
''Ra! yaelah bengong aja seh? masih kepikiran yang kemaren?'' Pia mengagetkan Ara. Sahabatnya itu semenjak dia jemput di apartemen hingga sekarang mereka ada di rooftop sekolah masih saja bengong.
Naluri Pia mengatakan kalau Gatra gak mungkin mengkhianati sahabatnya, tapi ada sisi lain dia gak percaya karena dia juga melihat sendiri Gatra jalan bersama sang mantan.
''Ra kenapa Lo gak tanya langsung sama laki Lo semalam? kenapa Lo justru menghindar? apapun jawaban yang Lo dapat kan gak mungkin buat Lo sedih terus. Tahu gak Ra? melihat keadaan Lo sekarang mengingatkan gue pada dosa-dosa gue. Gue telah banyak menyakiti hati wanita lain Ra? dengan perbuatan gue ke laki mereka.''Pia gak tahan melihat kesedihan Ara yang berlarut.Andai kemaren tidak mengantar Ara ke tempat Gatra, mungkin Ara gak akan lihat Gatra bersama mantannya. Seandainya kemaren membututi kemana Gatra pergi, ah... seandainya Ara tidak ngajak pulang.
''Jangan salahkan diri Pia gak salah kok. Ara cuma butuh waktu untuk menata hati saja. Ara belum siap untuk berhadapan dengan Mas Gatra. Kasihan Mas Gatra yang tetiba saja harus menjadi suami Ara yang karena amanah dari papa. Mungkin juga Ara yang salah karena telah hadir di tengah hubungan mereka. Siapa tahu Aralah orang ketiganya.''
''Gue yakin saat kalian nikah, Bang Gatra itu laki-laki bebas tanpa ikatan dengan perempuan manapun. Dan ada cinta Yang sangat besar buat Lo di setiap tatapannya ke elo.Dari semalam Lo gak ketemu sama laki lo?'' Ara menggeleng ''Emang semalam laki Lo pulang larut?'' Ara menggeleng lagi
''Lha kok bisa kalian kan satu rumah.'' Apartemen sekecil itu bagaimana bisa menghindar.
''Ara yang gak keluar kamar.''
FLASHBACK ON
Gatra pulang dari klinik Iwan sahabatnya memang sudah sore. Pikirannya terbuka setelah bertemu dan berbicara dengan Iwan. Saat perjalanan pulang Farel menelpon ada klien yang ingin bertemu saat itu juga, karena klien penting terpaksa Gatra menyanggupinya hingga jam tujuh malam Gatra baru sampai apartemen.
Didapati Ara sudah masuk kamar dan dikunci dari dalam. Diketok kamar Ara tidak ada jawaban, Gatra pikir Ara sudah tidur. Gatra masuk kamarnya untuk bersih-bersih. Dilihat di atas kasurnya sudah tersedia baju ganti dan perlengkapan untuknya mandi sudah lengkap.Perhatian dari istri kecilnya inilah yang membuatnya dengan mudah jatuh cinta.Apalagi tadi di meja makan juga sudah tersedia makanan yang tinggal diangetin ke microwave kalau mau makan. Senyum simpul mengembang di bibirnya. Timbul keinginan untuk tidur memeluk Raranya setelah rasa capek seharian di luaran.
Sayangnya setelah selesai makan malam sendirian Ara tak juga keluar kamar. dalam pikir Gatra mungkin Raranya kecapean karena seharian pergi dengan Pia sahabatnya. Gatra pun masuk kamarnya untuk beristirahat.
Pagi sekali sebelum subuh Ara sudah bangun menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya lebih dini.Dia berencana berangkat ke sekolah lebih pagi dengan dijemput Pia yang semalam sudah dihubungi.
Setelah selesai semuanya, Ara membuat catatan di meja makan yang mengatakan kalau dia harus berangkat pagi karena ada kegiatan sebelum pengumuman kelulusan. Dan Ara juga berpesan kalau wali murid bisa datang jam sembilan untuk mengambil hasil kelulusan.
Merasa aneh kenapa Raranya tidak langsung masuk ke kamarnya untuk memberitahu padahal tidak dikunci kenapa lewat coretan di kertas?
Tanpa banyak prasangka Gatra segera menghabiskan sarapan yang telah disediakan istri kecilnya. Lumayanlah ada jeda waktu untuknya ke kantor dulu sebelum ke sekolah Ara.
FLASHBACK END
''Ra.'' Pia sudah memeluk Ara dari belakang. Ikut merasakan kesedihan sahabatnya. ''Mau telepon Ratih?'' tawar Pia siapa tahu dengan menelpon Ratih bisa mengurangi kesedihan Ara. Bagaimanapun Ratihlah saksi perjalanan pernikahan Ara dan Gatra.
''Gak usah, Ratih juga lagi banyak pikiran.''
''Pikiran apa?'' kepo Pia
__ADS_1
''Ratih lagi galau antara tetap pada pilihannya kuliah di sini tapi dengan sarat menerima pertunangan dengan Rega dan kuliah bareng di sini atau menunda pertunangan api kuliah di Semarang.''
''Itu seh bukan pilihan, ujung-ujungnya juga jadi tunangan Rega.'' ada sedikit senyuman dari Ara mendengar komen Pia tentang Ratih.
''Gitu dong senyum. Empet gue lihat Lo manyun dari tadi.''
Mereka berdua kembali terdiam, menyandarkan diri pada pembatas rooftop menikmati alunan musik dan lagu dari tengah lapangan sekolah. Pentas dadakan yang sengaja digelar kakak-kakak alumnus sebagai hiburan dan hadiah kelulusan.
Sewindu sudah
Ku tak mendengar suaramu
Ku tak lagi lihat senyumanmu
Yang s'lalu menghiasi hariku
Sewindu sudah
Kau tak berada di sisiku
Kau menghilang dari pandanganku
Tak tahu kini kau di mana
Kehilangan dirimu
Kau menghilang dari pandanganku, oh-oh
Tak tahu kini kau di mana, ho-ho
''Ra, dengerin suara penyanyi ini seperti gak asing.'' Pia nampak mengingat suara yang sepertinya sering dia dengar. '' Eh iya suara penyanyi cafe yang kita datangi kemaren.'' seperti menang undian saja Pia jingkrak-jingkrak kegirangan. Baru juga mendengar suaranya, iya kalau benar? kalau salah? untung cuma ada Ara di sebelahnya. Kan malu sudah salah dan di depan banyak orang.
Pia menoleh ke Ara, ternyata si anak sudah kembali ke mode semula manyun plus galau.
Tak beda dengan Pia Ara pun juga merasa kalau dia juga merasa sangat mengenal suara itu. Ara mencoba mengingat yang ada kepalanya pusing.
"Ra, udah dong. Nanti kan laki Lo ke sini, nah Lo pulangnya bareng saja sekalian nyelesaiin masalah Lo berdua biar lekas kelar. Apa Lo mau nanti kita pulang dari sini ngemall dulu beli baju couple gitu buat kenang-kenangan.
__ADS_1
''Baju couple? kenang-kenangan?''
''Iyalah. gimana mau?''
''Baju couple. Kenang-kenangan?'' Ara seperti pernah mendengar kata-kata itu dan kepalanya semakin pusing sampai mau muntah.
''Ya jadi kayak burung Beo seh. Gimana? mau ya?'' Pia menyenggol badan Ara yang berdiri di sebelahnya.
''lihat nanti ya. Pia Ara ke toilet dulu ya?'' tanpa menunggu jawaban Pia Ara segera bergegas ke toilet karena kepalanya yang semakin pusing dan juga mual yang dirasa.
Jalan Ara sudah tak karuan, mual di perutnya semakin menjadi. Ara harus kuat demi tujuannya toilet.
Belum sampai toilet Alana in the Genk menyegatnya. Alana tahu kalau Gatra berpaling dari kakaknya hanya untuk bocah ingusan Ara.
Setidaknya itu yang Claritta bilang ke adeknya. Ara telah merebut Gatra dari Claritta. Cerita Clarita kepada Aluna ketika Aluna datang ke apartemennya untuk minta tolong pada Claritta untuk menjadi walinya lagi saat pengumuman kelulusan.
Aluna yang mengira Ara keponakan Gatra beneran tadinya sudah berusaha baik-baikin Ara demi kakaknya seketika ikutan membenci Ara.
''Mau kemana tuh anak! gak sopan banget ada kita di sini nyolong saja.'' geram Aluna
''Lo kenapa seh Al, kemaren ngajak kita buat baik-baikin Ara, sekarang Lo marah si Ara gak gubris Lo.'' protes teman Aluna
''Gue benci tuh perempuan! dia sudah ngerebut Bang Gatra dari Kak Ritta. Gue mau ngerjain tuh perempuan.'' Aluna berusaha memprovokasi teman-temannya agar mau ikutan mengerjai Ara.
''Gue gak ikutan ya, Al. Gue kapok. Gue pengen lulus dari SMA ini tanpa meninggalkan nama buruk.'' teman Aluna satu menolak toh bukan urusan dia Ara mau merebut siapa.
''Gue juga Al, gue gak mau kalau sampai bonyok gue dipanggil ke sekolah.'' teman yang satu lagi juga menolak.
''Cemen kalian berdua. kita kan sudah selesai sekolah di sini jadi gak akan ada tuh Panggil memanggil bonyok ke sekolah.Apalagi skorsing sampai di keluarkan. Bukankah sebentar lagi kita juga keluar dengan sendirinya dari sekolah ini.'' Aluna gagal membujuk sekutunya. Dua sahabatnya lebih memilih berlalu meninggalkannya.
Melihat Ara berlari masuk toilet Aluna segera menyusulnya. Aluna ingin bermain cantik dalam mengerjai Ara.
Ara mempercepat langkahnya bahkan sedikit berlari isi perutnya semakin berontak minta dikeluarkan.
ADEK___ ADEK___ARAAA....RA...
Suara yang sangat Ara kenal.
__ADS_1