Di Persimpangan Cinta

Di Persimpangan Cinta
46


__ADS_3

Ara mulai tersadar pelan-pelan matanya terbuka. Ada Papanya dengan wajah cemas di hadapannya.


''Papa.'' Ara berusaha untuk bangun, pusing di kepalanya belum sepenuhnya hilang.


Papa Randy mencegah Ara untuk bangun '' Dek, sudah sadar Nak, jangn bangun dulu, tiduran dulu ya.''


''Pa, Ara ada di mana? '' Ara mulai mengingat kalau terakhir tadi dia bersama Ratih di depan sekolahnya untu bertemu dan mengembalikan pemberian Rega.


''Kita ada di klinik Dokter Lusiana, Ra.''


Ara mengangguk paham, dr. Lusiana SpS adalah dokter spesialis saraf yang bertanggung jawab pada perawatan selama Ara koma di rumah sakit. Setelah Ara sembuh, dan bisa keluar dari rumah sakit Papanya tetap melanjutkan perawatan Ara di klinik dr. Lusiana.


Ini pinsan pertama Ara pasca kecelakaan, dan juga sudah tiga bulan terakhir Papa Randy tidak mengajak Ara periksa kesehatannya ke klinik Dokter Lusiana.


Sangking paniknya mendapat kabar kalau Ara pinsan di depan sekolah, Papa Randy langsung membawa Ara ke klinik Dokter Lusiana.


''Kok bisa sampai sini, yang ngantar Ara siapa, Pa? nggak mungkin Ratih kan, dia kan tidak tahu tentang klinik Dokter Lusiana. Dua orang yang baru dikenal lebih tidak mungkin.


''Kebetulan tadi Papa lagi di balai kota sewaktu Ratih telepon Papa.''


''Sekarang Ratihnya, mana?''


''Ada di luar bersama dua teman laki-laki, tadi mengikuti mobil Papa dari belakang.''


''Dua orang laki-laki?'' Ara mengernyitkan dahinya. masak iya Rega dan Revano.


'' Iya, mereka teman Ara, kan?''


Flashback on


Beruntunglah lokasi Papa Randy berada sangat dekat, tak sampai sepulih menit Papa Randy sampai.


Masih dengan seragam dinas lengkap, Papa Randy menghampiri Ara terduduk pinsan bersender pada Ratih. Ara dibopong Papanya dimasukkan ke mobil.


Ratih menarik tangan Rega '' Eh... kenapa situ narik-narik!'' sewot Rega yang kaget dengan ulah Ratih.


''Pakai nanya! ngikutin Ara, dodol. Ayo buruan.'' Ratih segera bertengger ke atas motor.


'' Motorku yang ini.'' Rega menaiki motornya, ''dasar cewek aneh.'' guman Rega.


Belum juga motor dihidupkan tiba-tiba berat dibagian belakangnya. Setelah ditengok. Ternyata sudah ada Ratih nemplok diboncengan.


''Buruan dodol!! keburu jauh.''


''Haduh. Dasar cewek bar-bar.''


Revano tertawa ngakak melihat drama nyata di depannya.


''Van, kamu ikut ya?'' minta Rega memelas pada sahabatnya. '' masak iya, aku jalan sama si bar-bar.'' langsung saja dapat pukulan di helm yang baru selesai terpadang.


''Ngemeng wae! buruaaaannn.'' makin emosi Ratih.


''Demi drama elo berdua gue siap mengawal.'' kata Revano keras.

__ADS_1


Flashback end


Tok tok tok


Ceklek


''Assalamualaikum '' ternyata Dokter Lusiana yang datang. Tadinya beliau masih dinas di RSU ketika ditelepon pihak klinik ada pasien bernama Ara datang dalam keadaan pinsan. Ara adalah pasien istimewanya, maka beliau segeta bergegas pulang ke kliniknya.


''Waalaikumsalam '' jawab Ara dan Papanya.


''Wah ada Ara berkunjung, sudah lama lho Ara tidak pernah ke sini. Kirain Ara sudah lupa sama dokter.''


canda Dokter lusiana. Menghampiri Ara dan mulai memeriksa Ara. '' Ara kenapa? tadi katanya pinsan ya,''


''Tadi pusing banget, Dok.''


'' oh... gitu, sekarang masih pusingnya? '' Dokter Lusiana memang selalu menggunakan kata-kata yang sesantai mungkin bila berbicara dengan pasiennya. Tujuannya agar si pasien merasa nyaman.


''Sedikit, Dok.''


''Maaf, Dok tadi saya panik. Ara belum pernah pinsan sebelumnya. Apalagi sejak Ara kecelakaan.'' ucap Papa Randy sungkan telah mengganggu waktu kerja Dokter Lusiana.


''Tidak apa-apa Pak Randy. Ara adalah pasien istimewa saya, sebisa mungkin akan saya nomer satukan.''


Ara tersenyum dengan gombalan bu dokter.


''Karena Ara masih pusing, dokter kasi obat ya, harus di minum ya?'' Dokter Lusiana bergegas meninggalkan akan meninggalkan Ara kemudian, '' Pak Randy bisa ikut saya untuk menganbil obat Ara?'' sengaja Dokter Lusiana mengkode Papa Randy , karena ada yang ingin disampaikan tentang Ara.


Di luar ruangan Ara mendapatkan perawatan, tiga orang temannya menunggu. Yang dua sibuk bersilat lidah adu mulut tak berkesudahan, bahkan untuk hal sepelepun mereka ributkan. yang satunya selalu ceklikikan bahkan sampai ngakak karena polah lucu dua orang.


'' Kalian berdua, sampai kapan ribut terus. Baru juga kenal, aura musuh langsung menyeruak.Ihhh ngeri. '' Revano mengedikkan bahunya.


''Musuh Apa? temanmu ini lho, jadi orang kok nyebelin banget.''


''Iya memang dia nyebelin orangnya.'' kompor Revano.


''Eh....apaan kok kamu belain cewek bar-bar ini.'' solot Rega tak terima.


Revano tak menanggapi omongan Rega, tetap fokus menghibah dengan Ratih didepan orangnya langsung. Kapan lagi ada kesempatan menggoda seorang Rega.


'' Nah...lihatkan aura musuhnya keluar lagi.''


''Iya.''


''Whoi ''


''Apaan berisik, lihat keadaan dong! kita lagi di klinik.'' ucap Ratih jengkel.


''Hwahaha...aku doakan semoga kalian tetap menjadi musuh. Musuh dalam selimut. hahaha...'' ucap Revano disela-sela ketawanya.


''Eh kampret''


''Dasar teman yang perlu dibina kamu, Van. ''

__ADS_1


'' Bina apa?''


''Binasakan.''


Keributan mereka terhenti dengan keluarnya Dokter Lusiana dan Papa Randy.


'' Kalian, masih di sini? kebetulan Om mau bicara dengan dokter dulu, bisa temankan Ara sebentar?''


''Biar Ratih yang jagain Ara, Om. Ratih masuk ya, Om.'' Ratih masuk ke ruangan Ra meninggalkan Rega dan Revano.


''Kami ijin ikut masuk ya, Om.'' ucap Rega.


'' Silahkan.'' mereka berdua ikut masuk menyusul Ratih.'' Mari ,Dok.'' Papa Randy melanjutkan mengikuti Doter Lusiana.


Sesampainya di ruang Dokter Lusiana, Papa Randy dipersilahkan duduk. Sekejab Dokter mengambilkan air mineral kemasan dan menyuguhkannya pada Papa Randy.


'' Minum dulu, Pak. Biar tegangnya hilang.tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Ara. ''


Papa Randy meminum air mineralnya. Keadaan Ara yang tiba-tiba pinsan di tempat umum membuatnya kaget dan panik luar biasa.


''Jadi, bagaimana keadaan Ara, Dok? kenapa tiba-tiba bisa pinsan.'' Papa Randy mulai bertanya setelah meneguk air minum mineralnya.


Dokter Lusiana paham dengan kekhawatiran keluarga pasiennya. Dengan tetap tersenyum ramah dia mejelaskan kondisi Ara.


'' pinsan yang dialami Ara karena otaknya bekerja terlalu keras, Pak.''


'' Maksud dokter, karena ujian begitu?''


'' Bisa jadi, tapi sepertinya ada hal lain yang berusaha untuk Ara ingat. Atau mungkin juga ada kejadian yang hampir mirip dengan kejadian yang Ara lupakan. Kapan terakhir Ara konsul ke dokter Mirza, Pak Randy? ''


''Sudah lama juga, Dok. Ara susah sekali kalau diajak ketemu Dokter Mirza. Malu katanya dia kan tidak sakit jiwa.''


Dokter Mirza psikiater yang merawat Ara, yang membantu mengembalikan ingatan Ara. Setiap ke Dokter Mirza selalu kebarengan dengan orang yang depresi dan sakit jiwa. Itulah yang membuat Ara tidak mau lagi ke Dokter Mirza.


'' Dicoba lagi, Pak. Mungkin sudah waktunya ingatan Ara pulih.''


''Terima kasih, Dok. Akan saya coba bujuk Ara untuk mau ke Dokter Mirza. Boleh saya bawa pulang Ara, sekarang?''


''Silahkan, Pak.''


Sesampainya Papa Randy di ruangan Ara.


'' Lho kok hanya ada Ratih, temannya yang dua mana?''


''Sudah pulang, Om. Bikin rusuh kelaman di sini.''


Papa Randy melengkungkan kedua bibirnya ke atas mendapati jawaban Ratih.


'' Oh gitu. Ara juga boleh pulang skarang.Ratih bantu, ya? Om Mau ngurus administrasi Ara dulu.''


''Assiappp Om'' kata Ratih dengan sikap hormat lengkap dengan tangan diangkat.


''Haistttt... lebay.''

__ADS_1


__ADS_2