
Bersama keluarga barunya, yaitu mertua dan suaminya. Ara memasuki rumah bernuansa putih dengan gerbang hitam tinggi menjulang yang barusan dilewatinya. Rumah yang ukurannya berkali lipat ukuran rumahnya di Semarang.
''Bunda ini rumah siapa?'' Ara tak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya dan bertanya pada bunda yang duduk di sebelahnya. Tak mungkin bertanya pada Gatra, karena dia duduk di depan di sebelah Farel yang menjemput rombongan Ara di bandara.
''Ini rumah ayah dan bunda, yuk! turun.'' ajak bunda ketika mobil yang dikendarai Farel telah berhenti.
Ara masih terpaku pada keindahan rumah mertuanya. Sangat kontras dengan rumah yang ada disekelilingnya, mengingat rumah mertuanya bukanlah di komplek perumahan elite, tapi di perkampungan biasa.
Gatra yang juga baru turun dari mobil mengira Ara yang belum masuk ke dalam kembali was-was takut kalau Ara minta balik ke Semarang lagi.
''Ra....'' panggil Gatra lembut. '' Kenapa belum masuk?''
''Eh, enggak. ini_ _ Ara lagi kagum, rumah Mas Gatra kayak istana negri dongeng.'' Ara tersipu malu kalau-kalau Gatra mengaggapnya katrok.
''Oh gitu.'' ada kelegaan di hati Gatra. ''Ara suka rumah ini?'' Ara mengangguk.'' Sayangnya ini bukan rumah Mas Gatra, Ra. Ini rumah Ayah dan Bunda. Tapi kalau Ara suka rumah model begini insya Allah Mas akan berusaha membuatkan yang lebih bagus lagi dari ini untuk Ara. Yuk masuk!?''
Niat Gatra menggombal ke Ara, sayangnya Aranya kurang peka wajahnya datar saja tak ada rona-rona merah karena malu atau tersanjung sedikitpun. Dan mendahului Gatra untuk masuk ke dalam rumah. Farel yang ada di belakangnya tak mampu menahan tawa, seketika meledak tawanya. Untung Ara sudah masuk ke dalam rumah, sehingga tak melihat tawa Farel yang ditujukan pada Gatra.
''Puas lo kamvret!!!'' hardik Gatra pada asisten plus sahabatnya itu.
''Puas pakai banget.'' Farel tetap menggoda sahabatnya itu. Mereka masuk rumah dengan saling dorong dengan Farel yang tetap tertawa dan Gatra yang memberengut.
Sampai di ruang tengah dimana Ara dan Bunda sudah duduk di sana.
''Kalian kenapa?'' tanya Bunda yang melihat tingkah anak dan sahabatnya.
''Gak papa Bun, Gatra lagi ten....'' belum selesai Farel ngomong sudah dapar lemparan bantal kursi. dari siapa lagi kalau bukan dari Gatra.
''Sudah. sudah, kalian kebiasaan kalau bercanda susah berhenti. Ini kenapa koper Ara belum dibawa masuk, sih?'' tanya Bunda yang melihat Gatra dan Farel masuk rumah hanya melenggang kangkung.
''Gue kira elu tadi lama nurunin koper Ara, Rel.'' Gatra ikutan bertanya pada Farel.
''Gue kira kita ke sini cuma singgah setelah ngater Bunda. Emang elu mau pindah ke sini?'' tanya balik Farel ke Gatra. langkah yang diambil dari ketidakjelasan informasi yang dia tangkap dari Gatra membuat dia bingung sendiri.
Spontan pertanyaan Farel menyadarkan Gatra bahwa dirinya sudah tidak sendiri, sudah ada Ara yang harus dia beri perlindungan dan tempat tinggal.Dan apa iya Ara mau diajak tinggal di apartemennya.
''Maksudnya apa, Farel?'' Bunda ikutan bingung dengan pertanyaan Farel.
''Gini lho Bunda, Farel kira Ara akan tinggal dengan Gatra di apartemennya Gatra, secara mereka kan sudah sah suami istri. Makanya kemaren Farel mencarikan sekolah untuk Ara yang dekat dengan apartemen Gatra. Dan Gatra cuma minta yang penting sekolah negri.'' terang Farel yang karena pesan Gatra cuma untuk mencarikan sekolah negri untuk Ara, tanpa menyertakan harus di daerah mana.
Salah gue cuma minta dicarikan sekolah negri. Karena kalau sekolah negri kurikulumya hampir mirip.Haist ngapain yang gue pikirkan cuma masukan dari guru wali kelas Ara doang.Tapi.... apa Ara mau tinggal di apartemen.
__ADS_1
'' Lo tenang aja Tra, gue juga gak asal pilih itu sekolah. Gue dapat sekolah itu dari si Mitha, dia kan jadi tenaga kesehatan di sekolah tersebut. Dan
adek sepupunya Mitha juga sekolah di sana. Sayangnya adeknya masih kelas Xl, satu tingkat dibawah Ara ya?. Dan satu lagi ternyata waktu tadi pagi gue mau ngedaftarin Ara siapa coba yang terima gue? Aldi teman SMA kita dulu. Gue sudah bilang semuanya ke dia, cuma karena berkas pindah Ara belum ada ya, besok elu yang ke sana saja sekalian Ara masuk sekolah. Aldi sudah janji buat nungguin elu datang.
Bunda mengerti dengan keterangan Farel. Inginnya Bunda juga Ara tinggal bersamanya. Tapi kalau sudah terlanjur mendapatkan sekolah yang lebih dekat dengan apartemen Gatra, ya mau gimana lagi. Bukankah yang lebih berhak atas Ara adalah suaminya.
'' Ara, gimana mau sekolah di tempat yang yang telah dipilihkan Farel?'' akhirnya Bunda bertanya pada si empunya. Ara mengangguk pasrah.
''Ra, sekolah Ara yang baru nanti jauh dari sini, rumah Bunda. Tapi lebih dekat dengan apartemen Mas Gatramu, apa Ara mau tinggal di apartemen?'' lagi-lagi Ara mengangguk memberi tanda dia setuju. Yang penting baginya saat ini sekolahnya masih bisa berlanjut dan bisa lulus seperti teman-temannya.
''Karena Ara sudah setuju, lebih baik sekarang kita istirahat dulu. Kalian balik ke apartemennya nanti saja tunggu Ayah pulang dulu. Bunda mau ke kamar dulu.Tra, ajak Ara ke kamar biar istirahat.'' Bunda berlalu menuju kamarnya.
''Karena Bunda sudah masuk ke peraduannya dan elu juga sudah disuruh masuk kamar, ngapain juga gue bertahan di sini mending juga gue balik siap-siap buat jemput Mitha.'' lagi-lagi Farel menggoda Gatra.
''Sialan lo nyet. Sok-sokan ngejemput, mau dibawa ke mana tuh anak orang. Kalau dipikir-pikir kasihan juga ya si Mitha bertahun-tahun lo PHPin. Kalau gue jadi bapaknya, ogah anaknya lo dekatin.''
''Pemberi harapan palsu apaan? Minggu depan juga kita lamaran resmi. Elunya saja yang kagak terima kalau gue selangkah lebih maju dari elu. Ck ck... tiba-tiba main nikah saja. Untung saja Ara mau sama elu jomblo akut. Kasihan kamu Ra.''
Ara yang menahan tawa melihat kekonyolan dua sahabat terkaget namanya ikutan disebut dalam percakapan unfaedah dua lelaki dewasa tapi masih kekanak-kanakan.
'' Hati-hati Ra, kelamaan jomblo pistol masmu ini mungkin sudah karatan.''
Lah si mulut lemes jadi mrepet kemana-mana tuh mulut, jadi pengen gue sumbal kaos kaki. Ngeracunin otak polos gadis kecilku saja. Untung teman kalau gak gue lelepin lu ke sapitenk.
''Pulang sono cepetan jemput mithanya, keburu sadar dan jadi gak mau lagi sama elu.''
''Jangan gitu dong nyet ngomongnya, susah lho buat ngedapatin dia. Butuh perjuangan.'' ucap Farel memelas.
''Sudah gak usah di selow melow gitu wajahnya, entar gue tambahin isi lamaran elu. Hitung-hitung balas budi gue sudah ngebantuin ngurusin pernikahan gue.''
Jadi sumringah kembali wajah Farel mengetahui Gatra akan menambahkan isi lamarannya.'' Tra minta berlian ya? untuk tambahan isi lamaran gue.'' Farel menaikturunkan alisnya.
'' Ya, entar gue bawain tuh Berliana Hartanti mantan elu.'' Farel lupa kalau pernah punya mantan bernama Berliana. bisa ambyar acara lamarannya kalau Gatra beneran membawa Berliana.
''Jangan dong Tra, ambyar ntar acara lamaran gue.'' wajah Farel kembali memelas. Dan itu membuat Gatra tertawa menang.
*****
Sepulangnya Farel Gatra membawa Ara ke kamarnya yang ada di rumah Bunda untuk istirahat.
Kamar yang cukup luas dengan nuansa monokrom. tak banyak barang mengisi kamar itu, hanya ranjang kasur berukuran besar dengan seprei dan bed cover hitam putih, satu set meja belajar lengkap di sudut ruangan dan lemari dengan banyak pintu di sisi ranjang besar.
__ADS_1
Gatra membawa masuk Ara ke kamarnya dikala dia masih menjadi pelajar dan mahasiswa dan sampai sekarang tak pernah berubah. Karena sejak dia bisa menghasilkan pundi-pundi sendiri dia memilih untuk tinggal sendiri di apartemen.
''Ini kamar Mas Gatra?'' tanya Ara.
''Iya kalau Mas lagi nginap di sini.''
Ara duduk ditepian ranjang dan Gatra duduk di sisinya. Ara masih memperhatikan kesekelilingnya. ''Sangat laki-laki sekali.'' guman Ara yang masih terdengar oleh Gatra.
Sangat berbeda dengan kamar Ara yang didominasi warna pink dan ungu. Dimana banyak boneka aneka rupa ikut menghuni kamarnya. Alasan kenapa banyak boneka di kamarnya adalah agar dia tidak bosan dan tidak merasa kesepian. dan boneka-boneka tersebut dianggap sebagai teman.
''Kalau Ara tidak suka dengan kamar ini boleh kok Ara merubahnya. Apa mau catnya diganti seperti kamar Ara yang di Semarang, atau kita borong boneka? untuk ditaruh di kamar ini.''
'' jangan. Ara gak papa kok, bukankah kamar tidur itu mencerminkan pemiliknya. Nanti kalau dirubah jadi seperti kamar Ara yang di Semarang, yang ada Mas Gatra tidak lagi gagah tapi jadi makluk melambai yang di taman KB dong.''
Fokus Gatra bukan pada mahkluk melambai tapi pada Ara yang menyebut dirinya gagah.
''Jadi menurut Ara Mas ini gagah ya?''
'' Iya.''
Lagi-lagi ucapan Ara membuatnya senang bukan kepalang.
Kelamaan berdua saja dengan Ara takut membuatku khilaf. Kasihan si otong entar dia berdiri tegak dan minta lawan tanding.
''Jadi menurut Ara Mas Gatra gagah ya?''
Eh.....
''Iyalah gagah. Kan laki-laki.''
'' Harus cepat keluar, keburu Ara menyadari ucapannya.'' lirih Gatra dalam hatinya.
''Ara tiduran saja dulu di sini, Mas Gatra mau ke kamar Ayah buat periksa email.'' dusta Gatra. Karena pekerjaanya sudah dihentikan. sudah.
*
*
*
*
__ADS_1