Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
74. Rissa Dan Ettan


__ADS_3

di salah satu living plaza kini Ara dan Gatra berada. Tepatnya dibagian display perabot rumah tangga. Tepatnya kini mereka berada di showroom kamar tidur.


Ara bingung harus memilih yang mana model kamar untuknya. Semua bagus-bagus. Ruangan untuk kamar tidur remaja lengkap dengan tempat tidur, lemari, meja belajar dan pernak-pernik khas remaja tertata rapi dengan pilihan warna ada di sini.


''Mas, semuanya bagus. Ara bingung mau pilih kamar yang mana?'' setelah meneliti satu persatu model kamar tidur yang ada Ara kembali mendekati Gatra yang sedang fokus dengan gawainya.


Gatra yang juga tidak begitu paham dengan selera anak muda apalagi perempuan juga ikutan bingung.


Gatra memanggil pegawai yang ada di situ untuk meminta tolong menjelaskan keunggugulan dan kualitas masing-masing produk yang mengisi masing-masing kamar, agar lebih mudah untuknya memilihkan kamar tidur untuk Ara.


Pegawai yang bernama Burhan menerangkan bahwa tiap material yang ada di tiap kamar adalah dari satu merk. Tidak setiap desain kamar yang ada harus dibeli semua. Bisa ditinggal atau mengambil dari display kamar lainnya. Karena pelanggan memilih jenis kamar tidur remaja perempuan si pegawai menduga pasti kamar yang akan dibeli untuk Ara. Maka dia bertanyanya pada Ara


''Warna kesukaan adeknya warna apa? suka ruangan yang simple apa banyak barang di dalamnya? suka mengoleksi apa?'' tanya si pegawai beruntun.


''Ara suka ungu, hijau juga suka. Ara gak punya koleksi. Yang simple saja saja biar gak repot. yang penting bisa buat belajar dan naruh buku.'' jawab Ara


''Luas kamar yang tersedia berapa Mas?'' kali ini pertanyaan ditujukan pada Gatra.


''4x4 meter dan kami tinggal di apartemen xxx dan apa bisa langsung dipasangkan hari ini juga?'' bisa-bisa dia tidur di sofa lagi bila kamar Ara tidak jadi hari ini juga.


''Saya rasa masih bisa karena ini masih siang hari. Hanya pembelian di atas jam lima kami baru bisa mengirimkan dan memasangkannya esok harinya.'' terang si pegawai ''Mari kita lihat pilihan yang sesuai dengan keinginan Adeknya.'' ajak pegawai untuk melihat contoh kamar dengan nuansa warna favorit Ara.


Contoh kamar satu nuansa warna ungu. Dari bed cover, warna dinding hingga kursi belajar dan lemarinya ungu semua.


Contoh kamar dua nuansa hijau, bedanya dengan yang nuansa ungu, pada nuansa hijau ada rak untuk buku yang terpasang pada dinding dan untuk tempat tidur ukurannya lebih kecil dan ada pemanfaatan pada kolongnya terlihat ada dua laci dibawah tempat tidur itu.


Ara lebih menyukai yang nuansa hijau. Karena yang nuansa ungu hampir mirip kamarnya yang ada di Semarang. Lagi-lagi Ara bertanya pada Gatra.


''Mas Gatra suka yang mana? kalau Ara suka yang hijau kelihatannya seger berasa berada di kebon.''


Gatra terpaksa menggangguk setuju dengan pilihan Ara, padahal dia pikir Ara akan memilih yang nuansa ungu seperti kamarnya yang di Semarang.


Kalau tempat tidurnya kecil dan sempit gitu mana mungkin dia bisa ikut nyempil di situ. Haduh Gatra tidak suka dengan yang nuansa hijau hanya karena tempat tidurnya yang kecil dan sempit?. Kenapa pikiran Gatra jadi traveling ke tempat tidur?.

__ADS_1


''Masss... gimana?'' Ara menggoyangkan tangan Gatra yang entah mengapa jadi bengong.


''Iya Rara boleh pilih yang hijau.'' Gatra mendekat ke pegawai dan bertanya apakah untuk tempar tidur bisa diganti ukurannya menjadi lebih besar. Lah kenapa Gatra ngebet banget dengan tempat tidur untuk Ara. Kalau ketahuan Bunda gimana?.


''Maaf Pak, untuk merubah ukuran tempat tidur berarti merubah konsep dari keseluruhan perabot yang ada.'' jawab si pegawai.


''Ada apa Mas?'' tanya Ara


''Gak papa. Beneran Rara mau yang ini?'' Ara mengangguk.'' Kami ambil yang ini.'' lanjut Gatra pada pegawai tersebut.


''Baik Pak, sebentar saya catatkan apa saja yang tersedia untuk dibayarkan. Barangkali ada perabot lain yang ingin ditambahkan?'' tanya si pegawai. Ara menggeleng.


''Untuk sprey dan bed cover bisa diganti dengan yang masih terbungkus?'' mengingat begitu kamar terpasang akan langsung ditempati oleh Ara, Gatra tidak mau ambil resiko Ara akan menderita gatal-gatal. Barang yang sudah didisplay pasti sudah banyak debu yang menempel, belum lagi untuk pengunjung lain pasti juga menentuh dan mencobanya.


''Sebentar saya tanyakan bagian gudang Pak.''


Sementara menunggu Gatra nampak tertarik pada desain kamar untuk pasangan yang bernuansa putih dengan kelambu berwarna putih gading. kamar tersebut diset untuk suasana romantis. Gara-gara berada di showroom kamar tidur pikiran Gatra jadi ahhh....tepukan si pegawai mengagetkannya.


''Ayuk! Rara kita lanjutkan pencarian kita.'' Gatra menggandeng Ara menuju ke area perlengkapan dapur.


''Mas...''


''Hem'' Gatra tak lagi menggandeng tapi sudah merangkul Ara. ''Apa Rara?''


''Ara menghentikan langkahnya. ''Dari tadi Mas Gatra keluar uang terus, dan gak sedikit lho pakaian, perhiasan, kamar Ara dan sekarang masih mau belanja lagi.'' Gatra terkekeh dengan kekhawatiran Ara pada keuangannya.


''Terima kasih, inilah yang Mas syuka dari Raranya Mas. Jangan khawatir semua ini sudah Mas persiapkan dari dulu untuk istri Mas. Istri Mas sekarang siapa?''


''Ara''


Gatra melengkungkan dua sudut bibirnya ke atas. ''Jadi siapa yang berhak menikmati apa yang sudah Mas persiapkan?''


''Ara''

__ADS_1


''Istri pintar.'' Gatra mengacak-acak rambut di puncak kepala Ara.


''Mas Gatra ihhh... berantakan rambut Ara!'' Ara menyisir rambutnya dengan jari. Gatra semakin gemas saja dengan istri kecilnya itu.


Ara mulai mengeluarkan catatan perlengkapan dapur yang akan dibeli. catatan yang begitu panjang yang pasti akan segera membuat sesak dapur minimalis apartemen Gatra.


''Bang Gatra.'' seorang perempuan menepuk punggung Gatra dari belakang, membuat siempunya menoleh.


''Rissa!'' kaget Gatra dan membuat Ara juga ikut menoleh.


''Rissa sempet ragu tadi beneran Bang Gatra bukan? ternyata iya abang. Ngapain di sini Bang?'' aneh melihat Gatra yang datar dan dingin ada di perlengkapan dapur.


''Ngantar istri cari perlengkapan dapur.'' jawab santai Gatra tapi tidak santai didengar Rissa.


''Istri? kapan Bang Gatra nikah? kok mamah gak kasih tahu aku ya? kalau Abang sudah menikah.'' Rissa masih tidak percaya kalau laki-laki yang didambakannya sudah menikah. Musnah sudah harapannya bersanding dengan Gatra.


Ara mendekat pada Gatra penasaran dengan perempuan yang berbicara dengan Gatra. ''Mas.''


''Rara sini!? kenalan sama anaknya teman Bunda, Rissa.'' Gatra memperkenalkan Ara pada Rissa. '' Rissa, ini istriku.''


''Ara'' mengulurkan tangannya pada Rissa.


''Rissa.'' Rissa menyambut uluran tangan Ara.


kok bisa Bang Gatra sudah menikah.Mana istrinya bening banget gitu. Apa dia salah satu calon model iklan yang sedang dikerjakan Bang Gatra? sepertinya masih kecil istrinya Bang Gatra ini.


''Kak!'' suara laki-laki mengagetkan Rissa yang bengong sendiri karena Gatra sibuk memilih coffee maker bersama istrinya.


''Ettan! kamu ngagetin kakak.'' si adeklah yang mengagetkan Rissa.


''Lagian elu ngapain bengong di situ? katanya mau nyari perlengkapan camping.'' si adek tak terima disalahkan.


Mendengar ada keributan Gatra menoleh, ternyata Rissa dan Ettan. Kakak beradik yang sedang ribut.

__ADS_1


__ADS_2