
Ara ijin tidak masuk sekolah. Setelah kemaren kejadian pinsan di tempat umum. Hari menjelang siang, Ara sudah mulai bosan sendirian di rumah.
Untungnya ada Ratih yang langsung meluncur ke rumahnya setelah pulang sekolah.
''Kamu nggak pulang dulu ke rumahmu? emang ibu tidak mencarimu? '' tanya Ara yang kuatir Ratih dimarahi ibunya, karena pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumahnya.
'' Tenang Ra, Aku tadi ketemu Ibu di depan, makanya Aku bisa langsung kemari.'' terang Ratih.
Rumah Ara dan Ratih berada dalam satu komplek, cuma beda gang saja.
''Ra, soal kemaren Aku mau minta maaf .''
''Kenapa, kamu minta maaf, Tih. Emang kamu salah apa?'' Ara bingung kenapa tiba-tiba Ratih minta maaf padanya.
''Gara-gara Aku.... nyuruh kamu ketemuan dengan Rega, kamu jadi pin..san. lirih Ratih.
'' Ha...ha.. bukan salah kamu deh, jangan ngerasa bersalah gitu, emang Akunya saja yang tiba-tiba pusing. Kamu kan tahu ada sesuatu yang Aku sendiri tidak tahu di kepalaku. Udah.... yuk, makan dulu kamu pasti lapar. Aku masak enak lho!'' Ara menggeiring Ratih ke meja makan.
''Bukannya gitu Ra, Papamu saja sampai panik, waktu Aku telepon. Aku jadi nggak enak nih?''
''Udah dienakin saja, apalagi yang di depanmu ini.'' tunjuk Ara pada hidangan makanan di meja makan.
''Ck ck ck kamu ini diomongi serius, malah bercanda. BTW tahu aja kamu kalau Aku lapar. makan makan makan.''
Ratih makan dengan lahap, bahkan sampai nambah. Efek dari lomba tarik tambang yang tadi diikutinya di class meeting.
Selesai bersantap Ratih membantu Ara beberes meja makan membersihkan peralatan makan yang habis dipakai.
Saatnya melantai dengan santai alias selonjoran di lantai. Setelah selesai beberes dan bebersih mereka melantai di ruang tengah.
''Harusnya tadi Kamu suporterin Aku Ra. Kelas kita menang lho! ditarik tambang. Karena Aku yang ada di depan." lapor Ratih dengan bangganya.
Ara terkekeh dengar cerita temannya itu.
" Sebenarnya sih Aku baik-baik saja Tih, untuk masuk sekolah. Tapi Aku malu pasti kemaren banyak yang lihat waktu Aku pinsan.''
''Iya sih, Akupun kalau diposisi Kamu pasti juga malu. Tapi besok harus berangkat lho, jangan absen lagi.''
'' Siap. kan mau lihat kamu pegang tambang.''
''Ra, kalau boleh tahu nih, kok bisa Kamu tiba-tiba pusing gitu, apa karena lihat muka si komeng?''
''Komeng, komeng siapa? artis komedi? '' tanya Ara bingung, kapan ketemu artis coba, bukankah seharian dia bersamanya.
__ADS_1
'' Huff.... dasar nggak peka, itu si Rega, siapa lagi.'' sungut Ratih kezell.
''Oh, Rega. nggaklah. emang lagi banyak pikiran saja, Ratih. Setelah kecelakaan otakku memang tidak bisa untuk berpikir keras. Ditambah tiga bulan ini Aku sudah tidak minum obat dari dokter Lusiana. Jadi ya, gitu deh. Tapi kalau kulihat-lihat kayaknya Rega dan kamu yang lebih serasi.''
''Eh, maksudmu apa, Marimar? jangan ngada- ada ya.'' sewot Ratih dengan melempar bantal kursi ke Ara.
'' Halah...kemaren waktu di klinik yang bicaranya saling mesra- mesraan siapa?'' goda Ara.
''Mesra dari Hongkong, yang ada ngajak ribut terus tuh anak. Berasa pengen nabok.'' geram Ratih.
''Kalau Revano gimana? dia juga lihatin kamu terus tuh.''
''Revano, nggak mungkin. Dia nganggap Aku dan Rega drama nyata dihadapannya. Yang katanya sayang tuk dilewatkan. Bahkan dia mau ngajak Pacarnya ikutan nonton, parah tu anak. Dikira kita layar drama.'' emosi Ratih mengingat Revano yang ikutan mengoloknya kemaren.
''Jadi Revano udah punya pacar?''
''Eh, jangan bilang kamu suka sama Revano, ya?'' tanya Ratih penuh selidik.
''Nggaklah, kukira malah kamu yang suka ke Revano.''
''Suka sama Revano juga percuma, tidak akan berbalas. Dia itu tipe bucin akut sama pacarnya.''
''Sok tahu kamu, emang kamu sudah lama kenal Revano?''
''Kamu kelas satu Aku belum di sini, dodol!'' Ara melempar bantal ke Ratih malah ditangkap dan dipakai rebahan.
''Makanya, ngapain pakai pindah segala kalau ujung-ujungnya balik lagi.'' runtuk Ratih.'' Ada baiknya juga sih dulu kamu pindah, kalau nggak kamu bakalan jadi salah satu cewek yang akan patah hati karena Revano.'' terang Ratih lagi.
Ara ikut rebahan di sebelah Ratih. berbagi bantal dengan Ratih.
''Tih, kalau Aku jadi bucin gimana?'' tanya Ara setelah posisinya sejajar dengan Ratih.
Pertanyaan Ara seketika membuat Ratih bangun dan duduk menatap Ara lekat. '' Bucin ke siapa? ''
''Nggak tahu. Hatiku, hatiku seperti tertuju ke seseorang tapi siapa? '' lirih Ara.
''Pernah coba tanya ke Papamu?'' tanya Ratih pelan.
''Tentang apa?''
'' Ya, itu hatimu, yang mengisi hatimu itu atau pacar kamu dulu sewaktu di Magelang gitu.'' tanya Ratih sambil nunjuk dada Ara.
''Papa bilang aku belum boleh berpacaran, masih dibawah umur. Dan katanya pula Aku belum punya pacar, tapi kalau teman ada.'' Ara ikutan duduk menyenderkan tubuhnya pada sofa.
__ADS_1
''Yang Aku takutkan apakah hatiku ada kaitannya dengan pengedar narkoba yang menyebabkan Aku kecelakaan.'' sambung Ara lagi.
''Maksudmu, Kamu suka atau punya pacar di belakang Papamu dan pacar atau orang yang kamu suka adalah seorang pengedar gitu.''
Ara mengangguk lemas.
''Kalau seperti itu ceritanya, bakal layak diangkat di layar kaca. Jadi cerita drakor juga ok.
''Dasar ratu drama.'' Ara menoyor jidat lebar Ratih. Yang ditoyor bukannya marah malah ketawa.
''Emang Papamu nggak ada cerita yang lain, teman dekat misalnya.''
''Akunya yang tidak berani bertanya Tih, mendadak pindah kembali ke sini saja, sudah membuatku merinding dengan alasannya. Kalau Papa benar-benar sengaja menyembunyikan Aku, gimana Tih?''
''Jangan berfikir yang aneh-aneh, yang belum tentu kebenanarannya. Sabehmu itu penegak hukum, kalau kamu terlibat dengan tindak kejahatan pasti kamu tidak akan ada di sini. minimal mungkin kamu lagi di rehab saat ini. Eh, tapi kamu selama ini bersih, kan, Ra?''
''Maksudmu Aku pemakai gitu? enak saja, kalau nanya. Nggak lihat si Sabeh, pernah dia ngijinin Aku keluar sekedar ke mall. Bisa dapat barangnya dari mana?'' berang Ara dengar pertanyaan temanya.
''Ye , serasa membangkitkan harimau tidur.'' guman Ratih.
''Aku bersih, Tih'' Ara menyakinkan Ratih.
''Iya, percaya kok.'' Ratih memeluk Ara. Memberinya kekuatan, sulit rasanya ingin mengingat tapi tak ada yang diingat. Lupa naruh barang di mana saja sudah membuat kelimpungan, apalagi ini ingatan setahun sama sekali tidak berbekas.
''Ra, kamu tidak ingin membuka hati untuk sebuah hubungan gitu?''
''Kamu yang minta ijin ke Papa.''
'' Nggak terima kasih.''
'' Sesama jomblo harus saling menguatkan.''
''Akhirnya ngaku juga kalau jomblo.''
*
*
*
*
Terima kasih atas dukungannya pembacah, semoga bisa jadi semangat Mbak untuk rajin up.
__ADS_1