Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
48 Libur Tlah Tiba


__ADS_3

Masa liburan kenaikan kelas sudah di depan mata. Hari ini, hari terakhir Ara kelas XI. Setelah liburan nanti Ara sudah kelas XII. Tinggal satu tahun lagi statusnya jadi pelajar usai.


Ara berjalan santai menuju kelasnya, dengan membawa semua buku paket yang dipinjamkan perpustakaan padanya setahun ini. karena hari ini batas akhir pengembalian.


''Ara... '' Ratih memanggil dan menepuk pundak Ara dari belakang.''Ra, liburan nanti kamu mau kemana? ikutan camping anak-anak yuk?'' Ratih mengajak Ara untuk mengikuti acara camping yang direncanakan Anjar ketua kelasnya.


Camping ini acara bebas bukan acara yang diadakan sekolah, jadi siapa saja bisa ikut. Termasuk anak dari SMA lain.


''Kamu Tih, seperti tidak tahu Papa saja, mana boleh Aku ikut yang begituan.''


''Ya, Ra, padahal Aku mau ngajak kamu berkongsi untuk ngebujuk nyonya rumah. Ibu bilang kalau Kamu ikut, Aku boleh ikut.''


Ara menoleh ke Ratih, kelihatan cengar-cengir pasti dia merencanakan sesuatu pada ibunya dan mengatasnamakan dirinya.


''Kok Aku curiga ya, kali ini apa yang kamu rencanakan?'' bukan sekali Ratih menyeret nama Ara untuk ngebujuk Ibunya, memenuhi keinginannya. Dan biasanya selalu berhasil.


''Emang penting ya, acara camping-campingan itu. '' Ara bukanlah anak pecinta alam dan dia juga tahu kalau Ratih juga bukan pecinta alam


Mereka adalah tipe orang yang kalau libur mending digunakan untuk rebahan dan maraton drakor.


'' Penting, penting banget. Seumur-umur baru kali ini Aku pengen ikut.'' jawab Ratih semangat.


''Baru sekarang pengen ikut, emang dulu-dulu ngapain.'' guman Ara.


''Jadi gimana Ra, mau ya, kamu bilang ke Nyonya rumah buat ngijinin kita.''


''Huh. Ya kali samehmu ngijinin, apa kabar Papaku. Keluar malam saja tidak boleh, apalagi ini pakai nginep. Di luaran lagi. Dan lagipula ini acara bukan dari sekolah, siapa yang akan tanggung jawab kalau ada apa-apanya.''


''Kamu mikirnya kejauhan Ra, salah satu tujuanku ngajak kamu yaitu kita bisa saling jaga.''


''Salah duanya apa? jadi tamengmu.'' ucap Ara dan Ratih hanya cengar-cengir.


''Terus gimana Ra, minimal sekalilah seumur hidup merasakan tidur di alam bebas. Beralaskan tanah, beratapkan langit bertabur bintang-bintang.'' Ratih tetap kekeh merengek minta tolong pada Ara.


''Mau belajar jadi gelandangan, kamu. Beralaskan tanah beratapkan langit. kayak lagu dangdut saja.'' Ara pusing mendengar rengekan Ratih, apalagi beban buku yang dibawanya sangat berat. Dan lagi harus menaiki tangga, karena kelas Ara yang di lantai dua. Ingin rasanya cepat sampai ke kelasnya. Apalah daya Ratih merengek terus kayak balita minta permen.


Pintu kelas sudah kelihatan, tapi langkahnya harus terhenti.

__ADS_1


''Hai, Ara.'' salah satu fan Ara menyapa. '' Mau dibantuin?'' Aditya namanya, teman seangkatan Ara tapi beda kelas.


''Hai, Adit. boleh?'' Ara memberikan bawaannya pada Adit. Dan Adit langsung menerimanya. '' terima kasih, Adit.


'' Sama-sama.''


Cuma beberapa langkah saja Adit membawakan bawaan Ara. Karena memang kelas Ara di sebelah tangga.


''Ara, hari sabtu besok ada acara?'' tanya Adit.


''Tidak ada, kenapa Dit?''


Senyum sumringah singgah di wajah Adit.


''Mau tidak, Ara ikut Adit nonton air mancur menari di banjir kanal.''


'' Maaf Adit, Ara tidak boleh keluar kalau malam sama Papa.''


Seketika mendung menghinggapi wajah Adit, dengan langkah gontai Adit meninggalkan Ara.


Ratih yang dari tadi mengekor Ara tertawa mengejek Aditya.


''' Ra, orang secakep Adit kamu tolak? Ck ck emang kamu ya, Dia juara Mas kategori remaja pemilihan Mas dan mbak Semarang lho?'' Heran Ratih.


''Aku kan cuma menolak ajakannya. Dan alasanku emang benar kan, pasti Papa melarang pergi malam-malam.''


''Jadi kalau orangnya mau.'' celetuk Ratih.


''Pasti.'' jawaban yang membuat Ratih kaget. tumben. ''pasti nolak.'' lanjut Ara.


''Kirain Ra, kamu sudah mau membuka hati.''


''Jijiklah kalau hatiku dibuka.'' canda Ara. kemudian diam.


'' Ck ck ck.... Noh hatimu yang katanya kosong. Hello.....'' Ratih mengibaskan tangannya di depan muka Ara, ternyata melamun.


'' Aku cuma takut Tih, untuk mencintai. Misal Aku nanti mencintai seseorang, pas lagi sayang-sayangnya ingatanku kembali. Dan ada seseorang entah di mana sedang menantiku dengan cinta yang tak pernah berkurang. Terus Aku mesti gimana? Aku nggak mau berada di persimpangan cinta, Tih. Aku tidak bakalan bisa milih.''

__ADS_1


'' Jadi drama seh, ya kali yang menantimu laki-laki baik-baik, kalau seperti yang kamu takutkan selama ini, pengedar atau pemakai narkoba gimana? masih mau kamu dinantikanya.Jadi gimana Ra, bisa ya, kamu bujuk Samehku ntar gantian Aku yang minta ijin ke Sabehmu. Sepertinya Kamu deh yang butuh acara ini untuk merefresh otakmu agar tidak terpaku pada masa lalu yang diingatpun susah. Lebih baik Kamu mikir ke masa depan saja.


'' Emang pengen banget, kamu ikutan camping. Nanti baru sampai sudah rewel minta pulang.'' sengaja Ara menggoda Ratih, padahal kata-kata Ratih ada benarnya juga. Melihat ke masa depan.''Emang mau ngecamp di mana?'' tanya Ara lagi.


'' Dekat Ra, cuma ke kota atas doang.''


'' Iya, ke kota atas tapi lokasi tepatnya di mana Ratih sayang....'' saking gemesnya Ara mencubit kedua pipi Ara.


''Candi Gedung Songo Ara, yang di Bandungan itu lho? ikut ya? ikut dong Ra.''


'' Entar dicoba deh, tapi jangan terlalu berharap juga, jatuhnya kecewa kalau tidak diijinkan.''


''Terima kasih Ara, Kamu memang the bestlah.'' Ratih mencubit dua pipi Ara.


''Apaan seh.'' Ara melepaskan tangan Ratih. '' Hhu kalau ada maunya.''


Anjar sang panitia camping masuk kelas dan mendengar percakapan Ara dan Ratih yang ingin ikutan camping, tentu saja senang. Jarang bahkan baru kali ini Ara mau ikutan acara yang diadakan di luar sekolah.


''Jadi kalian mau ikutan camping di Gedong Songo?'' tanya Anjar antusias.


''Iya, tapi belum pasti soalnya belum dapat ijin ortu.'' jawab Ratih dengan wajah disedih-sedihkan.''


''Masalah ijin orang tua ya, bagaimana kalau Aku yang mintakan ijin ke orang tua kalian?'' usul Anjar, karena dipikirnya jangan sampai gara-gara tidak dapat ijin dari Papanya, Ara tidak jadi ikutan camping.


''Jangan!'' jawab Ara dan Ratih serentak dan keras. Membuat Anjar meloncat kaget.


Bahaya kalau Anjar yang datang ke rumah dan dan nyonya rumah tanya macam-macam, bisa-bisa bukan cuma ijin ngecam yang tidak dapat, tapi ijin lainnya juga dicabut.bakal tiada kenangan liburan kali ini.


''Kenapa? bukannya kalian butuh ijin orang tua, biar nanti Aku jelaskan walau bukan sekolah yang mengadakan tapi ditanggung aman dan nyaman. Ada tiga sekolah yang mengikutinya, dan kami juga bekerja sama dengan penduduk lokal untuk memastikan keamanannya. Bagaimana?''


''Jangan!'' lagi-lagi Ara dan Ratih serentak menjawab.


*


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih atas dukungan like dan komentnya, semoga menjadi semangatku untuk rajin up. Koment kalian tetap Aku baca, tapi maaf belum dibalas.


__ADS_2