
''Assalamualaikum''
Ara memasuki apartemen Gatra. Apartemen type studio dengan dua kamar tidur, sengaja dipilih Gatra untuk huniannya waktu itu karena dia masih lajang. Sama sekali tak terpikirkan kalau akan beristri dan tinggal dengan istrinya di sini.
''Waalaikum salam'' Gatra mengiringi Ara untuk masuk. Lagi-lagi Gatra was-was takut Ara tidak suka dengan tempat tinggalnya.
''Boleh Ara room tour apartemen Mas Gatra?'' tanya Ara meminta ijin Gatra.
''Sungguh sangat boleh sekali dong. Apa yang punya Mas, sekarang jadi punya Ara juga. Maaf, Mas Gatra baru bisa ajak Ara tinggal di apartemen, Mas Gatra belum bisa beli Rumah.''
''Kok gitu sih Mas, ngomongnya. Emang ada tampang Ara matre! Ara yang seharusnya tahu diri Mas, karena kedepannya Ara pasti akan merepotkan dan membebani Mas Gatra.'' wajah Ara menjadi sendu, hampir saja air mata Ara tumpah buru-buru Gatra merengkuh Ara kepelukannya.
''Tak ada kata merepotkan dan tak kan pernah Ara menjadi beban Mas. Yuk! lanjut lagi room tournya.'' Gatra melepas pelukannya setelah Ara menjadi tenang kembali. Butuh kesabaran ekstra bagi Gatra menghadapi Ara yang masih terluka karena ditinggalkan secara mendadak, oleh orang-orang yang dikasihinya.
Di sebelah kanan pintu ada ruang tamu yang hanya di isi dengan single sofa yang memanjang dan meja didepannya. Tak ada pernak-pernik hiasan di sana, hanya televisi layar datar yang menempel di dinding.
Di sebelah kiri pintu masuk ada dapur, mini tapi sepertinya komplit ada dua tungku diatas dan dibawahnya seperti ada oven. Ini pasti akan jadi favorit Ara yang hoby membuat bolu dan teman-temannya.Ada kulkas dengan dua pintu. di sisi lain ada tempat cuci piring dan mesin cuci pakaian disebelahnya. Ada lemari kabinet memanjang dan menyiku menempel di dinding. Meja makan dengan dua kursi menyatu dengan dapur mini tersebut. Ara sangat menyukai dapur tersebut, dalam bayangannya ini sperti dapur-dapur yang ada di dalam drama korea yang selalu dia tonton. Ara mulai membuka lemari kabinet yang ada satu persatu.
Kosong melompong tak ada isinya peralatan masak tak ada, peralatan makan juga tidak tersedia. Peralatan makan dan minum cuma ada di atas meja makan itupun cuma muk dan piring masing-masing cuma satu yang banyak adalah sendok karena ada satu set dengan garpu dan pisau makan. Ara membuka kulkas yang cukup besar untuk ukuran dapur yang mini. Lagi-lagi hanya ada botol air mineral yang menghuni tanpa ada temannya.
Ara menoleh ke Gatra yang dari tadi mengikutinya, Gatra cengar-cengir dan mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
''Namanya juga bujangan Ra, Mas kesini cuma buat tidur selebihnya waktu Mas habis di kantor.'' terang Gatra yang tahu maksud dari tatapan Ara. '' Nanti Ara buat list apa saja yang dibutuhkan untuk mengisi dapur Ara, besok kita ke living plaza buat belanja.'' sambung Gatra lagi.
Ara mengangguk. jadi kalau bujangan gini ya hidupnya bener-bener simple.
'' Kamar untuk Ara yang mana, Mas?'' setelah puas dengan dapur Ara menanyakan bakal kamarnya karena dia melihat ada dua pintu yang saling berhadapan.
__ADS_1
''Kamar Ara yang kiri ya? soalnya yang kanan sudah Mas tempati.'' belum selesai Gatra ngomong Ara sudah menerobos untuk membuka pintu bakal kamarnya.
Ara tercengang lagi-lagi kamar itu adalah ruangan kosong. Tanpa ada perabot apapun, hanya ada gitar dipojokan ruangan. Mau kaget lagi, gak mungkin yang tinggal di sini kan cuma satu orang yaitu laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.
''Maaf ya, Ra? Mas belum ada persiapan untuk menyambut Ara. Nanti malam Ara tidur di kamar Mas saja, biar Mas nanti tidur di sofa. Besok setelah dari sekolah kamu kita langsung ke cari perabot yang kamu butuhkan.'' tawar Gatra yang dianggukan Ara.
Di luar bakal kamar Ara ada balkon,Ara meminta pada Gatra Apa bisa keluar ke balkon mengngat bangunan yang ditempatinya afalah gedung bertingkat-tingkat siapa tahu hanya pemanis saja.
Gatra menyibakkan tirai putih untuk menggeser dinding kaca yang merupakan pintu keluar ke balkon.
Ternyata balkon tersebut terhubung ke dapur. Tepatnya sampai samping meja makan.
''Mas? boleh gak besok beli juga meja kursi santai buat di sini.''
''Boleh, apapun yang Ara butuhkan besok Mas belikan.''
''Ih.... gak gitu juga kali. Emang gak tekor semua mau dibeli.'' cebik Ara.
Ara menuju pintu balkon yang terhubung dengan dapur. Seperti yang Gatra lakukan Ara berusaha mengeser dinding kaca, yang dia kira pintu. Tapi hasilnya nihil.
''Mas ini bukanya gimana? kok susah.'' kalau Mas Gatra kok gampang, giliran Aku kok susah.
''Ini tuh gak bisa dibuka dari luar, semua harus lewat dalam.'' Gatra mengajak Ara untuk masuk.
Ketika Ara melintas di depan Gatra.
krucukkk krucukkk
__ADS_1
Perut Ara bunyi keras sekalu sampai kedengaran oleh Gatra. Maklumlah dari mendarat tadi Ara sama sekali belum makan. Dia cuma tiduran di kamar Gatra yang ada di rumah ayah dan bunda.
''Maaf Mas, cacing diperut Ara lagi konser dangdut koplo, hingar-bingarnya sampai keluar.'' terlanjur malu ya, sudah teruskan saja.
Gatra terkekeh dengan kelakuan Ara yang sedang menutupi rasa malunya.
''Ra, kita makan dulu bekal yang tadi dibawakan Bunda, ya? kasihan cacingnya keburu kecapekan kelamaan konser. Baru nanti lanjut lagi room tournya.'' Ara mencubit lengan Gatra yang ikutan ngebahas cacing kelaparan.
Akhirnya mereka duduk di kursi makan yang memang diperuntukkan dua orang. Ara mulai membuka dan menggelar tumpukan kotak bekal yang berjumlah tiga. Masing-masing berisi nasi, sayur yang ditumis dan lauk yang digoreng. Ara nampak bingung karena cuma ada satu piring di meja, sedang di sini ada dia dan Gatra. Masak iya harus makan sepiring berdua.
Gatra mengambil botol air mineral di kulkas dan menuangkan ke muk yang ada di meja, lalu duduk laki di kursi yang ada di depan Ara.''Kenapa belum di makan?'' Gatra tahu kalau Ara bingung masalah piring tapi dia pura-pura nanya saja.
''Ini, Mas. Piringnya cuma satu, kita berdu a.'' terang Ara lirih.
Ingin rasanya Gatra tertawa hanya saja harus ditahan. ''Kita sepiring berdua saja Ra, toh kita sama-sama sehat kan.'' niat Gatra menggoda Ara, tapi kalau beneran ya Alhamdulillah.
''Hah! '' tuh kan beneran bakal sepiring berdua. lanjut Ara dalam hatinya.
''Sudah Ara makan saja dulu, keburu laper kan. Nanti Mas setelah Ara saja.'' solusi Gatra membuat Ara agak lega, tapi gak enak juga masak iya dia makan Gatra jadi penonton. Bisa-bisa gak ketelen makanannya.
'' Sepiring berdua saja, Mas.''
Giliran Gatra yang kaget, tapi seneng banget ada yang bersorak-sorak gembira di hatinya.
''Tapi sendok sendiri-sendiri ya? Mas Gatra kan sudah besar masak mau disuapin.''
Mau mau mau
__ADS_1
penginnya Gatra, tapi gak papalah Gini aja sudah cukup besok lagi mau dong disuapin istri cantik dan imutnya itu.
Mereka makan dalam keheningan bekal yang disiapkan Bunda pun ludes tak tersisa.