Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
85. MANTAN


__ADS_3

Tok tok tok


Satu tangan mulus mengetok kaca pintu mobil Gatra yang siap meluncur. Tangan Claritalah yang mengetuk. Membuat Gatra mendengus kesal. Bertemu kembali dengan Clarita bukanlah hal yang diinginkan. Sudah tutup cerita kisahnya dengan Clarita, tak mungkin ada season dua, tiga atau seterusnya.


''Mas, itu ada yang mengetuk kenapa gak dibukain?'' tanya Ara karena sepertinya Gatra mengabaikan.


''Mas, mungkin ada hal penting yang mau diomongkan. Ara tahu lho mbak cantik itu mantan Mas.''


DEG


''Darimana Rara tahu?'' Gatra kaget bagaimana Raranya bisa tahu perihal mantannya.


''Jadi beneran sudah mantan? Ara cuma asal nebak saja. Mas buruan gih keluar Ara bisa nunggu kok.'' bujuk Ara lagi. Biar bagaimanapun masalah sekecil apapun harus diselesaikan apalagi masalah mantan harus selesai sampai tuntas.


Gatra menuruti saran istri kecilnya.


''Mas keluar dulu ya, Rara di sini baik-baik ya? jangan melakukan hal yang aneh-aneh karena Mas cuma ngomong doang gak macem-macem.''


''Ara mau cakar-cakar kursi.'' sesaat Gatra hendak membuka pintu yang jadi urung dan menengok kembali ke Raranya yang sedang nyengir karena berhasil menggoda Gatra. Gatra yang gemaspun mencubit hidung mancung minimalis istri kecilnya.


''Ih.... Mas, sakit lho!'' Gatra tertawa lebar berhasil membuat istri kecilnya sewot, dan segera membuka pintu untuk keluar.


Air mukanya seketika berubah kala berhadapan dengan Clarita.


''Ada apa Ta?'' tanya Gatra datar.


''Gue mau minta maaf, tentang Alana.'' entah kenapa justru kalimat itu yang keluar dari mulut Clarita. Niatnya ingin minta maaf untuk dirinya sendiri tapi malah menjadikan adeknya tameng.


''Kenapa lo yang susah-susah minta maaf, lagipula masalahnya sudah selesai di dalam.''


''I..ya. ta_pi?'' pertemuannya dengan Gatra setelah sekian lama membuat Clarita gugup sekaligus senang. Mungkin dia harus berterima kasih pada adeknya, Alana.


''Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan, gue mau balik. Kasihan Rara kakinya masih sakit.'' alasan Gatra yang tak mau berlama-lama menanggapi Clarita.


''Tra, gue kangen banget ke elu. Gue pengen kita balik lagi kayak dulu.'' sotak saja ucapan Clarita membuat Gatra memicingkan matanya.

__ADS_1


''Clarita kisah kita sudah usai, dan gue gak ada niat untuk membuat kelanjutannya. Kita sudah punya kehidupan masing-masing dan kita jalani itu. AKU senang karena dulu elo ninggalin gue demi karier elo dan laki-laki yang lebih kaya dan mapan dari gue. Jadi urungkan niatmu yang ingin kita balikan.''


''Tra, Gatra. gue nyesel Tra. Ternyata cuma elo laki-laki yang bisa gue cinta.'' tetiba Clarita meraih tangan Gatra yang tentu saja dihempas oleh Gatra.


''Sorry Ta, gue sudah dapat yang lebih segalanya dari elo.'' terpaksa Gatra meninggalkan Clarita yang kalau diladeni akan membuat kepala pening.


Gue akan buat elo kembali ke pelukan gue Tra. Apapun caranya karena cuma elo laki-laki yang bisa memperlakukan gue dengan baik.


Clarita masih terpaku ditempat mesti mobil Gatra sudah melaju meninggalkannya.


''Kak? maaf gara-gara Alana Bang Gatra jadi marah dan cuek ke kakak.'' Alana yang sudah menyelesaikan hukuman pertamanya mendekati kakaknya yang ditinggalkan Gatra.


''Enggak dek, sudah mau pulang? mau bareng Kakak?'' Clarita tak ingin Alana tahu kalau dia sudah putus dari Gatra.


''Boleh?'' antusias Alana yang diangguki Clarita.


''Kak, Alana akan bantu biar Bang Gatra bisa baik lagi ke Kakak. Kalau perlu Alana akan dekati dan berteman dengan Ara. Tapi ya Kak, sejak kapan Bang Gatra punya keponakan Ara itu?''


Itulah yang menjadi pertanyaan dalam benak Clarita. Setahunya Gatra itu anak tunggal. Lah keponakan dari mana? Belum sempat Clarita mengorek informasi tapi Gatra sudah judes saja padanya.


''Dek, sudah lama keponakan Gatra sekolah di sekolah elo?'' Balik tanya Clarita karena sejatinya dia juga baru tahu ponakan Gatra.


''Gak papa.'' Keponakan dari mana? kenapa juga Gatra yang ngurusi sekolahnya. Sepertinta Gatra sayang banget ke keponakannya itu. Sabila, dia pasti tahu semua. Kupastikan bukanlah Sabila wanita yang menurut Gatra lebih segalanya dari gue.


"Kak! hati-hati jangan ngelamun.'' pekik Alana karena Clarita nyetir tidak memperhatikan jalan. Hampir saja kecelakaan terjadi.


''Sorry Dek.'' carut marut pikiran Clarita.


Sepeninggal Gatra yang kembali ke kantornya Ara sendirian di apartemen. "Bersih-bersih sudah, nyuci sudah masak? Mas Gatra pulangnya masih nanti malam.'' gumanan Ara


Drettt drettt drett.....


Ponsel Ara berbunyi ternyata Pia yang menghubungi.


''Assalamualaikum Pia. Ada apa?''

__ADS_1


'' Waalaikumsalam Ra elo ada dimana? gue ada di depan apartemen lo.''


"Mampir aja Pia, Ara ada di rumah kebetulan lagi sendirian. Ara jemput di lobby ya?''


''Ok Ra, jangan lama-lama ya?''


''Gimana kaki lo Ra? sorry ya Ra, gara-gara gue eli jadi kek gini.''


Rasa bersalah Pia membuatnya memberanikan diri mendatangi Ara. Pia ingin mengaku pada Ara, terserah nantu Ara akan menganggapnya apa dan bahkan jijik padanya. Pia akan terima itu.


''Udah gak papa kok, kamu jangan minta maaf terus. Ara sudah kenyang dengan permintaan maaf Pia dari tadi kita masih di sekolah.''


Kini mereka duduk di balkon yang ada di depan dapur. Menikmati secangkir teh dan kudapan ringan buatan Ara.


''Ra, lo tinggal di sini cuma berdua dengan Om lo?'' penasaran Pia karena kalau dilihat apartemen tipe studio bukanlah diperuntukkan untuk keluarga. Walau ada dua kamar.


''Hehem.'' jawab Ara sekenannya


''Sudah lama Ra, tinggal disini?''


''Baru sih, setelah papa meninggal dan menitipkan Ara ke Mas Gatra.'' gak salah kan jawaban Ara,karena memang papanya yang menitipkan Ara pada Gatra dengan menikahkan mereka.


''Ra, soal apa yang dibilang Alana tentang gue... '' Pia menunduk sungguh dia takut Ara akan menjauhinya kalau tahu siapa dia sebenarnya.


''Stop! jangan diteruskan!'' Pia menengadah kaget dengan suara keras Ara.


''Sorry Ra, elo pasti jijik sama gue.'' lirih Pia. ''Elo nyesel kan Ra, sudah kenal gue.'' sambung Pia


''Bukan gitu Pia, bukan hak Ara untuk menghakimi tingkah polah Pia. Siapalah Ara, yang juga manusia biasa yang hidupnya belum tentu lebih baik dari Pia. Ara cuma mau bilang kalau menyakitkan Pia gak usah cerita. Ara ngerti pasti ada alasan tersendiri mengapa Pia ngejalani hidup Pia seperti itu. Jauh sebelum Ara begini Ara juga punya masalah yang sampai sekarang Ara tidak tahu apa penyebabnya dan bagaimana menyelesaikannya. Ara harus selalu minum obat dan pergi ke psekiater, karena Ara akan merasakan sakit kepala yang amat sangat bila ingin tahu. Hingga Akhirnya Ara memilih untuk tidak ingin tahu, karena Ara gak tahan dengan sakitnya. '' kedua tangan Ara menggenggam dua tangan Pia seolah ingin memberi kekuatan disana. Lelehan air mata Pia tak terbendung. Pia memeluk erat Ara yang mau menjadikanya teman tanpa 'tapi'.


Tanpa mereka berdua sadari ada sosok yang ikut mendengarkan.


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2