
jauh dari keramaian kota ada perempuan cantik berhijab yang duduk melamun. Perempuan itu Abia istri dari Raga.
Setelah tiga bulan berada di Jakarta Raga memboyong Abia untuk tinggal di Magelang. Raga meneruskan kuliah kedokterannya di Jogja. Sebenarnya bukan ingin pindah kota cuma Raga ingin merawat Papanya yang terkena stroke setelah dipecat dengan tidak hormat dari kesatuannya. Istrinya tidak mau merawat, alasannya Maya juga sakit dan butuh perawatan juga.
Bukan keputusan yang mudah bagi Raga untuk merawat papanya setelah semua sakit yang dia peroleh. Tapi lagi-lagi mamanya menunjukkan betapa besar hati dan kebaikannya. Mampu memaafkan dan menanggung biaya perawatan mantan suami yang jelas sudah melukai hati sampai ke dasar.
Abia sebagai istri juga menyakinkan Raga, bahwa Raga masih termasuk beruntung masih diberi kesempatan untuk merawat sang papa. Jangan sampai seperti dirinya.
Demi mamanya, demi istrinya Raga menjaga papanya. Walaupun begitu dia tetap tulus dalam menjaga kesehatan papanya agar jangan sampai drop karena saat ini papanya hidup dengan penuh penyesalan.
Entah karma atau apa tanpa gejala, ketika akan bangun tidur sangat kesusahan. Hingga lumpuh permanen sampai saat ini. Hari-hari papanya Raga hanya tempat tidur dan kursi roda. Menyesal akan tindakan dimasa lalu sudah terlambat nasi telah jadi bubur.
Beruntungnya Raga dan istri bersedia menampung dan merawat. Bahkan Abia terlihat sangat tulus dan telaten dalam merawat mertuanya. Seperti merawat ayahnya sendiri yang tak sempat dia rawat.
''Sayang, kenapa melamun disini?'' Raga yang barusan pulang tidak mendapati istrinya di dalam rumah setelah dicari ternyata ada di halaman belakang. Raga menghampiri karena sang istri yang tidak menyahut panggilannya.
''Mas'' Abia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya. '' Mas sudah pulang?''
Raga mendudukkan diri di sebelah sang istri. ''Kamu kenapa?''
Menautkan kedua alisnya dan menatap ke suaminya. ''Aku?'' Abia menunjuk dirinya sendiri.
''Iya. Kamu kenapa? melamun sendiri di sini suami manggil sampai tidak dengar.''
''Aku tidak apa-apa.'' Abia mengelak
''Kita sudah sepakat untuk saling terbuka, dan aku tahu kamu lagi ada masalah. Jangan dipendam sendiri cerita ke aku.''
''Aku cuma mikir kenapa kita belum dikasih momongan mas. Pasti ramai dan papa juga semakin ada hiburan kalau kita sudah punya....''
''Sstt. kita sudah sering bahas ini kan?. Mungkin Allah sedang menguji kita dan kita harus lebih sabar lagi menunggu atau mungkin nunggu sampai papa sembuh dulu biar kamu tidak repot harus mengurus dua bayi.''
Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk Raga terikat dalam tali pernikahan dengan Abia. Perempuan cantik dan Solehah yang tiba-tiba saja menjadi pasangan hidupnya.
Keikhlasan Raga menerima permintaan ayah Abia untuk menjaga anaknya seumur hidup, dan pengalaman sang mama yang tersakiti karena perjodohan membuat Raga untuk tidak menyakiti hati, perasaan Abia. Bagaimana mamanya dulu tak ingin Abia mengalaminya. Cinta karena tanggung jawab itu awalnya.
Sekarang, entahlah Raga tak bisa apa-apa tanpa Abia. Semalam tidur tanpa Abia disisinya pun tak bisa. Mungkin inilah cinta karena terbiasa bersama.
Mungkin Abia jenuh karena harus mengurus papanya setiap hari tanpa kegiatan lain. Dan Raga sibuk jadi dokter muda di rumah sakit dan kembali ke profesi yang dulu menjadi penyanyi cafe untuk menopang hidup dia dan keluarga.
Biaya pendidikannya memang masih ditanggung mamanya tapi untuk menghidupi Abia Raga menjadi pemilik cafe tempat dia menyanyi. Karena Abia adalah tanggung jawabnya.
''Sayang mumpung masih sore kita jalan-jalan yuk, kulineran ke alun-alun mau?.'' mencoba menghilangkan gundah hati istrinya.
__ADS_1
''Sekarang? kalau papa pulang gimana?'' dalam seminggu, Sehari atau dua hari sekali papanya Raga akan dijemput seorang ustadz untuk dibawa ke pondok pesantren mengikuti kajian dan lebih mendekatkan diri dengan sang penciptanya.
''Papa kan baru berangkat tadi, paling juga besok pagi pulang. Atau kamu mau kita di kamar saja?'' goda Raga
''Enggak kita kulineran saja.'' bisa remuk semua tulang Abia bila Raga mengurungnya semalam di kamar.
*
*
*
Duk
Bola plastik menggelinding ke kaki Abia.
''Ola Dian. Ola Dian.'' seorang anak laki-laki menghampiri dan meminta bolanya.
''Oh... ini bola kamu?'' anak kecil itu mengangguk dan berusaha meminta bolanya.
''Ganteng banget sih kamu. Namanya siapa anak ganteng.''
''Dian ante.''
''Kalian kembar? Ya tuhan kalian begitu ganteng dan manis.'' ingin rasanya mencubit pipi kedua bocah ganteng tersebut tapi takut nanti nangis bisa berabe urusannya.
''Kem-kem kalian kenapa mainnya jauh, Ibu cari-cari lho?'' kembar Gian dan Gani anak dari Ara tengah bermain di alun-alun bersama kedua orang tuanya. Kebetulan Ara sedang ngidam gudeg jadi Gatra yang sedang punya waktu luang mengajak istri dan anaknya jalan-jalan sore.
''Ara''
Merasa ada yang nyebut namanya, sosok wajah cantik yang baru pertama bertemu beberapa tahun yang lalu tapi tidak mungkin Ara lupakan.
''Kak Abia? kok kakak ada di sini?'' senang sekali Ara dipertemukan kembali dengan Abia.
''Iya sudah lama kami pindah ke sini. Empat tahun.''
'' Lama ya?'' Ara sambil memegangi Gani dan Gian yang sangat aktif bergerak.
''Jadi mereka anak-anak kamu? ganteng dan lucu-lucu.''
'' Iya aktif banget mereka Kak, beda sama kakaknya kalem. Apa karena anak perempuan dan laki-laki beda ya?''
''Yang kita ketemu dulu itu perempuan mana anaknya? pasti cantik gak kalah sama ibunya.''
__ADS_1
''Ikut mertuaku kak, belum boleh ikut pindah ke sini.'' sedih Ara sudah sebulan menetap di Magelang tanpa Gina.
''Kamu makin cantik saja Ra makin berisi ya. Dulu aku kira kamu seperti orang cacingan kurus tapi perutnya gede.''
''Iya Kak. Hamil kali ini pengennya makan terus.''
''Kamu lagi hamil lagi?'' kaget Abia memang sempurna sekali perempuan di depan ya ini. Perempuan yang diawal pernikahannya selalu membuatnya cemburu. Perempuan yang tak bisa dimiliki suaminya. Satu hal yang ditanamkan di hati bahwa karena Ara dia dipertemukan dengan Raga suaminya yang sampai saat ini belum pernah menyakitinya.
''Iya nih Kan otw baby ke empat.'' jawab Ara malu-malu.
''Sayang. dicariin ternyata di sini.'' Raga datang menghampiri Abia dan kaget ternyata ada Ara bersama istrinya.
''Mas, ini ada Ara dan baby-nya'' Abia menunjuk si kembar.
''Kak Raga apa kabar? lama tak jumpa ternyata tinggal di sini juga.''
Tak ada kecanggungan lagi Raga bertemu Ara mungkin karena semua cintanya sudah menjadi milik Abia.
''Iya sudah empat tahun dan si nyonya juga betah tinggal di sini.'' Raga melirik mesra ke Abia.
Tak lama Gatra juga datang.
''Ibu dan anak-anak kenapa bapak ditinggal sendirian.'' protes Gatra
''Bapak. ini ketemu Kak Raga dan Kak Abia terus ngobrol.''
Gatra menyalami Raga dan Abia. Merekapun terlibat omongan seru.
*
*
*
*
Tak selamanya ada cinta pertama akan berjodoh sampai maut memisahkan. Ada Ara dan Raga yang tidak berjodoh dengan kisah cinta mereka. Ada bahagia yang lebih ketika mereka dipasangkan dengan cinta yang lain.
Di Persimpangan cinta Ara memilih Gatra untuk masa depan bukan Raga di masa lalu.
Kisah Ara berakhir sampai di sini karena semua sudah bahagia. Sampai jumpa dengan kisah yang lain. Terima kasih sudah menyimak dan menunggu kisah ini.
TAMAT
__ADS_1