Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
92. Playboy insaf


__ADS_3

''Sudahlah Tih, kamu istirahat saja. Aku bisa sendiri, kasihan kamunya nanti malam masih perjalanan jauh. Sana duduk-duduk saja atau tiduran di kamar Ara.'' Ara mendorong Ratih dari dapur wilayah kekuasaannya. Ara tidak mau Ratih kecapekan.


''Sana Tih, temani si calon mas bojo saja, kasihan genjrang- gengreng sendiri.'' Ara menggoda Ratih yang tak bergeming dengan usiran Ara. Ratih mencebik memoyongkan bibirnya dan membuat Ara terkekeh.


Rega yang begitu masuk ke apartemen Ara dan melihat ada gitar langsung memainkannya di balkon. Tentu saja setelah ada ijin dari siempunya. ''Lumayan daripada jadi kambing congek.'' guman Rega. Karena dia tahu pasti akan diabaikan bila Ratih sudah berkumpul dengan Ara.


Tes... jreeenggg....


Sayang, opo Kowe krungu jerite atiku?


Mengharap engkau kembali


Sayang, ngasi memutih rambutku


Ra bakal luntur tresnoku


Hanya sepenggal lagu Sayang satu yang dipopulerkan Via Valen dinyanyikan Rega.


Ara dan Ratih duduk di kursi dapur. Mendengar nyanyian Rega Ara menggoda Ratih.


''Duh yang sudah disayang-sayang.''


''Paan seh Ra! gak jelas." cebik Ratih


Kembali sepenggal lagu dinyanyikan Rega


Piye,


Bagaimana


Sing jelaske Karo wong tuwo


Menjelaskan pada orang tua


Wes nglakoni tekan semene


Sudah menjalani sampai sekarang


Nek akhire bakal bubar pisahan


Bila akhirnya berpisah


Kowe kegodo tresno wong liyo


Kamu tergoda cinta orang lain


Ara mengerutkan dahi.''Kayaknya ada yang gak beres dengan kalian?'' tanya Ara penuh selidik ke Ratih. ''Apa?!''


Ratih menghela nafas kasar. '' Catat Ra, kita belum ada hubungan ya? Rega saja mungkin yang baper.


Kamu Tih masih saja ngelak kalau juga suka ke Rega. ''Baper gimana?''


''Tadi setelah ketemuan dengan Budhe di cafe ada penyanyi suaranya bagus banget. spontan dong aku muji tuh penyanyi, eh Reganya sewot morang-morang gak jelas. Tapi beneran Ra, suara penyanyi itu bagus banget, ganteng juga orangnya walau penampilannya ala-ala badboy gitu. Sayang orangnya dingin habis ketus lagi.''


''Emangnya kamu kenalan dengan penyanyi itu?'' sela Ara


''Gak sengaja, tadinya aku mau manggil Rega ternyata penyanyi itu yang mendekat. Ternyata namanya mirip, Raga nama penyanyi itu.''

__ADS_1


Hah!


"Kak Raga." mimik muka Ara berubah sendu.


"Kamu kenal? Ra...Ara...'' Ratih menggoyang tangan Ara yang mendadak jadi diam.


''Apa Tih?''


''Kamu aneh Ra? kamu kenal dengan penyanyi yang aku cerita?'' Ara menggeleng. Pikirannya mengembara entah kemana, Ratih jadi takut dengan perubahan Ara. Kejadian Ara pingsan ketika pertama berkenalan dengan Rega kembali muncul. Walau penasaran Ratih memilih tidak melanjutkan cerita. Bisa panjang urusannya kalau Ara pingsan kala Ratih sedang bertamu.


Memilih fokus pada lagu Rega yang kali ini lumayan lengkap tidak sebait-sebait


Kembangan sepeleku


Tondo seneng marangmu


Kar'na ku terpuruk sendiri dalam hampa


dan kau datang merubah cerita


Aku Nemu widodari


Motomu kebak pelangi


Hadirmu dalam hidupku beriku warna


Dari kisah masa lalu yang pernah terluka


Ku pernah terjatuh, ku pernah ditinggalkan


Pupus cerita, tinggallah impian


Kirimkan kau untukku, kekasih yang tulus


Dan kisah kelamku, kini hilang terhapus


Sayang gondelano atiku


Yen takdire gandeng Yo bakale gandeng


Tuhan, terima kasih hadirkan penjaga hatiku


Yang slalu setia menemaniku


Ku pernah terjatuh, ku pernah ditinggalkan


Pupus cerita, tinggallah impian


Oh, Maha Sempurna Tuhan


Kirimkan kau untukku, kekasih yang tulus


Dan kisah kelamku, kini hilang terhapus


Sayang, gondelano atiku


Yen takdire gandeng, Yo bakale gandeng

__ADS_1


Tuhan, terima kasih, hadirkan penjaga hatiku


Yang slalu setia menemaniku


''Sepertinya setelah kepergian ku banyak cerita yang aku lewatkan Rega benar telah banyak berubah. Itu lagu beneran buat kamu Tih. Si playboy telah insaf, sebentar lagi bakal bucin ke kamu Tih.''


Hati Ratih sedang berbunga-bunga cuma dia masih malu mengakui.


Gatra pulang sesaat setelah Ratih dan Rega datang.Seperti biasa Gatra akan mencium kening Ara setelah Ara menyalim tangannya.Jelas saja jiwa jomblo Ratih meronta. Mau donk punya paksu yang seperti itu. Setelah berbasa-basi sebentar Gatra segera masuk kamar untuk bersih-bersih.


''Ra, untuk besok gimana?'' dengan pelan Ratih bertanya


'' Gimana, bagaimana?'' tanya balik Ara tanpa menoleh, tetap fokus irisan brownies dan bebek kremes yang dibawa Gatra. Rencananya memang Ara mau masak untuk Ratih dan Rega, tetapi ketika Gatra menelpon dan Ratih minta izin untuk belanja ke supermarket sendiri dilarang oleh Gatra. Sebagai gantinya Gatra akan membelikan dalam bentuk matang apa yang ingin dimasak Ara.


''Rencana unboxing.'' suara Ratih meninggi karena Ara yang pura-pura tidak paham dengan pertanyaannya.


''Ratih. Jangan keras-keras.'' segera Ara menutup mulut Ratih dengan tangan yang masih belepotan remahan brownies. Ratih berontak berusaha melepas bekapan tangan Ara.


''Kamu Ra, ditanya juga.'' suara Ratih setelah berhasil lepas dari bekapan tangan Ara.


''A___ku merinding Tih.''


''HaH. merinding yang bagaimana? bukannya baru mau besok ya? kok merinding seh Ra.''


''Tadi setelah kamu pergi meninggalkan kami, Pia ngajak aku untuk menonton Vidio mempererat persatuan dan kesatuan bangsa serta perkembangbiakan pada manusia.'' kata Ara seperti berbisik.


''Jadi tadi pulang ngemall kalian belajar?'' Ratih manggut-manggut seakan paham. maklumlah sudah dekat ujian ini.''Kenapa belajar biologi? kita kan IPS.'' kalau persatuan dan kesatuan bangsa sih iya, tapi ini perkembangbiakan pada manusia?


Ara menghela nafas panjang.''Bukan belajar yang sesungguhnya Tih.... tapi belajar___ sudahlah pokoknya saru.'' Ara saja bingung mau menjelaskannya dari mana, apalagi Ratih yang bertanya. Tidak baik mencemari otak Ratih yang masih polos.


''Maksudmu Pia ngajak kamu nonton Vidio anu-anu?'' lah ternyata Ratih tak sepolos yang Ara kira.


Hek


''Kamu pernah begituan Rih? maksudnya nonton gitu?'' pekik Ara yang langsung disumpal mulutnya dengan potongan brownies oleh Ratih. hingga Ara megap-megap dan mencari air putih.


''Semarangan kalau ngomong! Sorry sengaja jadi tersedak kan?'' Ratih ikut membantu mengambilkan Ara air putih. ''Dulu itu nggak sengaja Ra, Aku ngintipin Mas Ramma sama temannya yang lagi serius lihatin laptop kukira belajar ternyata lagi nonton film anu-anu. Nggak lama Bapak datang dimarahin deh Mas Rammanya.'' cerita Ratih


''Kirain Tih, kamu nonton drakor adegan ciuman saja tutup muka.'' kata Ara setelah menandaskan air putih segelas. ''Tapi aku gak nyangka lho Mas Ramma suka nonton gituan.'' Ramma yang dikenal Ara adalah cowok religius. Tanpa humor selalu cool dan tegas, makanya sekarang dia menjadi polisi.


''Namanya juga laki-laki Ra, butuh referensi. Setidaknya Mas Ramma bukanlah playboy.'' tetap saja Ratih membela kakaknya sendiri


''Ra sebenarnya dulu aku tu pengen kamu nikahnya sama Mas Ramma, tapi ya sudah takdir kalian gak jodoh.''


''Kamu Tih, Iya kali Mas Ramma suka ke aku?''


''Siapa suka siapa Ra?'' suara Gatra mengagetkan percakapan Ara dan Ratih. Keduanya jadi salah tingkah.


''Mas Gatra, sudah selesai bersih-bersihnya?'' Ara yang gugup tidak menjawab pertanyaan Gatra malah balik bertanya


Gatra mengangguk dan tetap pada pertanyaannya.'' Siapa yang suka sama Raranya Mas, hem?'' lebih lembut Gatra bertanya


''Banyaklah, secara Ara cantik begini. Noh salah satunya.'' jawab Ratih mewakili Ara yang gugup, dengan menunjuk Rega.


''Sudahlah pasti sudah pada lapar kan kita makan saja dulu nanti disambung lagi ceritanya, atau sehabis makan langsung istirahat saja kasihan tubuh kalian pasti capek banget. mana mau perjalanan malam lagi.'' Ara ingin menyudahi agar pertanyaan Gatra tidak meremen kemana-mana.


''Nggak nginep kalian?'' tanya Gatra yang tidak tahu rencana kepulangan Ratih dan Rega ke Semarang.

__ADS_1


''Nggak Mas, waktunya mepet besok saja kalau Ratih sudah beneran kuliah di sini bakal sering main ke tempat Ara.''


''Harus dong! awas saja kalau tidak.'' Ara pura-pura marah ke Ratih


__ADS_2