Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
94.


__ADS_3

Setelah sampai di apartemen Ara langsung menuju ke kamarnya untuk bersih-bersih.


''Ra, katanya punya hadiah untuk Mas?'' tanya Gatra sesaat sebelum Ara masuk kamar.


''Iya nanti Ara kasih, sekarang Mas bersihin diri dulu.''


''Ikutan bersihin di kamar Rara boleh?'' niat Gatra hanya menggoda.


''Nggak boleh.''


Ara telah selesai mandi rambut lurusnya dibiarkan tergerai, hatinya nampak ragu untuk memakai baju dinas malam yang kata Pia. Benar kata Ratih ini tuh cuma kain saringan santan, sama sekali tidak menutup aurat. Ara malu kalau harus memakainya.


Akhirnya Ara mengenakan apa yang dari tadi cuma ia bolak-balik. Berkali-kali Ara mematutkan diri di depan cermin.


KREEEKKK


Gatra membuka pintu kamar Ara. Dia sudah menunggu Ara di meja makan untuk waktu yang lama sehingga memutuskan untuk menghampiri Ara ke kamarnya.


Sungguh sangat kaget Gatra melihat pemandangan di depannya. Ara yang sama kagetnya hanya mampu menyilang kan tangan di dadanya, handuk dan bathdrobe terlalu jauh untuk diraih.


Pelan Gatra mengikis jarak ''Ra.. ''Gatra meraih bahu Ara mengangkat muka Ara agar mau menatapnya. ''Kenapa Rara pakai beginian? Rara tahu ini dipakai buat apa?'' Ara hanya mengangguk.''Ra?''


''Ara...Ara... mau.'' bingung jantungnya sudah berdetak keras seakan mau keluar.


Gatra membawa Ara untuk duduk di tepian ranjang. ''Sayangnya Mas mau apa hem?''


''Ara mau jadi istri Mas?''


''Bukankah Ara istrinya Mas. Mutiara Dinanti adalah istrinya Gatra Rahendra Sukma selamanya Mas ingat itu.


''Ara mau jadi istri Mas Gatra yang sesungguhnya. Ara sayang Mas Gatra, Ara gak mau Mas Gatra diambil pelakor hanya Tuhan yang boleh ambil Mas Gatra dari Ara.''

__ADS_1


''Kenapa Rara sampai punya pikiran seperti itu?''


''Kata Pia banyak yang suka sama Mas Gatra, nanti kalau Mas Gatra diambil pelakor Ara sendirian.''


Dasar bocah tua berani bener dia cuci otak bini gue yang masih polos ini. Dan baju haram ini jangan-jangan ide gilanya juga. Ternyata notive transaksi yang kemaren untuk ini. Kali ini gue maafkan ada baiknya juga Ara berteman dengannya.


'' Ra, Rara pakai ini juga karena Pia?'' Ara menggeleng. Masak iya inisiatif Ara sendiri, gak percaya Gatra.


''Rara tahu dengan menggunakan pakaian seperti ini berarti Rara sedang menggoda Mas?'' lagi-lagi Ara mengangguk


''Rara masih sekolah dan belum lulus, Rara sadar dengan konsekuensinya? beri Mas alasan yang kuat yang bukan karena atau pendapat atau saran dari Pia?'' Gatra tetap harus bijak menyikapinya apalagi ini menyangkut masa depan rumah tangganya, walau yang dibawah rasanya sudah nyut-nyutan gak jelas melihat Ara yang bagai polosan.


''Ara hanya ingin menjadi istri mas yang sesungguhnya di saat yang spesial dan Ara pikir ini bisa menjadi hadiah untuk ulang tahun Mas Gatra.''


Sayang Mas memang ingin sekali memilikimu seutuhnya suatu hari nanti, dan Mas tidak menyangka kalau akan datang secepat ini.


''Rara yakin mau melakukannya malam ini? sekolah Rara?''


Ara istrinya dan sah saja Gatra menggaulinya. Dimana letak kesalahannya toh Ara juga sudah suka rela bersedia.


CUP


Gatra mengecup lembut kening Ara. ''Terima kasih sudah bersedia menjadi istri Mas.''


Pandangan Gatra tak beralih dari benda kenyal merah jambu yang setiap malam dia ciri untuk dikecup. Seperti yang dilakukannya tiap malam Gatra mengecup si kenyal merah jambu. Sekali dua kali menjadi ******* yang menuntut hingga Ara tersengal kehabisan nafas baru Gatra melepaskan.


''Maaf.'' Gatra mengelus bibir Ara yang sedikit membengkak karena ulahnya. ''Mas yang pertama cium Rara?'' Ara mengangguk pelan. ''Kita pindah ke kamar Mas yuk!'' ajak lembut Gatra.


Ara mengikuti Gatra pindah ke kamarnya.Jantungnya berdetak luar binasa, apalagi setelah berciuman dengan Gatra. Melihat Ara yang hanya berdiri mematung, Gatra mengangkat Ara dan membaringkan Ara dengan pelan di tengah tempat tidurnya.


''Mas tanya sekali lagi Rara yakin mau melakukannya malam ini? karena nanti Mas gak akan bisa berhenti.''

__ADS_1


''Yakin.'' pelan Ara


''Rara mau kenalan dulu dengan Otong?'' kening Ara mengkerut. iya kali dalam keadaan seperti ini Ara mau ketemu orang lain. Ara hendak menggeleng tapi keburu tangan kirinya dibawa Gatra menyentuh pusat intinya yang telah berdiri kokoh dibalik celana tipis yang digunakan Gatra. Yang entah kelupaan, kebetulan atau sengaja Gatra tidak memakai ****** *****, hingga sekali lepas si Otong sudah siap untuk berkenalan ''Ini Otong Ra.''


''Hah!'' kaget Ara, awalnya ingin menolak menyentuh tapi teringat adegan film dewasa dari Hp Pia, Ara jadi mengelus si Otong yang jelas membuat kakaknya belingsatan. Segede gini gimana masuknya ke anuku.


Ara ikutan menegang sama seperti si Otong. Gatra dapat melihat jelas itu, ini adalah pengalaman pertama bagi Ara walau bagi dia juga. Gatra akan main sesantai dan selembut mungkin agar tidak menimbulkan trauma pada Ara.


Perlahan Gatra mulai menyusuri leher Ara merembet ke bagian dada membuat Ara menggeliat geli. Kali ini Gatra tidak lagi curi-curi yang hanya dapat tengkuk Ara.


Dua gunung kembarpun siap dia jelajahi tanpa hambatan. Penjelajahannya berhasil membuat Ara mendesah manja dan membuat Gatra semakin terpacu.


Ara merasakan sakit yang luar biasa, ada bagian dari dirinya yang seperti dirobek. Gatra menghentikan aksinya si Otong selain karena jeritan Ara juga rasa perih si Otong.


''Sakit, Mas. sakit sekali.''rintih Ara dibawah kukungan Gatra.


''Sakitnya cuma sekali ini saja Rara ini kan baru pertama buat kita, nanti setelahnya akan enak.'' bujuk Gatra agar Ara tidak trauma. Dikecup lagi bagian sensitif Ara, yang membuat Ara lupa akan rasa sakitnya. Hingga si Otong bisa beraksi lagi. Perlahan-lahan hingga hingga Ara kembali menjerit lagi.


''Mas... Ara mau pipis.'' suara Ara yang ngos-ngosan. Hingga Gatra menambah temponya.


''Gak papa keluarkan sayang.'' sekali Gatra merasakan surga dunia yang rasanya membawanya terbang ke awan. Gatra tumbang dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan di sebelah Ara.


''I love you Sayang. terima kasih kado ulang tahunnya, Mas suka sekali.'' ucap Gatra dan mengecupi kening Ara. ''Masih sakit? maaf ya sayang, Mas lukai Rara.'' Gatra bertanya karena Ara hanya diam saja. Sama seperti Gatra Ara lebih ngos-ngosan dadanya sampai naik turun mengatur napasnya.


''Jadi begini ya Mas rasanya malam pertama? harus sakit dulu baru bisa enak. tapi di film yang dikasih liat Pia kayaknya hanya enak-enaknya saja yang Ara lihat.''


''Rara lihat film apa?''gaswat ini bila keterusan gaul sama setan kecil itu. ''Ra, gak usah nonton film yang gituan lagi ya? Rara kan sudah bisa praktek langsung sama Mas. Sudah gak perlu teori lagi.''


''Iya, Ara kan cuma lihat sekali. kata Pia untuk Ara belajar nyenengin Mas Gatra.''


''Rara mau nyenengin Mas lagi?'' dan tanpa ba-bi-bu Gatra yang bagai singa kelaparan kembali menerkam Ara.

__ADS_1


__ADS_2