Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
102. Cuma Iklan


__ADS_3

''Ngapain Lo ke sini? mau apa lagi? urusan Lo sama Gatra sudah selesai ya.'' cegah Farel ketika Claritta berhasil masuk ke dalam kantor lolos dari pengawasan di satpam Markus.


''Gue mau ketemu Gatra, bukan urusan Lo.'' masih dengan sombongnya Claritta mencoba berlalu dari Farel. Sayang usahanya sia-sia saja karena karyawan Gatra memblokade jalannya.


Sifat Claritta yang sombong dan arogan saat berada di kantor Gatra sangat tidak disukai oleh karyawan Gatra. Tapi mereka bisa apa? secara yang mereka tidak sukai adalah kekasih atasannya. Dan kini setelah Gatra dan Claritta putus baru mereka berani menunjukkan rasa tidak sukanya.


Apalagi sekarang Gatra sudah berubah status jadi suami orang, makin terdepan mereka menjaga Gatra agar tak silap pada kemilau plastik.


Sudah berkali-kali Claritta mendatangi kantor Gatra, tapi selalu gagal terhalang satpam Markus. Ini kenapa bisa masuk kemana satpam Markus?


Hampir saja Claritta berhasil masuk ruangan Gatra tapi masih bisa dicegah Farel, hingga membuatnya mengundurkan langkahnya. Sayang setelah berhasil dihalau malah Gatra keluar dari ruangan membuat semua karyawan mendesah kecewa.


Gatra kaget melihat rekan kerjanya berkumpul di depan ruangannya, lebih kaget lagi ada Claritta diantara mereka. Kenapa dia bisa masuk? apa Markus lupa pesannya untuk tidak membiarkan perempuan yang bernama Claritta untuk masuk dan berkeliaran di sekitar kantornya.


''Tra, lihat mereka Tra? mereka menghalangiku untuk bertemu denganmu .'' suara manja Claritta. Dia menerobos blokade karyawan Gatra, melenggak-lenggokkan tubuhnya berjalan menuju Gatra. Tangannya meraih lengan Gatra, niat hati hendak menggelayut manja. Sayang sebelum terjadi Gatra sudah menepisnya.


''Ada perlu apa Lo ke sini? kita gak ada janji dan gue juga gak ngundang Lo.'' sadis Gatra tapi tak membuat Claritta bergeming.


'' Tra gue, gue mau minta maaf ke Lo. Waktu itu gue khilaf. Gue salah Tra.'' Claritta mulai mendrama.


''Sorry Ta, semua sudah jelas. Kita sudah tidak ada hubungan lagi! Lo yang mutusin waktu itu. Jangan bilang Lo lupa! Dan gue gak ada waktu buat ngeladeni Lo.'' Gatra berlalu meninggalkan Claritta.


Claritta berusaha mengejar Gatra berusaha berjalan disisinya menyeimbangkan langkah lebar Gatra.


''Tra gue ke sini cuma mau minta bantuan Lo. Gue gak tahu lagi harus bagaimana. Papa gue sedang dirawat Tra.''


Gatra menghentikan langkahnya. ''Apa hubungan gue dengan Papa lo dirawat.''


Ada angin segar menerpa. Alasan Claritta yang menggunakan Papanya mendapat respon dari Gatra.


''Papa dirawat Tra, dan dia sangat ingin bertemu denganmu. Gue mohon Tra kali ini saja Lo mau temui papa Tra.'' ucapan memohon Claritta, dengan wajah sendunya.


''Dirawat karena apa?'' kata dirawat terasa ambigu bagi Gatra. Untuk orang kalangan Claritta dirawat belum tentu sakit.


''Belum tahu Tra, diaknosanya belum keluar. Cuma kemaren Papa jatuh hiks.hiks.''


Baru jatuh kemaren. baru dirawat.


belum tahu sakit apa. Tambah pinter akting Lo Ta.


''Sekarang gue lagi sibuk entar kalau gue usahakan buat jenguk bokap Lo. Di rumah sakit mana?'' Gatra risih bila harus berlama-lama bersama Claritta. Dia ingat ada hati yang harus dia jaga.


''Ada di klinik Medika yang dekat sekolah Alana.''


Haist kenapa bisa samaan gini sih. Kenapa harus di kliniknya si Iwan.Mana hari ini gue ada janji buat ketemu Iwan di kliniknya. Apa gue ajak bareng saja biar cepet kelar dan nih cewek gak datang-datang lagi. Bisa gawat kalau Rara tahu gue masih ketemu Claritta.

__ADS_1


''Ok gue tengok bokap Lo sekarang.'' Ucap Gatra tanpa menoleh ke Claritta.Gatra keluar dari kantornya menuju ke parkiran.Claritta yang hatinya langsung berbunga-bunga, lengkungan senyuman tak lepas dari bibirnya berusaha mensejajarkan langkahnya saat hendak meraih lengan Gatra ditepis kasur oleh Gatra. Gak papa setidaknya Gatra sudah mau dan menurutinya untuk bertemu papanya. Biar nanti papanya yang mengatur dan membantu untuk dia bisa kembali bersama Gatra.


''Tra Gue nebeng mobil Lo ya? gue gak bawa mobil,


tadi gue ke sini buru-buru dari klinik karena papa yang pengen banget ketemu Lo.Sumpah tadi tuh gue panik banget kepikiran mau gak Lo ketemu papa. Dan mobil gue tinggal karena parkirnya terhalang susah keluar. Boleh ya Tra?'' alasan Claritta saja, yang sebenarnya dia memang sudah sering datang ke kantor Gatra tapi gak bisa masuk karena terhalang satpam Markus.


Satpam Markus memang sudah hafal dengan mobil Claritta, jadi begitu mobil Claritta masuk parkiran Markus akan langsung menghalau agar si Claritta tidak bisa masuk dan bertemu Gatra.


Ternyata rencananya untuk menggunakan taksi online bisa mengecoh perhatian Markus. Ada senyum mengejek dari Claritta ketika melewati Markus. Markus bisa apa yang berjalan di sebelah Claritta adalah bosnya, Gatra.


Farel geram mengetahui Gatra pergi bersama Claritta, sempat menyusul keluar tapi sayang tidak terkejar. Mobil Gatra sudah melesat meninggalkan parkiran. Mengapa Gatra buru-buru perginya.Itulah yang menjadi pertanyaan Farel.


Saat hendak masuk lagi ke dalam sekilas Farel melihat ada wajah mirip Ara dari dalam mobil yang kebetulan kaca pintunya akan ditutup. Farel menyakinkan dirinya semoga saja salah lihat. Kalau benar itu Ara, dapat dipastikan kalau Ara juga melihat Gatra pergi satu mobil dengan sang mantan. Bisa gawat urusannya.


Sampai di klinik, Iwan sudah menanti kedatangan Gatra di depan loby. Betapa kagetnya Iwan ternyata Gatra datang bersama bidadari kolong jembatan.


Spekulasi ada di pikiran Iwan, dia yang sudah tahu cerita Gatra sama sekali gak nyangka kalau Gatra ngajak ketemuan bersama Claritta.


''Tra.'' bukan sapaan tapi lebih ke minta penjelasan, walau dia tetap menjabat tangan Gatra.


Gatra paham dengan keterkejutan Iwan. ''Nanti gue kasih tahu.'' bisik Iwan


''Ini Claritta Lo tahu kan?.'' Iwan mengangguk. ''Bokapnya dirawat di sini. pasien jatuh.'' terang Gatra


Walau sudah tahu letak ruang rawat Papanya, Claritta tetep menurut mengikuti langkah Gatra dan Iwan dibelakangnya. Hatinya sedikit dongkol kenapa harus bertemu dengan teman Gatra. Kenapa semua teman Gatra kelihatan tidak menyukainya.


Tok tok tok


Claritta lebih dulu masuk menghampiri papanya. Baru saja papanya akan protes mengapa Claritta yang tiba-tiba meninggalkannya seorang diri begitu lama, ada Gatra dan dokter Iwan masuk menghampirinya. Sama seperti dulu Gatra mencium takzim tangan papanya Claritta. Hal inilah yang membuat Keukeh papanya Claritta untuk tetap berharap agar Gatra yang menjadi menantunya.


Wajah laki-laki paruh baya itu seketika berseri. Kedatangan Gatra lelaki paket komplet yang pantas bersanding dengan anaknya.


''Papa maaf, Ritta tinggal papa sendiri tadi buat jemput Gatra. Sebenarnya Ritta malu Pa, minta Gatra datang jengukin papa, secara kita sudah gak ada hubungan lagi.Tapi mau gimana lagi keinginan papa buat ketemu Gatra gak bisa Ritta abaikan.'' Claritta meraih tangan papanya dan memberi kode agar papanya mengikuti sandiwara yang dibuatnya.


Merasa tidak punya keinginan seperti yang disebutkan putrinya, sesaat bingung. Tapi paham dengan kode putrinya.


''Maaf nak Gatra kalau permintaan Om terpaksa menggangu kesibukan Nak Gatra.'' ada kecanggungan ditiap ucapannya. Claritta berusaha menenangkan dengan mengusap tangan papanya. Air mata pura-puranya mengalir.


''Kebetulan saja Om saya ada janji temu dengan Iwan di sini. Dokter Iwan ini sahabat saya sejak SMA.'' Gatra menunjuk Iwan yang berada di sampingnya.


''Gimana Pak? sudah agak enakan? ngilunya karena keseleo masih terasa?'' tanya Iwan sebagai dokter yang merawatnya.


''Lumayan Dok. Maklum tulang tua gak bisa langsung pulih sediakala seperti yang muda-muda.'' gak mungkin dia bohong sakit parah karena dokter yang merawatnya pasti lebih tahu.


Setelah hening sejenak. ''Nak Gatra kapan mau main lagi ke rumah Om. Sudah lama lho. Belum ada teman laki-laki Claritta yang main ke rumah selain Nak Gatra.'' ujar papa Claritta yang secara tidak langsung memberitahukan bahwa cuma Gatra yang dibawa dan dikenalkan sebagai kekasih anaknya.

__ADS_1


''Maaf Om sepertinya kalau untuk berkunjung ke rumah Om sudah tidak memungkinkan untuk saya.'' jawab Gatra sesopan mungkin.


''Ya gak papa Om maklumi Nak Gatra pasti sibuk. Mungkin lain waktu masih bisa. Kalian masih muda, masih banyak yang ingin dikejar.'' sorot kekecewaan menatap anaknya.


''Papa.'' suara sendu Claritta. Harapannya dengan pertemuan dengan papanya Gatra dapat luluh dan mau kembali merajut cinta lama mereka. Claritta yakin Gatra masih mencintainya. Apa yang dikatakan Sabila bahwa Gatra sudah mencintai perempuan lain itu salah.


''Maaf Om saya gak bisa lama-lama di sini dan saya tidak bisa menjanjikan untuk berkunjung ke rumah Om, karena saya sudah tidak sebebas dulu lagi. Saya sudah terikat pernikahan dengan perempuan yang sangat saya cintai. Saya tidak ingin menyakitinya dengan berkunjung ke rumah orang tua perempuan lain tanpa tujuan yang jelas.'' Gatra menegaskan kalau dia sudah menikah agar papanya Claritta tidak berharap lebih lagi.


''PERNIKAHAN'' kaget Claritta.


''Elo sudah menikah!!! ini cuma alasan mu saja buat ngeprank gue kan Tra?'' Claritta masih tidak percaya berharap Gatra hanya mengerjainya saja. Membalas apa yang dilakukannya dulu.


''Percaya tidak percaya itu urusanmu. kenyataannya gue sudah menikah lihat cincin yang gue pakai.'' Gatra menunjukkan cincin yang melingkar dijarinya. Berharap Claritta tidak mengganggunya lagi setelah tahu dia sudah menikah.


Claritta meluruhkan tubuhnya berita Gatra sudah menikah meremukkan asanya. Dengan mengejar Gatra kembali dia bisa mendapatkan calon bapak yang baik untuk janin yang sedang berkembang diperutnya. Claritta ingin anaknya diakui sebagai anak Gatra walau dia tahu siapa sebenarnya ayah dari janin yang ada diperutnya. Baginya tidak mungkin meminta pertanggungjawaban dari laki-laki yang telah menghamilinya. Dia sudah beristri dan Claritta tidak mencintainya. Janin itu bisa tumbuh dari hubungan satu malam. Hanya karena kesenangan sesaat, lebih parahnya lelaki tersebut baru saja ditangkap karena narkoba.


''Tapi gue masih cinta elo Tra. dari dulu gak pernah berubah cuma elo Tra.'' lirih Claritta.


''Sorry Ta. Gue cuma cinta sama istri gue. Cuma dia satu-satunya perempuan yang mengisi hati gue. Masa depan Gue.'' ucap Gatra penuh penekanan ditiap katanya.


''Om, saya permisi.'' Gatra pamit dan segera keluar dari ruang rawat Papanya Claritta.


Sedih dan kecewa pastinya papa Claritta, lelaki yang diharapkan menjadi menantunya telah menolak permintaan terselubungnya. Tinggallah dia kini yang harus menenangkan putrinya yang menangis meraung-raung.


Huhhh...


helaan nafas lega terdengar dari mulut Gatra setelah berada di luar ruang rawat.


''Jadi. Elo ngajak gue ketemua cuma buat jadi saksi drama roman picisan Lo, Wah saiko juga ya mantan Lo. Heran, kenapa bokapnya ikutan ngedukung anaknya.'' sela Iwan.


''Yang tadi tuh cuma iklan yang gak mutu.'' jawab santai Gatra


''Trus yang mutu apa?''


Gatra menghentikan langkahnya wajahnya berubah serius.


''Ada yang mau gue tanyain ke Lo, bisa kita bicara cuma berdua.''


''Ini juga bicara berdua.''


''Ribet banget. gue mau bicara dengan Lo sebagai dokter.'' Gatra memelanka suaranya


''Lo mau konsul sama gue?'' Gatra mengangguk. '' Ngobrol dong!''


Iwan nyelonong meninggalkan Gatra.

__ADS_1


__ADS_2