnya di kursi depan Gea.


''Kalau gak lulus tinggal ngulang lagi tahun depan ngapain susah-susah. Masih gak lulus lagi, tinggal kawin saja. Lo kan perempuan kerja ngurusi suami masuk ibadah.Tuh cowok depan Lo jomblo.'' kata teman Raga yang datang bersama Raga dan mendudukkan diri di sebelah Gea hingga membuat Gea sedikit bergeser.


''Kawin. kawin. nikah Cui.'' ralat Raga.


''Nah itu maksud gue. Kalian kenal kan sudah lama. Kemana-mana juga bareng. Tunggu apa lagi. buruan saja jadian.''


''Ba cot asal ngejeplak! sesama jomblo saja sok Sokan ngejodohin. Gak usah ngadi-ngadi keluarga kita ini sudah seperti saudara ya kali pacaran sama saudara.''


JLEB


Kata-kata Raga membuat Gea menjatuhkan sendok yang dipegangnya, bagai tertusuk pisau. Sakit tapi tak berdarah.


Susah sekali untuk masuk hatimu Ga, sebegitunyakah cintamu untuk Ara yang mungkin saja dia tidak mengingatmu.


''Beneran ya, Ge. Elo emang sering bengong sendiri sampai sendok yang Lo pegang jatuh saja gak ngerasa.''


''Emang sendoknya saja yang licin.'' elak Gea. Buruan manggung sana gue sudah kelamaan di sini. Dari mana kalian baru datang.'' Gea sengaja mengusir Raga dan temannya untuk menutupi hatinya yang canggung ke yayasan yang mengatur bantuan untuk Palestina. Jangan lupa nanti nyawer biar makin nambah dana bantuan kita. Sukur-sukur bisa membawa kita langsung ke ke Palestina, kita bisa lihat langsung penderitaan mereka ada di lokasi perang.'' Dito teman Raga yang menjelaskan kenapa mereka baru datang.


''Ini gue sengaja datang buat nyawer kalian. Makanya buruan sana manggung.'' mengikuti salah satu kegiatan amal Raga adalah salah satu usaha Gea untuk bisa lebih dekat lagi dengan Raga.


Raga dan teman-temannya sengaja ngamen dari satu cafe ke cafe yang lain hanya untuk mengumpulkan dana untuk korban perang di Palestina. Mereka adalah mahasiswa kedokteran dari berbagai tingkatan. Bahkan sudah ada yang rela menyumbangkan dirinya untuk menjadi relawan di sana.


''Berani Lo dikirim ke daerah konflik atau daerah perang.?''ucapan menantang Raga ke Dito. Yang sudah pasti Raga tahu jawabannya, Dito itu omdo (omong doang)

__ADS_1


''Gaklah gue masih sayang nyawa gue untuk dipertaruhkan di Medan perang. Lo berani Ga, ke sana?''


''Kalau gue patah hati gue akan ke sana.'' jawab asal Raga.'' Tuh pasukan sudah pada datang, yuk kita siap-siap.'' teman-teman satu bandnya sudah pada datang, Raga meninggalkan Gea sendiri untuk persiapan manggungnya.


''Ok. Abang manggung dulu cantik, jangan lupa sawerannya.'' pamit Dito ke Gea


''Ok.'' dengan senyum dipaksakan Gea menautkan jari jempol dan telunjuk membentuk hurup O.


******


Ara sengaja tidak memberitahu Gatra bahwa dia akan ke kantornya hari ini. Dan seharian ini sengaja Pia break syuting hanya untuk menjadi sopir sahabatnya.


Tak biasanya Ara menghampiri Gatra ke kantornya, tapi bagaimana Ara sangat merindukan Gatra padahal mereka masih satu rumah dan baru berpisah tadi pagi.


"Tumben-tumbenan seh Lo kangen-kangenan sama laki Lo padahal juga tiap hari tuh mesra-mesraan.'' tanya Gea disela-sela nyetir tanpa melihat ke Ara.


Ara hanya terdiam. entah memikirkan apa, dia juga tidak tahu kenapa selalu terbayang perlakuan lembut Gatra. Mungkinkah karena dia sudah pernah merasakan, maka menginginkan lagi.Atau penasaran karena sejak yang pertama itu Gatra tak lagi menyentuhnya.


''Ra!"


Ciiiitttt


Pia mengerem mendadak laju mobilnya, menepikannya di badan jalan. Gak mungkin dia salah dengar.


"Siapa otong?" cerca Pia


"Hah!" Ara pun bingung kenapa bisa keceplosan nyebut Otong adek kecil Gatra yang membuatnya terkapar di rumah sakit.


"Siapa otong? Lo main hati ya?" desak Pia


Malu-malu Ara menjawab '' Nggak Pia, Ara ....Ara.... kangen adek kecilnya Mas Gatra.''


''Laki Lo punya adek.'' Ara mengangguk. '' Bukannya Gatra Rahendra itu anak tunggal ya? sejak kapan dia punya adek lagi?'' Pia penasaran dengan adeknya Gatra apalagi dengar namanya Otong. Nama kakaknya saja bagus kenapa adeknya Otong.


Bagaimana cara menjelaskannya ke Pia, Ara terlalu malu untuk mengakuinya. Apa Pia tahu cara mengatasi rasa rindu Ara?.

__ADS_1


''Ra. Kalau Lo rindu sama adeknya laki Lo harusnya Lo ke rumah mertua Lo bukan minta diantar ke kantornya.'' pemahaman Pia tentang adek kecil Gatra belum sepaham dengan Ara.


''Ra! kok jadi bengong!'' gertak Pia yang mengagetkan Ara.


''Jadinya mau diantar kemana ke kantor laki Lo apa ke rumah mertua lo? buruan bilang keburu diderek nih mobil karena parkir di badan jalan.''


''Ke kantor Mas Gatra.'' jawab singkat dari Ara


''Ngobrol dong dari tadi kalau si Otong lagi ada di kantor laki Lo, gak usah ada drama kan?'' Pia melajukan kembali mobilnya menuju kantor Gatra.


Tak lama mereka sudah sampai, saat akan masuk area parkiran Pia melihat Gatra berjalan keluar kantor dan di sampingnya ada sosok perempuan yang sangat dia kenal.


''Claritta!'' lirih Pia yang terdengar jelas oleh Ara. Seketika Ara mengikuti arah mata Pia.


''Mas Gatra.'' Ara melihat Gatra berjalan keluar kantor bersama seorang perempuan yang diakui sebagai mantan. Mereka berjalan bersama menuju parkiran dan terlibat obrolan yang serius.


''Pia.... apa ini yang membuat Mas Gatra gak mau lagi Ara buat ketemu sama si Otong hiks ---hiks ---hiks.'' Ara menangis dengan tatapan mata tak berpaling dari Gatra dan pasangan jalannya. Untungnya kaca mobil Pia tak terlihat dari luar sehingga saat Gatra melintas tak melihat ada Ara di dalam mobil yang dilintasinya.


''Situasi genting begini masih saja memikirkan Otong! Gimana nih jadinya mau ngikuti mereka apa gak?''


Pasti sakit sekali hati Lo Ra, tahu laki Lo selingkuh di depan mata gini. Apa kabar pasangan yang lakinya pada datang ke gue. Kalau sampai mereka tahu lakinya selinggkuh pasti akan sakit hati juga kayak Lo ya, Ra. Ya Allah begitu besar dan banyaknya dosa yang telah hamba perbuat. Tanpa hamba sadari hamba telah menyakiti banyak perempuan hanya karena dendam yang tak beralasan.


''Pia, antar Ara pulang saja. Kepala Ara rasanya mau meledak.'' pinta Ara setelah tangisnya reda.


''Kalau gak mau ngikuti mereka kenapa gak turun saja, katanya mau ketemu Otong siapa tahu masih di dalam.''


''Pia otongnya ada bersama Mas Gatra.''


''Lah mereka cuma jalan berdua gak ada tuh laki Lo bawa adeknya.''


''Pia Ara akan makin pusing kalau harus ngejelasin Otong ke Pia.''suara Ara sudah melemah menandakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.


Apa! jadi Otong itu... tongkat saktinya Gatra? astaga-naga. Jadi baru sekali Ara dia celap-celup dan sekarang Ara lagi sakau pengin. Kebangetan tuh Gatra sudah tua dapat barang muda masih bagus dan orisinil gini dianggurin.Kenapa juga milih balikan sama mantan yang sudah bobrok luar dalam gitu. Dasar mantan gila. Kasihan banget seh hidup Lo Ra.


''Pia, tolong antarkan Ara pulang. Kepala Ara makin pusing.''

__ADS_1


__ADS_2