Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
88. Kejutan Ratih


__ADS_3

Setelah seminggu Ratih benar datang mengunjungi Ara. Dalam pikirana Ara Ratih akan datang dengan transportasi umum pesawat atau kereta api dan Ara sudah mempersiapkan diri untuk penjemputan.


''Lo kenapa seh Ra? dari tadi kayak gak fokus gitu.'' Pia heran melihat Ara yang nampak grasa-grusu tidak tenang seperti biasanya.


''Kelihatan ya?''


''Hemm.''


Ara menyugingkan senyumnya. ''Ratih, temanku katanya hari ini bakal datang tapi dia gak kasih tahu mau naik apa. Ara jadi bingung harus jemput dimana.''


''Teman? yang sering teleponan itu? kok tumben bukannya sekolah sedang gak libur. Dia kelas dua belas juga kan?''


''Ratih keterima masuk UI lewat jalur raport, dia kesini mau konfirmasi sekalian mau jenguk Ara.'' Ara menerangkan maksud kedatangan Ratih ke Jakarta.


''Hebat bener temen lo, Ra. Gue juga mau kali masuk UI.Lo sendiri mau lanjut kemana?''


''Nggak tahu.'' Ara mengedikkan bahu.'' Dulu Ara cuma pengen sama papa, kuliah di kampus yang dekat rumah. Biar bisa tiap hari ketemu dan jagain papa. Tapi sekarang papa sudah gak ada. Ara bingung mau melanjutkan kemana, tapi kata Mas Gatra Ara harus lanjut kuliah setinggi-tingginya.''


''Sabar ya, Ra. Doakan saja semoga papamu ditempatkan di surganya Allah. tapi bener tuh Om lo. Buktikan kalau lo kuat dan bisa menjadi orang yang sukses, buat papa lo bangga.'' Pia mengambil tas dan berdiri. ''Pulang yuk! sudah gak usah melow-melow, gue antar. Hari jum'at Om lo gak jemput kan?''


''Tahu aja.''


Arapun mengikuti langkah Pia. Sesekali saling senggol dan cekiklikan yang tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dengan tatapan iri.


''Ra, calon adek ipar lo tuh?'' tunjuk Pia dengan dagunya.


''Gak ada!'' Ya, kali Mas Gatra mau poligami Ara.


''Biasa aja kali mukanya.'' masih saja Pia menggoda.


''Makanya jangan mulai.'' sewot Ara.


''Sorry.''


Sampai di parkiran Ara dikejutkan dengan melihat Ratih yang kebetulan berdiri di depan mobil yang parkir disebelah mobil Pia.

__ADS_1


''RATIH!'' Ara memanggil nama Ratih dengan berteriak kencang. Ratih yang semula cuma cengengesanpun menghambur memeluk Ara, sahabat yang sudah tiga bulan meninggalkannya.


''Kangen.''


''Ara juga.'' lama mereka pelukan lepas pelukan lagi tanpa memperdulikan sekeliling. Hingga tiba-tiba seorang laki-laki muncul dari mobil yang dibelakangi Ratih dan Ara.


''Masih lama gak, dramanya setengah dua belas nih. jum'atan WOI.''


''Rega!'' Ara bingung kenapa ada Rega juga di sini. Gak mungkin kan Ratih datang barengan Rega.


''Ratih?'' Ara menatap Ratih minta penjelasan.


''Panjang ceritannya. Nanti tak ceritakan. Sekarang antar dulu tuh ke masjid terdekat.''


Pia yang dari tadi diam melihat interaksi Ara dan temannya datang menghampiri Ara.


''Ra.'' panggil Pia


''Eh iya, Ratih, Rega kenalkan teman Ara, Pia nama lengkapnya Safea Miranti.'' Ara memperkenalkan Pia pada Ratih dan Rega. Mereka bertiga bersalaman.


''Sepertinya wajah Pia kok ndak asing ya? seperti sering lihat, tapi dimana?'' Ratih berguman sendiri.


''Boleh. Tapi mobilnya gimana?'' Ara.


''Pakai mobil teman lo saja kalau boleh, mobil gue ntar ada yang ngambil.'' solusi Pia.


''Boleh juga, ayo buruan.'' ajak Rega.


********


Ara Ratih dan Pia sudah berada di caffe. Ara memaksa Ratih untuk bercerita kok bisa datang ke Jakarta bareng Rega.


"Hanya tiga bulan Ara ninggalin kalian segitu banyaknya Ara ketinggalan berita. Kalian yang seperti Tom dan Jerry sewaktu Ara tinggal kini jadi sepasang kekasih." ucap Ara setelah Ratih menceritakan kenapa bisa dia ke Jakarta bareng Rega.


"Ralat ya, bukan kekasih sungguhan ya. Ini karena Ibu sahabat dari Mamanya Rega dan mereka sering kan lihat kita berempat bersama tahunya Ibu karena Naina tunangan Revano pasti Rega pacaran sama aku. Karena Naina dan Revano yang tunangan dan kamu yang nikah dengan Mas Gatra, Mamanya Regapun mejodohkan kita berdua. Suwer tak kewer-kewer aku sudah nyangkal ke Ibu kalau aku cuma temenan sama Rega tetep gak percaya. Rega juga, mau-maunya nurut sama Mamanya dijodohkan. Kamu tahu sendiri kan Ra, gimana Ibu susahnya ngasih ijin buat kita ngecamp ke Gedung Songo dulu. Begitu juga waktu aku minta untuk kuliah disini.''

__ADS_1


''Diijinkan.'' sela Ara


''Boro-boro Ra. Sampai aku merayu-rayu, kalau aku keterima karena jalur raport dan bakalan dapat beasiswa, sampai mogok makan juga gak diijinin.'' sungut Ratih


''Lha kok sekarang kamu bisa kesini?''


''Aku juga gak tahu. Rega datang bersama mamanya, entah apa yang mereka bicarakan tiba-tiba Ibu ngijinin aku kesini asal diantar Rega.''


''Terus gimana sudah cinta belum kamu sama Rega?'' niat Ara menggoda Ratih.


''Kamu sendiri gimana sudah cinta belum sama Mas Gatra.'' skak balik Ratih.


''Genk, tunggu ada yang gue gak paham disini. Ra! Bang Gatra itu siapa lo? dan menikah?'' seketika hening melanda.


''Ra, temanmu ini belum tahu?'' bisik ratih ke Ara yang dijawab dengan gelengan kepala. ''Biar aku kasih tahu, boleh?'' Ara mengangguk


Ratih meraup udara banyak-banyak dan menghempaskan, menatap Pua dalam.


''Tolong kamu dengarkan dulu apa yang akan aku ceritakan cukup dengarkan jangan disela. Kamu lihat kan cincin yang melingkar di jari Ara?'' Pia mengangguk karena dilarang bicara. ''Benar ini memang cincin kawin.''ucap Ratih dengan menunjukkan jari manis Ara yang dilingkai cincin.


''Ara memang seorang istri dari Gatra Rahendra Sukma. Mereka menikah sah baik secara agama ataupun negara. Karena Bapakkulah yang mengurus berkas-berkas pernikahan Ara dan Mas Gatra.''


''Kenapa lo gak jujur ke gue dari awal Ra? gue teman lo kan Ra.'' terpaksa Pia menyela sebagai teman seharuskan Ara bisa percaya padanya.


''Maaf Pia.'' lirih Ara


''Ya kali Ara harus jujur ke semua orang, Ara masih sekolah BUK, kalau tahu sudah menikah apa iya masih diperbolehkan sekolah.'' sinis Ratih.


Ratih melanjutkan ceritanya. Dari papanya yang terkena ledakan bom, pernikahan Ara dengan orang yang baru dikenalnya belum sampai satu hari. Sampai akhirnya Papa Ara meninggal.


''Sorry Ra, Gue gak tahu sepilu itu hidup lo. Jujur selama gue kenal elo gue tuh ada rasa iri ke elo. Bagi gue hidup lo tuh kayak sempurna banget. Apalagi kalau elo lagi teleponan dengan sahabat-sahabat lo, hidup lo dikelilingi orang yang bener sayang dan tulu ke elo.


''Wong ki sawang sinawang. Ada yang bilang rumput tetangga lebih hijau, itu benar karena rumput tetangga imitasi dari plastik jadi gak bakal kering.


''Tapi gue lihat Bang Gatra tuh sayang dan perhatian banget ke Ara. Sebenarnya gue sempat curia 'masak seh ini Om dan keponakan' Apalagi saat pertama Ara panggil Bang Gatra Mas bukan Om. Ternyata Ra, elo bini orang.

__ADS_1


''Jangan bilang ke siapa-siapa dulu Pia, Ara masih ingin menyelesaikan sekolah Ara.'' mohon Ara


''Pasti Ra gue akan tutup mulut, gak akan ada orang tahu rahasia lo dari mulut gue.'' ucap Pia dengan memperagakan gerakan tangan mengunci mulutnya.


__ADS_2