
Keesokan harinya
Ara masih dirawat belum diijinkan untuk pulang. Padahal sejak semalam Ara sudah merengek pada Gatra untuk pulang saja. Dia merasa tubuhnya tidak apa-apa bahkan semakin membaik karena Gatra yang terus berada disampingnya. Tak sedetikpun Gatra menghilang dari pandangan Ara. Sekedar ke toiletpun dipesan jangan lama-lama. Pia yang malam hari kembali datang menjenguk sampai jengah dengan polah sahabatnya itu. Seperti bukan Ara saja. Padahal berangkat dari rumah dia begitu khawatir dengan karena Ara yang siuman bukan Gatra yang dicari tapi laki-laki yang bernama Raga. Jelas Pia kepo, sayangnya Pia terpaksa meninggalkan rumah sakit karena dipaksa ikut oleh Farel dan Aldi untuk membuat laporan di kantor polisi tempat Claritta diamankan. Dan kini Pia kembali lagi untuk menuntaskan kekepoannya, tapi maaf Pia belum beruntung.
Semula Bunda juga merasa heran dengan perubahan sikap Ara yang begitu bermanja pada Gatra. Padahal biasanya selalu malu-malu bila didekati Gatra. Tapi setelah mendengar bahwa Ara lagi hamil Bunda jadi maklum.
''Apa Tra!''
''He he iya Ara lagi hamil anak Gatra Bun.''
''Gatra. Gatra gadis sekecil itu kamu buat hamil! terlalu kamu Tra.'' protes Bunda sesaat setelah Ara tertidur karena pengaruh obat.
''Yah, Bunda mau jadi nenek.'' dengan bangga dan bahagia mengadu pada Ayah. Padahal Ayah juga mendengar langsung berita kehamilan menantunya.
''Iya Bun, nenek dan kakek.'' tak lupa ayah menunjuk dirinya sendiri untuk calon cucunya. Tentu saja Ayah lebih bahagia lagi dengan kehamilan Ara. Ren sebentar lagi kita akan punya cucu. Ara anakmu sudah hamil Ren. Kupastikan akan kujaga cucu kita Ren. Tangis bahagia ayah dalam hati.
Dasar nenek-nenek plin-plan. Mantunya hamil anaknya dimarah-marah. Lihat sekarang bahagianya minta ampun.
''Ara bagaimana? bisa kan menerima kehamilannya?'' ternyata bunda was-was juga dengan mental Ara. Bagaimanapun Ara masih muda ijasah SMApun belum diterima. Tentu dia masih ingin kuliah mungkin juga ingin punya karier nantinya.
''Ara belum tahu. Gimana cara memberitahunya ya, Bun?'' Gatra meminta pendapat Bunda
''Yaelah Tra, kamu itu berani berbuat ya berani bertanggung jawab.'' ceplos Bunda
''Lah kurang tanggung jawab gimana Bun, Ara hamil kan sesudah Gatra nikahi.''
''Iya. ya sudah tanggung jawab he.. he..he.. Pantas saja Ara sangat manja sekali sama kamu bawaan bayi ingin nempel terus ke papanya.''
''Bawaan bayi yang gimana Bun?'' tanya Gatra penasaran.
''Ngidam Tra.''
''Ara belum minta yang aneh-aneh kok Bun.'' setahu Gatra perempuan hamil kalau ngidam itu ya minta hal yang aneh-aneh terutama makanan.
''Ngidam itu tak melulu minta makanan Tra, ingin dekat dengan suami dimanja terus sama suami itu juga ngidam Tra. Intinya kamu harus ektra sabar untuk memenuhi keinginan ibu hamil.''
Gatra manggut-manggut dengan penjelasan Bunda.
Apa yang dikatakan si Pia kalau Rara kangen sama si Otong juga termasuk ngidam ya? gak mungkin juga aku tanya Bunda hal beginian bisa di buli habis-habisan aku.
Di taman di belakang ruang perawatan Ara. Dengan di temani Gatra Ara menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
''Mas, kapan Ara boleh pulang? Ara gak suka rumah sakit.'' kembali Ara merengek minta pulang.
''Sabar ya, nunggu visit dokter nanti Mas tanya sudah boleh pulang belum.'' Gatra sengaja mengulur waktu agar bisa membawa Ara ke bagian obgyn.
''Tapi Ara sudah sehat. Sudah gak pusing lagi.''
''Iya. Mas tahu cuma untuk memastikan saja tidak ada cendera lain.'' dengan menautkan tangan yang kelihatan separuh dari tangannya itu.
''Ra, boleh Mas tahu cita-cita Raranya Mas ini?'' tanya Gatra hati-hati.
__ADS_1
Ara mendongak menatap Gatra.'' Kenapa Mas?''
''SMA Rara kan sudah selesai, Rara mau lanjut kuliah dimana? terus pengennya nanti dapat kerjaan yang gimana? pasti dong Rara punya angan-angan itu. Mas gak akan menghalangi cita-cita Rara itu asal Rara tetap ingat kalau Rara sudah bersuami.'' kata terakhir Gatra sambil memencet hidung Ara.
''Ish... sakit Mas.'' Ara pura-pura nemberengut. Bibirnya yang mengerucut membuat Gatra jadi ingin mengecupnya dan...
CUP
Berhasil. Gatra mengecup si merah jambu kesenangannya.
''Mas. Malu ini di tempat terbuka.'' sewot Ara.
''Jadi kalau tempat tertutup mau?''
''Mau. Eh... Mas Gatra jangan godain Ara.'' wajah Ara sudah bersemu merah seperti kepiting rebus karena keceplosan.
''Iya maaf. gemes Mas lihat Rara. Jadi apa cita-cita Rara?''
Ara terdiam seperti berpikir. '' Gak punya.'' lirih Ara tanpa beban
Gatra tercengang gak mungkinlah gadis muda yang sudah tidak gadis lagi seperti istrinya itu tidak punya cita-cita.
''Gak punya?'' beo Gatra
''Gak punya.'' ulang Ara
''Sama sekali?'' Gatra memastikan
''Waktu itu keinginan Ara cuma satu semoga bila Ara bersuami kelak mau diajak tinggal dengan Papa. Karena cuma Papa keluarga Ara satu-satunya. Ara akan berikan Papa cucu yang banyak biar dihari tuanya Papa tidak kesepian dan selalu terhibur dengan tingkah polah cucu-cucunya. Rumah akan selalu ramai karena cucunya banyak.'' Ara tersenyum getir mengingat itu. Gatra meraih tubuh ringkih yang mulai bergetar menahan tangis ke dekapannya. ''Tapi Ara tetap mau lanjut kuliah Mas.'' ucap Ara disela tangisnya.
''Iya. Ara harus tetap lanjut pendidikan.''
''Rara mau kasih cucu Papa?'' tanya Gatra sesaat setelah Ara mulai tenang. Dan Ara mengangguk pelan. Jelas bahagianya Gatra ternyata ketakutannya cuma momok saja.
''Mas Gatra mau punya anak dari Ara?''
Bukan mau lagi Ra, tapi kamu sudah hamil anak Mas. Ada kehidupan baru di rahimmu, buah cinta kita sayang.
'' Tentu saja sayang. Mas bahagia sekali Ara hamil anak Mas.'' menatap Ara penuh cinta.
''Apakah Ara hamil Mas?'' tanya Ara ragu-ragu ada guratan tanya di dahinya.
''Kalau hamil kan tidak mentruasi, dan...''
''Tamu bulanan Ara hampir dua bulan ini tidak datang Mas.''
''Kalau sudah ada Dedek di dalam sini Rara mau merawatnya?'' tanya Gatra hati-hati sekali.
''Maulah kan anak Ara.''
''Terima kasih sayangnya Mas.'' Gatra kembali menarik Ara dalam dekapan. Tak kuasa air mata bahagianya luruh. ''Nanti kita periksa ke dokter Winda Ya?''
__ADS_1
''Ra.'' Raga menghampiri Ara dan Gatra
''Kak Raga.'' jawab Ara yang kaget dengan kedatangan Raga. ''Mas ini...'' Ara merasa tak enak hati dengan Gatra.
''Gak papa Mas tinggalkan kalian berdua ya? mungkin ada yang harus dibicarakan.''
''Tapi Mas.''
''Mas percaya Raranya Mas.'' Gatra pergi setelah mendaratkan kecupan pada dahi Ara. Mencoba berlapang dada meski gemuruh melanda.
''Gila Lo Tra. Bini Lo tinggal dengan masa lalunya.'' Songsong Iwan karena Gatra berjalan mendekat padanya
''Gue masa depannya.'' santai Gatra
''Busyet. CLBK merana Lo.''
''Gak mungkin sudah terikat kenceng gak bakalan lepas. Mending temani gue cari sarapan yuk.''
''Ra gue bawain sarapan kesukaan Lo.'' Raga menyodorkan rantangan dan diterima Ara.
''Apa ini Kak?'' Ara membuka rantangan yang ternyata berisi nasi gudeg lengkap.
''Ayo dimakan Ra, masih hangat semua.''
''Kelihatannya enak Kak. Sudah lama Ara tidak makan nasi gudeg komplit seperti ini.'' rasa bersalah mulai menjalari Ara. Raga masih saja ingat
makanan yang membuat mereka bertemu. Dan akhirnya harus jadi kenangan.
''Gue Nemu warung makan yang jualan ini dan langsung jadi langganan gue karena rasanya gak jauh beda dengan yang di Magelang.'' terang Raga
''Kita makan bersama ya, Kak.'' Ara bangkit dari duduknya untuk mencuci tangan di kran air yang ada di taman tersebut diikuti Raga. Kemudian mereka makan bersama dalam keheningan. Butuh waktu lama untuk Ara menghabiskan nasi gudeg yang dibawa Raga. Susah payah Ara menelannya karena dia tak ingi mengecewakan Raga.
''Ra.''
''Iya.''
''Apa Lo bahagia? Apa suami Lo baik sama Lo?'' Raga bertanya tanpa melihat ke Ara. Karena dia tahu jawaban yang akan diberikan Ara sudah pasti membuat sakit hatinya.
Semalam Ettan sudah cerita semua yang dia tahu. Pun dengan Clarissa juga mamanya. Sudah tak ada celah untuknya membawa Ara ke sisinya.
Seandainya waktu bisa diputarnya akan dihindarinya kecelakaan itu. Bukan Ara yang terpaksa pergi darinya. Tapi dia sendiri yang membuat Ara pergi. Pencarian dan penantian yang sia-sia. Tak mungkin Raga menjadi pebinor. Apalagi Papa Randy yang memilihkan suami untuk Ara, laki-laki yang sangat dia hormati. Seorang ayah pasti ingin yang terbaik untuk putrinya, termasuk jodohnya.
''Maaf Kak.'' lirih Ara
''Lo gak salah Ra, cuma kita yang gak jodoh. Tapi gue mohon sama jangan paksa gue untuk ngelupain Lo. Gue gak bisa, selamanya Lo dan kenangan Lo selalu ada di sini.'' ucap Raga dengan menunjuk dadanya.
''Berjanjilah Lo akan selalu bahagia Ra.''
''Kak.'' Ara terisak dalam tangisnya
'' Ikhlasku Bahagiamu Ra.''
__ADS_1
''Kak Raga harus janji juga kalau Kak Raga juga harus bahagia. Ara berdoa dan berharap Kak Raga bertemu dengan perempuan yang lebih segala-galanya dari Ara. Jika kelak kita berjumpa lagi kita sudah bahagia dengan pasangan kita masing-masing dan tak ada lagi air mata penyesalan mengapa kita dipisahkan.''