
Semua nampak tegang ada Bunda, Ayah, Ratih dan juga Rega. Mereka sedang menunggu Ara yang sedang berjuang melahirkan anak pertamanya.
Pagi seperti biasa duo R siapa lagi kalau bukan Rega dan Ratih. akan datang menumpang sarapan di rumah Bunda, tentu saja dengan alasan sekalian jemput Ara untuk berangkat kuliah bareng.
Di meja makan kumpul untuk sarapan Ayah, Bunda duo Ra, Ara dan Gatra. Bersiap melakukan aktivitas seperti biasa. Ara yang hamil besar masih saja pergi kuliah. Dia masih terhitung mahasiswa baru jadi belum bisa mengajukan cuti kuliah. Jadi seandainya nanti bayinya lahir dia hanya ijin saja. Toh ada Rega yang satu jurusan dengannya yang pasti akan membantu menyalin mata kuliah yang tertinggal.
Ada yang lain dari Ara, duduknya tidak tenang seperti meringis kesakitan.
''Ra, kamu kenapa?'' tanya Ratih yang duduk diseberang meja.
''Gak papa cuma mules.'' Ara merasakan perutnya tidak enak setelah pertarungan hebat dengan Gatra semalam. Seminggu harus ke Semarang membuat Gatra agak ugal-ugalan. Semakin bertambah usia kandungan Ara bukan lagi Ara yang selalu ingin tapi berbalik jadi Gatra.
Ara bangkit dari duduknya hendak ke toilet.
''Ra kamu ngompol ya?'' tanya Ratih yang terus memperhatikan Ara. Ratih tahu Ara sering mengeluh padanya kalau dia jadi sering kebelet pipis. Tapi gak sampai ngompol juga.
semua mata tertutup pada Ara. Ara memang tidak merasa mengeluarkan air seni cuma banyak cairan bening merembes di sela kakinya.
Gatra menghentikan suapannya mendekat ke Ara hendak membopongnya agar Ara tidak malu.
''Bukannya HPLnya masih dua Minggu kenapa sudah mau brojol.'' kata Bunda masih santai.
''Apa yang brojol Bun?'' tanya Ratih
''Bayi Ara_____ Gatra istrimu mau lahiran cepat bawa ke rumah sakit.'' teriak Bunda yang seketika membuat semua yang ada kalang kabut.
Dua jam menunggu akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Ucapan syukur terdengar dari mulut ke empat orang yang cemas sedari tadi.
Gatra keluar untuk memberikan kabar bahagia.
''Gimana Tra cucu Bunda?
''Ara gimana?''
''Beneran perempuan kan keponakanku?''
Gatra diberondong pertanyaan. ''Tenang, sabar tanyanya satu-satu. Ara baik, bayinya sehat dan perempuan.'' sumringah Gatra menyampaikan berita kelahiran putrinya.
''Alhamdulillah cucuku perempuan Yah.'' sorak Bunda
''Cucu kita Bun.''Alhamdulillah Ren, cucu kita perempuan semoga dia seperti ibunya. Kita jaga dan rawat bersama ya Ren.
__ADS_1
Setelah menunggu lama akhirnya mereka berkumpul di ruang perawatan yang khusus disediakan untuk pasien setelah melahirkan. Ara masih terbaring lemas di brangkar dan bayinya diletakkan di box bayi disebelahnya. Pandangan Ara tak lepas pada bayi mungil yang baru saja keluar dari perutnya. Gatra yang duduk di sisinya tak henti juga menciumi tangan Ara, bahagianya tak terkira penerusnya telah lahir. Kini dia punya dua bidadari yang harus dijaga.
Bayi kecil itu anteng memejamkan mata tak perduli dengan kebisingan disekitarnya. Tetap saja diam walau Ratih berulang menoel pipinya.
''Apa. Pengen. Mau yang kayak gini?'' goda Rega di sebelah Ratih.
''Maulah lucu gini masak gak mau.'' jawab Ratih asal.
''Ya kalau pengen dibuat dulu. Baru nanti bisa dapat yang kayak gini.'' Rega semakin menggoda.
''Eh apa tuh maksudnya ngomong gitu!'' Ratih melotot ke Rega.
''Ya.. katanya kamu pengen bayi. Ya harus buat dulu. Benar kan jawabanku.'' Rega selalu santai menanggapi kemarahan Ratih.
''Awas ya sekali lagi ngomong mesum gini aku bilang ke mami biar kamu dipindah kuliah di Singapura bareng Revan dan Naina.
''Gak bakalan yang ada kira bakalan disuruh nikah cepet. Wlek.'' Rega memeletkan lidahnya membuat Ratih semakin gondok.
''Rega ih... gemes!''
''Aku memang ngegemesin.'' mereka jadi saling ejek membuat ruangan tempat Ara dirawat jadi semakin rame. Untunglah Gara memesan ruangan yang paling besar hingga tetap muat karena personel bertambah dengan kedatangan Farel dan Mitha yang tengah hamil muda.
''Kalian ini sudah mau nikah kelakuan masih kayak anak TK yang berebut permen.'' sindir Gatra.
Cklerk
suara pintu dibuka. Ayah dan Bunda masuk membawa banyak barang yang paling banyak adalah buntalan nasi bungkus. Tadi pagi tidak sempat melanjutkan sarapan karena panik Ara yang mau melahirkan
''Sudah jangan ribut terus, malu suaranya terdengar sampai keluar. Nih pada lanjut sarapan yang tertunda sambung sekalian dengan makan siang.'' Bunda mengeluarkan nasi bungkus yang porsinya lumayan banyak dan membaginya pada semua.
''Orang habis melahirkan pasti capek dan laparnya dua kali lipat, biar Bunda yang suapi Ara Gatra makan saja sama yang lain.'' sambung Bunda lagi
''Emang Bunda dan Ayah gak ikut makan?'' tanya Gatra
''Ayah dan Bunda sudah tadi makan di tempat.'' jawab Ayah.
''Eh... busyet ini mah porsi tukang cangkul, yang belum sarapan kan mereka, kami seh sudah. Gak ada yang porsi biasa Bun?'' protes Farel.
''Gak ada. Bunda gak mau tahu pokoknya harus habis.''
Beruntunglah Iwan datang dan Farel menyerahkan nasi bungkusnya pada Iwan dan Farel makan sebungkus berdua dengan Mitha.
__ADS_1
''Tra, boleh dong aku nyumbang nama untuk anakmu, Lo pasti belum persiapan nama kan?'' celetuk Iwan tiba-tiba.
''Enak saja. bayi gue sudah ada namanya. Gak perlu sumbangan dari Lo. Lo simpan saja buat anaknya Farel noh.''
''Eit... gak mau gue sumbangan nama dari Lo kita masih bisa cari sendiri. Ya kan yank?'' Farel menolak usulan Gatra dan meminta dukungan sang istri.
''Kalau gak mau gak papa. Terus siapa nama keponakan aku ini?'' santai Iwan
''Maharani Ginara Sukma. Permata berharga ratunya keluarga Sukma.'' kata Gatra dengan bangganya.
''MGS untung bukan MSG. kalau disingkat. Coba MSG wah bakalan gue panggil micin bayi Lo.'' canda Farel
''Lo kira anak gue penyedap rasa.'' sewot Gatra
''Iya bikinnya yang sedap.'' sambung Farel
''Yaelah tuh mulut!'' Iwan menyubal mulut Farel dengan risol yang dibawa Bunda.
oek...oek...
''Kalian ini ribut terus tuh Gina bangun terganggu suara kalian yang pada Sember.'' Bunda pura-pura marah menyalahkan Gatra dan teman-temannya.
Bunda mengambil bayi Gina diserahkan ke Ara untuk disusui Agar Ara nyaman dan leluasa menyusui bayinya Bunda menarik tirai penghalang sehingga tidak terlihat tamu yang duduk di sofa.
Ini kedua kalinya Ara menyusui bayi Gina setelah yang pertama tadi di ruang persalinan. Ara masih nampak kaku dan tegang walau tadi sudah diterangkan cara yang benar untuk menyusui. Untung ada bunda yang membantu.
''Susah mana Ra, nyusui anaknya atau bapaknya?'' celetuk Ratih tiba-tiba.
''Hah.'' pikiran Ara traveling pada Gatra yang selalu meremas dan memainkan pabrik susu Gina. Alasan Gatra biar nanti kalau bayi launching sumber nutrisinya bisa langsung mengalir. Gak perlu pompa lagi. Sebuah alasan yang selalu membuat Ara men desah keenakan.
''Ratih! wah beneran ini anak minta dinikahkan dini.'' omel Bunda yang membawa kembali lamunan Ara.
''Jangan dong Bun, Ratih kan cuma tanya.'' kata Ratih memelas karena dia pengen lulus kuliah dulu baru nikah. Baru juga semester dua sudah suruh nikah saja. rugi dong jauh-jauh ke ibu kota kalau ujungnya nikah sambil kuliah. Yang ada seh kuliah sambil kerja.
Gatra masuk ke balik tirai memperhatikan bayi Gina yang sedang asik menyedot sumber nutrisinya.
''Apa! pengen juga?'' ketus Bunda
'' Gak. cuma.... Mon...''
''Cuma apa? tahan dulu puasa dua tahun sekarang sudah jadi hak milik Gina.''
__ADS_1
''Lah dua tahun Bun? lama bener. itu kan ada dua satunya bisa dong buat Gatra. Gak mungkin habis Ginanya.'' Rengek Gatra seperti anak kecil.
''Gatra!''