
Bunda baru saja datang ke hotel tempat Ayah menginap setelah dijemput oleh Gatra di bandara. Bunda datang dengan penerbangan pertama dari Jakarta.
''Senengnya Bunda bisa balik ke sini, tak sabar pengen segera bertemu Ara. Ahh pengen ngajak Ara jalan-jalan.'' guman Bunda saat menunggu pesanan sarapan yang kesiangan. Mereka bertiga sarapan bersama di restoran terbuka, hingga bisa melihat jalanan pusat kota Semarang.
'' Bun, ada anak kandungmu di sini, teganya bilang kangen ke anak orang.'' sindir Gatra ke Bunda.
''Oh, jadi Kamu mau diajak Bunda jalan-jalan?''
Lah malah keluar tanduknya.
''Gak gitu juga, Bun.''
''Terus apa, sudah tua juga masih mau jalan sama ibunya. Patasnya Kamu jalan sama Ayah, kalau jalan sama Bunda, ntar dikiranya Bunda jalan sama brondong, kan gak asik.''
Bukan hanya pikniknya yang kejauhan, tapi pikirannya juga kejauhan. Emang nasib anak dari pasangan yang menikah muda, selalu dianggap tua, padahal mereka sendiri juga menua.
''Tra, kasih Bunda uang dong buat beli hadiah ulang tahun Ara, Bunda kan belum sempat kasih Ara hadiah.'' rajuk Bunda yang sebenarnya untuk menggoda Gatra. Kalau beneran dikasih ya, alhamdulillah. Kalau gak, emm anak durhakim Dia, kerja keras selama ini buat apa coba? pacar juga gak ada.
''Lha itu suami ada di sebelah, kok minta ke brondong tua.'' balas Gatra yang langsung dapat cubitan manis dari Bunda.
''Bunda, aneh punya suami kaya raya, giliran mau kasih kado orang duwit minta Gatra.'' gerutu Gatra.
''Mau kasih gak?!'' nada Bunda sudah naik satu oktaf.
''Iya, mau Bun.''
''Yang ikhlas!''
''Iya, ikhlas Bun, ikhlas.''
Dasar mak gue punya keahlian kok tukang maksa.
''Nah gitu dong, nanti Bunda belikan kado ulang tahun untuk Ara atas namamu, biar Dia berkesan.''
Berkesan dari Hongkong.
''Emang uang yang Ayah berikan kemaren habis Bun?'' tanya Ayah, karena tak biasanya istrinya itu akan menghamburkan uang pemberiannya.
''Sudah habis buat arisan kemaren, Yah. Arisannya seh cuma satu perhiasan tapi ada tawaran satu set, dan itu sangat bagus Bunda langsung menyukainya. Makanya langsung Bunda ambil semuanya.'' ucap Bunda santai.
Ayah cuma bisa tepuk jidat karena uang yang kemaren dikeluarkan tidaklah sedikit. Gatra tersenyum puas melihat raut muka Ayahnya. ''be-ra-pa?'' tanya Gatra tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak.
Ayah tahu maksud pertanyaan Gatra dan tanpa suara mengacungkan ke lima jarinya.
''Kalian kenapa?'' Bunda sudah selesai dengan makanannya dan melihat suami dan anaknya krasak krusuk gak jelas.
''Oh... gak.. ini kepala Ayah gatal.'' Ayah menurunkan tangannya dan pura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Maaf, Bapak dan Ibu mengganggu acara sarapannya, itu di lobby ada polisi ingin bertemu dengan Bapak Sukma.'' seorang pelayan mendekat.
''Pasti Randy, kenapa gak langsung ke sini saja.'' guman Ayah.
''Tapi ini pak...'' kata si pelayan tak selesai keburu disela Ayah.
''Ya, gak papa biar saya ke lobby.''
Mengikuti pelayan hotel menuju lobby. Ternyata bukan Randy sahabatnya yang ditemui tapi polisi muda, lebih muda lagi dari anaknya.
'' Dengan, Bapak Sukma?'' tanya polisi tadi.
''Iya, ada apa ya, Mas Polisi?''
'' Ada berita duka yang harus Kami sampaikan. Semalam ada yang sengaja melakukan teror bom bunuh diri di poskota jalan xxx kota xx . Kebetulan Bapak Randy sedang berada di sana, dan beliau terluka parah. Saat ini beliau sudah dibawa ke rumah sakit dr. Karnadi dan sudah siuman. Beliau meminta bertmu dengan Anda.''
__ADS_1
Deg
Tubuh Ayah Sukma terhuyung ke belakang. Lemas, seakan tulangnya tak mampu menumpu tubuhnya. Untunglah Gatra dan Bunda segera menghampiri dan memapah tubuh Ayah dan membawanya duduk di sofa tunggu lobby.
''Ada apa ini, kenapa Ayah jadi pucat begini.'' panik Bunda, pikirannya jadi kemana-mana takut Ayah terseret tindak kriminal.
Polisi muda tadi mengulangi berita yang di sampaikan pada Ayah, ke Bunda dan Gatra.
Tak kalah kagetnya dengan Ayah, Bunda mendengar berita tersebut. Gatra segera membuka ponselnya, dan mencari berita yang disampaikan oleh polisi di hadapannya. Dan sayangnya berita tersebut benar adanya, bahkan ada tiga korban yang lansung meninggal di tempat, satu diantaranya pelaku bom bunuh diri sendiri.
Bunda terisak semakin lama semakin keras, menyebutkan nama Ara.
''Ara, hiks. hiks. hiks... bagaimana dengan Ara, yah?'' Ayah hanya diam saja, mendengar tangisan istrinya. Hatinya tak kalah hancur lebur dengan musibah yang menimpa sahabatnya.
''Bapak Sukma bisa kita segera ke tempat Bapak Randy dirawat?'' pinta polisi yang bernama Arman yang menyampaikan pesan.
''Lalu Ara, bagaimana? apakah Dia sudah tahu Papanya...hiks. hiks. hiks.''
''Maaf Ibu, Kami belum memberitahukan berita ini kepada putrinya. Dia masih berada di sekolah.'' terang polisi Arman.
''Kalau begitu kita jemput Ara!'' paksa Bunda.
Datang polisi satu lagi dan berkata pada polisi Arman.''Maaf komandan, biar Saya yang mengantar ibu ini ke sekolah putri Bapak Randy. Komandan bisa pergi dengan Pak Sukma terlebih dahulu.''
''Gatra, Kamu ikut Bunda. Bunda takut gak kuat lihat Ara nanti.
********
Ratih yang biasanya cerewet cuma diam saja. Dari tatapan yang diberikan oleh kakaknya, Ratih tahu pasti terjadi sesuatu yang pasti akan membuat Ara, sahabatnya bersedih. Tapi sungguh Ratih tidak menduga kalau yang terjadi adalah Papanya Ara terbujur di atas brangkar ICU dengan luka di sekujur tubuhnya.
Tangisan Ara yang meraung-raung menyebut nama Papanya, membuat pilu semua orang yang bersamanya.
Tadinya Papa Randy sempat siuman dan sempat berbicara pada Ayah Sukma. Sekarang sedang tertidur, karena pengaruh obat yang disuntikkan lewat selang infus oleh dokter agar Papa Randy jangan terlalu banyak bicara dan bergerak dulu.
''Gatra, selama ini Ayah belum pernah meminta dan menuntut pada Gatra. Untuk sekali ini saja, Ayah memohon dan meminta agar Gatra mau mengabulkan keinginan yang mungkin menjadi keinginan terakhir sahabat Ayah.'' Mata Ayah memerah menahan tangis. Ini keputusan yang berat untuk anaknya, tapi di sana sahabatnya sedang meregang nyawa.
''Keinginan apa, Yah?'' tanya Gatra bingung.
Bunda yang melihat Ayah dan Gatra menjauh, mengikuti dan mendengar semua yang dibicarakan Ayah.
''Apa keinginan Randy, Yah?'' kali ini Bunda yang bertanya.
Ayah dan Gatra menoleh ke Bunda yang ternyata ada diantara mereka.
''Apa, Yah?'' desak Bunda.
''Randy ingin menjadi wali nikah untuk Ara, Dia merasa waktunya tidak banyak dan Dia mengamanahkan Ara pada Gatra.
DEG
Ini lebih dari kaget untuk Gatra. Pemintaan Papa Randy tempo hsri bukanlah main-main. Dan menikah adalah komitmen seumur hidup. Bagaimana Gatra menjalaninya nanti. Dan yang akan menjadi pasangannya adalah gadis kecil yang SMA saja belum lulus.
Ratih yang kebetulan dari toilet mendengar Ara akan dinikahkan langsung balik arah, kembali ke toilet dan mengirim pesan ke Naina.
📨 Na ke Karnadi sekarang! Ara mau dinikahkan.
pandangan Gatra tertuju pada sosok mungil yang sedang terisak dan bersandar pada guru muda berhijab.
Apakah memang engkau jodoh yang dikirimkan untukku gadis kecil.
Guru muda yang menjadi sandaran Ara menjadi salah tingkah dengan tatapan Gatra.
''Bagaimana, Tra?'' tanya Bunda yang jadi ikut dilema. Kalaupun Gatra mau belum tentu Ara mau.Dan juga Ara masih dibawah umur.
__ADS_1
''Bagaimana, Bun?'' Gatra yang tersadar dari lamunan balik bertanya pada Bundanya.
Drettt drett
Ponsel Gatra berbunyi ada panggilan masuk dari sahabat dan juga rekan kerjanya, Farel.
📞..''Tra Lo di mana? Gue nyampe hotel tempat Lo nginep Kagak ada?''
''Gue di rumah sakit dr karnadi, Lo buruan ke sini. ''
Gatra yang langsung menutup panggilan, membuat Farel berfikir terjadi sesuatu pada Gatra, dan langsung mencari taksi untuk mengantarnya ke tempat Gatra berada.
''Siapa?''
''Farel, Bun.''
********
Dokter yang menangani Papa Randy keluar dari ICU, mengabarkan kondisinya sudah stabil dan sudah sadar. Papa Randy mau bertemu dengan Ara dan Gatra.
Ara yang mendengar Papanya telah sadar buru-buru ingin masuk ruangan ICU.
Setelah memakai baju steril, Ara berada di samping Papanya. Isak tangisnya masih terdengar.
''Papa, jangan tinggalkan Ara, Pa.'' Ara meremas tangan Papanya. Lidahnya terasa kelu banyak yang ingin disampaikan tapu tak bisa keluar.Hanya tangisnya yang tak mau berhenti. Melihat luka di sekujur tubuh, Papanya pasti sangat kesakitan.
Melihat Ara Papa menampakkan senyumnya.
''Ara kuat, ya.'' ucap Papa tertatih. ''jangan nangis.'' lanjutnya.
''Ara, Papa ingin Ara nikah, sebelum Papa..''
''Enggak. gak ! Papa gak boleh ngomong begitu. Papa akan selalu bersama Ara hiks. hiks. hiks.''tangis Ara pecah lagi.
''Ara...harus ada yang jaga Ara, kalau Papa gak ada.'' Ara tetap menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terisak.
''Gatra.'' Gatra yang dari tadi masuk dan terdiam, mendekat ke Papa Randy karena namanya disebut.
''Om serahkan Ara padamu. Tolong jaga dan sayangi Ara. mohon.''
Gatra mengangguk. Tak tega rasanya melihat Papa Randy penuh luka.
Dokter yang merawat Papa Randy masuk dengan diikuti Ayah Sukma. Dokter bilang ke Ayah Sukma suatu keajaiban dengan kondisi yang seperti itu Papa Randy masih bisa bertahan.
''Mas, sudah kamu siapkan segala sesuatunya? ''
''Iya Ran, tapi Kamu janji harus sembuh ya?'' Papa Randy tidak menanggapinya.
Ayah Sukma keluar ICU, menghampiri istrinya, seperti tahu maksud suaminya Bunda mengangguk.
Sebelum masuk ICU tadi Ayah sudah berbicara tentang keinginan Papa Randy dengan Bapak Kapolda yang datang bersama jajarannya. Kemudian disusul Pak Gubernur. Dan kedua pejabat penting itu bersedia menjadi saksi.Kapolda meminta Ramma anggotanya untuk menghubungi Bapaknya yang seorang penghulu. Bapaknya Ratih dan Ramma adalah penghulu di KUA Semarang, yang tiga hari lalu menikahkan anak Kapolda.
Farel sahabat Gatra datang, kaget karena banyak orang di depan ICU. Bukan cuma orang biasa tapi berseragam polisi dan Gubernur juga ada. Untunglah Farel melihat Bunda, Farel menghampiri Bunda.
''Bun, ini... Gatra kenapa Bun?'' Farel khawatir pada Gatra.
''Farel, Gatra gak papa, habis ini tolong kamu siapkan berkas-berkas Gatra ya?'' lah makin bingung Farel.
Ruangan ICU telah disetting sedemikian rupa supaya bisa digunakan untuk acara ijab kobul dan tetapa nyaman untuk Papa Randy.
Penghulu telah datang, Gatra telah lebih dulu bersedia menikahi Ara. Setelah agak lama akhirnya Ara juga bersedia. Penghulu menanyakan mas kawinnya apa. Pernikahan ini terlalu mendadak tentu saja mas kawinnya belum tersedia.
Bunda mengeluarkan kotak yang ternyata berisi satu set perhiasan mutiara berlapis emas. Ternyata kemaren Bunda lupa mengeluarkan perhiasan yang didapat dari arisan kemaren dari tasnya.
__ADS_1
''Ini maharnya, Pak penghulu.''