Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
78. Artis Ftv


__ADS_3

Drama pagi hari masih berlanjut. Sabila masih belum rela lelaki pujaannya menikahi perempuan lain.


Saat ini mereka telah berada di parkir basement apartement. Dengan alasan datang ke apartemen Gatra dengan taksi online, Sahila meminta untuk bareng ke kantor. Dengan terpaksa Gatra menyanggupi permintaan Sabila, tak ada alasan baginya untuk menolak secara kantor mereka sama dan sekolah Ara juga searah.


Hampir saja Ara terjatuh tersenggol Sahila yang menyerobot untuk duduk di jok depan samping kemudi.


Ck.ck.ck bilang dong Mbak kalau mau duduk di depan gak usah dorong-dorong Ara, untung Ara gak jatuh.


Ara menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Sabila. Perempuan yang tadi disangkanya anggun dan berkelas. Ara mengalah dan membuka pintu belakang mobil.


Gatra yang melihat Sabila duduk di sebelahnya mengerutkan jidatnya.


''Bel! kenapa kamu duduk di sini? PINDAH!!! atau kamu berangkat sendiri ke kantor.'' tegas Gatra


Akhirnya Ara dan Sabila bertukar posisi duduknya.


Setelah Ara berpindah di sebelah Gatra ''Mas, kenapa seh ribet banget tinggal berangkat saja.'' gerutu Ara yang sudah jengah dengan kelakuan Sabila ingin rasanya segera berpisah dengan perempuan tersebut.


''Memang Rara gak ngerasa aneh? Masak iya ada suami nyetir istrinya yang manis dan imut duduk di belakang yang di depan malah sekretarisnya.'' ucapan Gatra yang membuat Sabila kembali merah padam mukanya menahan geram.


''Karena Ara memakai seragam sekolah dan Ara duduk di belakang justru orang akan mengira kalau Ara adalah NONANYA.'' ingin rasanya Ara menyebutkan Gatra sopirnya dan Sabila asistennya, tapi tak sampai hati. Bagaimanapun dia harus menghormati pada yang lebih tua.


''Iya...iya nona Mutiara Dinantinya Gatra Rahendra.'' ujar Gatra yang membuat Ara tersipu merona. Jangan ditanya yang duduk di belakang.


Setelah sampai di depan gerbang sekolah Ara segera turun tanpa memperdulikan keberadaan Sabila karena dia sudah jengkel tingkat dewa, selama perjalanan Sabila selalu saja menyela percakapannya dengan Gatra dan menyudutkannya dengan celetukan pedasnya.


Sadar mood Ara sedang tidak baik Gatra mengikuti istri kecilnya turun dari mobil. Kesempatan untuk Sabila berpindah tempat duduk di sebelah kemudi dan melempar bekal Gatra yang disiapkan Ara ke belakang.


''Rara?'' panggil Gatra karena diacuhkan Ara. ''Kenapa, sayang?'' tanyanya lagi.

__ADS_1


Nggak apa-apa. Ara sekolah dulu ya, Mas. jangan lupa bekalnya dimakan. Oh..ya nanti sandi pintu apartemen diganti ya?'' Ara meraih tangan Gatra dan menyalimnya.


''Pasti! nanti diganti. Mau tanggal pernikahan kita apa tanggal lahir kamu?'' senyum sumringah Gatra karena senang Ara terusik dengan adanya Sabila itu tandanya keberadaannya sudah mulai mengisi hati Ara. Dan dia mulai menggoda istri kecilnya.


Andai tidak di lingkungan sekolah sudah kucium keningmu Dek.


''Mas! jangan keras-keras ngomongnya ini sudah di sekolah.'' Ara menangkupkan tangan kanannya ke mulut Gatra. Membuat Gatra semakin terkekeh.


''Sudah sana masuk belajar yang bener biar cepat lulus dan __ __ '' bisa dibekap lagi mulutnya bila diteruskan.


'' Enak saja! Emang selama ini Ara gak pernah bener sekolah? bentar lagi juga Ara lulus.'' sungut Ara.


Setelah memasuki gerbang sekolah, Ara sudah dinantikan teman barunya Safea Miranti. Tak sengaja tadi Pia melihat interaksi Ara dan Gatra. Sedikit curiga dengan apa yang dilihatnya tak seperti interaksi antara Om dan kemenakan.


''Dehhh.... pagi-pagi sudah manyun saja.'' senggol Pia tiba-tiba dari sisi Ara yang otomatis membuat Ara oleng karena tanpa kesiapan.


''Kenapa? pagi-pagi sudah badmood gitu, padahal diantar Om ganteng lho! Itu Om lho bukanya Gatra Rahendra ya?'' Pia yang notabene artis Ftv dan bintang iklan beberapa produk mengenali Gatra karena dulu pernah terlibat kerja sama.


''Kamu kenal dengan Mas Gatra?'' Ara menoleh ke Pia, kok bisa Pia kenal suaminya.


''Elo manggil Om lo, MAS!'' bukannya menjawab Pia malah heran dengan panggilan Ara ke Gatra.


''Eh... itu.. anu kebiasaan. Ya sudah kebiasaan dari dulu.'' bohong Ara menutupi kegugupannya. Bisa berabe kalau Pia sampai tahu kalau Gatra suaminya bukan Om yang disangka Pia selama ini. Bagaimanapun Ara tetap takut dia masih pelajar tapi sudah bersuami.


''Oh.... gitu. tapi aneh saja, yang kutahu seorang Gatra Rahendra itu orangnya dingin habis, cuek gitu apalagi sama perempuan. Tapi tadi gue lihat hal yang berbeda. Ternyata bisa juga seorang Gatra Rahendra tertawa mesra, apa karena elo keponakannya? Yang berhijab itu siapanya? kekasihnya yang baru ya?''


''Kamu kayak akun gosip saja, sotoy! emang siapa bilang mbak gatel itu kekasihnya Mas Gatra.'' seandainya Ara bukan istri dari Gatra Arapun juga tidak akan rela Sabila bersanding dengan Gatra.


''Emang kamu tahu, Pia siapa kekasih Mas Gatra?'' kekepoan menelisih relung hati Ara.

__ADS_1


''Jasuke! jangan suka kepo.'' ucapan menggoda Pia '' Apalagi sama Om sendiri. Gini-gini berguna juga kan apa yang gue tahu, buat elo?


''Iya...iya yang artis. Maaf dech telah meragukan Pia. Jadi siapa kekasihnya Mas Gatra?'' Ara merayu Pia yang pura-pura sewot untuk menggoda Ara. Pia senang selama hampir tiga tahun di sekolahnya baru ditahun ketiga dia mendapatkan teman. Walau hanya sebentar nanti kebersamaannya, gak papa setidaknya punya satu kenangan tentang pertemanan. Karena status artis yang disandangnya bukan membuatnya mudah untuk mendapatkan teman, tapi malah jadi bahan bulian.


Saat Pia akan bercerita tentang siapa kekasih Gatra, tiba-tiba ada yang menyenggolnya dengan kasar hingga Pia terhuyung dan untungnya ditahan oleh Ara.


''Up....sorry. Sengaja!!! Wah...wah..wah.Si ***** sudah ada teman nih? Hati-hati lho! ntar dijadikan tumbal.'' suara teman yang paling suka dan sering ngebuli Pia.


''Siapa sih Pia kok bar-bar banget.'' tanya lirih Ara takut kedengaran si empunya bisa tambah bar-bar nanti.


''Elu tanya siapa kekasih Om lo? noh adeknya!'' aura Pia seketika berubah jutek.


''Maksud Pia apa?'' Ara menghentikan langkahnya dan menghadap ke Pia.


Pia tak segera menjawab pertanyaan Ara malah sedikit menyeret Ara untuk tetap berjalan menuju ke kelas.


Ara segera mendududkan diri di bangkunya setelah sampai di kelasnya. Tatapan penasaran masih dia tujukan kepada Pia yang sedang menyeret kursinya mendekat kepadanya.


''Elu tahu musisi lawas Doni Ramlan?'' tanya Pia setelah memposisikan duduknya dekat dengan Ara.


Ara nampak berfikir tapi buntu dia tak tahu siapa Doni Ramlan.


''sudahlah kalau elu tidak tahu, mungkin kalau elu dengar lagu-lagunya elu akan tahu siapa dia.'' Seakan mengerti kalau Ara tidak tahu siapa itu Doni Ramlan. ''Dijamannya Doni Ramlan sangat terkenal, bukan hanya prestasinya dan lagu-lagu yang selalu bumming tapi juga kehidupan pribadinya. Disaat sedang tenar-tenarnya dia rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi seorang pelakor dimana sahabat istrinya sendiri. Yang bar-bar tadi anak dari Doni Ramlan dengan si pelakor Alana Ramlan. Sebelum akhirnya dinikahi oleh Doni Ramlan ibu dari Alana janda beranak dua, salah satunya Clarita Wanda. Model dan bintang layar lebar yang cukup terkenal. Setahu gue Clarita ini kekasih Gatra Rahendra.''


''Clarissa, Pia?'' bayangan Ara tertuju pada Rissa yang dijumpainya di living plaza tempo hari.


''Beda orang Ra!??? Clarissa mah reporter dan penyiar berita salah satu stasiun tv. Gue kenal juga orangnya mah baik kebalikannya si Clarita. Elu kenal dengan Clarissa? Apa jangan-jangan Om Gatra ninggalin Clarita demi Clarissa? kalau ini gue setuju banget.'' sorak gembira terpancar di wajah Pia.


''Mas Gatra dan Kak Rissa gak ada hubungan apa-apa Pia???'' walau ada cinta di setiap tatapan Rissa untuk mas Gatra.

__ADS_1


__ADS_2