Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
45 Rega Juwana


__ADS_3

''Lebay kamu tih.''


''Biarin. Ra tadi kamu melamunkan apa?'' Ratih kembali pada pertanyaan pertama dia menyapa Ara.


'' Bukan apa-apa, Tih.'' elak Ara.


''Bukan apa-apa kok bengong, mana dipanggil tidak nyaut lagi.'' sewot Ratih. '' Ayolah Ra, cerita. Siapa tahu Aku bisa bantu, atau kamu tidak menganggap Aku temanmu.'' sambung Ratih mendesak.


'' Entahlah ,Aku sendiri juga tidak tahu. Ini tentang hatiku, Tih.''


'' Maksudnya...''


'' Seperti ada yang hilang dari hatiku, rasanya kosong.'' Ara berusaha menggambarkan suasana hatinya pada Ratih. ''Ada rasa suka, tapi Aku tidak tahu, suka pada siapa?''


Hemmm , hilang. kosong. suka ya...'' Ratih purapura berfikir dengan tangan menopang dagu.


''Aku ada solusinya, Ra.''


''Apa?'' tanya Ara antusias.


''Pilih salah satu pengagummu, yang sering ngasih kamu hadiah, kamu seleksi. Kalau perlu Aku mau jadi panitia seleksinya. Dicari laki-laki yang bisa mengganti hati yang kehilangan, mengisi hati yang kosong dan yang bisa membangkitkan rasa suka di hati Ara....''


TUK....


Lagi-lagi Ratih mengaduh karena sentilan Ara di jidatnya yang lebar.


''Semarangan.'' ucap Ara.'' Lelaki bukan tuk dipilih. Ratih.''


''Aittt.... kata siapa?''


''Itu, lirik lagunya Iwan fals.''


''Percaya lirik lagu? musrik, kamu.''


''Daripada percaya kamu, lah musrik kuadrat dong.''


Gerrrr....


Mereka berdua tertawa lepas bersama. Sampai akhirnya terhenti karena kedatangan teman-teman sekelasnya, walau tidak semua.


Anjar ketua kelas Ara sengaja mengumpulkan beberapa teman sekelas, untuk membahas malam pelepasan anak-anak kelas tiga, apakah kelasnya mau ikut mengisi acara panggung atau tidak.


Sebagian peserta rapat dadakan, termasuk Ratih setuju untuk ikut mengisi panggung acara. Bahkan Ratih pula yang mengusulkan agar Ara yang tampil untuk menyanyi, dan disetujui para peserta rapat.


Jelas saja Ara langsung melotot ke Ratih karena usulnya, yang dipelototi hanya cengar-cengir dan mengacungkan dua jari kanan, telunjuk dan tengah.


''Bagaimana Ara, kamu mau kan ikut jadi pengisi acara?'' Anjar si ketua kelas memastikan kesediaan Ara.


''Mau, Ra. mau ya, demi kelas kita.'' lagi-lagi Ratih menjadi kompor teman-temannya.


'' Boleh, tapi satu lagu saja.'' balas Ara.


Livia salah satu peserta rapat juga mungusulkan.'' Bagaimana kalu penampilan Ara nanti diiring oleh permainan gitar akoustik. Kan banyak anak laki-laki kelas ini yang padai main gitar.''


''Setuju. setuju.'' suara peserta rapat.


DEG


menyanyi, gitar, akoustik seperti tidak asing bagiku.


'' Ra.... '' panggil Anjar si ketua kelas dan semua peserta rapat dadakan menatap Ara.

__ADS_1


''Apa.'' lirih Ara.


'' Yaelah bocah, masih bersambung melamunnya.'' dumel Ratih. Sudah sampai episode berapa, Ra?'' sambung Ratih lagi.


''Jadi kita akoustikan dengan kamu sebagai penyanyinya. Dan nanti pulang sekolah kita mulai latihan. terang Anjar. '' siapa saja yang mau main gitar untuk mengiringi Ara?'' kali ini pertanyaan pada peserta rapat.


Ratih yang semenjak Rapat dadakan dimulai telah berpindah tempat duduk di sebelah Ara, menjejakkan kakinya ke kaki Ara.


'' Apa? '' Toleh Ara.


''Rega, jadi mau ketemuan tidak?'' bisik Ratih.


''Jadi.''


Niatan Ara bukan untuk ketemuan dengan orang yang bernama Rega, tapi untuk mengembalikan hadiahnya. Ara mengangkat tangan kanannya.


''Maaf Anjar dan teman-teman, kalu nanti Aku belum bisa untuk latihan sudah ada acara. Bagaimana kalau kalian latihan,sendiri dulu dan cari beberapa lagu biar Aku nanti tinggal masuk.''


Denga sedikit kecewa Anjar menyetujui usulan Ara. Bagaimanapun rencana yang dia dan teman-teman termasuk dadakan, jadi jangan salahkan kalau ada yang tidak bisa, termasuk Ara, yang akan jadi bintang utamanya.


****


Di pinggir jalan, di depan gerbang sekolah Ara dua orang cowok terlibat percakapan, di atas motornya masing-masing.


Yang satu menunggu ketidakpastian janji sepihak untuk bertemu, yang satunya lagi ingin memastikan keberhasilan yang satunya.


"Kamu yakin dia menerima hadiah dari kamu dan mau diajak ketemuan di sini? '' tanya cowok satu yang bernama Revano.


''Yakin.'' jawab cowok satunya yang ternyata Rega, yang mengirimi Ara hadiah gantungan Hp. Cowok dengan sejuta pesona, sang penahkluk perempuan.


'' Mengingatkan saja, kalau kamu gagal menjadikannya cewekmu dalam satu minggu, dua juta jadi milikku.''


Enak saja, kamu meremehkan seorang Rega Juwana, Tuan Revano.


'' Memangnya kamu tidak percaya pada info dari Iwan, kalau selama ini belum ada yang bisa mendapatkan tuh cewek.'' ucap Revano yang masih sanksi kalau Ara mau sama Rega.


Saat pensi peringatan HUT sekolah Ara, Rega dan teman-teman OSISnya mewakili undangan dari OSIS sekolah Ara. Saat itulah pertama Rega melihat Ara. Hatinya telah bertaut pada Ara. Hanya Ara yang tak melihat untuk Raga, disaat teman-teman perempuan SMAnya berebut untuk berkenalan dengan Rega.


Salah satu teman nonggkrong Rega, Iwan, satu sekolah dengan Ara. Dari Iwanlah semua info tentang Ara didapat. Termasuk Ratih yang selalu jadi kurir hadiah Ara.


''Dan tak kan kulepas dengan mudah pula dua jutaku untukmu Fernando, karena kuyakin kali ini pesonamu tak menembus batas.'' guman Revano dalam hati.


''Bukannya Iwan bilang kalau itu cewek tidak suka diberi hadiah, kenapa kamu malah ikutan memberi hadiah. Tidak ada bedanya kamu dengan yang lain. Akan beda ceritanya, kalau ternyata kamu malah jadian sama kurir hadiahmu. Huwahaha...'' ledek Revano, karena biasanya seseorang akan jatuh cinta pada comblangnya atau perantaranya.


''Semarangan, sebagai teman harusnya kamu mendukung usaha temanmu ini. Bukan malah mendoakan yang tidak-tidak.'' Sungut Rega. Yang ada Aku sama Ara dan kamu yang sama kurirnya.'' elak Rega geram.


'' sellow Brow. Tapi lucu sih kalau ini kejadian padamu.''


'' Hussss lihat. lihatlah arah jam sebelas, siapa yang berjalan mendekat.'' Rega turun dari motornya, rona bahagia terpancar apalagi melihat Ara yang berjalan semakin mendekat.


Haduh siap kalah dua jutaku siap melayang.


Ratih menggandeng Ara untuk menghampiri Rega.


'' Nggak usah digandeng juga kali, toh kita tidak mau nyebrang, Tih.'' protes Ara sebal, karena genggaman tangan Ratih sangat kuat. Susah untuk dilepaskan Ara.


''Sudah, nurut saja. Takut aku, Kamunya kabur. ujung-ujungnya aku lagi nanti yang mengembalikan hadiah untukmu''


Ratih melepaskan genggaman tangannya begitu sampai dihadapan dua orang cowok.


'' Yang mana satu orangnya, Tih?'' bisik Ara

__ADS_1


''Yang di depanmu, dodol.'' Ratih balik berbisik pada Ara. Walau pelan masih bisa terdengar oleh Rega maupun Revano.


'' Eh, kamu yang tadi pagi nitip kado ke Aku, untuk temanku ini, kubawakan orangnya. Ada yang mau dia sampaikan.kata Ratih tanpa basa-basi.


''Kamu ya, yang bernama Rega? '' tanya Ara.


''I .. iya. Kenalkan Rega.'' mengulurkan tangannya ke Ara.


Disambut oleh Ara.'' Ara.'' ucap Ara.


Revano tak ketinggalan ikut mengulutkan tangannya, langsung ditepis Raga. '' Revano'' mengibas-ibaskan tangannya.'' Apaan seh Brow, kenalan doang.'' belum apa-apa sudah posesif saja.


''Hati-hati kalau dekat dengan orang yang lagi kasmaran, ganasnya melebih ular yang lagi musim kawin dan terganggu.'' celetuk Ratih.


''Huwahaha....'' tawa Revano pecah dan menjauh satu langkah dari Rega.


'' Rega, ini... Aku tidak bisa menerima hadiah dari kamu. '' Ara menyerahkan kotak hadiahnya.


''Kenapa? Aku iklas kok memberikannya. '' Raga belum mau menerima balik kotak hadiahnya.


'' Selalu ada maksud dan tujuan dari setiap hadiah, walau itu diberikan dengan iklas. Maaf Rega, Aku tidak bisa menerima.'' Ara meraih tangan Rega, menyerahkan kembali hadiahnya.


''Tujuannku sebagai tanda perkenalan kita.'' kata Rega cepat. '' terima, ya.''


Ara menggeleng '' berkenalan tidak perlu ditandai dengan hadiah, kalaupun mau ditandai dengan hadiah, kenapa Ratih tidak dapat hadiah, toh dia juga baru kAn kenal Rega. ''


Lah bocah kok bawa-bawa Aku seh.


Kalah telak Rega.'' Sebagai teman dekat.''


''Ini, kita lagi dekat kan.''


Susah ditahklukkan, jangan menyerah Rega. '' Kalau begitu Aku ganti dengan yang sungguhan. Maksudku helm sungguhan.''


DEG


Kepala Ara sedikit pusing, banyak kejadian hari ini yang memaksa otaknya bekerja keras.


'' Sebagai teman boleh kan, kalau Aku mengantar Ara pulang, misalnya. Pasti perlu helm sungguhan. Aku carikan helm khusus ya? untuk Ara.''


Lah itu sama saja kamu jadi tukang ojek, wahai temanku.


Ara menarik Ratih sedikit menjauh dan berbisik sepelan mungkin


'' Ratih aku mendadak pusing.''


''Kok bisa.''


''Tidak tahu.''


''Kamu telepon Papamu saja minta dijemput, biar Aku yang ngurus Rega.''


Pandangan Ara mulai kabur dan


Bruk...


*


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih para pembacah setia tulisan Mbak yang recehan ini. Mohon dukungannya. Like dan komentnya ditunggu.


__ADS_2