Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
67. Masih Belum Bisa


__ADS_3

Gatra keluar dari kamarnya, turun menuju ruang keluarga rumah orang tuanya. Niatnya dia mau istirahat di situ sambil menunggu hari agak sorean, untuknya mengajak Ara pulang ke apartemennya.


Ternyata ayahnya sudah terlebih dulu berada di ruangan itu, ayah Sukma baru saja pulang dari kantornya. Sengaja pulang awal karena tahu anak menantunya datang hari ini.


''Yah tumben jam segini sudah ada di rumah?'' Gatra mendudukkan diri di sofa yang ada di depan sofa yang di duduki ayahnya. Posisi mereka berhadapan tanpa ada meja yang membatasi, cuma karpet tebal yang berada di tengah-tengahnya.


''Harus dong!! kan menantu ayah datang hari ini. Ayah sudah gak sabar menyambut kedatangan Ara untuk berada di tengah-tengah keluarga kita.'' ujar ayah dengan gembiranya.


Bunda datang dari dapur membawa secangkir teh yang tentu saja untuk suaminya tercinta.


''Sayangnya Ara gak akan tinggal dengan kita Yah, noh anak ayah mau memonopoli istrinya.'' Bunda duduk di sebelah ayah menyerahkan secangkir teh yang dibawanya pada Ayah Sukma.


Kelihatan ayah mengernyitkan dahinya, walau dia sedang menyersap teh yang dibuatkan istri tercinta.


''lha Ara mau tinggal dimana?'' ayah meletakkan cangkir teh di meja mini yang ada di sebelah sofa yang didudukinya, namun matanya menatap tajam Gatra. Seolah menuduh bahwa Gatra sumber kesalahan dari pernyataan bunda.


''Jangan salahkan Gatra dong Yah! noh si Farel mencarikan sekolah untuk Ara disekitaran apartemen Gatra.'' Gatra mencoba membela diri sebelum si ayah menyalahkannya.


''Ayah kok semakin tidak mengerti ya, Bunda saja yang menerangkan.'' Ayah meminta Bunda untuk menceritakan apa yang telah terlewatkan oleh Ayah.


Bundapun mulai bercerita mulai dari Farel yang telah mendapatkan sekolah untuk Ara, tentang Gatra yang minim dalam memberikan informasi, semua diceritakan oleh Bunda tak ada yang terlewatkan.


''Jadi, Ara mau kamu ajak tinggal di apartemenmu itu, Tra? '' tanya ayah setelah bunda selesai bercerita.


'' Iyalah Yah, mau gimana lagi kalau dipaksakan tinggal di sini kan kasihan waktunya habis di jalan.''


''Sebenarnya Ayah lebih suka kalau sementara Ara tinggal di sini dulu. Setidaknya ada Bunda yang menjaganya kalau Ayah sedang keluar rumah. Tapi ingat Tra, walau status Ara itu istri sahmu, kalau bisa jangan kamu gauli dulu. Kasihan dia masih kecil. Tunggulah sampai dia lulus sekolah dulu, itupun kalau dia mau. '' diakhir kata-katanya masih saja ayah menggoda anak semata wayangnya itu.


Dengar tong paduka aja sudah bertitah kamu masih belum bisa untuk menjelajah gua impian. Kasihan kamu tong, padahal abangmu ini sudah menghalalkan pemilik gua impianmu. Sabar dulu bersama abang ya, tong. Nanti akan indah pada waktunya. Bila masa itu telah tiba abang akan bantu entong untuk mengobrak-abrik gua impian entong.


''Tra?! lah bocah, dikasih tahu orang tua juga, malah bengong. Piknik kemana pikiran kamu?'' Gatra tergagap oleh omelan Bunda.


''Jadi dari tadi Ayah ngomong, kamu kacangin Tra?'' sewot Ayah.


''Eh...enggak. Gatra mendengarkan kok, Yah.'' Gatra tersadar dari pikiran kotornya.

__ADS_1


''Jangan bilang pikiran kamu lagi tamasya mendaki gunung lewati lembah ya, Tra?!'' kompor Bunda ke Gatra. Ini sebenarnya yang ngundang piktor Bunda apa si Gatra seh.


''Tra, Ara itu sudah gak punya siapa-siapa lagi cuma kita keluarganya saat ini. Jadi Ayah mohon ke kamu untuk bisa menjaga dan mengayomi Ara. Memang salah bila seorang istri menolak melayani suaminya, tapi itu berlaku untuk pasangan yang menikah normal. Sedang Ara, kamu tahu sendiri kan berapa umur Ara, dan statusnya yang masih anak SMA. Bila kalian sudah tinggal berdua nanti kontrol dulu nafsumu. Ini bukan berarti kamu boleh seenaknya menuntaskannya diluaran ya!''


''Kalau sampai Bunda tahu kamu macam-macam di luaran, Bunda potong itu si entong!''


Kenapa ini pasangan paruh baya jadi pada horor gini. Bunda pakai bawa-bawa mau potong si entong segala. Nggak nyadar dia dari siapa dia nanti bisa dapat cucu. Tanpa andil si entong gak bakalan cucunya ntar lahir.


''Ayah sama Bunda tenang saja, Gatra punya cara tersendiri buat merebut hati Ara. Gak mungkin Gatra akan menggauli Ara kalau Ara belum siap dan iklas lahir batin untuk menyempurnakan perannya sebagai istri. Gatra akan menunggu sampai waktunya tiba. Selama itu Gatra akan tetap menjaga Ara seperti yang telah Gatra janjikan pada Om Randy.''


Nyess


kata-kata Gatra bagai telaga bening bagi musafir yang kehausan dalam perjalanan. Sebagai orang tua mereka bangga, walau Gatra memilih mandiri dan tinggal terpisah dari mereka, tapi Gatra mampu menjaga diri dari pergaulan bebas. Bahkan mampu merintis usaha sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.


''Apa, Gatra bawa pulang ke apartemen sekarang saja ya, takutnya kalau kemalaman apalagi macet. Biar bisa siap-siap untuk besok persiapan sekolahnya.'' Gatra terpaksa membuat alasan untuk bisa menghindari obrolan yang yang kalau didengar si otong bisa semakin membuatnya sakit hati.


'' Begitu juga gak papa. Biar Bunda minta mbak Asih menyiapkan makanan buat bekal kalian nanti malam. Kasihan Ara kalau sampai apartemenmu nanti kelaparan dan harus turun lagi buat cari makan.'' Bunda bangkit dari duduknya hendak menuju dapur. Baru beberapa langkah Bunda balik badan lagi.


''Tra unit kamu kan kamarnya dua, jadi Bunda harap kalian tidurnya terpisah dulu. Awas ya kalau sampai Bunda pas nengokin kalian nanti tidurnya satu kamar.'' ancaman baginda ratu kelihatannya tidak main-main.


''Iya Bun, ini juga Gatra mau cepat-cepat ke apartemen juga biar bisa bersih-bersih dulu bakal calon kamar Ara nanti.'' jawab Gatra melunak. Mana ada orang sudah nikah tapi harus tidur terpisah. Yang ada malah dipaksa untuk satu kamar apalagi kalau pernikahan itu paksaan atau perjodohan, ya gak seh?


Ceklek


Ternyata Ara tidak tidur, dia cuma duduk bersender pada kepala ranjang.


'' Ra, ternyata kamu tidak tidur?'' Gatra menghampiri Ara dan ikutan duduk di pinggiran ranjang.


''Ara gak bisa tidur, Mas.'' Ara membenahi posisi duduknya menjadi agak tegak.


'' Kalau begitu kita ke apartemen sekarang saja, biar gak kemalaman dan masih bisa untuk bersih-bersih bakal kamar kamu nanti.''


Ara menyibakkan selimut yang dari tadi dipakai menyelimuti kakinya dan beringsut bangun lewat sisi dipan yang tidak diduduki Gatra.


''Ayah.'' panggil Ara ketika sampai di ruang keluarga dan mendapati Ayah Sukma di sana.

__ADS_1


Ada keinginan lebih lama lagi untuk tetap bersama ayah dan bunda, tapi Ara sudah terlanjur menyanggupi ajakan Gatra untuk ke apartemennya.


''Sini duduk smping Ayah!'' Ara menuruti untuk duduk di samping Ayah Sukma. '' Gimana? capek gak perjalanannya?''


''Enggaklah Yah, kan gak lama dari rumah sampai sini juga cuma dua jam.''


Ayah terkekeh dengan jawaban Ara. Bunda yang telah siap dengan bekal buat anak dan menantunya datang dari dapur. Menyerahkan bekalnya pada Gatra untuk dimasukkan ke mobil. Lalu ikut duduk disamping Ara.


''Padahal Bunda inginnya Ara tinggal sama Bunda di sini, tapi gak papa nanti kalau akhir pekan minta masmu buat diantar ke sini ya? paksa kalau gak mau. Kalau gak telepon Bunda biar Bunda yang jemput Ara.''


''Iya, Bun.''


''Ra...'' suara Bunda lirih. ''Ara menikah dengan Mas Gatra kan serba mendadak ya? dari hati kecil Ara pasti Ara juga belum siap kan untuk jadi seorang istri, apalagi sekaramg ini Ara masih sekolah. Bunda cuma mau mengingatkan kalau masmu minta macam-macam Bunda ijinkan Ara untuk menolaknya. Seperti air yang mengalir, Bunda ingin Ara menjalani pernikahan Ara. Bunda ingin selamanya cuma Ara menantu Bunda. Jadi berusaha ya Nak, untuk menjalaninya. Apalagi penikahan ini juga amanah dari papanya Ara. Kalau sampai Ara disakiti oleh Mas Gatra, Ara datang ke Bunda. Bunda akan pasang badan untuk Ara, bukan cuma masmu siapa saja yang menyakiti Ara bilang ke Bunda.'' Ara memeluk haru Bunda.


Bahagianya Ara bisa mempunyai ibu lagi, merasakan pelukan seorang ibu lagi.


Gatra dan Ara pulang ke apartemen diantar oleh sopir Ayah, tentu saja dengan memakai mobil Ayah. Karena tadi sewaktu dari bandara yang menjemput Farel dan mobil Gatra masih ada di kantornya sejak dari Gatra berangkat ke Semarang hingga meninkah mendadak dengan Ara.


Setelah cipika cipiki dengan Bunda dan bekal wejangan yang itu-itu saja untuk Gatra kini mereka siap meluncur menembus padat dam macetnya jalanan kota.


Ketika akan melintasi gerbang rumah, Pak Ahmad sopir ayah agak menepikan mobilnya karena ada mobil tamu yang lebih dulu sampai gerbang.


Ara duduk di kursi belakang disampingnya ada Gatra. Ketika mobil tamu itu melintasi mobil yang Ara tumpangi, mendadak Ara merasakan nyeri pada dadanya, dan jantungnya berdebar kencang. Ara memegangi dadanya dan meringis. Gatra yang melihat Ara demikian Gatra meraih tangan Ara satunya.


''Kenapa, Ra?''


''Enggak tahu mas, tadi tiba-tiba nyeri dan berdebar-debar. Sekarang sudah gak lagi.'' rasa itu hilang seketika saat mobil yang ditumpangi Ara sudah berada di luar gerbang rumah Ayah dan Bunda.


*


*


*


*

__ADS_1


Nah lo ada apa dengan Ara ya?


Yuk ramaikan komentnya kesayanganku. Jangan lupa likenya juga, terimakasih.


__ADS_2